;
Tags

Bunga

( 411 )

Tekanan Menguat, BI Jadi Lebih Agresif

KT3 23 Sep 2022 Kompas (H)

Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 %. Keputusan ini didasarkan pada menguatnya tekanan internal berupa inflasi di dalam negeri dan tekanan eksternal seiring agresivitas bank sentral AS menaikkan suku bunga. Dalam jumpa pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis (22/9) di Jakarta, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kebijakan tersebut bersifat front loaded, pre-emptive, dan forward looking. Front loaded adalah strategi menaikkan suku bunga dengan porsi yang besar di waktu awal dari rangkaian kenaikan suku bunga dalam periode tertentu. Ini sekaligus sebagai langkah pre-emptive, yakni mitigasi risiko untuk mencapai sasaran di masa mendatang (forward looking).

Menurut Perry, sampai dengan Agustus 2022, inflasi inti mencapai 3,04 % secara tahunan. Besaran ini sudah berada di atas titik tengah dari rentang target inflasi inti BI tahun ini, yakni 2 % hingga 4 %. Inflasi inti akan terus menguat dan diperkirakan mencapai 4,6 % pada akhir tahun. Inflasi inti dan ekspektasi inflasi diperkirakan meningkat akibat dampak lanjutan (second round effect) dari penyesuaian harga BBM dan menguatnya sisi permintaan. Karena itulah, kata Perry, diperlukan kenaikan suku bunga acuan dengan tujuan inflasi bisa kembali ke sasaran 2-4 % pada triwulan ketiga 2023. Perry mengatakan, kenaikan suku bunga acuan 50 basis poin bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sejalan dengan nilai fundamentalnya di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat. (Yoga)


Gula-Gula Bunga Tinggi BI Untuk Para Pemburu Rente

HR1 23 Sep 2022 Kontan (H)

Secara mengejutkan, Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuannya alias BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) bulan ini. Tak tanggung-tanggung, kenaikan bunganya sebesar 50 basis poin (bps), lebih tinggi ketimbang proyeksi para analis. Dengan begitu, BI mengerek suku bunga acuan 75 bps sejak Agustus 2022 ke level 4,25%. Sementara, suku bunga deposit facility naik menjadi 3,5% dan suku bunga lending facility menjadi 5%. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, keputusan ini dengan pertimbangan sebagai langkah front-loaded, pre-emptive, dan forward looking agar bisa menurunkan ekspektasi inflasi dan inflasi inti. "Ini untuk memastikan inflasi inti kembali ke kisaran sasaran, yaitu 3% plus minus 1% paruh kedua tahun 2023," tutur Perry, Kamis (22/9).

Pasar Bersiap Menghadapi Kenaikan Suku Bunga Lagi

HR1 19 Sep 2022 Kontan (H)

Agenda rapat dua bank sentral terkait arah suku bunga acuan akan menjadi penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini. Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve akan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa-Rabu, 20-21 September 2022. Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia Wisnu Prambudi Wibowo menilai, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mengerek suku bunga 75 bps pada FOMC bulan ini. "Ini karena rilis data inflasi AS yang ternyata masih di atas ekspektasi pelaku pasar," ujarnya, Minggu (18/9). Analis Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora memprediksikan hal yang sama. Sekadar mengingatkan, tingkat inflasi AS mencapai 8,3% pada Agustus 2022 atau melebihi target konsensus 8,1%. Padahal, sebelumnya The Fed sudah cukup agresif menaikkan suku bunga. Karena itu, Andhika menilai, peluang The Fed menaikkan suku bunga 50-75 bps terbuka lebar. Sementara Wisnu memperkirakan BI akan menahan suku bunganya, seiring dengan ekspektasi inflasi dan nilai tukar rupiah yang masih terkendali. Tapi, jika BI dan The Fed kembali mengerek suku bunganya, pergerakan IHSG pekan ini bakal cukup berat. "Sebaliknya, jika suku bunga BI tetap, respons pelaku pasar cenderung netral," tambahnya.

Bank Behati-Hati Menaikkan Bunga KPR

HR1 16 Sep 2022 Kontan

Era bunga kredit rendah segera berakhir. Bagi masyarakat yang ingin segera memiliki rumah, sebaiknya segera merealisasikan, sebelum bank menaikkan bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Maklum biasanya kredit konsumer merupakan segmen kredit yang paling cepat mengalami penyesuaian kenaikan begitu suku bunga acuan naik. Salah satunya adalah KPR. Bankir memperkirakan, Bank Indonesia (BI) masih akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,5%-1% di sisa tahun ini. Sehingga hingga akhir tahun bunga acuan bakal jadi 4,75%. Ini akan dilakukan bank sentral untuk meredam inflasi yang berpotensi akan semakin tinggi pasca kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN), Haru Koesmahargyo menyebutkan, ke depan pasti akan terjadi kenaikan suku bunga KPR sebagai transmisi dari kenaikan bunga BI. Padahal dengan kenaikan bunga acuan BI dan ditambah dengan normalisasi kebijakan giro wajib minimum (GWM) dari semula 7% menjadi 9% per 1 September 2022, bank seharusnya bisa langsung menaikkan bunga kredit.

Berharap The Fed Tak Merapuhkan Rupiah

KT3 30 Aug 2022 Kompas

Pada 2022 ini bank sentral AS (The Fed) mengumumkan kenaikan suku bunga yang mengakibatkan keluarnya modal asing (taper tantrum) dari banyak negara. Hal itu sempat menggoyahkan kurs rupiah.  namun, posisi rupiah ada di urutan ketiga terkuat di antara mata uang Asia setelah dollar Hong Kong dan dollar Singapura sepanjang 2022 (Bloomberg, 26 Agustus). Hanya saja, kurs rupiah bertahan pada kisaran Rp 15.000 per USD, posisi yang tidak terlalu meyakinkan.

”Posisi The Fed sangat berbeda dibandingkan siklus sebelumnya, lebih siap merelakan resesi dan destabilisasi pasar uang di tengah upaya meredam inflasi,” demikian peringatan Adam Wolfe, pakar tentang ekonomi negara berkembang dari Absolute Strategy Research (The Financial Times, 31 Juli). The Fed pun sudah memberikan indikasi kenaikan suku bunga bertahap. Pemanfaatan waktu oleh otoritas Indonesia dan korporasi akan menentukan apakah rupiah akan kembali fragile atau tidak. (Yoga)


Menunggu Langkah The Fed

KT3 27 Aug 2022 Kompas

Bank Sentral AS atau The Fed dinilai lambat mengambil langkah menaikkan suku bunga. Ekonomi dunia pun bakal terdampak dan bisa runyam. Inflasi di AS sampai dengan Kamis (25/8) melejit terlalu jauh meninggalkan tingkat suku bunga inti The Fed. Inflasi juga lebih tinggi dari suku bunga riil di pasar. Jika The Fed tetap lamban menyadari serta lambat menaikkan suku bunga, inflasi tinggi akan sulit diturunkan bahkan akan bertahan lama. Efeknya adalah dampak inflatoar ke seluruh dunia mengingat dollar AS merupakan alat utama transaksi global.

Kebijakan moneter AS menjadi perhatian karena akan berpengaruh terhadap nilai tukar USD pada mata uang lokal. Ketika The Fed membiarkan suku bunga acuan, mata uang lokal cenderung tetap rendah sehingga konsumsi tidak bisa direm, akibatnya inflasi terus naik. Oleh karena itu, ada yang menyebut hal ini sebagai inflasi impor, inflasi yang terjadi di AS merembet ke negara-negara lain. Namun, jika The Fed menaikkan suku bunga, akan berdampak pada penurunan inflasi dan pada perdagangan karena sejumlah komoditas akan berharga mahal akibat kenaikan nilai tukar. Hal itu juga akan menimbulkan risiko rentetan pada korporasi dan pelarian modal dari beberapa pasar uang negara yang sedang berkembang.

Sepertinya pilihan pahit akan diambil, yaitu The Fed menaikkan suku bunga. Kelambatan melakukan tindakan sepertinya hanya menunda masalah yang lebih berat lagi. Oleh karena itu, hal yang lebih penting adalah persiapan korporasi dan juga otoritas sejumlah negara untuk menghadapi dampak atau risiko pengetatan suku bunga AS tersebut.  Otoritas di Indonesia juga harus bersiap menghadapi masalah yang tidak ringan ini. (Yoga)


Fed Bisa Roketkan Inflasi

KT3 26 Aug 2022 Kompas

Inflasi di AS sampai Kamis (25/8) melejit terlalu jauh meninggalkan tingkat suku bunga inti Bank Sentral AS. Inflasi juga lebih tinggi dari suku riil di pasar. Jika The Fed atau Bank Sentral AS tetap lamban menyadari dan lambat menaikkan suku bunga, inflasi tinggi akan sulit diturunkan bahkan akan bertahan lama. Efeknya dampak inflatoar ke seluruh dunia mengingat USD adalah alat utama transaksi global.

Profesor ekonomi Stanford University, John Taylor, Selasa (23/8) kepada televise Bloomberg mengatakan, suku bunga inti di AS minimal harus di level 5 %. Suku bunga The Fed di level tersebut diperlukan mengingat inflasi di negara itu sudah mencapai 8,5 % pada Juli 2022. The Fed sejauh ini masih mematok suku bunga inti pada kisaran 2,25-2,50 % dan memberi kisaran kenaikan suku bunga hingga level 3,8 %. Target The Fed itu dianggap tak cukup kuat untuk menurunkan inflasi.

Gubernur The Fed Jerome Powell menyadari inflasi harus diperangi dan suku bunga harus dinaikkan. Namun, Powell tampak khawatir jika suku bunga dipatok terlalu tinggi, kehidupan rakyat akan terpukul karena resesi. Ia berharap pasar mengarahkan inflasi pada penurunan. Bagi dunia, efek gonjang-ganjing inflasi di AS ini bagai pisau bermata dua. Jika inflasi dibiarkan tinggi, hal itu akan menyebabkan inflasi impor bagi negara seperti Indonesia. AS masih merupakan negara eksportir kedua terbesar di dunia dengan nilai 1,75 triliun USD. Di sisi lain, inflasi harus diredam untuk mencegah inflasi spiral global. (Yoga)


Kenaikan Suku Bunga Acuan

KT3 25 Aug 2022 Kompas

BI akhirnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 basis poin untuk menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah. Kebijakan moneter itu harus didukung dari sisi fiskal karena keduanya saling melengkapi. Presiden Jokowi meminta para menterinya menghitung betul dampak kenaikan harga energi dan pangan terhadap subsidi dan ketahanan anggaran belanja negara. Pada sisi lain, apabila subsidi energi dikurangi, harus dihitung juga dampaknya pada inflasi, daya beli masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Selasa (23/8/2022) memutuskan suku bunga acuan BI naik menjadi 3,75 %. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, menaikkan suku bunga acuan adalah langkah berjaga-jaga mengantisipasi kenaikan inflasi inti dan ekspektasi inflasi. Hal itu juga untuk menjaga nilai tukar rupiah. BI menaikkan suku bunga juga dengan tujuan menjaga nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar uang global. Sejauh ini nilai tukar rupiah masih terjaga. (Yoga)


Naikkan Bunga, BI Injak Rem Lebih Awal

KT3 24 Aug 2022 Kompas (H)

Kendati inflasi inti dan nilai tukar rupiah sejauh ini relatif terjaga, BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (23/8). Aksi injak rem perekonomian lebih awal ini merupakan langkah mendahului sebelum lonjakan inflasi benar-benar terjadi bila harga BBM dinaikkan dan terjadi gejolak harga pangan. ”Keputusan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tersebut sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi risiko peningkatan inflasi inti dan ekspektasi inflasi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers seusai RDG BI di Jakarta.

Sebelum dinaikkan, suku bunga acuan di level 3,5 % telah bertahan 18 bulan sejak Februari 2021. Perry mengatakan, hingga Juli 2022, inflasi inti masih relatif rendah, yakni 2,86 % secara tahunan (year on year/yoy). Nilai tukar pada 22 Agustus 2022 menguat secara rerata sebesar 0,94 % dibandingkan bulan sebelumnya berkat kembali masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Namun, ke depan, tekanan inflasi diperkirakan meningkat, didorong oleh masih tingginya harga energi dan pangan global, serta kesenjangan pasokan. Kondisi tersebut bisa mendorong inflasi pada tahun 2022 dan 2023 berisiko melebihi batas atas sasaran 3 % plus minus 1 %. Karena itu, BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan lebih awal. (Yoga)


Siap-Siap, Suku Bunga Kredit Naik

HR1 24 Aug 2022 Kontan (H)

Usai sudah era bunga rendah. Setelah 18 purnama bertahan tak mengubah suku bunga, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Agustus 2022 akhirnya mengerek bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%. Sebelumnya BI menurunkan suku bunga di Februari 2021, dari 3,75% ke 3,5%. Gubernur BI, Perry Warjiyo menyebut, keputusan ini adalah langkah memitigasi risiko atas peningkatan inflasi inti dan ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi serta inflasi pangan. Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim menyatakan, BCA akan menyiapkan strategi untuk mengantisipasi langkah bank sentral. Analisis Vera, "BI mengambil keputusan mengacu pertimbangan fundamental ekonomi dalam rangka mendukung stabilitas dan memperkuat pemulihan," kata dia, Selasa (23/8). Bank Mandiri berharap, kenaikan suku bunga acuan kali ini untuk menjaga stabilitas makroekonomi agar tetap terkendali hingga akhir tahun. "Kami melihat kebijakan tersebut juga telah diantisipasi oleh pasar," kata Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rudi As Aturridha.