Bunga
( 411 )Suku Bunga The Fed Mirip Pil Pahit
Kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi di AS memicu gejolak keuangan global. Banyak usaha dan negara yang tertekan akibat kenaikan beban utang dan apresiasi dollar AS. Akan tetapi, situasi ini seperti pil pahit. Sepanjang kondisinya belum sehat, ekonomi AS adalah sumber masalah. Status sebagai alat tukar global, bukan karena kekuatan ekonomi AS, menjadikan dollar AS sebagai penyebab derita. Penciutan peredaran dollar AS, di samping kenaikan suku bunga dollar AS, sebagai bagian dari langkah penyehatan, juga menjadi sumber masalah. Dua hal inilah sebagai penyebab derita global karena mendera seluruh dunia. Kisruh akibat penciutan peredaran dollar AS dan kenaikan suku bunga menyebabkan pertumbuhan global menurun pada 2023. Gejalanya sudah mulai terasa sepanjang 2022. Catatan ini menjadi salah satu pesan utama dalam peringatan Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), serta ekonom Nouriel Roubini, Mohamed El-Erian, dan lainnya.
Perdagangan, aliran investasi global, dipastikan menurun berdasarkan perkiraan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Gejolak di pasar uang, obligasi, dan indeks-indeks saham juga menambah guncangan pada perdagangan dan investasi global. Sejumlah negara akan semakin mengalami penumpukan utang sehingga menambah daftar panjang negara-negara yang terjerembap utang. Derita akibat dollar AS masih berlanjut, sebab penciutan peredaran dollar AS dan kenaikan suku bunga dollar AS belum akan berhenti. Inflasi di AS masih tinggi, 7,7 %, atau masih jauh di atas target 2 %. Situasi ini membuat bank sentral AS, The Fed, mencanangkan lanjutan kenaikan suku bunga dari level sekarang 3,75 % hingga 4 %. Menurut Presiden Federal Reserve St Louis, James Bullard, lanjutan kenaikan suku bunga dollar AS diperkirakan melampaui 5,25 %. Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari bahkan lebih ekstrem. ”Tidak bisa diketahui sejauh mana suku bunga Fed akan berakhir. Yang jelas, jika inflasi masih tinggi, suku bunga akan terus dinaikkan,” katanya. Di samping itu, pengetatan peredaran dollar AS juga terus dilakukan. (Yoga)
Rezim Bunga Tinggi Ancam Ekonomi 2023
JAKARTA, ID — Rezim bunga tinggi di beberapa negara, terutama Amerika Serikat (AS), mengancam perekonomian Indonesia tahun 2023. Saat suku bunga melonjak, modal asing akan keluar dari pasar keuangan. Kondisi ini menghambat investasi dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Federal funds rate (FFR) bisa mendorong Bank Indonesia (BI) melakukan hal yang sama demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Imbasnya, bunga kredit perbankan naik. Saat ini, FFR berkisar 3,75-4% dan diprediksi terus naik hingga 5-6% pada tahun 2023. Sementara itu, BI 7Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) saat ini mencapai 5,25%. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, bank sentral AS, The Federal Reserve, mengerek suku bunga acuan untuk memoderasi sisi permintaan, sehingga inflasi tidak melonjak Tren ini diprediksi terus berlanjut. “Beberapa pejabat The Fed sudah menyampaikan it gonna be high for relatively long. Ini berarti dampaknya terhadap ekonomi mungkin akan terasa sepanjang tahun 2023,” ucap Menkeu di Jakarta, Jumat (2/12/2022).
Bunga Kredit Mulai Mekar, Cicilan KPR Makin Melar
Tak harus menunggu lama, bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sudah mulai mendaki. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 1,75% sejak awal tahun ke level 5,25% telah mengerek bunga simpanan dan bunga kredit. Segmen KPR menjadi salah satu yang paling reaktif terhadap kenaikan bunga acuan bank sentral. Buktinya, cicilan KPR sejumlah nasabah sudah mulai naik.
Manajemen CIMB Niaga dalam suratnya menyebut, pemberitahuan penyesuaian bunga adalah bagian yang tak terpisahkan dengan perjanjian kredit dengan kondisi, syarat dan ketentuan lain dari perjanjian kredit tetap berlaku.
Bankir memang bilang, kenaikan suku bunga acuan akan berdampak pada kenaikan suku bunga dana. Sehingga juga berdampak pada suku bunga kredit, termasuk KPR.
Redam Inflasi dan Tekanan Nilai Tukar, BI Naikkan Bunga Acuan 50 Basis Poin
Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (17/11) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 %, untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini masih tinggi dan dan memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya. Selain bunga acuan, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 50 basis poin menjadi 4,50 % dan suku bunga lending facility sebesar 50 basis poin menjadi 6 %. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, ekspektasi inflasi masih tinggi meskipun Indeks Harga Kon sumen (IHK) lebih rendah dari prakiraan awal. Inflasi Oktober 2022 tercatat 5,71 % secara tahunan, masih di atas sasaran 3 plus minus 1 % meskipun lebih rendah dari prakiraan dan inflasi bulan sebelumnya 5,95 %. (Yoga)
Laju Indeks Bursa Bisa Tertekan Kenaikan Suku Bunga
Pondasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali diuji pekan ini. Pada 16-17 November 2022, Bank Indonesia (BI) kembali menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG). Pelaku pasar mencermati kebijakan suku bunga acuan BI atau BI 7-day reverse repo rate (BI 7-day-RR).
Analis memperkirakan, bank sentral kembali mengerek naik suku bunga acuannya 25 basis poin (bps) menjadi 5% dari 4,75% bulan ini. Jika prediksi ini tidak meleset, ini adalah kali keempat BI menaikkan suku bunga sejak Agustus 2022.
Proyeksi kenaikan BI 7-day-RR tersebut tidak seagresif kenaikan di Oktober. Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menganalisa, ada beberapa pertimbangan BI mengatrol suku bunganya. Dari eksternal, inflasi Amerika Serikat (AS) di Oktober tercatat naik 7,7%. Ini lebih rendah dari inflasi AS di September 2022 sebesar 8,2%.
Dari internal, laju inflasi tahunan Indonesia juga masih tinggi. Berdasarkan survei pemantauan harga BI, pada pekan kedua November ini masih terjadi inflasi 0,11% secara bulanan. Kebijakan suku bunga acuan dinilai bakal menjadi langkah BI untuk menjangkar inflasi.
Kenaikan bunga BI bakal menentukan arah IHSG ke depan. Berkaca pengalaman sebelumnya, IHSG selalu kehabisan tenaga melawan kenaikan suku bunga BI. Contohnya, September lalu BI memutuskan menaikkan suku bunga dari 3,75 jadi 4,25%.
Bunga Rendah untuk Cadangan Pangan
Pemerintah akan memberikan subsidi bunga pinjaman kepada Perum Bulog dan BUMN kluster pangan untuk pengadaan cadangan pangan pemerintah. Badan Pangan Nasional berharap bunga pinjaman itu bisa sebesar 4,75 %. Pemberian subsidi bunga pinjaman dalam rangka pengadaan cadangan pangan pemerintah (CPP)itu tertuang dalam Permenkeu (PMK) No 153 Tahun 2022. Regulasi tersebut diundangkan pada 2 November 2022. Subsidi bunga hanya berlaku untuk pengadaan 11 komoditas yang ditetapkan sebagai CPP dalam Perpres No 125/2022 tentang Penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah.
Kesebelas komoditas itu adalah beras, jagung, kedelai, bawang, cabai, daging ayam, telur ayam, daging ruminansia, gula konsumsi, minyak goreng, dan ikan. Penyelenggara pengadaan CPP itu adalah Bulog dan BUMN lain di sektor pangan. PMK No 153/2022 hanya membolehkan penyelenggara CPP mendapatkan pinjaman dari bank milik negara dengan jangka waktu pinjaman paling lama enam bulan. Kepala Badan Pangan Nasional (National Food Agency/NFA) Arief Prasetyo Adi, Rabu (9/11) mengatakan, besaran plafon, suku bunga, dan subsidi bunga pinjaman ditentukan dalam rapat koordinasi antara Kemenkeu, NFA, dan Kementerian BUMN. Sumber dana subsidi bunga pinjaman itu berasal dari APBN. (Yoga)
ECB akan Terus Memgetatkan Kebijakannya Moneter
Wakil Presiden ECB Luis de Guindos dan Presiden Bundesbank Joachim Nagel menyampaikan pada Selasa (8/11) Bank Sentral Eropa (ECB) akan terus menaikkan biaya pinjaman kendati perekonomian di zona euro menderita. Pasalnya, membiarkan inflasi tetap tinggi pun bakal berdampak lebih menyakitkan. Pasar finansial memperkirakan ECB terus menaikkan suku bunga hingga pertengahan tahun depan. Sehingga tingkat suku bunga puncak akan mencapai 3%. Dibandingkan saat ini yang berada di level 1,5%. ECB telah menaikkan suku bunga secara agresif. Dan sudah memberi isyarat akan menaikkan lagi ke depannya hingga laju inflasi di zona euro yang saat ini dua digit kembali ke target 2%.
De Guindos dan Nagel, sebagai pembuat kebijakan tertinggi di ECB, menambahkan langkah-langkah tersebut juga bukannya tidak menelan biaya. Karena terbukti mengorbankan pertumbuhan ekonomi. “Saya akan melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa kami, Dewan Gubernur ECB, tidak menyerah terlalu dini dan kami terus mendorong normalisasi kebijakan moneter. Bahkan jika tindakan kami menghambat pembangunan ekonomi. Karena dalam situasi di mana kebijakan moneter berada di belakang kurva, biaya ekonomi secara keseluruhan akan jauh lebih tinggi,” ujar Nagel dalam konferensi perbankan Jerman, yang dilansir Reuters. De Guindos pun menambahkan, kebijakan ECB bakal mengurangi permintaan agregat, baik konsumsi dan investasi. (Yoga)
Tren Bunga Acuan Naik, Kupon ST009 Bakal Lebih Tinggi
Penggemar investasi surat utang pemerintah bisa mulai merapat kembali. Akhir pekan ini, pemerintah akan mulai melepas sukuk tabungan seri ST009.
Ini adalah surat berharga negara (SBN) ritel seri terakhir yang ditawarkan oleh pemerintah sebelum tutup tahun 2022. Rencananya, ST009 ditawarkan selama 20 hari, mulai 11 November hingga 30 November 2022.
Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, bagi investor SBN ritel, seri ST009 akan menguntungkan, terutama dari sisi tingkat imbal hasil yang ditawarkan. Dia bahkan yakin minat investor akan lebih tinggi dibandingkan saat penawaran ST007 dan ST008 yang masing-masing menawarkan bunga 5,5% dan 4,8%. Pasalnya, ST009 berpotensi memberi kupon lebih tinggi.
Nicodimus memperkirakan, bunga yang ditawarkan seri ST009 ini bisa lebih tinggi dari kupon seri ORI022, yang sebesar 5,95%. Ini karena bunga acuan Bank Indonesia BI 7-day-RR pada Oktober lalu naik 50 bps menjadi 4,75%.
FONDASI SOLID EKONOMI RI
The Fed makin beringas. Kemarin, Kamis (3/11) waktu Indonesia, bank sentral Amerika Serikat itu kembali mengerek suku bunga acuan sebesar 75 basis points (bps) ke rentang target 3,75%—4%. Artinya, sudah empat kali berturut-turut The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 75 bps. Langkah agresif itu pun membuat negara-negara lain waspada, tak terkecuali Indonesia. Sebab, kenaikan suku bunga acuan AS bakal menyumbat aliran dana asing ke dalam negeri, lantaran investor lebih memilih memarkir uang mereka di Negeri Paman Sam karena bunga yang lebih menarik. Kendati demikian, situasi tersebut sejatinya sudah terbaca oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yang jauh-jauh hari bermanuver untuk memitigasi risiko tersebut. Salah satunya dengan optimalisasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di dalam negeri. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi risiko capital outflow. Antisipasi moneter juga sudah ditempuh BI melalui strategi front loaded, preemptive, dan forward looking, dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 125 bps menjadi 4,75% per bulan lalu. Secara makro, ekonomi nasional juga terbukti mampu menahan hentakan yang ditimbulkan dari kebijakan The Fed. Hal ini tecermin dari realisasi inflasi yang sebesar 5,71% (year-on-year/YoY) pada Oktober 2022, turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 5,95% (YoY). Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan bank sentral memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang sesuai kenaikan suku bunga acuan BI untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran lebih awal.
Kenaikan Suku Bunga di AS Terus Berlanjut
Bank Sentral AS kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 % guna meredam inflasi. Dengan demikian, suku bunga acuan di AS akan berkisar 3,25 % hingga 4 %. Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell, di Washington, Rabu (2/11), menyatakan, kenaikan suku bunga masih berlanjut karena inflasi tetap bertahan tinggi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Orang Kaya Singapura Akan Dikenai Pajak
19 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022









