Bunga
( 411 )Bunga Deposito Valas Perlu Kompetitif
Besaran bunga term deposit valas untuk devisa hasil ekspor harus kompetitif dibandingkan dengan besaran bunga deposito valas di negara lain. Ini agar eksportir berminat menyimpan devisa hasil ekspornya di perbankan dalam negeri. Demikian disampaikan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nawir Messi, Selasa (21/2). (Yoga)
Inflasi Landai, BI Tahan Bunga Acuan
Bank Indonesia (BI) menegaskan, tak perlu lagi mengerek suku bunga acuan. Keputusan ini diambil bank sentral setelah sebelumnya rutin mengerek bunga acuan. Sejak Agustus 2022 hingga Januari 2023, bunga acuan mengalami kenaikan sebesar 225 basis poin (bps).
Dalam hasil rapat dewan gubernur (RDG) pada Februari 2023, BI memutuskan menahan suku bunga acuan alias BI 7-
Day Reverse Repo Rate
(BI7DRRR) di level 5,75%. "Keputusan ini konsisten dengan
stance
kebijakan moneter
pre emptive
dan
forward looking
untuk mewujudkan penurunan ekspektasi inflasi dan inflasi ke depan," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (16/2).
Menurutnya, tingkat suku bunga acuan ini memadai untuk memastikan inflasi inti tetap di kisaran 3% plus minus 1% pada semester I-2023. Selain juga memadai untuk menjaga inflasi kembali dalam sasaran 3% yoy plus minus 1% pada semester II-2023.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan, kebijakan BI menahan suku bunga acuan di level 5,75% bakal berlanjut hingga akhir tahun 2023. Namun, kebijakan bunga acuan tetap akan memperhatikan perkembangan ke depan, mengingat ketidakpastian masih mengancam.
SASARAN INFLASI TERKENDALI : BANK SENTRAL ‘ATUR NAPAS’
Suku bunga acuan Bank Indonesia yang saat ini berada di level 5,75% sudah cukup memadai sebagai salah satu instrumen mengendalikan inflasi. Bank sentral memadang, kenaikan lanjutan bunga acuan belum diperlukan. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa langkah agresif bank sentral yang mengerek suku bunga acuan sejak Agustus 2022, diniali sudah cukup. “Kita memandang dan meyakini bahwa suku bunga BI rate itu memadai, memadai dalam arti ya tidak diperlukan suatu kenaikan lagi, itulah stance dari kebijakan moneter,” katanya dalam konferensi pers, Kamis (16/2). Bank sentral sudah melakukan penyesuaian bunga acuan BI-7 Day Repo Rate (BI-7DRR) dalam setengah tahun terakhir. Bunga acuan BI-7DRR sudah naik 225 basis poin. BI menilai tingkat suku bunga tersebut memadai untuk memastikan inflasi inti tetap berada dalam kisaran 2%—4% pada semester I/2023 dan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali ke pada sasaran 2%—4% pada semester II/2023. Secara tahunan, inflasi pada periode tersebut tercatat sebesar 5,28%, lebih rendah dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,51%. Penurunan inflasi ini kata Perry didorong oleh penurunan inflasi inti dan inflasi komponen harga yang diatur pemerintah, serta inflasi pangan bergejolak (volatile food) yang terjaga. Perry memandang, laju kenaikan suku bunga secara global pun telah mendekati puncaknya. Namun, dia menilai hal itu masih akan tetap berada pada level yang tinggi sepanjang 2023.
Menahan Laju Suku Bunga Acuan
JAKARTA-Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) adisi Februari 2023. Bank sentral mulai mengerem laju kenaikan suku bunga, setelah sejak Agustus 2022 agresif menaikkannya untuk menjaga inflasi sesuai sasaran. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Faisal Rachman, mengungkapkan kenaikan suku bunga acuan hingga 225 poin selama tujuh bulan berturut-turut sudah memadai. Ia menilai bank sentral sudah cukup nyaman dengan tingkat suku bunga saat ini dan segera mengakhiri tren kenaikan suku bunga. "Kami memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan posisi di posisi 5,75% selama sisa tahun ini, sembari tetap waspada terhadap pergerakan perekonomian global yang masih dipenuhi ketidakpastian," ujarnya, kepada Tempo, kemarin. (Yetede)
SINYAL CERAH BAGI PASAR
Sederet kelas aset, mulai dari saham, obligasi, hingga emas dan kripto, mengalami apresiasi harga setelah Federal Reserve memberi sinyal untuk segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunga yang agresif. Dalam Rapat Komite Pasar Terbuka (FOMC) pada 1 Februari 2023 atau Kamis (2/2) waktu Indonesia, The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,5%-4,75%. The Fed memperlambat laju kenaikan dari 50 basis poin pada Desember 2022 dan 75 basis pada empat pertemuan sebelumnya. “Komite mengantisipasi bahwa kenaikan berkelanjutan dalam kisaran target akan sesuai untuk mencapai sikap kebijakan moneter yang cukup ketat guna mengembalikan inflasi menjadi 2% dari waktu ke waktu,” kata Gubernur The Fed Jerome Powell dalam pernyataannya. Keputusan The Fed itu direspons positif oleh pelaku pasar keuangan. Di pasar saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 0,41% ke level 6.890,57 pada perdagangan kemarin. Laju IHSG didongkrak oleh kinerja sektor teknologi dan kesehatan yang masing-masing memantul 4,48% dan 1,84%. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan kenaikan suku bunga The Fed yang tidak agresif memberikan optimisme bagi investor pasar saham, meningkatkan risk appetite, sekaligus meredam risiko volatilitas di lantai bursa. Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya menyebut fokus pasar berikutnya adalah tingkat inflasi yang dalam tren turun tapi masih jauh dari target bank sentral. Head of Research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan sektor finansial yang merupakan tulang punggung IHSG menjadi yang paling diuntungkan dari kebijakan bank sentral global dan Indonesia. “Kenaikan laba sampai dua digit disebabkan oleh net interest margin yang meningkat ketika tren kenaikan suku bunga berlangsung,” paparnya.
Suku Bunga Naik, Kredit Rumah Tetap Diminati
Pembelian rumah menggunakan kredit pemilikan rumah atau KPR diyakini masih akan tetap diminati. Kenaikan suku bunga acuan BI belum berdampak signifikan terhadap kenaikan bunga KPR. Chief Economist and Industry Research BCA David Sumual saat dihubungi, Jumat (27/1) di Jakarta mengatakan, ruang bagi BI untuk menaikkan suku bunga acuan tetap terbuka. Apalagi, inflasi masih cenderung tinggi pada awal 2023, terutama datang dari sektor jasa, maksud berupa kenaikan biaya sewa, kontrakan, dan penyesuaian gaji atau upah.
Sejak Agustus 2022 hingga Januari 2023, BI telah menaikkan suku bunga acuan enam kali berturut-turut dengan total kenaikan 225 basis poin. Sejumlah perbankan saat ini masih mempertahankan program keringanan uang muka, seperti uang muka nol %. Bunga KPR relatif masih rendah dan berada di level single digit. Ditambah lagi, terdapat kenaikan upah minimum tahun 2023 berkisar 5-8 %. Sejumlah perusahaan juga menyesuaikan besaran gaji bagi karyawan tetap mereka. ”Saya rasa, ’stimulus-stimulus’ seperti itu akan mendorong orang tetap berburu rumah dengan KPR. Pada semester I-2023, pembelian rumah yang memakai skema KPR masih akan cukup kencang,” kata David. (Yoga)
Dana Simpanan Bank Tumbuh Makin Pesat
Pertumbuhan dana simpanan nasabah di perbankan atau biasa disebut dana pihak ketiga (DPK) cenderung semakin tinggi. Berdasarkan data BI, total DPK perbankan per akhir Desember 2022 mencapai Rp 7.929 triliun, tumbuh 9,01 % dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan tersebut lebih cepat dibandingkan November 2022 yang tumbuh 8,08 % secara tahunan. Kenaikan DPK tersebut dipicu tren peningkatan suku bunga simpanan, terutama deposito berjangka. Mengutip data LPS, rata-rata suku bunga simpanan meningkat sejak Agustus 2022 dan cenderung semakin cepat. Rata-rata suku bunga simpanan naik 11 basis poin menjadi 2,95 5 selama periode 20 Desember 2022-16 Januari 2023. Peningkatan suku bunga simpanan dipicu kenaikan suku bunga acuan BI. Sejak Agustus 2022 hingga Januari 2023, BI selalu menaikkan suku bunga acuan setiap bulannya, yang totalnya mencapai 225 basis poin atau 2,25 %. Ini membuat suku bunga acuan BI kini di posisi 5,75 %.
”Kenaikan bunga mendorong nasabah untuk menyimpan uangnya di perbankan,” kata ekonom, Ryan Kiryanto, Kamis (26/1). Ryan memperkirakan lonjakan DPK didorong simpanan korporasi ataupun pekerja individu dari sektor batubara dan sawit. Harga komoditas yang tinggi membuat pelaku industri sektor ini menikmati kinerja positif sehingga ada kemungkinan sebagian uangnya disimpan di bank. Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, kenaikan dana simpanan perbankan dipicu peningkatan suku bunga simpanan. Kenaikan suku bunga simpanan mendorong sebagian masyarakat menyimpan uangnya di bank. Merespons kenaikan suku bunga acuan BI dan suku bunga simpanan bank, LPS pun menaikkan tingkat bunga penjaminan sebesar 25 basis poin menjadi 4 % untuk simpanan rupiah dan 2 % untuk simpanan valuta asing. Adapun bunga penjaminan simpanan rupiah di BPR juga dinaikkan menjadi 6,50 %, yang berlaku untuk periode 1 Februari 2023 sampai 31 Mei 2023, ujar Purbaya dalam jumpa pers Rapat Dewan Komisioner LPS, secara daring, Kamis. (Yoga)
Rupiah Bisa Terbang, Tapi Tidak dalam Jangka Panjang
Posisi rupiah makin kuat di tahun ini. Fundamental ekonomi yang solid dan tren bunga The Fed yang menurun menopang penguatan mata uang Garuda.
Dus, dalam dua hari terakhir, rupiah bergerak di bawah Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Selasa (24/1), kurs spot rupiah sempat menguat hingga Rp 14.888 per dollar AS.
Ini merupakan posisi terkuat rupiah dalam sekitar empat bulan terakhir. Kemarin, kurs spot rupiah kembali melemah 0,52% ke Rp 14.965 per dollar AS.
Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan, indeks dollar AS memang tengah turun. Kemarin, indeks dollar AS berada di level 101,65, turun 0,22% dari hari sebelumnya. Ini level terendah dalam periode delapan bulan terakhir.
Alhasil, hampir semua mata uang Asia menguat tahun ini. Alwi menyebut, pelemahan dollar AS berkorelasi dengan ekspektasi pasar jika The Fed akan mengurangi agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga.
Rupiah juga ditopang pemulihan ekonomi global. Pembukaan kembali China membuat prospek pertumbuhan ekonomi global terus melaju. Tak hanya itu, ekonomi kawasan Eropa diperkirakan tumbuh 0,1% di tahun 2023.
Alwi menambahkan, revisi Peraturan Pemerintah (PP) No 1/2019 yang mengatur tentang devisa hasil ekspor (DHE) juga menopang rupiah dalam jangka panjang.
Suku Bunga dan Tekanan Inflasi
Seperti diprediksi, BI kembali menaikkan bunga acuan 25 basis poin ke 5,75 %. Langkah ini mampu meredakan inflasi yang naik akibat kenaikan harga BBM dan barang impor. BI menjelaskan, kenaikan bunga acuan ini dimaksudkan untuk mengembalikan inflasi inti ke target 2-4 % pada semester I-2023 (Kompas, 20/1). Dengan inflasi inti serta inflasi umum per Desember 2022 tercatat 3,36 % dan 5,51 % (yoy) di atas sasaran 2-4 %. Para pengamat sebelumnya sudah memprediksi, BI masih akan agresif menaikkan bunga acuan, 3-4 kali tahun ini, dengan suku bunga di akhir 2023 diprediksi 6,0-6,5 %. Sejak Agustus 2022, BI tercatat enam kali menaikkan suku bunga dengan total kenaikan 225 basis poin (bps).
Hanya sedikit pengamat yang meyakini BI untuk sementara menahan suku bunga kali ini. Alasan mereka, meskipun masih dihadapkan pada inflasi global yang tinggi dan tren kenaikan suku bunga acuan yang agresif di negara-negara maju,tekanan inflasi di dalam negeri relatif terkendali beberapa bulan terakhir. Demikian pula tekanan terhadap rupiah, dengan nilai tukar rupiah sempat terkoreksi. Di satu sisi, kenaikan suku bunga BI bisa menahan inflasi, tetapi pada saat yang sama, naiknya suku bunga bisa berdampak pada pertumbuhan sektor riil, konsumsi dalam negeri, dan pertumbuhan ekonomi. Keseimbangan dan ramuan bauran kebijakan yang tepat menjadi penting. (Yoga)
Bunga Acuan Naik, Inflasi Kian Mereda
Guna mengembalikan inflasi inti ke dalam sasaran 2-4 % pada semester I-2023, BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 %. Tekanan inflasi yang sempat tinggi akibat kenaikan harga BBM dan barang impor kini semakin mereda. Kenaikan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate tersebut diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Kamis (19/1). Ini kenaikan keenam berturut-turut sejak Agustus 2022 dengan total kenaikan 225 basis poin sehingga posisi suku bunga acuan saat ini 5,75 %. ”Keputusan kenaikan suku bunga yang lebih terukur ini merupakan langkah lanjutan untuk memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi dan inflasi inti ke depan,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers, Kamis (19/1), di Jakarta.
Perry mengatakan, kenaikan suku bunga acuan ini memadai untuk memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 2-4 % pada semester I-2023 dan inflasi umum ke sasaran 2-4 % pada semester II-2023. Berdasarkan data BPS, inflasi umum pada akhir Desember 2022 mencapai 5,51 % secara tahunan. Adapun inflasi inti mencapai 3,36 %. Inflasi umum sepanjang tahun 2022 berada di atas sasaran BI, sedang inflasi inti cenderung bias ke atas dari sasarannya 2-4 %. Sejak BI mulai menaikkan suku bunga acuan, tekanan inflasi terus mereda, bahkan menurun lebih cepat dari yang diprediksi. Pada September 2022, konsensus pasar memperkirakan inflasi umum pada akhir 2022 bisa mencapai 6,5 %. Ternyata realisasinya lebih rendah, yakni 5,51 %. Realisasi inflasi inti sebesar 3,36 % pada akhir 2022 juga lebih rendah dari konsensus pasar pada September 2022 di 4,61 %. (Yoga)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









