;
Tags

Bunga

( 411 )

The Fed Belum Akan Berhenti Naikkanlah Suku Bunga

KT3 04 Nov 2022 Investor daily

The Fed pada Rabu (2/11) siang, menyetujui penaikan suku bunga acuan 75 basis poin (bps) untuk keempat kalinya berturut-turut. Karena memerangi inflasi masih menjadi prioritas kebijakannya, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan suku bunga akan terus dinaikkan. Dengan penaikan pada Rabu itu, fed funds rate (FFR) sekarang berada di kisaran 3,75%-4%, level tertinggi sejak Januari 2008. Dalam pernyataan kebijakannya, The Fed memberi indikasi ada perubahan kebijakan ke depan. “Dalam menentukan suku bunga ke depan, The Fed akan memperhitungkan pengetatan kebijakan moneter secara kumulatif, karena jika tertinggal dengan kebijakan moneter akan memengaruhi kegiatan ekonomi, inflasi, kondisi ekonomi dan finansial,” kata Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC.

Pasar saham AS awalnya menguat usai pengumuman The Fed. Lantas berubah negatif setelah Powell menyampaikan konferensi persnya. Ia menepis anggapan bahwa The Fed tidak lama lagi akan menghentikan siklus penaikan. Tapi pembahasan untuk mengurangi laju pengetatan, kata Powell, dapat dilakukan dalam satu hingga dua pertemuan kebijakan berikutnya. Ia juga menegaskan lagi The Fed akan tegas tapi sabar dalam memerangi lonjakan inflasi. “Kami masih memiliki beberapa instrumen dan data-data yang muncul sejak pertemuan terakhir kami mengindikasikan level puncak suku bunga akan lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya,” kata Powell. Ia menandaskan bahwa pada akhirnya laju penaikan suku bunga akan dikurangi. Powell sudah mengatakan ini dalam beberapa kali konferensi pers. “Jadi waktunya akan tiba, dan bisa jadi dalam waktu dekat. Dalam pertemuan berikutnya atau yang setelahnya lagi. Yang jelas belum ada keputusannya,” kata Powell. The Fed berupaya menurunkan inflasi ke target 2%. Sedangkan laju inflasi AS pada September 2022 berada di level 8,2%. (Yoga)


BoE: Inggris Akan Resesi 2 Tahun

KT3 04 Nov 2022 Investor daily

Bank of England (BoE) menaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) pada Kamis (3/11). Penaikan tunggal terbesarnya sejak 1989 ini disertai peringatan bahwa Inggris sudah resesi dan akan berlangsung hingga dua tahun ke depan. Pengetatan moneter oleh bank sentral guna memerangi inflasi, kata BoE, mendorong Inggris ke dalam resesi yang akan berlangsung hingga pertengahan 2024. Risalah pertemuan BoE juga mengingatkan prospek yang menantang bagi ekonomi Inggris hingga diperkirakan berada dalam resesi untuk waktu yang lama. “Ekonomi telah menyusut sejak kuartal ketiga, (dan sekarang sudah) memasuki resesi teknikal yang diperkirakan akan berlangsung hingga paruh pertama tahun 2024,” kata BoE. Nilai tukar pound jatuh 2% terhadap dolar AS karena ekspektasi resesi jangka panjang.

“Perdagangan yang normal tidak terjadi karena mata uang biasanya bergerak lebih tinggi ketika bank sentral menaikkan suku bunga. Masa-masa sulit ada di depan, dan kita akan melihat ekonomi, pasar, dan penurunan mata uang dalam beberapa bulan mendatang.,” kata Naeem Aslam, kepala analis pasar di Avatrade, seperti dikutip AFP. Sebagai informasi, The Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (9/11) menyetujui kenaikan tiga kuartal empat poin berturut-turut dan membawa tingkat pinjaman jangka pendek ke kisaran target 3,75% -4%. Ini adalah level tertingginya sejak Januari 2008. Sedangkan pekan lalu, Bank Sentral Eropa (ECB) juga menaikkan 75 basis poinda membuat acuan suku bunga menjadi 1,5%, yang mana ini merupakan level luar biasanya sejak 2009. Penaikkan 75 bps membawa suku bunga bank (bank rate) BoE menjadi 3% dan merupakan penaikkan kedelapan berturut-turut atas suku bunga pinjaman utama, setelah Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) memberikan suara 7-2 mendukung. (Yoga)


ALARM SUKU BUNGA TINGGI

HR1 02 Nov 2022 Bisnis Indonesia (H)

Jamu fiskal dan moneter peredam kenaikan inflasi agaknya masih manjur sejauh ini. Buktinya, inflasi pada Oktober 2022 tercatat 5,71% (year-on-year/YoY), lebih rendah ketimbang September yang mencapai 5,95% (YoY). Menurut Badan Pusat Statisik (BPS), Selasa (1/11/2022), hal itu di antaranya dipicu oleh penurunan harga Pertamax sebesar 4,14% pada 1 Oktober 2022, pengendalian pasokan, subsidi transportasi, serta adanya operasi pasar. Namun, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tak boleh buru-buru jemawa. Sebab, jika dilihat lebih jauh, maka inflasi inti pada Oktober 2022 justru menembus angka tertinggi sepanjang tahun ini, yakni 3,31% (YoY). Kenaikan inflasi inti memang menandakan adanya perbaikan daya beli masyarakat. Akan tetapi, dampak inflasi inti cenderung terjadi dalam jangka panjang. Alhasil, jika inflasi inti bergerak tak terkendali, maka berisiko kembali mendorong pengetatan kebijakan moneter salah satunya melalui penaikan suku bunga acuan. Musababnya, inflasi ini menjadi satu-satunya komponen indeks harga konsumen (IHK) yang dijadikan dasar oleh BI untuk mengutak-atik tingkat suku bunga acuan. “BI berkomitmen menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi dan memastikan inflasi inti kembali ke dalam sasaran 3% plus minus 1% lebih awal, yaitu paruh pertama 2023,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Selasa (11/1).

Bank Sentral Australia Masih Bimbang untuk Berhenti Naikkan Suku Bunga

KT3 02 Nov 2022 Investor daily

Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Philip Lowe menyampaikan dalam pidato pada Selasa (1/11) di Tasmania, bahwa suku bunga kemungkinan masih perlu untuk terus dinaikkan guna menjinakkan laju inflasi. Ia mengatakan, pihaknya siap untuk menaikkan lebih tinggi atau berhenti sejenak jika perlu. RBA pada Selasa menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,85%, tertinggi dalam 9 tahun,  dan mengarah pada pengetatan ke 275 basis poin sejak Mei 2022. RBA mengurangi penaikannya jadi 25 bps pada Oktober, menyusul empat kali penaikan sebesar 50 basis poin, sekaligus menjadi yang pertama dari bank sentral utama dunia yang memperlambat langkahnya. Menurut Lowe, dewan gubernur menyadari suku bunga telah meningkat tajam dalam waktu singkat dan dipadu dengan inflasi tinggi untuk menekan anggaran rumah tangga.

Dia juga menekankan, prospek global turut menjadi lasan untuk berhati-hati dengan kenaikan suku bunga mengingat perang Rusia-Ukraina, serta melonjaknya biaya hidup dan ekonomi dunia yang lebih terfragmentasi. Dengan kondisi tersebut, RBA harus berjalan di jalur sempit antara mengekang inflasi tanpa mendorong ekonomi ke dalam resesi. RBA juga sudah memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan domestik tahun depan menyusul memburuknya ekonomi global dan tekanan terhadap keuangan rumah tangga. “Dengan inflasi yang diperkirakan mencapai puncaknya sekitar 8% pada kuartal ini, kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan akan diperlukan. Meskipun dewan tidak berada di jalur yang telah ditentukan sebelumnya,” ujar Lowe, yang dilansir Reuters. Ditambahkan oleh Lowe, jika perlu melangkah menuju penaikan yang lebih besar lagi guna mengamankan kembalinya inflasi ke target maka kami akan melakukannya. “Demikian pula, jika situasi mengharuskan kita untuk tetap stabil untuk sementara waktu, kami akan melakukannya,” kata dia. (Yoga)


Bank Bersiap Naikkanlah Bunga

KT3 31 Oct 2022 Investor daily (H)

Era bunga rendah berakhir seiring akselerasi kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan bank sentral di berbagai negara. BI ikut menaikkan bunga acuan guna menjaga stabilitas rupiah dan mencegah capital outflow. Merespons kenaikan suku bunga acuan, perbankan kini bersiap-siap melakukan penyesuaian suku bunga simpanan dan kredit, selambatnya mulai bulan November 2022. Bank sentral AS diprediksi kembali menaikkan bunga acuan, fed fund rate (FFR), dari 3,25% ke level 4,4% pada akhir 2022 dan 4,75% di ujung 2023. Mengikuti tren kenaikan bunga global, BI diperkirakan akan mengerek bunga acuan, BI 7-days reverse repo rate (BI7DRR), dari 4,7% ke kisaran 5,25-5,50% hingga akhir 2022, dan ke kisaran 6,5-6,75% pada akhir tahun 2023.

Presdir PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengungkapkan, tekanan dari sisi likuiditas sudah terasa mengetat, ditambah BI terus menaikkan suku bunga acuan BI7DRR sebesar 1,25% dalam tiga bulan terakhir. Dia memperkirakan pasar mulai menaikkan bunga pada November 2022. “Tapi dari top 10 bank itu masih menahan dulu, (bunga) DPK tidak naik, kredit juga tidak naik bunganya. Tapi kalau sekarang tidak akan bisa tahan, dua-duanya akan naik, DPK dan loan. Kelihatannya memang harus naik, November ini di market sudah harus naik semua,” kata Lani, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, di tengah ancaman resesi global akibat bunga dan inflasi yang semakin tinggi, saat ini bukan lagi era bunga rendah. BNI pun menyesuaikan pertumbuhan bisnisnya dengan kondisi yang ada dengan mengukur likuiditas. “Era bunga rendah berakhir dan mulai bunga tinggi, kami juga menjaga likuiditas yang kami cerminkan LDR di bawah 90% dan pertumbuhan kredit kami jaga sekonservatif mungkin, sehingga likuiditas, kredit, dan modal itu masih cukup aman untuk BNI di krisis global seperti sekarang,” kata Royke. (Yoga)


Perbankan Ancang-Ancang Menaikkan Bunga KPR

HR1 27 Oct 2022 Kontan

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Kenaikan bunga acuan bakal mengerek naik bunga kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan. Bank Mandiri, misalnya, telah menaikkan suku bunga KPR rata-rata ke kisaran 25 basis poin (bps) hingga 50 bps. Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rudi As Aturridha mengatakan, Bank Mandiri menyesuaikan kenaikan suku bunga acuan BI yang telah tiga kali dinaikkan. Saat ini suku bunga dasar kredit (SBDK) Bank Mandiri untuk segmen KPR berada di level 7,25%. SKDB digunakan sebagai dasar penetapan suku bunga kredit yang dibebankan bank kepada debitur. Tapi, SBDK belum memperhitungkan komponen estimasi premi risiko terhadap risiko masing-masing debitur. Sementara Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), Aestika Oryza Gunarto mengatakan, saat ini BRI belum menaikkan suku bunga KPR. SBDK BRI saat ini sebesar 7,25% efektif per tahun dengan counter rate bunga KPR sebesar 13%.

The Fed Diprediksi Naikkanlah Lagi Suku Bunga 75 Bps

KT3 26 Oct 2022 Investor Daily

Para ekonom yang disurvei oleh Reuters mengatakan bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) untuk keempat kalinya berturut-turut pada 2 November 2022. Mereka juga menyebut bank sentral AS itu tidak boleh berhenti sampai laju inflasi turun hingga sekitar setengah dari level saat ini. Siklus pengetatannya yang paling agresif dalam beberapa dekade telah membawa risiko resesi yang semakin besar. Survei juga menunjukkan kemungkinan rerata 65% sekali dalam satu tahun, naik dari 45%. Tetapi, sebagian besar responden yakni 86 dari 90 orang ekonom yang memperkirakan bahwa para pembuat kebijakan bakal menaikkan federal fund rate (FFR) tiga perempat poin persentase menjadi 3,75%-4,00% pada minggu depan. Hal ini dikarenakan tingkat inflasi masih tinggi dan angka pengangguran mendekati posisi terendah sebelum pandemi.

Hasil dalam jajak pendapat itu sebenarnya sejalan dengan harga suku bunga berjangka dan hanya empat responden yang memproyeksikan pergerakan 50 basis poin. “Pengaturan (front-loading) pengetatan kebijakan suku bunga yang telah kita lihat sampai sekarang telah ditujukan mencapai suku bunga dana riil positif pada awal 2023,” ujar Jan Groen, kepala ahli strategi makro AS di TD Securities, mengacu pada suku bunga yang telah disesuaikan untuk inflasi. Alih-alih berporos, tambah Groen, dalam pandangannya The Fed memberi sinyal bahwa mereka memperkirakan pergeseran dari front-loading hingga Desember, menuju lebih banyak kenaikan dengan cepat mulai saat itu dan seterusnya. Sebagai informasi, mayoritas ekonom dalam jajak pendapat 17-24 Oktober memproyeksikan kenaikan 50 basis poin lagi pada Desember sehingga membuat FFR menjadi 4,25%-4,50% pada akhir 2022. Hal ini sesuai dengan prediksi median data poin (dot plot) The Fed. Menurut 49 dari 80 ekonom, FFR juga diperkirakan mencapai puncaknya pada 4,50%-4,75% atau lebih tinggi di kuartal I-2023. (Yoga)


Inflasi dan Suku Bunga Tinggi

KT3 26 Oct 2022 Kompas

Tekanan inflasi global masih tinggi. Bank-bank sentral menaikkan suku bunga lagi. Kemungkinan akan terjadi resesi global dan Indonesia harus menyesuaikan diri. Perekonomian Indonesia sendiri saat ini masih tumbuh cukup tinggi, didukung konsumsi dan harga komoditas yang tinggi. Dengan inflasi yang masih tinggi, yakni 8,3 % di AS, 9,1 % di Eropa, dan sangat tinggi di beberapa negara berkembang seperti Turki dan Argentina terutama karena tingginya harga energi dan pangan, ditambah berlanjutnya perang Rusia-Ukraina, bank sentral masih harus terus menaikkan suku bunga. Bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga lagi dengan cukup tinggi, 0,75 basis poin (bps), menjadi ke kisaran 3-3,25 %. Karena inflasi masih tinggi, diperkirakan The Fed masih akan menaikkan bunga lagi beberapa kali sampai 4 % pada akhir 2022 dan 4,6 % pada 2023 guna mengendalikan inflasi di kisaran 2 %.

Bank sentral lain mengikuti menaikkan suku bunganya karena juga menghadapi inflasi tinggi dan  menyesuaikan langkah The Fed untuk mengatasi aliran modal keluar dan pelemahan nilai tukar mata uang. BI juga menaikkan lagi suku bunga kebijakan 0,50 % menjadi 4,75 %. Dengan inflasi 4,69 % dan perkiraan inflasi pada 2022 sekitar 7 %, nilai rupiah melemah melebihi Rp 15.000 per dollar AS, BI kemungkinan masih harus menaikkan suku bunga lagi untuk mengendalikan inflasi dan stabilitas rupiah. Inflasi tinggi tidak saja terkait dengan tingginya harga pangan dan energi, tetapi juga terkait dengan kebijakan moneter dengan suku bunga rendah untuk menstimulasi ekonomi yang berjalan cukup lama pascakrisis keuangan global 2009. Kenaikan inflasi semestinya dapat diantisipasi sebagai konsekuensi dari rendahnya suku bunga, tetapi bank sentral pada umumnya menyepelekannya sehingga terkejut dan terlambat mengantisipasi kenaikan inflasi. (Yoga)


Redam Kejatuhan Rupiah, BI Agresif Naikkan Bunga

KT3 21 Oct 2022 Kompas

Kejatuhan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terus berlanjut ditambah ekspektasi inflasi yang dinilai masih tinggi mendorong BI kembali menaikkan suku bunga acuan secara agresif sebesar 50 basis poin menjadi 4,75 %. Kenaikan suku bunga acuan ini diharapkan bisa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengembalikan inflasi ke dalam sasaran 2-4 % pada semester I-2023. Kebijakan itu diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar, Kamis (20/10). Ini merupakan kenaikan 50 basis poin (bp) berturut-turut setelah pada bulan sebelumnya BI melakukan hal yang sama. Pada Agustus 2022, BI hanya menaikkan suku bunga sebesar 25 bp. Saat memaparkan hasil RDG BI secara daring pada Kamis, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan ini salah satunya untuk  memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya. Sejak awal tahun hingga 19 Oktober 2022, mata uang rupiah telah terdepresiasi 8,03 % terhadap dollar AS.

Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs rupiah pada perdagangan Kamis ditutup pada level Rp 15.579 per dollar AS, melemah dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di posisi Rp 15.491 per dollar AS. Kendati demikian, depresiasi kurs rupiah masih lebih rendah dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya, seperti rupee India yang melemah 10,42 %, ringgit Malaysia turun 11,75 %, dan baht Thailand yang anjlok 12,55 %. Pelemahan nilai tukar rupiah salah satunya dipicu langkah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang sepanjang tahun ini sangat agresif menaikkan suku bunga acuannya. Kini suku bunga acuan The Fed berada pada posisi 3,25 %. Investor memindahkan dananya ke aset-aset berdenominasi dollar AS lantaran imbal hasilnya lebih menarik. Di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian global, para pemodal makin terdorong menempatkan dananya di pasar AS. (Yoga)


Utak-Atik Bunga Kredit

HR1 21 Oct 2022 Bisnis Indonesia (H)

Sinyal kuat kenaikan bunga pinjaman mulai dilempar oleh pelaku industri perbankan dan multifinance sebagai respons atas penyesuaian bunga acuan oleh bank sentral. Meski masih terbatas, tanda-tanda kenaikan bunga kredit mulai terlihat di pasar. Bahkan sejumlah kalangan menilai, kenaikan bunga kredit makin tak terbendung pasca keputusan Bank Indonesia yang kembali mengerek bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin menjadi 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (20/10). Kenaikan itu menjadi yang ketiga kali secara berturut-turut sejak Agustus 2022. Jika dilihat sejak bunga acuan berada di level 3,5% pada Februari 2021 dan bertahan hingga 18 bulan lamanya hingga Juli 2022, terjadi tren penurunan bunga pinjaman. Sebagai gambaran, rata-rata bunga pinjaman pada Februari 2021 berada di level 9,65%. Sementara itu, posisi rerata bunga pinjaman pada Agustus 2022 berada di level 8,94%. Artinya, saat bunga acuan bertahan di level 3,5%, bunga kredit susut 71 basis poin. Sementara itu, bunga simpanan berjangka 1 bulan turun 99 basis poin. Kenaikan bunga pinjaman mulai tecermin dari suku bunga dasar kredit (SBDK) pada Agustus 2022 yang berada di level 8,6% dibandingkan dengan posisi Juli 2022 yang ada di level 8,56%. Industri multifinance mulai melakukan kalkulasi ulang terhadap bunga pinjaman yang dibebankan kepada konsumen. Direktur Utama PT Clipan Finance Indonesia Tbk. (CFIN) Harjanto Tjitohardjojo menuturkan penyesuaian bunga pinjaman besar kemungkinan mulai dilakukan pada November 2022. Langkah yang sama ditempuh PT Mandiri Tunas Finance yang telah mengerek bunga pinjaman kepada debitur baru sejak awal bulan ini.