;
Tags

Bunga

( 411 )

Mewaspadai Dampak Kenaikan Bunga

HR1 20 Jan 2023 Bisnis Indonesia

Bank Indonesia tancap gas mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, kemarin. Kenaikan tiada henti dalam 6 bulan terakhir sejak terjadi gonjang-ganjing ekonomi dunia dan lonjakan inflasi dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Sejak Agustus 2022, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 225 basis poin (bps) secara kumulatif. Ada kalanya bunga naik 25 bps atau 50 bps dalam sebulan. Dalih utama kenaikan BI7DRR itu karena kenaikan harga BBM. Akibat lonjakan harga energi dunia tersengat perang Ukraina-Rusia. Faktor lainnya, sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat—The Federal Reserve—dalam menaikkan suku bunga. The Fed, begitu biasa disebut, lebih agresif dalam menaikkan suku bunga acuan. Terakhir, pada Desember 2022, bank sentral AS itu menaikkan Fed Fund Rate sebesar 50 bps ke kisaran 4,25%-4,5%. Berbanding terbalik dengan Indonesia. Dampak kenaikan harga BBM ‘masih ramah’ terhadap lonjakan inflasi di Tanah Air. Saat bahan bakar subsidi naik pada awal September 2022, dampak terhadap kenaikan inflasi tidak sebesar perkiraan. Ramalan ekonom dan Perry Warjiyo, Gubernur BI, meleset. Mereka heran angka inflasi turun lebih cepat dari proyeksinya. Konsensus ekonom memprediksi inflasi sebesar 6,5% pada tahun lalu. Angka inflasi inti pun tercatat lebih rendah dari ramalan BI. Bank sentral memperkirakan inflasi inti dalam setahun penuh sekitar 4,61%, tetapi realisasinya pada akhir 2022 sebesar 3,36%.

Bunga BI Naik. Asing Memborong SBN

HR1 20 Jan 2023 Kontan

Bank Indonesia (BI) kembali mengerek bunga acuan. Keputusan itu berpotensi mendorong masuknya dana asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kemarin, Kamis (19/1), Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan menaikkan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Menurut Presiden dan CEO PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra, kenaikan suku bunga akan menguntungkan investor asing. Sebab, selisih bunga acuan BI menjadi lebih lebar dibandingkan suku bunga The Fed. Saat ini, Fed Fund Rate berada di kisaran 4,5%. Setelah mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,5% sejak Februari 2021 lalu, BI untuk pertama kalinya mengerek suku bunga acuan pada Agustus 2022 lalu. Per September 2022, posisi dana asing di pasar SBN sebesar Rp 730,26 triliun. Per 18 Januari 2023, asing memegang Rp 795,02 triliun. Ini artinya, kepemilikan asing di SBN bertambah Rp 64,76 triliun. Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan Deni Ridwan juga melihat aliran dana masuk ke pasar surat utang domestik seiring dengan langkah The Fed mengurangi agresivitas dalam kebijakan moneternya.

Respons Dini Redam Inflasi

HR1 20 Jan 2023 Bisnis Indonesia (H)

Bank Indonesia tak lagi agresif dalam menggunakan kebijakan suku bunga untuk menjangkar inflasi. Tahun memang telah berganti, tetapi lonjakan inflasi masih menjadi ancaman nyata ekonomi dunia, tak terkecuali bagi Indonesia. Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) rupanya mulai menunjukkan gelagat tak lagi agresif dalam menggunakan kebijakan suku bunga untuk menjangkar inflasi. Kendati tetap dilakukan, penaikan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) belakangan ini diklaim masih dalam takaran yang memadai. Hal itu dinilai tak lepas dari kebijakan suku bunga sebelumnya yang cukup agresif sehingga dapat meredam inflasi. Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan kenaikan suku bunga itu telah terukur dan diyakini efektif menjangkar gerak inflasi pada tahun ini. “BI memandang kenaikan ini memadai untuk memastikan inflasi inti akan tetap berada dalam kisaran 2%—4%, di bawah 4% pada semester I/2023,” katanya, Kamis (19/1). Dalam kesempatan terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, tak membantah bahwa ekonomi pada tahun ini menghadapi tekanan yang cukup berat. Hal itu dipicu oleh peningkatan inflasi, kenaikan suku bunga, dan konsekuensinya terhadap pelemahan ekonomi. Guna merespons tantangan itu, APBN 2023 pun disusun dengan mitigasi dan keleluasaan yang tinggi, terutama untuk sektor yang cukup rentan.

Bunga Kredit Meningkat, Beban Hidup Makin Berat

HR1 11 Jan 2023 Kontan (H)

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyentil bankir. Kata bendahara negara itu, di tengah tingginya tren kenaikan suku bunga, masyarakat semakin terbebani karena bunga cicilan semakin meningkat dan mahal. Menkeu bilang, jika bicara suku bunga atau interest rate naik, "Anda menari-nari di atas penderitaan semua orang," tandas Ani, panggilan karibnya di acara CEO Banking Forum, Senin (9/1). Jika bicara data, Menkeu tak salah. Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang sudah naik di semua segmen sejak Juli tahun 2022, ketika Bank Indonesia pertama kali menggerek bunga acuan. Rata-rata SBDK kredit korporasi naik dari 7,9% di Juli 2022 menjadi 8,06% di Oktober 2022. Lalu, kredit ritel naik dari 8,95% menjadi 9,09%, kredit mikro terkerek dari 10,46% menjadi 10,5%. kredit pemilikan rumah (KPR) dari 8,57% menjadi 8,66%. Kredit non-KPR merangkak 9,43% menjadi 9,54%. Tapi, bunga kredit riil bisa lebih tinggi dari itu. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut saat ini inflasi mulai terkendali. Ia ingin bunga kredit tidak naik berlebihan. Alasan BI menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan inflasi dan mendorong kenaikan imbal hasil surat berharga negara. Agar dana asing kembali masuk ke Tanah Air sehingga rupiah menguat. “Kami pastikan likuiditas lebih dari memadai,” ujar Perry belum lama ini.

Bunga KPR Menurun di Tengah Tren Kenaikan Bunga

KT3 10 Jan 2023 Kompas

BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 200 basis poin sejak Agustus 2022 hingga menjadi 5,5 % saat ini. Tren kenaikan suku bunga acuan tersebut mengerek suku bunga dana dan kredit perbankan. Kendati demikian, industri perbankan masih menahan kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), bahkan cenderung menurunkannya. Berdasarkan data BI, rata-rata suku bunga deposito 1 bulan meningkat dari 2,86 % pada Juli 2022, atau sebelum terjadi kenaikan suku bunga acuan, menjadi 3,7 % per November 2022. Kenaikan suku bunga acuan selama periode Agustus hingga November 2022 telah direspons dengan peningkatan suku bunga kredit konsumsi sebesar 181 basis poin (bps), diikuti oleh suku bunga jenis kredit modal kerja dan kredit investasi masing-masing sebesar 24 bps dan 15 bps. Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan suku bunga acuan BI telah mendongkrak suku bunga dana dan kredit perbankan. Namun, berdasarkan data asesmen transmisi suku bunga kebijakan yang dirilis BI, suku bunga KPR justru turun 5 basis poin dari 5,61 % pada Juli 2022 menjadi 5,56 % pada November 2022.

BI menyebut, menurunnya bunga KPR di tengah tren kenaikan suku bunga terjadi karena perbankan berupaya mendorong pertumbuhan KPR yang sempat melambat pada triwulan II-2022, dari 10 % secara tahunan menjadi 7 %. Bank terbesar di Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk hingga kini belum menaikkan suku bunga KPR-nya. ”Saat ini suku bunga KPR BRI mulai dari 2,77 % tetap selama setahun hingga 4,97 % tetap selama lima tahun. Secara teknis, penyesuaian suku bunga kredit tidak bisa dilakukan serta-merta begitu suku bunga acuan berubah disebabkan berbagai faktor, di antaranya factor likuiditas serta struktur simpanan dan pinjaman yang berbeda-beda antarbank,” ujar Sekretaris Perusahaan Bank BRI Aestika Oryza Gunarto, Senin (9/1). Ekonom dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto, menilai, tren menurunnya suku bunga KPR juga dipicu oleh adanya stimulus dari BI untuk memudahkan penyaluran KPR. Selain itu, ada dorongan dari pemerintah untuk memenuhi pembangunan rumah baru minimal satu juta unit per tahun. (Yoga)


Menadah Berkah Kala Bunga Tinggi

HR1 06 Jan 2023 Bisnis Indonesia

Masa peralihan ke era suku bunga tinggi sepanjang 2022 ternyata tak menjadi hambatan bagi aksi penggalangan dana di pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total penggalangan dana pada tahun lalu sebesar Rp267,73 triliun yang sebagian besar berasal dari aksi penerbitan surat utang korporasi.Tak heran bila realisasi tersebut turut mengerek bisnis underwriting aksi penggalangan dana melalui surat utang korporasi. Menurut data Bloomberg League Table, tiga underwriter teratas sepanjang 2022 adalah Indo Premier Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Aldiracita Sekuritas Indonesia. Melihat rapor hijau bisnis sekuritas pada 2022, prospek bisnis pada 2023 pun diramal masih ciamik. Iklim suku bunga acuan tinggi bakal mendorong aksi penggalangan dana di pasar modal. Hal itu memantik optimisme sekuritas.PT Aldiracita Sekuritas Indonesia misalnya, menargetkan menjadi penjamin pelaksana beberapa penerbitan obligasi. “Aldira juga merencanakan digitalisasi untuk perdagangan dan fasilitas nasabah dalam melakukan perdagangan saham online atau onlinetrading,” ujar CEO Aldiracita Sekuritas Rudy Utomo, Kamis (5/1). Senada, Deputy Director Investment Banking Mirae Asset Sekuritas Mukti Wibowo Kamihadi mengatakan pada 2023 peluang bagi market untuk IPO terbuka lebar. Utamanya, bagi perusahaan yang menarik dari sisi prospek pertumbuhan. Alhasil, kondisi tersebut bisa menjadi kekuatan saat menggalang dana jelang tahun politik. Perusahaan pun mengantongi mandat penjaminan IPO dari beberapa sektor salah satunya pertambangan nikel. Mirae Asset akan membawa beberapa emiten melantai pada tahun depan, dengan nilai penggalangan dana yang cukup besar. Membuka 2023, perusahaan menjadi penjamin pelaksana IPO PT Lavender Bina Cendikia Tbk. (BMBL). Direktur Utama BCA Sekuritas Mardy Sutanto tantangan pada 2023 tetap sama dengan dengan 2022 sehingga pasar modal Tanah Air masih memiliki potensi sehingga menawarkan peluang bagi aksi korporasi.

SURAT UTANG KORPORASI : WASPADAI RISIKO SEKTORAL

HR1 26 Dec 2022 Bisnis Indonesia

Buntut kenaikan suku bunga acuan dan potensi resesi ekonomi global pada 2023 mengerek risiko sejumlah perusahaan penerbit surat utang korporasi seperti infrastruktur, komoditas, dan usaha berbasis ekspor. Risiko kenaikan suku bunga acuan tak terelakkan karena misi Federal Reserve masih harus berlanjut karena bank sentral terkuat terjagat itu ingin membawa infl asi Negeri Paman Sam ke 2%. Sementara itu, infl asi tahunan pada November 2022 mencapai 7,1% sehingga selisih dengan target masih lebar. Dengan begitu, kondisi pasar surat utang masih merasakan dampaknya berlanjut pada 2023. Ekonom yang disurvei Bloomberg pun menyebut probabilitas resesi ekonomi di Amerika Serikat mencapai 70% atau yang tertinggi dibandingkan dengan survei yang digelar pada Juni 2022. Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan I PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefi ndo) Niken Indriarsih mengatakan beberapa sektor dibayangi oleh risiko yang lebih tinggi. Beberapa sektor seperti properti dan konstruksi masih memiliki risiko yang perlu diwaspadai. Belum lagi, selama pandemi sektor tersebut terkendala oleh pembatasan aktivitas. “Bisnis di beberapa sektor seperti sektor properti dan konstruksi tumbuh lebih rendah daripada pertumbuhan PDB,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (25/12). Sektor yang juga perlu mendapat perhatian karena berpotensi menanggung risiko yang lebih tinggi yakni sektor berbasis komoditas karena terdapat potensi koreksi harga. Niken berujar kenaikan suku bunga acuan bakal mengerek naik imbal hasil obligasi pemerintah yang menjadi acuan penetapan kupon obligasi korporasi. Tak heran bila instrumen obligasi korporasi masih menarik bagi investor karena menawarkan kupon tinggi. Niken memproyeksi bahwa kupon yang ditawarkan oleh instrumen berperingkat AAA tenor 5 tahun sebesar 7,73% hingga 8,12%. Kupon tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi pemerintah dengan tenor yang sama yakni 7,1% hingga 7,15%.

MITIGASI BI TEPIS RESESI

HR1 23 Dec 2022 Bisnis Indonesia (H)

Pengelolaan inflasi yang solid, serta kebijakan moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang terus mengendur, memberikan keleluasaan bagi Bank Indonesia (BI) untuk menyimpan amunisi menghadapi risiko ketidakpastian ekonomi global pada tahun depan. Buktinya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin, Kamis (22/12), BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan BI 7-day (Reverse) Repo Rate sebesar 25 basis points (bps), lebih rendah ketimbang kebijakan pada bulan-bulan berikutnya. Keputusan yang selaras dengan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) itu diharapkan dapat menguatkan senjata BI untuk mengelak dari dampak resesi dunia pada tahun depan. Apalagi, menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, kenaikan suku bunga The Fed akan berlanjut pada 2023, dan berada pada tingkat yang tinggi dalam jangka panjang. Sejauh ini, inflasi yang menjadi pertimbangan utama BI dalam mengatrol suku bunga pun perlahan terkendali seiring dengan ditebalkannya program bantuan sosial untuk mengompensasi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Alhasil, BI pun merevisi prospek inflasi pada tahun ini dari 6% menjadi 5,4%, sedangkan pada tahun depan inflasi inti diharapkan terkendali di bawah 4% pada semester I/2023, dan menuju titik tengah di 3% pada akhir tahun.

PENYALURAN KPR : BUNGA PINJAMAN DIJAGA

HR1 14 Dec 2022 Bisnis Indonesia

Industri perbankan penyalur kredit pemilikan rumah atau KPR masih menjaga tingkat suku bunga yang ditawarkan. Bahkan, bank-bank besar tetap memberikan tawaran bunga ringan dalam jangka waktu tertentu. Segmen KPR masih menjadi pendulang bagi bank dalam menyalurkan pembiayaan sampai akhir tahun ini. Bahkan, penyaluran KPR hingga 2023 diprediksi masih prospektif sejalan dengan masih adanya insentif terkait kelonggaran uang muka. Penyaluran KPR menunjukkan konsistensi dalam pertumbuhannya. Meski menjelang akhir tahun ini mulai melandai, permintaan KPR masih relatif terjaga. Data analisis uang beredar Bank Indonesia hingga Oktober 2022, outstanding KPR tercatat Rp627,3 triliun atau tumbuh 7,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. (Lihat infografi k) Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk. Hera F. Haryn mengatakan permintaan KPR tahun depan masih berlanjut, terutama didukung permintaan masyarakat yang masih melandai, khususnya milenial.Hingga saat ini, KPR BCA masih mempertahankan suku bunga dasar kredit (SBDK) KPR sebesar 7,2%. Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi menyatakan pada akhir tahun ini CIMB Niaga menggelar program Year End Xtralicious dan Xtra Pasti. Program ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas KPR dengan bunga, margin, atau ujrah secara terjangkau dan angsuran yang lebih pasti.

Arah Kebijakan Bank Sentral AS

KT3 13 Dec 2022 Kompas (H)

Keputusan besaran kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS atau The Fed dalam pertemuan 13-14 Desember ini jadi perhatian dunia. Pasalnya, tanda-tanda resesi dunia mulai tampak, terutama di zona euro. Kenaikan yang berlebihan untuk ke sekian kalinya akan mempercepat dunia memasuki jurang resesi. Meski demikian, prospek resesi,terutama di AS, belum jelas karena di tengah indikasi penurunan kegiatan ekonomi, beberapa indikator justru menunjukkan adanya ekspansi. Dampak lain dari kenaikan suku bunga The Fed adalah terlalu kuatnya dollar AS, terutama karena kehati-hatian pemodal internasional yang mengambil sikap ”cash is the king”. Penguatan mata uang dollar AS merupakan bebantambahan bagi pembayaran impor serta cicilan pokok dan pinjaman negara-negara berkembang serta emerging markets karena hampir semua transaksi global masih berdenominasi dollar AS. Indikasi awal resesi global terlihat dari penurunan harga minyak yang mendekati 70 dollar AS per barel. Awalnya harga minyak mencoba bertahan di kisaran 80-90 dollar AS per barel. Namun, pelemahan permintaan  dunia akibat antisipasi resesi dan penurunan kegiatan ekonomi akibat kebijakan mitigasi Covid-19 di China membuat harganya berada di kisaran bawah antara 70 dan 80 dollar AS per barel. Indikator awal di AS masih ambigu. Berbagai ramalan mengindikasikan resesi akan terjadi pada pertengahan 2023.

Satu indikator penting yang mengarah ke sana adalah angka PMI. Indeks PMI tiba-tiba berbalik dari zona ekspansi 50,4 pada Oktober ke kontraksi 47,7 pada November. Pertanda resesi lain adalah sudah terjadinya inverted yield curve, yakni imbal hasil untuk obligasi pemerintah bertenor jangka pendek lebih tinggi daripada yang bertenor jangka panjang. Para pemodal, karena ketidakpastian yang tinggi, beralih ke instrumen investasi finansial jangka pendek. Imbal hasil untuk obligasi treasury bertenor dua tahun tercatat 4,384 % berbanding dengan 3,692 % untuk obligasi treasury bertenor 10 tahun. Berlawanan dengan pertanda resesi di atas, pertumbuhan tahunan ekonomi AS pada triwulan III-2022 justru mencapai 2,9 % setelah dua bulan berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif 1,6 dan 0,6 %. Tekanan inflasi indeks harga konsumen (IHK) turun ke 7,7 % pada Oktober dari 8,2 % pada September. Menjelang pertemuan The Fed, perkembangan di atas menimbulkan perdebatan apakah selama ini kebijakannya terlalu hawkish. Dari berbagai headline di AS, tampaknya The Fed akan berubah (pivot) melunak, memberikan sinyal kenaikan berikutnya pada Desember adalah 50 basis poin, disusul 25 basis poin di awal 2023, ditanggapi dengan sinyal serupa oleh sejumlah bank sentral di dunia, di antaranya bank sentral Inggris (BOE), bank sentral Eropa (ECB), dan bank sentral Kanada (BOC). (Yoga)