SURAT UTANG KORPORASI : WASPADAI RISIKO SEKTORAL
Buntut kenaikan suku bunga acuan dan potensi resesi ekonomi global pada 2023 mengerek risiko sejumlah perusahaan penerbit surat utang korporasi seperti infrastruktur, komoditas, dan usaha berbasis ekspor.
Risiko kenaikan suku bunga acuan tak terelakkan karena misi Federal Reserve masih harus berlanjut karena bank sentral terkuat terjagat itu ingin membawa infl asi Negeri Paman Sam ke 2%. Sementara itu, infl asi tahunan pada November 2022 mencapai 7,1% sehingga selisih dengan target masih lebar. Dengan begitu, kondisi pasar surat utang masih merasakan dampaknya berlanjut pada 2023. Ekonom yang disurvei Bloomberg pun menyebut probabilitas resesi ekonomi di Amerika Serikat mencapai 70% atau yang tertinggi dibandingkan dengan survei yang digelar pada Juni 2022. Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan I PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefi ndo) Niken Indriarsih mengatakan beberapa sektor dibayangi oleh risiko yang lebih tinggi. Beberapa sektor seperti properti dan konstruksi masih memiliki risiko yang perlu diwaspadai. Belum lagi, selama pandemi sektor tersebut terkendala oleh pembatasan aktivitas.
“Bisnis di beberapa sektor seperti sektor properti dan konstruksi tumbuh lebih rendah daripada pertumbuhan PDB,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (25/12). Sektor yang juga perlu mendapat perhatian karena berpotensi menanggung risiko yang lebih tinggi yakni sektor berbasis komoditas karena terdapat potensi koreksi harga.
Niken berujar kenaikan suku bunga acuan bakal mengerek naik imbal hasil obligasi pemerintah yang menjadi acuan penetapan kupon obligasi korporasi. Tak heran bila instrumen obligasi korporasi masih menarik bagi investor karena menawarkan kupon tinggi. Niken memproyeksi bahwa kupon yang ditawarkan oleh instrumen berperingkat AAA tenor 5 tahun sebesar 7,73% hingga 8,12%. Kupon tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi pemerintah dengan tenor yang sama yakni 7,1% hingga 7,15%.
Postingan Terkait
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Pinjaman Bank Kini Lebih Mahal daripada Obligasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023