Bunga
( 411 )Daya Tahan Ekonomi Indonesia
Tren kenaikan suku bunga acuan di tingkat global belum juga surut. Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed, kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5%—5,25%. Kenaikan ini tercatat menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2007. Kebijakan moneter yang ditempuh The Fed ini sudah diproyeksikan sebelumnya. Bahkan, para ekonom memprediksikan bahwa The Fed bakal beberapa kali menaikkan suku bunga sepanjang 2023. Upaya The Fed untuk menetapkan kebijakan suku bunga tentu saja demi menjaga stabilitas ekonomi Negeri Paman Sam. Kendati, kebijakan itu berdampak pada munculnya gejolak di pasar keuangan, investasi negara lain, dan nilai tukar di sejumlah negara berkembang.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga menimbulkan tantangan baru berupa sulitnya pebisnis untuk mengakses kredit guna membiayai investasi. Hal ini berpengaruh terhadap penurunan investasi negara di luar Amerika Serikat. Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi kondisi perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.Namun, dari dalam negeri, Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) telah mengantisipasi risiko tersebut. Pemerintah pun terus memantau kesenjangan antara Surat Berharga Negara (SBN), dan yield obligasi Pemerintah AS (US Treasury Yield).
Di sisi lain, kenaikan suku bunga menimbulkan tantangan baru berupa sulitnya pebisnis untuk mengakses kredit guna membiayai investasi. Hal ini berpengaruh terhadap penurunan investasi negara di luar Amerika Serikat. Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi kondisi perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.Namun, dari dalam negeri, Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) telah mengantisipasi risiko tersebut. Pemerintah pun terus memantau kesenjangan antara Surat Berharga Negara (SBN), dan yield obligasi Pemerintah AS (US Treasury Yield).
Inflasi dan Kurs Terjaga, BI Tahan Suku Bunga Acuan
BI memutuskan kembali mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 5,75 %. Terkendalinya inflasi dan nilai tukar rupiah menjadi alasan BI mempertahankan tingkat suku bunga acuan. Posisi tingkat suku bunga acuan ini telah bertahan selama tiga bulan sejak Januari 2023. ”Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75 %, suku bunga Deposit Facility sebesar 5 %, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5 %,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Selasa (18/4).
Perry menjelaskan, keputusan tersebut konsisten dengan posisi kebijakan moneter yang antisipatif (pre-emptive) dan berorientasi ke depan (forward looking) untuk memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi dan inflasi ke depan. ”Kami meyakini tingkat suku bunga saat ini memadai untuk mengarahkan inflasi kembali ke sasaran target,” ujar Perry. Mengutip data BPS, inflasi umum pada Maret 2023 sebesar 4,97 % secara tahunan, menurun dibandingkan pada Februari 2023 di 5,47 5. Kendati demikian, inflasi tahunan tersebut masih berada di atas sasaran pengendalian inflasi yang ditetapkan BI, yakni 2-4 %. (Yoga)
RUANG LAPANG PERTUMBUHAN EKONOMI
Langkah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut membawa kabar baik bagi perekonomian nasional. Kemarin, Selasa (18/4) BI kembali mengumumkan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) tetap di level 5,75%. Tak ayal, Indonesia pun memiliki waktu ekstra menghimpun kekuatan guna mendongkrak ekonomi menghadapi ancaman perlambatan global yang salah satunya terbaca melalui realisasi ekspor Maret yang terkontraksi 11,3% (year-on-year)—kinerja terburuk setelah Mei 2020—menjadi US$23,5 miliar. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) penurunan itu terjadi akibat pelemahan permintaan negara tujuan ekspor dan tren penurunan harga komoditas. Padahal, ekspor menyumbang 30% produk domestik bruto.
Gubernur BI Perry Warjiyo seusai Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa (18/4), mengatakan infl asi utama telah melambat ke level terendah dalam tujuh bulan sebesar 4,97% (YoY) pada Maret, dan diperkirakan akan kembali ke kisaran target 2%-4% pada Agustus—lebih awal dari perkiraan sebelumnya, yakni mulai September.
“Bank Indonesia meyakini bahwa BI-7DRR sebesar 5,75% tersebut memadai untuk mengarahkan inflasi inti tetap berada dalam kisaran 2%-4% pada sisa 2023 dan indeks harga konsumen [IHK] kembali ke dalam sasaran 2%-4% lebih awal dari perkiraan sebelumnya," ujar Perry. Dari sisi kurs, rupiah telah terapresiasi 5,2% dari posisi akhir 2022, sehingga menjadikannya mata uang berperforma terbaik di Asia.
Suku Bunga Jepang Tetap Rendah
Gubernur Bank of Japan (BoJ) baru, Kazuo Ueda menyampaikan pesan bahwa Jepang akan tetap menjadi negara yang dovish dalam hal kebijakan moneter. Dengan mempertahankan tingkat suku bun ga sangat rendah, setidaknya untuk saat ini. Ueda menyampaikan itu di hadapan para pembuat kebijakan dari kelompok negara ekonomi maju di Washington, AS pekan lalu. Sejak mengambil alih tampuk kepemimpinan seminggu yang lalu, Ueda telah memberikan beberapa petunjuk bahwa stimulus besar-besaran dari pendahulunya yang dovish, Haruhiko Kuroda, pada akhirnya akan dihapuskan. Namun, diskusi mengenai kapan dan bagaimana beralih dari kebijakan sangat longgar akan membutuhkan waktu. Dengan demikian, Ueda memi liki banyak alasan untuk meyakinkan dunia bahwa perubahan tidak akan terjadi dengan cepat.
“Di banyak negara, tingkat inflasi sangat tinggi atau tidak cukup melambat. Hal yang penting adalah, situasinya sangat berbeda di Jepang, yang saya jelaskan dalam pertemuan tersebut,” ujar Ueda kepada wartawan, Rabu (12/04) usai menghadiri pertemuan para pemimpin keuangan kelompok G7 di sela Pertemuan Musim Semi Bank Dunia-IMF, yang dilansir Reuters pada Senin (17/04). Dalam pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 pada Kamis (13/04/2023), Ueda mengatakan inflasi Jepang yang saat ini sekitar 3% bakal melambat kembali di bawah target 2% BoJ akhir tahun ini, karena turunnya biaya impor. Ia sekaligus menjelaskan rencananya untuk mempertahankan kebijakan moneter yang sangat longgar untuk saat ini. (Yetede)
Inflasi Mereda, The Federal Reserve Tidak Lagi Agresif Menaikkan Bunga
Di luar prediksi, laju inflasi AS Maret 2023, yoy, sebesar 5%, turun dari 6% bulan sebelumnya. Meski masih jauh dari target 2%, inflasi Maret dikhawatirkan sebagai sinyal datangnya resesi ekonomi. Setelah sembilan kali kenaikan sejak 17 Maret 2022, fed funds rate (FFR) atau suku bunga acuan Bank Sentral AS tahun ini diperkirakan hanya sekali lagi dinaikkan, sebesar 25 basis poin ke level 5,00%-5,25%. Para analis memperkirakan The Federal Reserve (Fed) tidak lagi agresif menaikkan FFR. Pada pertemuan FOMC 2-3 Mei 2023, FFR hanya dinaikkan 0,25% sebagai respons terhadap kenaikan indeks harga konsumen (IHK) yang di luar perkiraan.
Kenaikan IHK kelompok pangan relatif rendah, yakni 8,5%. Sedang IHK kelompok energi malah minus 6,4%. Kedepan, FFR kemungkinan besar akan diturunkan perlahan untuk mencegah resesi ekonomi. Perkiraan ini membuat pasar saham di Wall Street dan di sejumlah bursa dunia bergairah. Respons positif juga terjadi di pasar kripto. “IHK utama AS melambat lebih dari yang diharapkan. The Fed telah mendekati akhir siklus pengetatan dan pertumbuhan ekonomi tidak panas tapi tidak dingin, menghasilkan lingkungan seperti goldilocks (ideal),” kata analis Christopher Wong dari OCBC di Singapura, Kamis (13/04). (Yetede)
Indonesia Masih Negosiasi Bunga Pinjaman Biaya Kereta Api Cepat
Pemerintah Indonesia masih melakukan negosiasi dengan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terkait tingkat suku bunga pinjaman US$ 560 juta untuk menutup sebagian kenaikan biaya (cost overrun) proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang mencapai US$ 1,2 miliar atau Rp 18,2 triliun. Pinjaman itu akan diberikan oleh China Development Bank (CBD). Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, beberapa waktu lalu, tim teknis dari kedua negara telah menyepakati nilai cost overrun proyek KCJB sebesar US$ 1,2 miliar. Selain menegosiasikan tingkat suku bunga, saat ini pihaknya juga sedang melakukan finalisasi mengenai struktur maupun tenor pinjaman.
“Pembicaraan detail dari dua belah pihak sepakat angkanya US$ 1,2 miliar. Soal pinjaman terhadap KAI terkait pinjaman cost overrun, kami sedang finalkan negosiasi tentang suku bunga. Suku bunga sudah turun dari 4%. Sekarang kita pengen lebih rendah lagi. Ya kita lihat lah. Insyaallah akan beres,” kata Luhut dalam konferensi pers terkait perkembangan terkini kerja sama Indonesia-Tiongkok di Jakarta, Senin (10/04). Luhut mengungkapkan, pihak Tiongkok telah menawarkan tingkat suku bunga 3,4% dengan total pinjaman US$ 560 juta. Namun, pemerintah berharap suku bunga pinjaman bisa sekitar 2%. Ia juga menargetkan negosiasi terkait total pinjaman, suku bunga hingga tenor bisa difinalkan sekitar pekan depan. (Yetede)
The Fed Lagi-lagi Naikkan Suku Bunga
Bank sentral AS, The Fed, kembali menaikkan suku bunga inti untuk kesembilan kalinya sebesar 0,25 % guna menurunkan inflasi. Dengan demikian, tingkat suku bunga inti AS sekarang berkisar 4,75 % hingga 5 %. ”Kenaikan suku bunga ke depan juga tetap dilakukan hingga inflasi bisa diturunkan menjadi 2 %,” kata Gubernur The Fed Jerome Powell dalam jumpa pers di Washington DC, AS, Rabu (22/3/2023) waktu setempat atau Kamis dini hari WIB. Suku bunga The Fed sepanjang 2023 diperkirakan berkisar 5,1 %. (Yoga)
The Fed Naikkan Suku Bunga Ditengah Gejolak Perbankan
WASHINGTON, ID-The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke level 4,75-5,00%, pada Rabu (22/3/2023) waktu Ameika Serikat. Namun, bank sentral AS tersebut mengindikasikan bakal segera menghentikan siklus kenaikan biaya pinjaman, setelah runtuhnya dua bank di negeri Paman Sam baru-baru ini. Gubernur The Fed Jarome Powel berusaha meyakinkan para investor mengenai kondisi kesehatan sistem perbankan. Ia mengatakan, kendati manajemen Silicon Valley Bank (SVB) telah gagal total, keruntuhan yang dialami Bank tersebut tidak menunjukkan kelemahan yang lebih luas dalam sistem perbankan. "Ini bukanlah kelemahan yang menyebar secara luas diseluruh sistem perbankan. Aksi pengambilalihan Credit Suisse juga sepertinya telah membuahkan hasil yang positif," ujarnya, sebagaimana dikutip Reuters pada amis (23/3/2023). (Yetede)
Keputusan The Fed Jadi Sentimen IHSG
Pasar saham dalam negeri terus terombang-ambing sentimen eksternal. Sejumlah analis meramal, fluktuasi pasar saham masih akan berlanjut pada pekan ini.
Volatilitas pasar saham ini merespons kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Pada Selasa dan Rabu pekan ini, The Fed akan menggelar rapat
Federal Open Market Committe
(FOMC).
Financial Expert
Ajaib Sekuritas Asia Chisty Maryani memproyeksi, The Fed akan mengerek bunga acuan 25 basis points (bps) ke 4,75%-5%.
CEO Edvisor.id Praska Putrantyo sepakat, The Fed akan mendongkrak suku bunga acuan sebesar 25 bps. Sejumlah kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam bakal menjadi pertimbangan The Fed.
Investment Specialist
Syailendra Capital Gelbi Amoretta mengestimasi, The Fed akan mengatrol bunga acuannya 25 bps ke level 5% pada 2023.Gelbi menilai, kebijakan The Fed akan jadi katalis yang diperhatikan pelaku pasar.
The Fed Tetap Naikkan Suku Bunga 25 Bps
Walaupun terjadi gejolak di industri perbankan, konsensus di pasar finansial memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) tetap menyetujui kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) pekan ini. Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS tersebut telah bergerak liar dalam dua pekan terakhir. Bervariasi antara prediksi kenaikan 50 bps, dipertahankan di kisaran 4,50%-4,75% saat ini, bahkan ada yang memperkirakan dipangkas 25 bps. Namun konsensus yang terakhir muncul adalah Gubernur The Fed Jerome Powell dan para koleganya di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) ingin memberi sinyal bahwa sementara The Fed juga menyoroti dan mencermati pergolakan di sektor keuangan, tapi tetap penting untuk melanjutkan perjuangan memerangi inflasi. Pasar finansial memperkirakan The Fed menaikkan fed funds rate (FFR) 0,25 poin persentase atau 25 bps.
Disertai jaminan bahwa tidak ada ketetapan untuk arah kebijakan ke depan. “Mereka harus melakukan sesuatu, jika tidak akan kehilangan kredibilitas,” kata Doug Roberts, pendiri dan direktur strategi investasi Channel Capital Research, seperti dikutip CNBC akhir pekan lalu. The Fed, tambah dia, ingin menaikkan 25 basis poin dan penaikan sebesar itu merupakan pesan. “Tapi itu benar-benar akan bergantung pada pernyataan setelahnya, apa yang akan dikatakan Powell pada konferensi pers. Saya pikir tidak akan ada perubahan 180 derajat dari yang telah dibicarakan semua orang. Pasar sebagian besar setuju bahwa Fed akan menaikkan suku bunga,” tandas Roberts. Menyusul bangkrutnya Silicon Valley Bank (SVB), disusul penutupan Signature Bank, dan penyelamatan First Republic Bank oleh bank-bank lebih besar, The Fed menghadapi tugas yang mau tidak mau harus di[1]ambil. Antara memerangi inflasi yang terus tinggi dan tanpa menambah gejolak di sektor keuangan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
KKP Genjot Revitalisasi Tambak Udang Tradisional
23 Feb 2022 -
Minyak Goreng, Wajah Kemanusiaan Kita
24 Feb 2022









