RUANG LAPANG PERTUMBUHAN EKONOMI
Langkah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut membawa kabar baik bagi perekonomian nasional. Kemarin, Selasa (18/4) BI kembali mengumumkan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) tetap di level 5,75%. Tak ayal, Indonesia pun memiliki waktu ekstra menghimpun kekuatan guna mendongkrak ekonomi menghadapi ancaman perlambatan global yang salah satunya terbaca melalui realisasi ekspor Maret yang terkontraksi 11,3% (year-on-year)—kinerja terburuk setelah Mei 2020—menjadi US$23,5 miliar. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) penurunan itu terjadi akibat pelemahan permintaan negara tujuan ekspor dan tren penurunan harga komoditas. Padahal, ekspor menyumbang 30% produk domestik bruto.
Gubernur BI Perry Warjiyo seusai Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa (18/4), mengatakan infl asi utama telah melambat ke level terendah dalam tujuh bulan sebesar 4,97% (YoY) pada Maret, dan diperkirakan akan kembali ke kisaran target 2%-4% pada Agustus—lebih awal dari perkiraan sebelumnya, yakni mulai September.
“Bank Indonesia meyakini bahwa BI-7DRR sebesar 5,75% tersebut memadai untuk mengarahkan inflasi inti tetap berada dalam kisaran 2%-4% pada sisa 2023 dan indeks harga konsumen [IHK] kembali ke dalam sasaran 2%-4% lebih awal dari perkiraan sebelumnya," ujar Perry. Dari sisi kurs, rupiah telah terapresiasi 5,2% dari posisi akhir 2022, sehingga menjadikannya mata uang berperforma terbaik di Asia.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023