Mewaspadai Dampak Kenaikan Bunga
Bank Indonesia tancap gas mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, kemarin. Kenaikan tiada henti dalam 6 bulan terakhir sejak terjadi gonjang-ganjing ekonomi dunia dan lonjakan inflasi dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Sejak Agustus 2022, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 225 basis poin (bps) secara kumulatif. Ada kalanya bunga naik 25 bps atau 50 bps dalam sebulan. Dalih utama kenaikan BI7DRR itu karena kenaikan harga BBM. Akibat lonjakan harga energi dunia tersengat perang Ukraina-Rusia. Faktor lainnya, sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat—The Federal Reserve—dalam menaikkan suku bunga. The Fed, begitu biasa disebut, lebih agresif dalam menaikkan suku bunga acuan. Terakhir, pada Desember 2022, bank sentral AS itu menaikkan Fed Fund Rate sebesar 50 bps ke kisaran 4,25%-4,5%. Berbanding terbalik dengan Indonesia. Dampak kenaikan harga BBM ‘masih ramah’ terhadap lonjakan inflasi di Tanah Air. Saat bahan bakar subsidi naik pada awal September 2022, dampak terhadap kenaikan inflasi tidak sebesar perkiraan. Ramalan ekonom dan Perry Warjiyo, Gubernur BI, meleset. Mereka heran angka inflasi turun lebih cepat dari proyeksinya. Konsensus ekonom memprediksi inflasi sebesar 6,5% pada tahun lalu. Angka inflasi inti pun tercatat lebih rendah dari ramalan BI. Bank sentral memperkirakan inflasi inti dalam setahun penuh sekitar 4,61%, tetapi realisasinya pada akhir 2022 sebesar 3,36%.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023