Rezim Bunga Tinggi Ancam Ekonomi 2023
JAKARTA, ID — Rezim bunga tinggi di beberapa negara, terutama Amerika Serikat (AS), mengancam perekonomian Indonesia tahun 2023. Saat suku bunga melonjak, modal asing akan keluar dari pasar keuangan. Kondisi ini menghambat investasi dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Federal funds rate (FFR) bisa mendorong Bank Indonesia (BI) melakukan hal yang sama demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Imbasnya, bunga kredit perbankan naik. Saat ini, FFR berkisar 3,75-4% dan diprediksi terus naik hingga 5-6% pada tahun 2023. Sementara itu, BI 7Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) saat ini mencapai 5,25%. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, bank sentral AS, The Federal Reserve, mengerek suku bunga acuan untuk memoderasi sisi permintaan, sehingga inflasi tidak melonjak Tren ini diprediksi terus berlanjut. “Beberapa pejabat The Fed sudah menyampaikan it gonna be high for relatively long. Ini berarti dampaknya terhadap ekonomi mungkin akan terasa sepanjang tahun 2023,” ucap Menkeu di Jakarta, Jumat (2/12/2022).
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023