FONDASI SOLID EKONOMI RI
The Fed makin beringas. Kemarin, Kamis (3/11) waktu Indonesia, bank sentral Amerika Serikat itu kembali mengerek suku bunga acuan sebesar 75 basis points (bps) ke rentang target 3,75%—4%. Artinya, sudah empat kali berturut-turut The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 75 bps. Langkah agresif itu pun membuat negara-negara lain waspada, tak terkecuali Indonesia. Sebab, kenaikan suku bunga acuan AS bakal menyumbat aliran dana asing ke dalam negeri, lantaran investor lebih memilih memarkir uang mereka di Negeri Paman Sam karena bunga yang lebih menarik. Kendati demikian, situasi tersebut sejatinya sudah terbaca oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yang jauh-jauh hari bermanuver untuk memitigasi risiko tersebut. Salah satunya dengan optimalisasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di dalam negeri. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi risiko capital outflow. Antisipasi moneter juga sudah ditempuh BI melalui strategi front loaded, preemptive, dan forward looking, dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 125 bps menjadi 4,75% per bulan lalu. Secara makro, ekonomi nasional juga terbukti mampu menahan hentakan yang ditimbulkan dari kebijakan The Fed. Hal ini tecermin dari realisasi inflasi yang sebesar 5,71% (year-on-year/YoY) pada Oktober 2022, turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 5,95% (YoY). Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan bank sentral memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang sesuai kenaikan suku bunga acuan BI untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran lebih awal.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023