Bunga
( 411 )Positif Bagi Bursa, Negatif Bagi Rupiah
BI memilih tetap mempertahankan BI 7-day-RR di level 3,5 % selama 18 bulan berturut-turut, saat banyak negara mengerek suku bunga untuk mengatasi inflasi. Diluar dugaan, pasar saham merespon positif kebijakan ini. Kepala Riset Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya mengatakan, respon positif ini tercermin dari koreksi IHSG yang tipis, Kamis (21/7) IHSG terkoreksi 0,15 % ke level 6.864,13. Investor asing juga masih mencatatkan net buy Rp 540 miliar.
Namun di pasar valuta, keputusan BI tersebut berdampak negatif bagi nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom BCA David Sumual meyakini nilai tukar rupiah akan kembali melemah. Penyebabnya selisih suku bunga USD dan Rupiah semakin tipis. Analis Monex Investindo Faisyal juga melihat investor akan menjauhi Rupiah. “Bukan tidak mungkin Rupiah melemah ke Rp 15.200-Rp 15.500 per USD,” ujar Faisyal. (Yoga)
BI Diproyeksikan Masih Tahan Suku Bunga Acuan
Bank Indonesia (BI) diprediksi, tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% dalam Rapat Dewan Gubernur BI Juli 2022, meski inflasi Juni 2022 sudah melebihi atas dari target inflasi BI yang sebesar 4% year on year (yoy). Kepala Ekonom Bank Permata Joshua Pardede mengatakan, BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan., karena inflasi inti yang merupakan proxy dari inflasi fundamental belum menunjukkan peningkatan yang signifikan "Selain itu BI juga mengimplementasi kebijakan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," ucapnya saat dihubungi. "Surplus neraca transaksi berjalan sejak Indonesia kuartal III-2021 yang ditopang oleh tren kenaikan harga komoditas mengindikasikan bahwa kondisi keseimbangan eksternal tetap solid sehingga tetap dalam mendukung stabilitas rupiah," kata dia. Meski demikian, dalam Lelang Operasi Pasar Terbuka pada Juli. Reserve Repo dengan tenor dua minggu, i bulan, 3 bulan, tercatat naik sekitar 25-35 bps jika dibandingkan akhir bulan Juni ke level 3,8%, 3,85%, 3,9%. Hal tersebut secara umum juga memberi indikasi bahwa BI juga memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuannya. (Yetede)
Resesi sebagai ”ObatKeras” Inflasi Global
Bank sentral Amerika Serikat atau The Fed menaikkan suku bunga acuannya pada 15 Juni 2022. The Fed mencoba mengendalikan inflasi AS yang mencapai 8,6 % pada Mei, tertinggi sejak 1994.Banyak pihak khawatir kebijakan ini overdosis, akan membawa AS ke jurang resesi lebih dalam, karena masalahnya adalah sisi produksi dunia yang terganggu perang Rusia-Ukraina. Resep standar untuk menurunkan inflasi adalah ”meresesikan” ekonomi dengan menurunkan sisi permintaan masyarakat. Caranya, mengurangi ekspansi jumlah uang beredar, menaikkan suku bunga acuan bank sentral atau instrumen lain untuk memperketat likuiditas. Dengan begitu, masyarakat, baik konsumen maupun perusahaan, menurunkan belanja. Namun, resesi ada biayanya, yakni kenaikan pengangguran. Ini perlu dicarikan strategi untuk meminimalkannya (Okun, 1978).
Dengan tingkat inflasi setinggi itu, The Fed bersikeras menaikkan suku bunga acuan. Kesan sebagai ”obat keras” terlihat dari besaran kenaikan yang mencapai 75 basis poin. Suku bunga acuan The Fed juga mungkin naik lagi pada Juli karena inflasi Juni mencapai 9,1 %. Alasan kenaikan suku bunga setinggi ini : Pertama, masalah kredibilitas dan reputasi (Persson dan Tabellini, 1994). The Fed ingin memperbaiki citranya dengan respons lebih galak (hawkish) terhadap inflasi. Kedua, daya beli konsumen yang menurun. Survei oleh CNBC AS menyebutkan, pelemahan permintaan masyarakat sudah terlihat, 65 % responden prihatin dengan inflasi tinggi sehingga mengubah perilaku, 77 % mengurangi makan di luar rumah, 69 % mengurangi mencari hiburan di luar, 63 % mengurangi perjalanan wisata. (Yoga)
Kenaikan BI Rate Jadi Obat Kuat Rupiah
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat masih dibayangi berbagai sentimen global. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) diharapkan menjadi obat kuat bagi rupiah yang loyo.
Senin (18/7), nilai tukar rupiah ditutup naik di level 16 poin ke level Rp 14.981 per dollar Amerika Serikat (AS) dibanding kan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 14.997 per dollar AS.
Waspadai Lonjakan Nilai dan Beban Bunga Utang
Indonesia perlu bersiap mengurangi utang saat perekonomian global yang semakin rentang masuk ke jurang resesi. Pengurangan beban utang ini salah satu cara mengurangi risiko agar ekonomi Indonesia tidak terpapar oleh krisis global. Sebagai gambaran risiko global meningkat sejalan dengan lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS) pada Juni 2022 yang melonjak ke level 9,1% atau inflasi tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Secara tidak langsung, hal ini akan memberikan tekanan untuk Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuannya alias BI 7-Day Reserver Repo Rate (BI7DRR) lebih cepat. Walhasil beban bunga utang yang harus dibayar pemerintah juga naik.
Waspadai Lonjakan Inflasi AS
Lonjakan inflasi di Amerika Serikat patut diwaspadai karena menambah ketidakpastian perekonomian global. Jika tidak dimitigasi dengan baik, kondisi tersebut bisa mengganggu pemulihan ekonomi di dalam negeri. Badan statistik AS mencatat, inflasi AS Juni 2022 mencapai 9,1 % secara tahunan. Inflasi tahunan tertinggi di AS sejak 1981 ini berpotensi mendorong bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), makin agresif menaikkan suku bunga acuan. Sepanjang tahun ini saja, The Fed sudah menaikkan suku bunganya sebanyak 150 basis poin ke level 1,5-1,75 %.
Dalam jumpa pers menjelang pertemuan inti tingkat menteri keuangan dan gubernur bank sentral (finance minister and central bank governor/FMCBG) kelompok G20 di Nusa Dua, Bali, Kamis (14/7) Menkeu AS Janet Yellen menjelaskan, inflasi di negaranya dipicu harga komoditas energi yang tinggi. Hal ini merupakan dampak dari ketegangan politik Rusia dengan Ukraina yang memicu kenaikan harga komoditas energi. Deputi Gubernur BI Yuda Agung menjelaskan, kendati terus menanjak, inflasi masih terkendali. Namun, menurut dia, BI siap untuk menyesuaikan suku bunga acuan jika inflasi inti terus meningkat. Saat ini BI mempertahankan tingkat suku bunga acuan sebesar 3,5 %. (Yoga)
Bunga Naik, Cuan Juga Makin Menarik
Dana kelolaan reksadana terproteksi masih menanjak. Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana kelolaan reksadana terproteksi periode Juni mencapai Rp 109,71 triliun, naik 5,44% dibanding Mei. Angka ini juga lebih tinggi 4,63% dibanding akhir tahun 2021.
Kenaikan ini antara lain didukung kinerja pasar obligasi yang jadi aset reksadana. Di Juni kemarin, imbal hasil obligasi korporasi dan obligasi negara rata-rata meningkat.
Selain itu, menurut Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana, kenaikan dana kelolaan reksadana terproteksi juga didorong maraknya penerbitan obligasi korporasi bulan lalu. Obligasi korporasi yang baru-baru ini diterbitkan mengalami kenaikan kupon dibanding tahun sebelumnya, serta jauh di atas bunga deposito.
Analis menilai, reksadana terproteksi juga menarik bagi investor ritel. Jumlah investor ritel di reksadana terproteksi juga meningkat.
Kinerja reksadana terproteksi tahun ini akan naik terdorong sentimen kenaikan kupon obligasi. "Kenaikan suku bunga memaksa perusahaan menerbitkan obligasi dengan kupon lebih tinggi," ujar Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, kemarin.
Memantau ”Hilal” Kenaikan Bunga Acuan
Pembukaan kembali aktivitas ekonomi di tengah disrupsi rantai produksi global serta perang antara Rusia dan Ukraina telah menyebabkan harga-harga barang di berbagai belahan dunia meningkat. Kenaikan harga barang secara umum yang dikenal dengan istilah inflasi ini mulai mengkhawatirkan. Pasalnya, tren peningkatan inflasi terus berlanjut meskipun bank-bank sentral di beberapa negara telah melakukan normalisasi, bahkan pengetatan kebijakan moneternya.Terlepas dari dinamika inflasi global dan pengetatan kebijakan moneter dunia, BI sebagai bank sentral Republik Indonesia tetap menahan suku bunga acuan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa BI tidak buru-buru menaikkan suku bunga mengingat inflasi inti yang rendah.
Seiring perbaikan ekonomi domestik Indonesia, tahun ini inflasi inti merangkak naik. Inflasi inti tercatat 2,63 % yoy pada Juni 2022. Dengan demikian, wajar jika BI tidak terburu-buru dalam menaikkan suku bunga acuannya. Namun, arah dari inflasi dan nilai tukar mata uang ini penting untuk dicermati. Inflasi intiterlihat konsisten meningkat sejak Oktober 2021 dari level 1,33 %. Peningkatan inflasi inti akan terus terjadi mengingat kondisi perekonomian domestik yang terus membaik. ”Hilal” makin dekat, dari sisi nilai tukar, rupiah melemah 2,2 % pada akhir Juni dibandingkan dengan akhir Mei seiring dengan semakin agresifnya The Fed dalam menaikkan bunga acuannya. Memasuki semester II-2022, rupiah kembali melemah, hampir menembus level Rp 15.000 per USD. Dampak suku bunga acuan kepada inflasi memiliki waktu tunda untuk tersalurkan secara penuh (sekitar dua kuartal). Artinya, untuk mencegah inflasi terlalu tinggi, BI juga perlu menyesuaikan suku bunga lebih dahulu (pre-emptive). (Yoga)
Saatnya Bunga Acuan Dinaikkan
Untuk menyelamatkan perekonomian nasional, sudah saatnya Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan, BI 7-Day Repo Rate (BI7DRR), yang selama 17 bulan berturut-turut dipatok di level 3,5%. Penaikan BI7DRR diperlukan terutama untuk mencegah pelemahan rupiah lebih dalam akibat pelarian modal asing (capital flight). Pelemahan nilai tukar rupiah secara masif akan memicu inflasi. Laju inflasi yang tinggi bakal menekan daya beli masyarakat, menggerus daya saing dunia usaha, mengganggu ketahanan APBN, dan memangkas pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20-21 Juli mendatang merupakan timing yang tepat untuk menaikkan BI7DRR minimal 25 bps. Apalagi bank sentral berbagai negara, termasuk Bank sentral AS, The Fed, sedang berancang-ancang menaikkan kembali suku bunga. Selisih (spread) suku bunga domestik dan suku bunga global yang semakin tipis akan membuat investor asing tergoda untuk keluar dari Indonesia. Mereka akan mengincar negara-negara lain yang menawarkan suku bunga lebih tinggi. (Yetede)
BI Sudah, Sekarang Giliran Pemerintah
Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di level rendah, 3,5%, demi menjaga inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun keputusan bank sentral tersebut bakal percuma jika pemerintah gagal mengendalikan lonjakan harga barang.
Faktanya, kini, harga bahan makanan dan barang lain sudah naik. Berdasarkan pantauan KONTAN di gerai Alfamart di Tambun, Bekasi, harga produk seperti mi instan goreng, misalnya, naik dari kisaran Rp 102.000-Rp 105.000 per dus menjadi Rp 110.000 per dus.
Pilihan Editor
-
Pusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan
04 Jan 2022 -
Tantangan Perbankan 2022
03 Jan 2022









