Memantau ”Hilal” Kenaikan Bunga Acuan
Pembukaan kembali aktivitas ekonomi di tengah disrupsi rantai produksi global serta perang antara Rusia dan Ukraina telah menyebabkan harga-harga barang di berbagai belahan dunia meningkat. Kenaikan harga barang secara umum yang dikenal dengan istilah inflasi ini mulai mengkhawatirkan. Pasalnya, tren peningkatan inflasi terus berlanjut meskipun bank-bank sentral di beberapa negara telah melakukan normalisasi, bahkan pengetatan kebijakan moneternya.Terlepas dari dinamika inflasi global dan pengetatan kebijakan moneter dunia, BI sebagai bank sentral Republik Indonesia tetap menahan suku bunga acuan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa BI tidak buru-buru menaikkan suku bunga mengingat inflasi inti yang rendah.
Seiring perbaikan ekonomi domestik Indonesia, tahun ini inflasi inti merangkak naik. Inflasi inti tercatat 2,63 % yoy pada Juni 2022. Dengan demikian, wajar jika BI tidak terburu-buru dalam menaikkan suku bunga acuannya. Namun, arah dari inflasi dan nilai tukar mata uang ini penting untuk dicermati. Inflasi intiterlihat konsisten meningkat sejak Oktober 2021 dari level 1,33 %. Peningkatan inflasi inti akan terus terjadi mengingat kondisi perekonomian domestik yang terus membaik. ”Hilal” makin dekat, dari sisi nilai tukar, rupiah melemah 2,2 % pada akhir Juni dibandingkan dengan akhir Mei seiring dengan semakin agresifnya The Fed dalam menaikkan bunga acuannya. Memasuki semester II-2022, rupiah kembali melemah, hampir menembus level Rp 15.000 per USD. Dampak suku bunga acuan kepada inflasi memiliki waktu tunda untuk tersalurkan secara penuh (sekitar dua kuartal). Artinya, untuk mencegah inflasi terlalu tinggi, BI juga perlu menyesuaikan suku bunga lebih dahulu (pre-emptive). (Yoga)
Tags :
#BungaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023