Bunga
( 411 )Kebijakan Moneter, BI yang Percaya Diri
Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (17/3) memutuskan mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 3,5 %, suku bunga deposit facility 2,75 %, dan suku bunga lending facility 4,25 %, yang sudah bertahan 13 bulan sejak Februari 2021. BI menilai keputusan tersebut sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan terkendalinya inflasi, serta upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, di tengah tekanan eksternal yang meningkat, terutama terkait ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina.
BI selanjutnya terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rangka mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan, serta meningkatkan kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, ekspor, serta inklusi ekonomi dan keuangan. Tren peningkatan inflasi saat ini tidak tepat jika direspons dengan kenaikan suku bunga acuan, yang akan menjadi bumerang karena akan menahan proses pemulihan ekonomi yang kini tengah berlangsung. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi memang diperlukan tingkat suku bunga acuan yang rendah. (Yoga)
Sesuai Proyeksi Pasar
Fundamental yang kuat membuat kurs rupiah bergerak stabil. Hari ini, analis menilai rupiah juga tak banyak gerak. Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana menjelaskan, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga membuat pasar tenang. Analis DCFX Futures Lukman Leong juga menilai pelaku pasar tengah risk-on. Alhasil, aset berisiko seperti rupiah kembali diburu.
Sedang Dikaji, Bunga Fintech Bisa Naik Lagi
Kebijakan penurunan bunga pinjaman fintech menjadi 0,4% per hari ternyata memberatkan sejumlah pemain. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) pun berencana mengkaji ulang penerapan batas bunga 0,4% tersebut. Dalam rapat kerja nasional (Rakernas) AFPI 2022, isu soal bunga tersebut menjadi satu agenda pembahasan. "Penerapan biaya 0,4% yang akan direview secara berkala hingga pemberlakuan lending robo yang akan diupayakan,” ujar Direktur Eksekutif AFPI Kuseryansyah. Para pemain fintech pun mengapresiasi langkah AFPI untuk segera mengkaji kembali penerapan batas biaya pinjaman.
Bunga Rendah, Obligasi Jadi Pilihan
Surat utang masih menjadi salah satu sumber pendanaan favorit para emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak awal tahun 2022 sampai dengan Jumat (18/2), BEI sudah mencatatkan tujuh emisi surat utang dengan total nilai Rp 5,11 triliun. Jumlah ini memang lebih kecil dibanding dengan penerbitan surat utang di periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan Statistik Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, di 2021 lalu, per 19 Februari, emisi penerbitan obligasi dan sukuk korporasi mencapai Rp 8,11 triliun.
Head of Fixed Income Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf menilai, ramainya penerbitan obligasi dan sukuk di awal 2022 ini juga terkait ekspektasi kenaikan suku bunga. Banyak emiten menerbitkan surat utang memanfaatkan suku bunga yang masih rendah. Cuma, nilai penerbitan kecil. Sebab, emiten mengantisipasi peningkatan biaya dana alias cost of fund seiring potensi kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat. "Emiten yakin suku bunga dapat naik, jadi mereka dapat menghemat cost of fund yang sangat berarti bagi bottom line" terang Dimas, Minggu (20/2).
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan
Gubernur BI Perry Warjiyo (10/2) mengatakan, Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,50 %, suku bunga Deposit Facility 2,75 %, dan suku bunga Lending Facility 4,25 %. Kebijakan suku bunga murah ditetapkan BI untuk menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK). Cara ini diharapkan merangsang dunia usaha untuk mengambil kredit bank sehingga bisa mendorong penyaluran kredit yang pada akhirnya memicu pemulihan kondisi perekonomian.
Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan sudah mempertimbangkan tingkat inflasi dan ketidakpastian global. Tingkat inflasi Januari 2022 mencapai 0,56 %, lebih tinggi dibandingkan Januari 2021 yang 0,28 %. Terkait faktor global, BI juga mencermati kemungkinan pemicu inflasi dari disrupsi rantai pasok global. Banyak negara sedang mencatat kenaikan inflasi, dipicu penawaran barang dan jasa yang tidak pulih secepat permintaan global. Inflasi di negara asal barang impor bisa merembet ke inflasi domestik.
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Teuku Riefky, mengatakan, keputusan BI mempertahankan tingkat suku bunga acuan sudah tepat, sebab permintaan domestik diperkirakan bakal menurun menyusul peningkatkan jumlah kasus Covid-19 yang dipicu varian Omicron. (Yoga)
Bunga Deposito, Tak Indah Lagi
Bisa dibilang bunga deposito kini tak menarik lagi karena angkanya terus merosot ke titik nadir. Berdasarkan data BI, rata-rata bunga deposito jangka 1 bulan perbankan nasional per akhir November 2021 hanya 3,05 % per tahun, terendah sepanjang sejarah Indonesia. Terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan bunga deposito, yang paling berpengaruh tentulah suku bunga acuan BI, yakni BI 7-day (Reverse) Repo Rate (BI-7DRR). Setiap pergerakan suku bunga acuan akan diikuti dengan cepat oleh perbankan. Transmisi dari suku bunga acuan ke suku bunga deposito berjalan sempurna. Sejak November 2018, BI-7DRR secara konsisten menurun, dari 6 % menjadi 3,5 % saat ini. Tren penurunan suku bunga acuan tersebut tak terlepas dari rendah dan stabilnya inflasi beberapa tahun terakhir serta upaya untuk membangkitkan kembali perekonomian yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.
Bunga deposito semakin menukik ke bawah karena selama pandemi, likuiditas perbankan sangat melimpah, tercermin dari rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/dana pihak ketiga yang per November 2021 mencapai 154,9 % dan 34,24 %, di atas ambang batas 50 % dan 10 %. Rendahnya suku bunga deposito juga mempercepat kebangkitan industri reksa dana yang sebelumnya terpuruk akibat berbagai skandal oleh sejumlah manajer investasi. Merosot sejak Februari 2021, jumlah unit penyertaan dan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana kembali tumbuh mulai Juni 2021. (Yoga)
Siasat BI Jaga Optimisme Pasar
Bank Indonesia (BI) siap menangkal dampak kebijakan moneter kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Maret 2022 dengan merilis sejumlah strategi. Ini ditempuh guna memberikan optimisme pelaku pasar di tengah laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang masih terus menguat. Sejumlah analis pun berkeyakinan bahwa laju penguatan IHSG sepanjang tahun berjalan ini tetap akan solid terjaga. Pudarnya momentum bullish menyusul berakhirnya January Effect pada pekan ini juga tak mengkhawatirkan pasar. BI menyatakan salah satu strategi yang akan dirilis untuk mendorong optimisme pasar adalah pengetatan kebijakan non-suku bunga, melalui giro wajib minimum (GWM). Kebijakan ini juga akan dieksekusi pada Maret 2022. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 4 kali mulai Maret 2022. Namun, dia menegaskan bahwa otoritas moneter memiliki kesiapan yang cukup prima untuk menangkal dampak dari normalisasi kebijakan bank sentral AS itu.
BI Pertahankan Bunga Acuan demi Pertumbuhan
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 3,5 %. Meski inflasi mulai naik dan risiko global meningkat, BI memilih mempertahankan tingkat suku bunga acuan sejak Februari 2021, karena masyarakat dinilai masih memerlukan insentif bunga murah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, RDG BI memutuskan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 %, suku bunga Deposit Facility 2,75 %, dan suku bunga Lending Facility 4,25 %. Tahun ini, BI menargetkan inflasi 3 % plus minus 1 persen. Perry menjelaskan, meski meningkat, inflasi tetap tergolong rendah sehingga belum perlu direm dengan kenaikan tingkat suku bunga acuan. Tingkat suku bunga acuan yang rendah mendorong penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) bank. Aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang meningkat mendorong perbaikan persepsi risiko perbankan sehingga berdampak positif bagi penurunan suku bunga kredit baru. BI memandang peran perbankan dalam penyaluran kredit, termasuk melalui penurunan suku bunga kredit, dapat ditingkatkan guna semakin mendorong pemulihan ekonomi nasional. (Yoga)
Saham Bank Konvensional Merespon Positif Bunga BI
Saham perbankan merespons positif keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 3,50%. Kamis (20/1) saham-saham bank konvensional mayoritas ditutup di zona hijau. Saham BBCA ditutup menguat 1,30% jadi Rp 7.775, BMRI naik 2,14% ke Rp 7.175, dan BBNI naik 0,70% menjadi Rp 7.150. Hanya BBRI yang ditutup stagnan di Rp 4.130. Keputusan BI mempertahankan suku bunga ini menghalau kekhawatiran akan ada penurunan kredit bank karena bunga yang lebih tinggi. Kredit perbankan bisa tumbuh seperti ekspektasi, 8%-10% di tahun ini, lebih tinggi dari 2021 yang sebesar 5,2%.
Subsidi Bunga KUR 3% Terus Berlanjut Tahun Ini
Subsidi bunga kredit usaha rakyat (KUR) sebesar 3% resmi dilanjutkan pada tahun 2022 ini. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam penyerahan Penghargaan KUR 2021, Selasa (18/1). “Tahun ini sesuai persetujuan ratas (rapat terbatas) maka bunga KUR juga 3% selama enam bulan, sisanya disiapkan oleh Bu Menkeu (Sri Mulyani),” kata Airlangga.
Sebagai informasi, di 2022 ini pemerintah meningkatkan plafon KUR menjadi Rp 373,17 triliun dan diharapkan dapat memotivasi UMKM untuk memanfaatkannya terutama yang terdampak akibat adanya pandemic Covid-19.
Pilihan Editor
-
Perkebunan Sawit Rakyat Tumbuh Berkelanjutan
31 Dec 2021 -
Mengembangkan EBT harus Utamakan Komponen Lokal
30 Dec 2021 -
Transformasi Sistem Pangan
31 Dec 2021 -
Core Petani Tak Menikmati Penetrasi Digital
30 Dec 2021









