Tahun 2023, Puncak Suku Bunga
Agresivitas penaikan suku bunga acuan bank sentral di berbagai negara akan terus terjadi dan mencapai puncaknya tahun 2023. Setelah menaikkan bunga acuan 50 basis poin, BI akan menyesuaikan kebijakannya dengan langkah The Federal Reserve (Fed) yang saat ini mematok suku bunga acuan di level 3,25%. Kami perkirakan FFR akhir tahun ini di level 4,50% dan pada tahun depan mencapai puncak tertinggi, 4,75%,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (20/10). Langkah agresif menaikkan suku bunga acuan tidak hanya dilakukan The Fed, melainkan bank juga sentral negara lainnya. Kebijakan itu terpaksa diambil untuk mengendalikan inflasi akibat berlanjutnya ketegangan geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan, dan investasi. “Kenaikan inflasi memicu pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di negara maju. Dampak rambatan fragmentasi ekonomi global diperkirakan dapat menyebabkan perlambatan ekonomi di emerging market,” ujar dia.
Kenaikan suku bunga The Fed akan mendorong makin kuatnya mata uang dolar AS, sehingga memberi tekanan atau depresiasi terhadap nilai tukar negara lain, termasuk Indonesia. Dalam RDG, Kamis (20/10), BI menaikkan BI7DRR untuk ketiga kalinya tahun ini sebesar 50 bps menjadi 4,75%. Bank sentral juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4% dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 5,5%. BI menyebut keputusan itu sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (overshooting). Sementara itu, kalangan bankir dan ekonom yang dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, Kamis (20/10), menyatakan, penaikan BI7DRR sebesar 50 bps menjadi 4,75% akan berdampak positif terhadap kinerja perbankan dan fundamental ekonomi nasional. Selain meredam pelemahan nilai tukar rupiah dan mengerem laju inflasi, penaikan BI7DRR akan menambah pendapatan bank dari surat berharga negara (SBN) akibat naiknya imbal hasil (yield). Kepemilikan bank di SBN saat ini mencapai Rp 1.620,71 triliun atau 31,77% dari total SBN senilai Rp 5.101,04 triliun. (Yoga)
Tags :
#BungaPostingan Terkait
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Pasar Dalam Tekanan
Bank Masih Dilema Menurunkan Bunga Kredit
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023