;
Tags

Nilai Tukar

( 175 )

Fluktuasi Rupiah Bisa Ganggu Anggaran Negara

HR1 16 Dec 2024 Kontan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, menimbulkan risiko signifikan bagi stabilitas anggaran negara. Pada Jumat (13/12), rupiah ditutup di Rp 15.987 per dolar AS, melampaui asumsi APBN 2024 sebesar Rp 15.000.

Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, menyebut pelemahan rupiah ini dipicu volatilitas pasar global, yang membuat investor lebih berhati-hati. Meski Bank Indonesia telah melakukan intervensi, pelemahan rupiah tetap meningkatkan beban APBN, khususnya pembayaran utang luar negeri, yang dapat melonjak lebih besar di tahun 2025.

Myrdal Gunarto, dari Bank Maybank Indonesia, menyoroti dampak depresiasi rupiah terhadap subsidi energi dan stabilitas fiskal. Setiap pelemahan Rp 100 per dolar AS, berpotensi menambah defisit APBN hingga Rp 3,4 triliun. Ia juga menekankan dampak negatif pelemahan rupiah terhadap sektor yang bergantung pada impor, seperti industri otomotif.

Namun, Myrdal optimistis ekonomi Indonesia masih memiliki cadangan devisa kuat senilai US$ 150,24 miliar per November 2024, yang dapat mengurangi dampak buruk pelemahan rupiah. Meskipun begitu, ekonomi Indonesia akan tetap terpengaruh oleh kebijakan global, terutama dari Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dan kebijakan The Fed.

Keyakinan Konsumen Jadi Tantangan Baru Emiten

HR1 26 Nov 2024 Kontan
Daya beli masyarakat Indonesia pada Oktober 2024 menunjukkan penurunan, tercermin dari survei Bank Indonesia (BI) yang melaporkan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ke level 121,1 dari 123,5 pada bulan sebelumnya. Penurunan juga terlihat pada Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) yang turun ke 109,9 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang turun ke 132,4.

Abdul Azis Setyo Wibowo, Researcher Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa penurunan IKK mencerminkan melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian, yang dapat berdampak negatif pada daya beli dan kinerja emiten konsumer. Ia berharap program seperti "makan bergizi gratis" dapat membantu meningkatkan daya beli.

Angga Septianus, Community Lead PT Indo Premier Sekuritas, mencatat bahwa pelemahan rupiah menambah tantangan bagi emiten konsumer, terutama yang bergantung pada bahan baku impor. Namun, peluang tetap ada melalui peningkatan konsumsi domestik di akhir tahun.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, optimis konsumsi domestik dapat stabil pada kuartal IV 2024, terutama dengan dorongan dari belanja pemerintah selama Pilkada dan konsumsi akhir tahun. Ia merekomendasikan beli saham PT Ultrajaya Milk Industry (ULTJ) dengan target harga Rp 1.765.

Pelemahan nilai tukar rupiah dan menurunnya daya beli menjadi tantangan utama, namun akhir tahun memberikan peluang melalui momentum konsumsi domestik dan potensi window dressing di pasar saham.

Mengatasi Dampak Fluktuasi Nilai Tukar

HR1 26 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar saham dan berpotensi menggerus kinerja sejumlah emiten, terutama yang bergantung pada bahan baku impor. Sektor-sektor seperti farmasi, industri kimia, dan konsumer sangat sensitif terhadap volatilitas nilai tukar, yang bisa meningkatkan biaya operasional mereka. Namun, emiten dengan orientasi ekspor, seperti PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), berpotensi memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah karena harga jual produk mereka, seperti CPO, seringkali dipengaruhi oleh kurs dolar AS.

Menurut Suryandi, Director of HR & Corporate Affairs PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), meskipun perusahaan mereka mengimpor beberapa bahan baku, dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja TPIA tidak terlalu signifikan. Yang lebih penting adalah pengendalian impor, karena pasokan produk petrokimia di pasar sudah banyak dijajah oleh barang impor, terutama dari China. Di sisi lain, Joni Tjeng, Corporate Secretary TAPG, menjelaskan bahwa meski harga CPO dipengaruhi oleh nilai tukar dolar AS, harga CPO global saat ini masih berada pada level yang baik, dan perusahaan mereka sudah melakukan pinjaman dalam satuan rupiah, sehingga terhindar dari risiko fluktuasi kurs.

Para analis juga mencatat bahwa meskipun pelemahan rupiah memberi dampak negatif pada sektor yang bergantung pada impor, dampak ini bisa diimbangi jika perusahaan dapat meningkatkan penjualannya. Abdul Azis Setyo Wibowo, analis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa penjualan yang tumbuh dapat mengurangi efek negatif pelemahan rupiah pada sektor farmasi dan konsumer.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah yang dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump, membawa sentimen negatif bagi beberapa sektor, terutama sektor yang membutuhkan arus modal asing dan perusahaan dengan orientasi impor. Namun, sektor ekspor dan perusahaan yang telah mengatur manajemen keuangan dengan bijak, seperti TAPG dan TPIA, dapat mengurangi dampak tersebut.


Pelemahan Rupiah Pangkas Laba Emiten

HR1 25 Nov 2024 Kontan
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 2024 berdampak signifikan pada kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga November 2024, rupiah melemah 2,61% sejak awal tahun, mendekati Rp 16.000 per dolar AS, sehingga memicu kerugian selisih kurs dan beban utang dalam dolar pada sejumlah perusahaan.

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mencatat kerugian bersih sebesar Rp 421,83 miliar per September 2024, naik 137,83% secara tahunan. Penyebab utamanya adalah kenaikan beban usaha dan kerugian selisih kurs Rp 3,53 miliar, meskipun penjualan naik 1,94% menjadi Rp 7,86 triliun.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menghadapi tekanan dari utang obligasi denominasi dolar AS sebesar Rp 41,62 triliun, setara 73,70% dari total liabilitas.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatat rugi selisih kurs sebesar US$ 891.400, namun tetap membukukan kenaikan laba 32,69% menjadi US$ 263,38 juta hingga September 2024. Corporate Secretary PGAS, Fajriyah Usman, menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar tidak signifikan memengaruhi operasional perusahaan.

Menurut Oktavianus Audi, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, emiten yang memiliki dominasi utang dalam dolar AS, seperti PT Modernland Realty Tbk (MDLN), dengan utang dolar AS Rp 104,34 miliar dan obligasi Rp 5,72 triliun, akan semakin tertekan akibat pelemahan rupiah.

Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan besar bagi emiten dengan eksposur tinggi terhadap utang dan transaksi dalam dolar AS, meskipun beberapa perusahaan mampu mempertahankan kinerja laba mereka.

Sentimen Trump Masih Terus Telan Rupiah Hingga Mendekati Rp16.000

KT1 23 Nov 2024 Investor Daily (H)

Nilai tukar rupiah kian melemah hingga mendekati Rp16.000 per dolar AS. Kondisi mata uang garuda tidak terlepas dari penguatan solar AS karena sedang  mengalami sentiment positif pascakemenangan Donald Trump di pilpres AS. Bank Indonesia (BI) harus tetap berada di pasar untuk meredam dampak penguatan dolar AS ke stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan kemenangan Trump pelaku pasar memprediksi sejumlah kebijakan Trumph, terutama yang terkait dengan penerapan tarif impor dan janji efisiensi anggaran pemerintah AS yang dramatis yang tentunya akan mengurangi defisit dan perkuat nilai tukar dolar AS. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar rate (Jisdor) BI menunjukkan posisi nilai tukar rupiah adalah Rp15.911 per dolar AS pada Jumat (22/11/2024).

Angka ini jauh berada di atas asumsi makro APBN yang sebenarnya Rp 15.000 per dolar AS. “Dalam kata lain, rupiah berada dalam kondisi dinamis akibat kejadian penting di dunia, ada kemungkinan menguat lagi nantinya. Jadi belum bias dikatakan nilai tukar Rupiah memasuki titik keseimbangan baru; ini adalah gelombang, bukan permukaan air di kala situasi tenang,” ucap Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin. Bila mengacu pada pergerakan rupiah dalam satu tahun terakhir, pertengahan Juni 2024, bahkan rupiah pernah mencapai hampir Rp16.500 per dolar AS, sebelum akhirnya mencapai Rp 15.000 per dolar AS pada akhir September 2024. (Yetede)

Bitcoin Melonjak, IHSG dan Emas Tersungkur

HR1 22 Nov 2024 Kontan (H)
Harga Bitcoin terus melonjak, mencapai rekor tertinggi sekitar US$ 98.700 menurut CoinMarketCap pada 21 November 2024. Peningkatan ini didorong oleh minat pada inovasi teknologi seperti SegWit dan maraknya initial coin offerings (ICO), seperti dijelaskan oleh Fyqieh Facrur, Trader Tokocrypto. Bitcoin diperkirakan akan terus mencetak rekor baru, dengan potensi mencapai US$ 100.000 dalam waktu dekat.

Sementara itu, indeks dolar AS yang naik 2,95% dalam setahun terakhir berdampak pada pelemahan rupiah hingga Rp 15.942 per dolar AS, serta penurunan harga emas dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Emas turun 2,83% sebulan terakhir ke US$ 2.669 per ons troi, meski dalam jangka panjang diprediksi mencapai US$ 2.700 pada akhir 2024 oleh analis Lukman Leong. IHSG juga tertekan, turun 7,46% dalam sebulan terakhir akibat penguatan dolar AS.

Terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS membawa dampak besar bagi pasar global. Kebijakan proteksionisme dan euforia kecerdasan buatan (AI) memperkuat pasar saham AS, seperti yang dicatat oleh Lukman, dengan potensi besar bagi Dow Jones dan S&P 500. Namun, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat akibat tensi di Rusia dan Timur Tengah.

Oktavianus Audi, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, merekomendasikan strategi investasi konservatif dengan alokasi 60% pada aset defensif seperti obligasi, reksa dana, atau emas, serta 40% di saham. Lukman menyarankan diversifikasi yang lebih berimbang: 10%-20% untuk bitcoin, 20% emas, 30% saham, dan sisanya di obligasi dan reksa dana.

Pasar saat ini menawarkan peluang besar untuk bitcoin, sementara emas dan saham AS tetap menarik dalam jangka panjang, meski penuh ketidakpastian.

Dinamisnya Kondisi Global Bikin Rupiah Fluktuatif

HR1 31 Oct 2024 Kontan
Nilai tukar rupiah masih menunjukkan tren pelemahan, dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan kondisi domestik. Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, menjelaskan bahwa situasi Timur Tengah dan proyeksi ekonomi Indonesia dari IMF membuat investor lebih memilih aset yang dianggap kuat. Proyeksi IMF yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sekitar 5% hingga 2029 juga turut membebani nilai tukar rupiah. Wijayanto menyarankan agar Bank Indonesia (BI) mengoptimalkan cadangan devisa dan menjaga tingkat suku bunga BI repo rate agar menarik bagi investor.

Dari Macroeconomic, Finance and Political Economy Research Group LPEM UI, Jahen F Rezki menyebut bahwa perang di Timur Tengah dan data ketenagakerjaan AS mempengaruhi fluktuasi rupiah. Jahen memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp 15.800 hingga Rp 16.000 per dolar AS hingga akhir tahun, dengan BI terus menjaga stabilitas rupiah meskipun hal ini mengurangi cadangan devisa.

Sementara itu, Myrdal Gunarto dari Bank Maybank Indonesia memproyeksikan bahwa rupiah akan menguat menuju Rp 15.106 per dolar AS menjelang akhir tahun, karena kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin. Dia juga optimis bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk upaya swasembada pangan dan energi, akan menarik investasi asing. Dengan kebijakan BI yang memungkinkan penurunan suku bunga, serta kondisi pemerintahan baru yang berfokus pada diversifikasi sumber pajak, Myrdal memperkirakan rupiah akan menguat pada akhir tahun 2024.

Tekanan pada Rupiah Diperkirakan Berlanjut hingga 2025

HR1 24 Oct 2024 Kontan
pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai level Rp 15.627 per dolar AS, dipengaruhi oleh beberapa faktor global dan domestik. Edi Susianto, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), menyebut faktor-faktor seperti data ekonomi AS yang kuat, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang menurun, dan perlambatan ekonomi di China dan Eropa sebagai penyebab utama. BI berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar dan menarik capital inflow dengan imbal hasil menarik dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Myrdal Gunarto dari Bank Maybank Indonesia menambahkan bahwa pelemahan rupiah juga disebabkan oleh keluarnya modal asing dari pasar domestik karena konflik geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak. Ia memperkirakan rupiah akan kembali menguat ke Rp 15.106 per dolar AS jika The Fed memangkas suku bunga lagi pada akhir 2024.

Sebaliknya, Awalil Rizky dari Bright Institute memproyeksikan rupiah akan terus melemah hingga mencapai Rp 16.000 per dolar AS pada akhir 2024 dan pertengahan 2025. Ia menilai BI mungkin akan membiarkan pelemahan ini berlangsung secara perlahan untuk menjaga stabilitas moneter dan menghindari intervensi yang terlalu agresif. 

Antusiasme Pasar Mengikuti Pergantian Presiden

HR1 21 Oct 2024 Kontan
Nilai tukar rupiah diproyeksikan menguat pada perdagangan Senin (21/10), didorong oleh optimisme terhadap pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Prabowo dan Gibran. Pada akhir pekan sebelumnya, rupiah ditutup menguat sekitar 0,17% ke level 15.481 per dolar AS. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, menilai bahwa penunjukan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan dapat memberikan stabilitas fiskal dan meningkatkan koordinasi kebijakan, berkat pengalamannya sebagai bendahara negara.

Sementara itu, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyebutkan bahwa perkembangan konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian utama pasar yang dapat mempengaruhi nilai dolar AS. Ia memproyeksikan pergerakan rupiah di kisaran Rp 15.450–Rp 15.550 per dolar, sedangkan Fikri memprediksi rentang yang lebih optimis, yaitu Rp 15.310–Rp 15.510 per dolar AS.

Menantikan Data Baru dari Amerika Serikat

HR1 18 Oct 2024 Kontan
Rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar AS pada 17 Oktober, dengan nilai tukar spot berada di Rp 15.507 per dolar AS, meningkat tipis 0,02%. Menurut Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, penguatan ini didorong oleh respons positif pasar terhadap kabar susunan kabinet baru Prabowo Subianto. Selain itu, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6% juga turut memberikan dukungan terhadap nilai rupiah, sebagaimana disampaikan oleh pengamat mata uang dan komoditas, Lukman Leong.

Meski demikian, Lukman memperingatkan bahwa pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh data penjualan ritel dan klaim pengangguran di AS, dengan proyeksi nilai tukar berada di kisaran Rp 15.475 hingga Rp 15.575. Ibrahim juga memberikan perkiraan serupa, memproyeksikan nilai tukar akan berada di rentang Rp 15.430 hingga Rp 15.520 per dolar AS.