Fluktuasi Rupiah Bisa Ganggu Anggaran Negara
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, menimbulkan risiko signifikan bagi stabilitas anggaran negara. Pada Jumat (13/12), rupiah ditutup di Rp 15.987 per dolar AS, melampaui asumsi APBN 2024 sebesar Rp 15.000.
Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, menyebut pelemahan rupiah ini dipicu volatilitas pasar global, yang membuat investor lebih berhati-hati. Meski Bank Indonesia telah melakukan intervensi, pelemahan rupiah tetap meningkatkan beban APBN, khususnya pembayaran utang luar negeri, yang dapat melonjak lebih besar di tahun 2025.
Myrdal Gunarto, dari Bank Maybank Indonesia, menyoroti dampak depresiasi rupiah terhadap subsidi energi dan stabilitas fiskal. Setiap pelemahan Rp 100 per dolar AS, berpotensi menambah defisit APBN hingga Rp 3,4 triliun. Ia juga menekankan dampak negatif pelemahan rupiah terhadap sektor yang bergantung pada impor, seperti industri otomotif.
Namun, Myrdal optimistis ekonomi Indonesia masih memiliki cadangan devisa kuat senilai US$ 150,24 miliar per November 2024, yang dapat mengurangi dampak buruk pelemahan rupiah. Meskipun begitu, ekonomi Indonesia akan tetap terpengaruh oleh kebijakan global, terutama dari Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dan kebijakan The Fed.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023