Tekanan pada Rupiah Diperkirakan Berlanjut hingga 2025
pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai level Rp 15.627 per dolar AS, dipengaruhi oleh beberapa faktor global dan domestik. Edi Susianto, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), menyebut faktor-faktor seperti data ekonomi AS yang kuat, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang menurun, dan perlambatan ekonomi di China dan Eropa sebagai penyebab utama. BI berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar dan menarik capital inflow dengan imbal hasil menarik dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Myrdal Gunarto dari Bank Maybank Indonesia menambahkan bahwa pelemahan rupiah juga disebabkan oleh keluarnya modal asing dari pasar domestik karena konflik geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak. Ia memperkirakan rupiah akan kembali menguat ke Rp 15.106 per dolar AS jika The Fed memangkas suku bunga lagi pada akhir 2024.
Sebaliknya, Awalil Rizky dari Bright Institute memproyeksikan rupiah akan terus melemah hingga mencapai Rp 16.000 per dolar AS pada akhir 2024 dan pertengahan 2025. Ia menilai BI mungkin akan membiarkan pelemahan ini berlangsung secara perlahan untuk menjaga stabilitas moneter dan menghindari intervensi yang terlalu agresif.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023