;
Tags

Nilai Tukar

( 175 )

Penguatan Rupiah Berpotensi Berlanjut

KT1 07 Jun 2024 Investor Daily (H)
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,17% ke level Rp16.244 per dolar AS, kemarin. Berdasarkan data RTI, seiring makin kuatnya kemungkinan penurunan suku bunga acuan di Amerika Serikat. Penguatan rupiah berpotensi terus berlanjut hingga menyentuh level Rp15.900 per dolar AS. Tahun depan, Bank Indonesia (BI), memprediksikan rupiah menguat ke rentang Rp15.300-15.700 AS. Katalisnya adalah penurunan  suku bunga global dan soliditas perekonomian dunia. Sementara itu, merujuk kurs JISDOR Bank Indonesia (BI), rupiah menguat ke level Rp 16.279 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.282 per dolar AS, kemarin. Rupiah tercatat terus melemah menembus level psikologis Rp 16 ribu per dolar AS sejak 27 Mei 2024, setelah sebelumnya bermain Rp15.900-an. Sepanjang tahun ini, merujuk data RTI, rupiah melemah 5,5%. Faktor penyebab penurunan rupiah masih seputar gamangnya keputusan penurunan suku bunga AS atau Federal Funds Rate (FFR). (Yetede)

Tren Nilai Tukar Melemah

HR1 05 Jun 2024 Kontan
Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (4/6). Di pasar spot rupiah naik 0,06% ke Rp 16.220 per dolar AS. Sedangkan di Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah naik 0,03% ke posisi Rp 16.220 per dolar AS. Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan tipis rupiah akibat tumbuhnya harapan penurunan suku bunga, seiring dengan data AS yang lemah dan dolar merosot. Oleh sebab itu, BI menunda waktu pemangkasan suku bunga pertama untuk BI rate. BI diprediksikan baru menurunkan suku bunga pada kuartal IV-2024. Analis Pasar Mata Uang, Lukman Leong memprediksi, mata uang rupiah akan berkonsolidasi, dengan kecenderungan melemah terhadap dolar AS.

Rupiah Masih Rentan Terkoreksi

HR1 03 Jun 2024 Kontan
Rupiah menguat terbatas pada perdagangan akhir pekan, Jumat (31/5). Meski begitu mata uang Garuda masih belum lepas dari tekanan seiring penantian data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) dan inflasi Indonesia. Dikutip dari Bloomberg, Jumat (31/5), rupiah di pasar spot menguat tipis sekitar 0,08% ke level Rp 16.252 per dolar AS. Rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) juga menguat terbatas sekitar 0,01% ke Rp 16.251 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya Rp 16.253 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memperkirakan, rupiah berpotensi menguat sejalan potensi data tenaga kerja AS yang semakin longgar. Josua memproyeksi, rupiah bergerak di Rp 16.175–Rp 16.300 per dolar AS pada Senin (3/6). Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo Sutopo memprediksi, rupiah masih rentan terkoreksi di Rp 16.200–Rp 16.300.

Rupiah Menguat Pasar Saham Mengeliat

KT1 17 May 2024 Investor Daily (H)
Nilai tukar rupiah menguat dan kembali di bawah Rp 16 ribu per  dolar AS, Kmais (16/5/2024), seiring maraknya sentimen positif dari global dan domestik. Hal ini membuat pasar saham  menggeliat. Berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 26 poin ke level Rp15.944 per dolar AS, sedangkan data RTI menunjukkan rupiah menguat 0,24% ke level Rp 15.905 per dolar AS, kemarin. Penguatan rupiah dipicu penurunan inflasi Amerika Serikat menjadi 3,4% secara tahunan pada April 2024, dibandingkan bulan sebelumnya 3,5%. Hal ini membuat potensi penurunan suku bunga acuan federal funds rate (FFR) pada September 2024 kian besar. Jejak pendapat oleh CME Fed Watch Tools menunjukkan, peluang pemangkasan FFR naik menjadi 53,3%. dari dalam negeri rupiah dihujani sentimen positif, antara lain surplus beruntun neraca perdagangan selama 48 bulan, pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5%, dan berkurangnya tekanan inflasi. (Yetede)

Risiko Nilai Tukar Menghantui KLBF

HR1 07 May 2024 Kontan

Kinerja PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) diproyeksi bakal tetap tumbuh tahun ini. Rencana ekspansi bisnis seperti mengeluarkan produk baru serta strategi meminimalisir efek pelemahan rupiah akan mendorong pertumbuhan kinerja KLBF. Equity Research Analyst Ciptadana Sekuritas, Alif Ihsanario, mengatakan, jika mengulas performa KLBF pada kuartal I-2024 saja, run rate sudah mencapai 27,7% dari estimasi. Bahkan, sepanjang tahun lalu, segmen obat resep sudah mencapai 26,5%, consumer health mencapai 32%, produk nutrisi mencapai 25,5% dan distribusi dan logistik mencapai 23,3%. Selain itu, beberapa sentimen yang akan membuat kinerja KLBF tumbuh positif di tahun ini yaitu, adanya strategi pertumbuhan pada segmen high-growth specialty products yang meliputi oncology, biologics dan obat generik unbranded. 

Saat ini, KLBF sebagai pangsa pasar teratas di Indonesia pada segmen tersebut. Kemudian, perubahan sistem tender pada BPJS Kesehatan, yang tidak lagi berlaku pemenangan tender oleh pemasang harga terendah, namun diberlakukan juga parameter screening lain seperti Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). KLBF salah satu perusahaan dengan portfolio produk TKDN tinggi. Itu tecermin pada kuartal I-2024 ketika ada peningkatan harga rata-rata (ASP) 3%-5% pada segmen farmasi, consumer health dan nutrisi yang tetap diiringi performa penjualan kuat. "Mampu melampaui performa pasar keseluruhan pada masing-masing segmen," kata Alif. 

Sementara Analis Bahana Sekuritas, Robert Sebastian menyebut, depresiasi mata uang rupiah akan mempengaruhi kinerja KLBF di semester II-2024. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mencermati, secara prospek kinerja KLBF masih berpotensi mengalami pertumbuhan positif seiring rencana ekspansi bisnis seperti mengeluarkan produk baru. Di antaranya produk biologis serplulimab untuk kanker, produk kesehatan dalam kategori olahraga, dan produk susu kemasan, serta obat resep lainya. Dengan begitu, Azis memproyeksikan Kalbe Farma bisa mencapai target pendapatan sebesar 6%-7% dibandingkan tahun lalu, dengan laba bersih yang diharapkan juga tumbuh 13%-15% di 2024.

Sukses Kendalikan Inflasi Belum untuk Kurs

KT1 03 May 2024 Investor Daily (H)

Kolaborasi antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, baik pusat maupun daerah, dinilai cukup berhasil mengendalikan tingkat inflasi di Indonesia. Bahkan, momok bagi perekonomian setiap negara itu bisa ditekan hingga level yang cukup rendah. Inflasi di Tanah Air yang pada Desember 2014 sempat berada di level 8,36% secara year on year (yoy), sukses dipangkas menjadi hanya 3% (yoy) pada April 2024. Saat ini, Indonesia pun masuk dalam kelompok negara-negara yang memiliki tingkat inflasi yang rendah, meski sebelum serendah China yang pada maret 2024 hanya mencatatkan inflasi 0,1% dan Malaysia 1,8%. Sementara sejumlah negara yang memiliki inflasi diatas Indonesia adalah Vietnam yaitu 4,4% (April 2024), Amerika Serikat, 3,5% (Maret 20024), dan India  4,45% (Maret 2024). Bahkan perekonomian Turki pada Maret 2024 membukukan inflasi hingga 68,5%. Namun demikian, kesuksesan serupa  belum bisa di toreh dalam pengelolaan nilai tukar rupiah terhadap dolar  AS. Faktanya, alih-alih seperti sebelum krisis tahun 1997 yang hanya Rp2,441 per dolar AS, stabilitas nilai rupiah pun hingga kini belum bisa kembali  seperti sebelum krisis keuangan global 2007-2008. (Yetede)

Langkah The Fed Picu Penguatan Rupiah

KT3 03 May 2024 Kompas

Bank Sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuannya, yang membuat nilai tukar rupiah terhadap USD sedikit menguat. Namun, era suku bunga tinggi ini akan berdampak terhadap partumbuhan ekonomi Indonesia dan kinerja perbankan. The Fed melalui rapat dewan kebijakanTheFed (FOMC), Rabu (1/5) waktu setempat, memutuskan tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya (Fed FundRate/FFR) pada level 5,25-5,5 %, dengan pertimbangan data inflasi AS yang masih berada di atas ekspektasi sebesar 2 %. Ke depan, The Fed kemungkinan besar tidak akan menempuh kebijakan kenaikan FFR untuk meredam laju inflasi tersebut. Dengan demikian, focus kebijakan The Fed saat ini adalah mempertahankan stance kebijakan ketat.

”Jadi, menurut saya, kecil kemungkinan kebijakan suku bunga berikutnya adalah kenaikan. Saya katakan, itu (kenaikan FFR) kemungkinan besar tidak terjadi,” kata Chairman The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers FOMC sebagaimana dilansir Reuters. Negara-negara lain dan pasar keuangan tengah beradaptasi dengan baik terhadap pertumbuhan ekonomi dan divergensi kebijakan moneter dengan AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susiato, Kamis (2/5), mengatakan, pernyataan terkini The Fed dimaknai sebagian pelaku pasar sebagai stance kebijakan yang agak longgar (dovish). Hal ini membuat para pelaku pasar berspekulasi pemangkasan FFR oleh The Fed akan lebih maju, dari sebelumnya pada Oktober/November 2024 menjadi September 2024.

”Perkembangan tersebut menyebabkan banyak mata uang emerging market (negara berkembang) Asia mengalami penguatan, termasuk rupiah,” katanya. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor) pada Kamis (5/2), rupiah ditutup berada pada level Rp 16.202 per USD atau menguat 0,45 % dibanding penutupan pasar sebelumnya. Kendati demikian, rupiah masih berada di atas level Rp 16.000 per USD selama hampir dua pecan berturut-turut sejak pasar spot rupiah kembali dibuka setelah libur Lebaran. BI memperkirakan, rupiah berangsur-angsur akan menguat hingga akhir tahun 2024. Pada triwulan II-2024, rupiah terhadap USD akan menguat rata-rata ke level Rp 16.200, Rp 16.000 pada triwulan III-2024, dan Rp 15.800 pada triwulan IV-2024. (Yoga)


Warga Jepang Turut ”Melibas” Yen

KT3 03 May 2024 Kompas

Kurs yen diperkirakan akan terus melemah hingga ke level 160 yen per USD. Penyebab utamanya adalah selisih besar antara suku bunga inti di AS dan Jepang. Upaya intervensi yang dilakukan Bank Sentral Jepang (BoJ) juga diperkirakan akan sia-sia. Pada 1 Mei 2024, kurs yen tercatat pada kisaran 157,9 yen per USD. Kurs yen, menurut survei BoJ, seharusnya di kisaran 141,42 yen per USD, seperti diberitakan harian The Japan Times, 30 April 2024. Masato Kanda, Wakil Menkeu Jepang untuk urusan internasional, menyebutkan, ada spekulasi penyebab anjloknya kurs yen. Ia mengingatkan, otoritas moneter Jepang siap merespons 24 jam sehari dan 365 hari per tahun agar yen tidak merosot lebih lanjut.

Menurut The Financial Times, BoJ tampaknya telah melakukan intervensi dengan mengguyur pasar setara 35 miliar USD. Akan tetapi, kurs yen tidak kunjung menguat. ”Kurs yen mungkin tidak jatuh tajam, tetapi sulit untuk memulihkan kurs yen karena kelemahannya. Masalah yang sedang terjadi, kejatuhan yen, bukan hanya karena aksi investor asing dan para spekulan. Warga Jepang juga memperkirakan yen masih akan terus melemah,” kata Koji Fukaya dari perusahaan konsultan, Market Risk Advisory Co. Menurut Reuters, warga biasa Jepang dihinggapi pikiran tentang yen yang akan terus melemah. Akibatnya, mereka menabung dalam denominasi non-yen.

Jika tetap memegang yen, mereka akan ketiban beban karena biaya impor, seperti energi, akan meninggi seiring pelemahan yen. Maka, warga mengamankan diri dengan memegang, antara lain, USD. Kelemahan yen paling mendasar terletak pada perbedaan suku bunga inti AS yang kini 5,25 %. Angka itu sangat jauh di atas suku bunga inti Jepang, yaitu pada kisaran 0-0,1 %. Situasi ini mendorong pelaku di pasar valuta asing meminjam dana dalam yen yang berbunga rendah dan menyimpannya dalam USD dengan bunga lebih tinggi. Hal ini disebut carry trade dalam pasar valas. Jika simpanan jatuh tempo, keuntungan dari suku bunga simpanan dalam USD akan tinggi, ditambah lagi dengan merosotnya kurs yen terhadap USD. Omzet pinjam-meminjam seperti ini terus berulang. Maka, takdir yen memang akan melemah, terlepas ada atau tidaknya intevensi BoJ. (Yoga)


Perajin Tempe Terbebani

KT3 03 May 2024 Kompas

Tampak aktivitas para pekerja di rumah produksi tempe di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (2/5/2024). Kenaikan harga kedelai impor bahan baku tempe akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dikeluhkan perajin. Karena mereka sulit menaikkan harga jual tempe produksi mereka, sehingga keuntungan menipis. (Yoga)

Jepang Habiskan 35 Miliar Dollar AS, Yen Tetap Tidak Berdaya

KT3 02 May 2024 Kompas

Jepang diduga menghabiskan 35 miliar USD untuk menjaga nilai tukar yen, tapi kurs yen terhadap USD tetap saja jauh lebih tinggi dari asumsi belanja pemerintah. Data aset Bank of Japan (BoJ) pada Selasa (30/4) mengindikasikan, otoritas moneter Jepang mungkin menghabiskan 5,5 triliun yen atau 35,05 miliar USD sepanjang Senin (29/4) untuk intervensi pasar kala nilai tukar menembus 160,1 yen per USD. Dalam laporan pada Selasa malam, Kyodo News mengutip sejumlah sumber di pasar untuk menyimpulkan ada intervensi besar-besaran di pasar valas. Baik pemerintah maupun dewan gubernur BoJ tidak mengonfirmasi dugaan pasar soal intervensi tersebut.

Dalam data aset BoJ pada Selasa terlihat pengurangan 7,5 triliun yen dibandingkan dengan aset Senin. Padahal, pasar memperkirakan aset BoJ pada Senin hanya berkurang paling banyak 2,5 triliun yen. Dengan demikian, ada selisih 5 triliun yen. Pada Senin pagi, nilai tukar per 1 USD menembus 160 yen, terendah dalam 34 tahun terakhir. Pada Senin siang, nilai tukarnya membaik ke 154 yen per USD. Meski demikian, pada Rabu (1/5), nilai tukar kembali ke 157,9 yen per USD. Nilai tersebut jauh di atas asumsi kurs yen dalam APBN Jepang 2024. Jepang menargetkan kurs pada 141,42 yen per USD.

Wakil Menkeu Jepang Masato Kanda hanya menyebut, ada dampak negatif dari pelemahan drastis yen. Tokyo tidak menoleransi nilai tukar yen yang terlampau cepat melemah. Sebagai importir aneka bahan mentah, pelemahan yen bisa membuat biaya produksi di Jepang naik. ”Manuvernya berlebihan dan dipicu para spekulan,” ujar Kanda soal penjualan yen besar-besaran pada beberapa hari terakhir. Pasar melepaskan yen secara masif pada Jumat pekan lalu. Pelepasan itu merupakan reaksi atas keputusan BoJ yang mempertahankan tingkat suku bunga acuan. ”Faktor penting pelemahan yen adalah pemerintah dan BoJ terlalu lama menunggu,” kata Koji Fukaya, analis pada lembaga konsultansi Advisory.co. (Yoga)