Nilai Tukar
( 175 )Siap-siap Ekonomi Biaya Tinggi di 2024
Di tengah pelemahan rupiah yang cenderung berlanjut, BI dalam
tekanan untuk menaikkan suku bunga acuan. Namun, pilihan menaikkan suku bunga dari
posisi 6 % sejak Oktober 2023 akan mengerem pertumbuhan ekonomi. Rapat Dewan
Gubernur BI digelar Rabu (24/4) dan Kamis (25/4). Pertemuan reguler ini kembali
membahas tentang kebijakan moneter yang akan diambil BI untuk merespons situasi
perekonomian global dan domestik yang makin tidak pasti. Pada 19-20 Maret 2024,
Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan
sebesar 6 %, suku bunga deposit facility 5,25 %, dan suku bunga lending facility
sebesar 6,75 %. Sinyal The Fed yang akan menunda penurunan suku bunga acuan di AS
dari rencana awal mendorong penguatan USD terhadap mata uang lainnya, termasuk
rupiah. Selama enam hari perdagangan berturut-turut, rupiah berfluktuasi di
atas Rp 16.000 per USD.
Merujuk data Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor) pada
penutupan pasar, Selasa (23/4) rupiah kembali ditutup melemah di level Rp
16.244 per USD, terdepresiasi 20 basis poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Mengutip CNBC, Wells Fargo Securities memperkirakan nilai tukar rupiah menuju
Rp 16.500 per USD seiring penundaan penurunan suku bunga oleh The Fed. Ahli
strategi Brown Brothers Harriman & Co bahkan memproyeksikan nilai tukar
rupiah akan mencapai Rp 17.000 per USD pada September 2024. Ada pula faktor
internal yang memperlemah rupiah, yakni peningkatan permintaan valuta asing secara
musiman setiap triwulan II, untuk pembayaran pokok utang, dividen, dan kupon ke
nonresiden.
Penguatan USD sekaligus pelemahan rupiah, berikut komplikasi
perekonomian global, akan langsung berdampak pada perekonomian nasional. Berawal
dari transmisinya pada sektor keuangan, persoalan ini akan meningkatkan beban
biaya ekonomi nasional. Biaya produksi sektor riil akan membengkak, terutama usaha
yang mengimpor bahan baku dan bahan penolong. Situasi makin pelik jika utang
untuk produksi dalam USD, tetapi penjualan barang untuk pasar domestik. Presdir
CIMB Niaga Finance (CNAF) Ristiawan Suherman berpendapat, kenaikan suku bunga
untuk menahan nilai tukar rupiah dapat berdampak pada kenaikan beban pendanaan
(cost of fund). Hal ini akan turut menyebabkan daya beli masyarakat menurun. (Yoga)
Surplus Perdagangan Sulit Topang Rupiah
Neraca perdagangan Indonesia yang surplus 47 bulan berturut-turut belum tentu cukup kuat menopang rupiah dari potensi pelemahan lebih lanjut. Di tengah tren perlambatan ekonomi global, lonjakan surplus perdagangan pada Maret 2024 diperkirakan hanya sementara. Secara kumulatif, surplus perdagangan diperkirakan terus menyempit. Rilis terbaru BPS mencatat, Indonesia kembali menorehkan surplus neraca perdagangan pada Maret 2024 sebesar 4,47 miliar USD. Artinya, RI mencatat surplus neraca perdagangan selama 47 bulan berturut-turut. Capaian Maret 2024 itu juga menjadi surplus tertinggi selama 13 bulan terakhir. Secara bulanan, surplus neraca perdagangan pada Maret 2024 meningkat 3,64 miliar USD dibanding Februari 2024 yang mencapai 0,83 miliar USD.
Secara tahunan, terjadi kenaikan surplus 1,65 miliar USD dibandingkan dengan Maret 2023 di 2,83 miliar USD. Di tengah tren kenaikan surplus yang semestinya memperkuat cadangan devisa, nilai tukar rupiah justru melemah sejak Maret hingga April 2024 akibat berlanjutnya kebijakan pengetatan moneter oleh AS dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Pada 19 April 2024, rupiah bahkan sempat terdepresiasi ke level Rp 16.280 per USD. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Senin (22/4) mengatakan, lonjakan surplus neraca perdagangan pada Maret 2024 sekilas menjadi ”kabar baik” untuk rupiah yang saat ini terus melemah terhadap USD.
Meski demikian, efek surplus perdagangan untuk menahan depresiasi
rupiah itu diperkirakan tidak signifikan. Sebab, lonjakan surplus perdagangan
pada Maret 2024 hanya terjadi sementara dan lebih banyak didorong oleh impor yang
menurun lebih dalam dari perkiraan. BPS mencatat, impor menurun 12,76 % secara
tahunan, lebih dalam ketimbang penurunan ekspor yang sebesar 4,19 % secara tahunan.
Rupiah baru akan tertolong jika AS memutuskan untuk memangkas kenaikan suku
bunganya pada semester II tahun 2024. ”Itu dapat meningkatkan sentimen risk-on,
menarik arus modal masuk ke dalam negeri, dan meningkatkan prospek pertumbuhan
global yang akhirnya bisa mendukung pergerakan harga komoditas,” ujarnya. (Yoga)
Dollar AS Terus Menguat
Menakar Resiliensi Bank Terhadap Gejolak Kurs
Gejolak nilai tukar tengah menghampiri perbankan Indonesia. Dampak langsung setidaknya terlihat dari harga saham bank yang langsung merosot. Sebagai gambaran, pada hari pertama setelah bursa dibuka sehabis libur lebaran, harga saham bank besar seperti BRI, BCA dan Mandiri, melorot masing-masing 5,31%, 3,56% dan 2,93%. Sumber gonjang ganjing kurs tersebut berasal dari global. Dipicu oleh persoalan inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih di atas 2% dan cenderung naik sehingga memudarkan harapan penurunan suku bunga The Fed, dan diperparah eskalasi perang di Timur Tengah antara Iran dan Israel.
Kondisi itu membuat dolar AS menguat terhadap mata uang banyak negara, tidak terkecuali rupiah. Bahkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menembus Rp16.000 dan sempat berada pada level yang lebih tinggi ketimbang saat krisis 1997/1998. Sejatinya kegiatan bank memang tidak luput dari paparan berbagai gejolak, baik itu berupa inflasi, suku bunga maupun nilai tukar. Perbankan Indonesia sendiri sudah cukup kenyang menghadapi berbagai gejolak itu seperti gejolak nilai tukar pada 1997/1998 yang menumbangkan cukup banyak bank, sehingga penyelamatan terhadap bank lainnya pun dilakukan melalui program rekapitalisasi.
Lalu, bagaimana dampak pelemahan rupiah terhadap perbankan? Ada beberapa jalur transmisi gejolak kurs memengaruhi bank. Pertama, melalui posisi eksposur valas yang dipegang bank.
Kedua, melalui jalur kredit, terutama kredit valas.
Ketiga, melalui jalur penarikan dana pihak ketiga (DPK).
Meski terpapar gejolak nilai tukar, tetapi saat ini kondisi perbankan dinilai masih cukup kuat. Ada beberapa alasannya. Pertama, rasio PDN perbankan sangat rendah. Secara historis, rasio PDN hanya berkisar antara 1-5%.
Kedua, utang luar negeri (ULN) perbankan per Januari 2024 relatif rendah mencapai US$32,64 miliar atau sekitar 6% dari total kewajiban perbankan.
Ketiga, porsi kredit valas hanya sekitar 15% dari total kredit sehingga diperkirakan tidak signifikan memengaruhi peningkatan NPL.
Keempat, daya tahan perbankan baik itu likuiditas maupun permodalan cukup kuat dalam menghadapi berbagai risiko.
Kelima, Bank Indonesia selalu berada di pasar melalui kebijakan triple intervention untuk memperkuat otot rupiah.
Kurs Terus Melemah, Intervensi Pasar Jadi Pilihan
Merujuk data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor),
nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (17/4) ditutup Rp 16.240 USD atau
melemah 0,39 % dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan rupiah ini telah
menembus titik terdalamnya selama periode 2023 sekaligus mendekati puncak
depresiasi periode 2020. Untuk meredam kejatuhan rupiah yang lebih dalam, terdapat
dua skenario kebijakan moneter yang bisa dilakukan bank sentral, yakni
menaikkan suku bunga acuan dan intervensi pasar. Untuk menguatkan rupiah kembali
ke level Rp 15.000-an per USD, dibutuhkan biaya intervensi pasar 1 miliar USD dari
cadangan devisa.
Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal
Hastiadi menjelaskan, menaikkan suku bunga acuan menjadi salah satu opsi untuk
meredam pelemahan nilai tukar rupiah. Namun, opsi ini perlu kajian yang lebih
kompleks untuk dilakukan. Pilihan lain yang dapat ditempuh oleh bank sentral
untuk menstabilkan nilai tukar, yakni lewat kebijakan intervensi pasar, setidaknya
sampai Juni 2024 dengan mengandalkan cadangan devisa yang dimiliki. ”Berdasarkan
simulasi, dengan 500 juta USD per bulan, minimal bisa membawa rupiah dari Rp
16.200 ke level Rp 16.000. Kalau mau lebih kuat, 1 miliar USD selama sebulan
itu bisa mengembalikan rupiah ke level Rp 15.900. Hal ini bisa dilakukan selama
tiga bulan hingga Juni 2024,” ujar Fithra yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UI. (Yoga)
AKSI KORPORASI : GERAK TANGGAP ANTISIPASI NILAI TUKAR
PT Pertamina (Persero) bergerak cepat untuk bisa berkelit dari dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp16.220 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan kemarin, dan menjadi yang terendah dalam kurun 4 tahun terakhir. Badan usaha milik negara (BUMN) holding minyak dan gas bumi tersebut langsung menjajaki dialog dengan beberapa mitranya untuk melakukan renegosiasi kontrak mata uang asing ke rupiah untuk mengantisipasi tekanan nilai tukar yang makin kuat. VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan bahwa perseroan juga berupaya melakukan upaya efisiensi pada porsi belanja modal dan operasional.
Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian Pertamina, karena sebagian besar transaksi pengadaan minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), dan liquefied petroleum gas atau LPG menggunakan dolar AS. Di sisi lain, pendapatan perseroan dari penjualan produknya di dalam negeri kebanyakan berbasis rupiah. Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenkomarves Jodi Mahardi menyebut bahwa renegosiasi kontrak mata uang asing ke rupiah itu bisa mengurangi eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar. Di sisi lain, Jodi juga menerangkan bahwa Pertamina sedang menjalankan program penghematan pada sisi belanja modal dan operasional untuk mengurangi tekanan nilai tukar tersebut.
Pemerintah pun turut memantau situasi pasar global yang makin ketat saat ini, termasuk prediksi rebound harga minyak mentah ke level US$100 per barel akibat eskalasi ketegangan Iran-Israel. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri sempat membeberkan proyeksinya terkait dengan subsidi dan kompensasi BBM serta LPG 3 kilogram yang berpotensi meningkat dari asumsi APBN 2024 akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Lewat simulasi yang disusun Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero), apabila harga Indonesia Crude Price (ICP) parkir di level US$100 per barel dengan kurs Rp15.900, maka anggaran subsidi dan kompensasi BBM, serta LPG 3 kilogram bakal melebar ke Rp356,14 triliun dari pagu yang disiapkan dalam APBN tahun ini.
Manager Media dan Stakeholder PT Pertamina Patra Niaga sebagai sub holding trading and commercial Pertamina Heppy Wulansari sebelumnya menjelaskan bahwa perseroan tengah mengkaji situasi yang bekembang belakangan ihwal rebound harga minyak, serta komponen produksi BBM dalam negeri lainnya. Sementara itu, Associate Director BUMN Research UI Toto Pranoto menyarankan Pertamina untuk segera memitigasi dampak pelemahan rupiah atas potensi beban impor dan nilai tukar tahun ini. Apalagi, belakangan harga minyak mentah dunia kembali menguat. Dengan demikian, kata dia, beban subsidi dan kompensasi bakal makin lebar. Kecuali, dia mengatakan, terdapat kebijakan penyesuaian harga nantinya di tengah masyarakat. Adapun, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji berpendapat bahwa konflik Iran dan Israel tidak bakal mengganggu cadangan minyak dan BBM nasional yang saat ini berada di kisaran cukup untuk kebutuhan 30 hari. Selain itu, kata Tutuka, cadangan untuk LPG juga relatif aman. Ketegangan di Timur Tengah juga diyakini tidak akan mengganggu proyek-proyek migas nasional.
BAYANG-BAYANG GEJOLAK KURS
Depresiasi rupiah menjadi pedang bermata dua bagi korporasi di Tanah Air. Katalis positif diproyeksi bertiup ke emiten-emiten di sektor pertambangan dan perkebunan yang berorientasi ekspor, sedangkan sektor farmasi dan properti cenderung dibayangi sentimen negatif. Pada perdagangan Rabu (17/4), rupiah terkulai dihadapan dolar Amerika Serikat dengan pelemahan 0,271% ke level Rp16.220. Rupiah melanjutkan koreksi setelah anjlok 2,07% pada perdagangan perdana usai libur Lebaran 2024. Alhasil, rupiah sudah merosot 5,062% sepanjang tahun berjalan 2024. Penguatan indeks dolar AS yang menembus level 106 itu membuat nilai tukar Garuda kembali menyentuh titik terendah sejak April 2020.
Rupiah juga kian mendekati level Rp16.575 per dolar AS yang terbentuk pada 23 Maret 2020 atau saat awal pandemi Covid-19. Dihubungi Bisnis pada Rabu (17/4), Corporate Secretary PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) Joni Tjeng mengatakan perdagangan kelapa sawit menggunakan acuan harga berdenominasi dolar AS sehingga depresiasi rupiah secara langsung akan meningkatkan nilai jual dan performa perseroan. Di sisi pendanaan, lanjutnya, pinjaman TAPG seluruhnya berdenominasi rupiah. Dengan begitu, pelemahan rupiah tidak akan signifi kan mempengaruh beban keuangan perseroan.
Senada, Investor Relations PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) Stefanus Darmagiri mengatakan pelemahan rupiah diharapkan dapat meningkatkan harga jual CPO dalam rupiah dan meningkatkan pendapatan perseroan. Dari sisi biaya, lanjutnya, hampir sebagian besar biaya operasional yang dikeluarkan SGRO ditransaksikan dalam mata uang rupiah. Dus, pelemahan rupiah tidak memiliki dampak yang material terhadap biaya operasional emiten perkebunan sawit itu. Berbanding terbalik, depresiasi rupiah menjadi tantangan bagi emiten farmasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Menurut Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) Vidjongtius, nilai tukar rupiah yang melemah akan menaikkan harga pokok produksi untuk KLBF. Selain sektor farmasi, melemahnya rupiah juga menjadi sentimen negatif bagi sektor properti. Emiten properti yang memiliki outstanding utang berdenominasi dolar AS dikhawatirkan mengalami tekanan selisih kurs yang menekan likuiditas perseroan.
Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) Hermawan Wijaya buka suara terkait dengan dampak depresiasi rupiah. Menurutnya, BSDE terus berupaya untuk menurunkan risiko kurs dengan memangkas utang dolar AS.
Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas) Cheril Tanuwijaya mengatakan emiten-emiten komoditas yang meraih pendapatan dalam dolar AS diuntungkan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyarankan investor dengan profi l risiko rendah untuk wait and see. Namun, investor dengan profi l high risk dapat mengambil kesempatan akumulasi beli untuk saham MEDC dengan target harga Rp1.970, ELSA Rp540, dan AKRA dengan target Rp1.900 per saham. Sementara itu, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi merekomendasikan beli saham-saham komoditas, seperti PTBA dengan target harga Rp3.010, INCO Rp4.830, dan HRUM dengan target Rp1.815 per saham.
Respons Lincah Imbas Konflik Timteng
Pada Sabtu (13/4) malam, kawasan Timur Tengah memasuki babak baru. Situasi genting ketika hari itu Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan terhadap gedung konsulatnya di Damaskus, Suriah. Kegentingan di Timur Tengah tersebut bisa berpengaruh pada stabilitas geopolitik dan perekonomian global, termasuk ekonomi Indonesia. Pemerintah memang cukup sigap merespons segala kemungkinan dari krisis di Timur Tengah tersebut. Pada minggu (14/4), Menteri Keuangan dan para stafnya melakukan meeting mendadak untuk mengkaji respons yang tepat.
Bahkan, pada Selasa (16/4), Presiden Joko Widodo memanggil para menteri terkait dan Gubernur Bank Indonesia merumuskan strategi dalam menghadapi perkembangan situasi ekonomi dan keuangan global dan tensi geopolitik yang sangat tinggi bergerak cepat dan dinamis. Di sisi geopolitik, kita mendukung upaya pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri yang menerima arahan Presiden Jokowi agar Indonesia dapat berinisiatif sebagai penengah dalam konflik Iran vs Israel.
Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus melakukan langkah-langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat terperosok ke level Rp16.200 per dolar AS. Sejumlah skema intervensi dilakukan bank sentral di pasar spot (tunai) atau pembelian secara tunai maupun non delivery forward (NFD), agar nilai tukar mata uang Garuda tak melemah. Langkah BI tak bisa sendiri dan harus berkoordinasi dengan otoritas fiskal agar respons kebijakan pemerintah bisa menjangkau seluruh dampak dari efek domino konflik Timur Tengah tersebut. Dalam hitung-hitungan yang dibuat pemerintah untuk skenario premium risk, kenaikan harga minyak mentah bisa di rentang US$5 per barel sampai dengan US$10 per barel dari perdagangan pekan ini.
Biasanya, selisih harga minyak mentah dunia dengan minyak mentah Indonesia (Indonesia crude price/ICP) terpaut sekitar US$3 per barel sehingga harga minyak mentah dunia bisa naik ke level US$100 per barel. Kajian yang dilakukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia US$5 per barel, maka akan menambah subsidi BBM sebesar Rp0,19 triliun. Di sisi lain, kegiatan importasi, terutama bahan baku untuk kegiatan manufaktur nasional, akan terdampak dari terhambatnya kegiatan rantai pasok perdagangan global.
Pasar Modal dan Kurs Rupiah Terjerembap
Meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel
telah berdampak pada pasar keuangan dalam negeri. Pada perdagangan perdana
pascalibur Lebaran, Selasa (16/4) Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terkoreksi
lebih dari 100 basis poin dan nilai tukar rupiah melanjutkan tren depresiasi. Tekanan
pelemahan di pasar keuangan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga
sepekan ke depan. Dari lantai bursa, IHSG pada perdagangan perdana pascalibur
Lebaran, Selasa, anjlok 1,68 %. Pada penutupan perdagangan, IHSG merosot
122,075 basis poin ke posisi 7.164,807 setelah pada pembukaan perdagangan
berada pada level 7.286. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate
(Jisdor), nilai tukar rupiah terhadap dollarAS pada perdagangan Selasa ditutup
pada level Rp 16.176. Rupiah melemah 303 basis poin atau 1,90 % dari perdagangan
terakhir sebelum libur Lebaran pada 5 April 2024 di level Rp 15.873. Selama 6
April-15 April tidak ada perdagangan Jisdor karena libur Lebaran.
Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI Budi Frensidy menjelaskan,
terkoreksinya IHSG dipicu berbagai sentimen negative yang membuat arus modal
keluar dari lantai bursa. Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel menjadi
pemicu timbulnya berbagai kekhawatiran yang menciptakan sentiment negatif.
Dampaknya terhadap perekonomian Indonesia, menurut Budi, dipandang tidak
menguntungkan investor asing. Akhirnya, investor asing pun mencabut modalnya
dari lantai bursa untuk dialihkan ke aset yang punya risiko lebih kecil. Ia
memperkirakan, setidaknya sampai sepekan ke depan IHSG masih akan dalam zona
merah. IHSG diperkirakan bergerak di rentang 7.050-7.150 hingga sepekan ke
depan. Tekanan di lantai bursa, lanjut Budi, akan terus berlanjut selama belum
ada tanda-tanda meredanya konflik Iran dan Israel. (Yoga)
Industri Manufaktur Berisiko Tekan Volume Produksi
Pelemahan nilai tukar rupiah secara terus-menerus berisiko menyebabkan
sebagian besar industri manufaktur menekan volume produksi. Beban biaya nonproduksi
akan melonjak jika pelemahan rupiah berkelanjutan. Meski perdagangan spot rupiah
selama sepekan terakhir atau selama periode Lebaran belum dibuka, berbagai pemberitaan
menyebutkan, rupiah telah menembus Rp 16.000 per dollar AS. Berdasarkan data
Google Finance, pelemahan rupiah menyentuh titik tertingginya pada level Rp 16.089
per dollar AS pada Jumat (12/4). Data
Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan, rupiah berada di level
Rp 15.873 per dollar AS pada penutupan pasar Jumat (5/4).
Pelemahan rupiah sempat menyentuh level tertingginya sebesar
Rp 15.923 per dollar AS atau terdepresiasi 2,9 % dibandingkan dengan awal tahun
2024. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, Senin
(15/4) mengatakan, pelemahan rupiah dipastikan berdampak negatif, terutama terhadap
industri manufaktur nasional. Sebab, industri manufaktur masih bergantung pada
impor bahan baku, bahan penolong, serta barang modal.
”Terbuka kemungkinan kenaikan harga jual di pasar apabila
pelemahan ini terjadi lebih dari sebulan. Imbasnya, inflasi harga pasar bisa menjadi
lebih tinggi, pertumbuhan penjualan atau konsumsi pasar melambat dan memengaruhi
inflasi apabila pemerintah tidak bisa menstabilkan penguatan nilai tukar. Kami
sangat berharap pemerintah dapat menciptakan intervensi moneter yang dibutuhkan
untuk menciptakan stabilitas atau penguatan nilai tukar,” katanya.
Sekitar 80 % total impor nasional merupakan bahan baku, bahan
penolong, serta barang modal industri. Ini mengakibatkan biaya nonproduksi
(overhead cost) industri manufaktur seluruh subsektor melonjak dan sangat
memberatkan. Apindo memperkirakan, sebagian besar industri manufaktur akan
menekan volume produksi akibat kenaikan beban biaya nonproduksi yang disebabkan
oleh pelemahan rupiah. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









