BAYANG-BAYANG GEJOLAK KURS
Depresiasi rupiah menjadi pedang bermata dua bagi korporasi di Tanah Air. Katalis positif diproyeksi bertiup ke emiten-emiten di sektor pertambangan dan perkebunan yang berorientasi ekspor, sedangkan sektor farmasi dan properti cenderung dibayangi sentimen negatif. Pada perdagangan Rabu (17/4), rupiah terkulai dihadapan dolar Amerika Serikat dengan pelemahan 0,271% ke level Rp16.220. Rupiah melanjutkan koreksi setelah anjlok 2,07% pada perdagangan perdana usai libur Lebaran 2024. Alhasil, rupiah sudah merosot 5,062% sepanjang tahun berjalan 2024. Penguatan indeks dolar AS yang menembus level 106 itu membuat nilai tukar Garuda kembali menyentuh titik terendah sejak April 2020.
Rupiah juga kian mendekati level Rp16.575 per dolar AS yang terbentuk pada 23 Maret 2020 atau saat awal pandemi Covid-19. Dihubungi Bisnis pada Rabu (17/4), Corporate Secretary PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) Joni Tjeng mengatakan perdagangan kelapa sawit menggunakan acuan harga berdenominasi dolar AS sehingga depresiasi rupiah secara langsung akan meningkatkan nilai jual dan performa perseroan. Di sisi pendanaan, lanjutnya, pinjaman TAPG seluruhnya berdenominasi rupiah. Dengan begitu, pelemahan rupiah tidak akan signifi kan mempengaruh beban keuangan perseroan.
Senada, Investor Relations PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) Stefanus Darmagiri mengatakan pelemahan rupiah diharapkan dapat meningkatkan harga jual CPO dalam rupiah dan meningkatkan pendapatan perseroan. Dari sisi biaya, lanjutnya, hampir sebagian besar biaya operasional yang dikeluarkan SGRO ditransaksikan dalam mata uang rupiah. Dus, pelemahan rupiah tidak memiliki dampak yang material terhadap biaya operasional emiten perkebunan sawit itu. Berbanding terbalik, depresiasi rupiah menjadi tantangan bagi emiten farmasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Menurut Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) Vidjongtius, nilai tukar rupiah yang melemah akan menaikkan harga pokok produksi untuk KLBF. Selain sektor farmasi, melemahnya rupiah juga menjadi sentimen negatif bagi sektor properti. Emiten properti yang memiliki outstanding utang berdenominasi dolar AS dikhawatirkan mengalami tekanan selisih kurs yang menekan likuiditas perseroan.
Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) Hermawan Wijaya buka suara terkait dengan dampak depresiasi rupiah. Menurutnya, BSDE terus berupaya untuk menurunkan risiko kurs dengan memangkas utang dolar AS.
Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas) Cheril Tanuwijaya mengatakan emiten-emiten komoditas yang meraih pendapatan dalam dolar AS diuntungkan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyarankan investor dengan profi l risiko rendah untuk wait and see. Namun, investor dengan profi l high risk dapat mengambil kesempatan akumulasi beli untuk saham MEDC dengan target harga Rp1.970, ELSA Rp540, dan AKRA dengan target Rp1.900 per saham. Sementara itu, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi merekomendasikan beli saham-saham komoditas, seperti PTBA dengan target harga Rp3.010, INCO Rp4.830, dan HRUM dengan target Rp1.815 per saham.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023