Nilai Tukar
( 175 )Efek Domino Depresiasi Rupiah
Ketika kondisi keuangan negara Amerika Serikat (AS) mengalami defisit yang kian membengkak, posisi nilai tukar mata uang dolar AS justru melonjak naik hingga menyebabkan mata uang negara lain terpuruk. Kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkat hingga 5% membuat penarikan dolar AS di seluruh dunia marak untuk diinvestasikan kembali ke AS.Bagi Indonesia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tentu perlu diwaspadai. Meskipun neraca perdagangan Indonesia pada September 2023 sebetulnya mencatatkan surplus sebesar US$3,42 miliar, tetapi posisi rupiah justru melemah. Menurut Bank Indonesia (BI), per 26 Oktober 2023, kurs rupiah referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate tercatat Rp15.933 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah ini terjadi saat indeks dolar AS terpantau menguat ke level 106,49%. Upaya BI untuk menstabilkan rupiah, harus diakui bukan hal yang mudah dilakukan. Bukan tidak mungkin, nilai tukar rupiah akan tembus Rp16.000 per 1 dolar AS jika kondisi geopolitik masih tidak menentu.
Depresiasi mata uang, termasuk rupiah sering terjadi pada negara dengan fundamental pertumbuhan yang lemah seperti defisit transaksi berjalan yang terus-menerus, serta tingginya tingkat inflasi. Secara garis besar ada efek domino yang terjadi ketika nilai tukar rupiah turun.Pertama, mempengaruhi kelangsungan hidup sejumlah sektor industri manufaktur.
Kedua, pelemahan rupiah dan kenaikan nilai tukar mata uang dollar AS, cepat atau lambat akan menyebabkan terjadinya kenaikan biaya logistik.
Ketiga, efek domino pelemahan rupiah tak pelak juga akan menyebabkan terjadinya pelemahan permintaan dan daya beli masyarakat.
Keempat, tidak hanya inflasi, efek domino dari terjadinya depresiasi mata uang rupiah terhadap dolar AS juga berpotensi meningkatkan jumlah dan kewajiban pemerintah maupun swasta dalam membayar utang.
Bitcoin Juara, Emas & Dollar AS Idola
DOLLAR AS KIAN EKSIS DI TENGAH KRISIS
Menguatnya rupiah spot
pada Senin (30/10) dan Selasa (31/10) di kisaran 0,12-0,16 % membuka pekan awal
November 2023 dengan gembira. Pasalnya, akhir pekan lalu rupiah melemah nyaris
menyentuh angka Rp 16.000 per dollar AS. Merujuk BI, kurs rupiah referensi
Jakarta Interbank Spot DollarRate (Jisdor) mencapai Rp 15.933 per dollar AS
pada 26 Oktober 2023. Alih-alih bangkit, rupiah justru kian terpuruk pada hari berikutnya
di level Rp 15.941 per dollar AS. Rupiah terapresiasi saat indeks dollar AS terpantau
menguat ke level 106,49 %. Sejumlah mata uang negara lainnya juga menguat pada
hari yang sama. Merujuk data Bloomberg (30/10) pukul 15.00 WIB, won Korsel
menguat 0,35 % terhadap dollar AS, ringgit Malaysia menguat 0,26 %, baht Thailand
menguat 0,20 %, dan dollar Singapura menguat 0,15 %.
Kendati demikian, tak
dapat dipastikan sampai kapan angin segar akan berembus di kawasan Asia.
Situasi masih penuh ketidakpastian. Rabu (1/11), rupiah kembali melemah ke
level Rp 15.946 per dollar AS. Ditambah lagi sejumlah ekonom mengungkapkan
adanya kemungkinan dollar AS akan bertahan kuat hingga akhir tahun, didasarkan pada
tren panjang selama tahun ini di mana dollar AS konsisten cenderung menguat
terhadap sejumlah mata uang. Tak terkecuali terhadap beberapa mata uang yang
juga dipandang cukup kuat di dunia. Terhadap pound sterling Inggris, dollar AS
menguat 1,2 % sepanjang Januari-Oktober 2023. Dengan euro, dollar AS menguat
2,1 pada periode yang sama. Bahkan,terhadap yen Jepang, dollar AS terapresiasi
hingga 14,9 %. Menguatnya dollar AS dipicu tingginya suku bunga acuan oleh The
Fed yang diperkirakan berlangsung dalam jangka panjang (higher for longer). (Yoga)
Greenback Masih Tetap Jadi Safe Haven Favorit
Ongkos Piknik Terdampak Dollar AS
Pelemahan nilai rupiah mulai berimbas pada industri
pariwisata, terutama tarif tiket pesawat dan paket wisata perjalanan internasional.
Di sektor domestik, meskipun harga tiket pesawat terpengaruh, biaya langsung dan
akomodasi dalam negeri masih terjaga. Mengacu pada data Jakarta Interbank Spot
Dollar Rate (Jisdor), Senin (30/10) nilai tukar rupiah terpantau Rp 15.916 per
dollar AS atau sedikit menguat dari Jumat (27/10) yang senilai Rp 15.941 per
dollar AS. Budi Kusumaningsih (50), pemilik Shakuntala Wisata, di Yogyakarta,
mengatakan, unit usaha wisatanya cukup terpengaruh. Harga kebutuhan pokok yang
makin mahal menurunkan minat rekreasi masyarakat sehingga beberapa program yang
sudah terencana jadi tertunda. Kondisi global turut berpengaruh pada usahanya.
”Untuk periode tahun depan, Holyland (wisata rohani ke Tanah
Suci) ditunda karena ketegangan Israel dengan Palestina yang saya piker masih
akan berlangsung,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Senin. Pelaku usaha dari Ascenta Tour, Timoti Tirta
(32), mengatakan, wisatawan yang akan bepergian ke luar negeri biasanya telah
membeli tiket jauh hari sebelum keberangkatan. Alhasil, akomodasi dan pesawat
sudah terbayar lunas, tak terimbas kenaikan dollar AS. ”Tetapi, efeknya ketika
di negara tujuan kalau belum menukar uang saat ini. Jadi, ketika mereka sedang
jalan-jalan, nah, mungkin akan terasa saat di lapangan,” ujarnya. (Yoga)
Harga Peranti Elektronik Impor Terdampak Rupiah
Harga barang impor berupa
barang elektronik dan telekomunikasi, seperti laptop, naik sebagai imbas melemahnya
nilaitukar rupiah terhadap dollar AS dalam enam bulan terakhir. Jumat (27/10)
mata uang rupiah ditutup melemah 19 poin ke posisi Rp 15.938. Persaingan pedagang
ritel di toko luring kian ketat dengan pedagang daring dan adanya lonjakan
impor produk murah asal China. Toko penjualan laptop Gamer.id di Pusat Grosir
Cililitan, Jaktim, misalnya, telah menyesuaikan harga sejak Oktober. Rizky,
salah satu pramuniaga di toko itu, mengatakan, kenaikan harga itu lebih meluas
daripada kenaikan harga sebagai dampak pandemi Covid-19, karena depresiasi
rupiah juga membuat harga barang-barang aksesori laptop meningkat.
”Harga laptop bisa naik
ratusan ribu rupiah. Itu lumayan juga. Kebanyakan pembeli juga cari laptop di
bawahRp 10 juta,” ujar Rizky, yang ditemui pada Sabtu (28/10). Selain itu,
angka penjualan di toko laptop baru berbagai merek rendah karena sepinya
pengunjung pusat perbelanjaan. Pedagang laptop dan aksesori lainnya di mal yang
sama, Hendro, juga mengakui kesulitan menggerakkan penjualan karena makin
mahalnya barang elektronik baru dan bekas serta rendahnya kunjungan pembeli.
”Dua bulan lalu sudah menaikkan harga beberapa barang. Sebenarnya tergantung
supplier, kamiikut doang,” ujar pria yang sudah enam tahun membuka toko itu. Layar
laptop, misalnya, naik Rp 50.000 sampai dengan Rp 100.000 per buah. Laptop
bekas dari pasar gelap, seperti dari Batam, Kepri, yang ia jual lagi, juga ikut
naik 10-15 %. Padahal, laptop bekas itu kalau dijual kembali jatuh harganya. (Yoga)
Melemahnya Rupiah
Melemahnya rupiah
akhir-akhir ini sudah berdampak pada transaksi perdagangan, terutama
barang-barang impor dan sangat berdampak terhadap berbagai lini usaha. “Awal
bulan, komputer dan perantinya mengalami kenaikan harga. Harga laptop naik ratusan
ribu rupiah. Kenaikan harga juga di aksesori, seperti mouse dan lainnya. Kenaikan
bisa Rp 50.000-Rp 100.000 per item. Saat depresiasi rupiah, kenaikan harga
bercabang ke aksesori. Ini membuat berkurang penjualan. Jualnya susah, orang
malas datang (ke toko offline), jadinya lari ke online,” kata Rizky (28),
Penjual Toko Laptop Gamer.id.
Timoti Tirta (32), Pelaku
Usaha Ascenta Tour, Jakarta, mengatakan, “Menjelang akhir tahun, memang
biasanya rupiah melemah. Jadi, kebiasaan pelanggan kalau mau ke luar negeri
pada akhir tahun, dia sudah menukarkan uangnya sebelum Desember. Cuma ketika ada
pembayaran yang belum lunas, seperti maskapai atau hotel, kami memang pasti
akan kurangi keuntungan. Jadi, ketika membuat paket perjalanan di awal,
biasanya ada spare untuk perubahan kurs. Pengeluaran perjalanan ke negara Asia enggak
terlalu terasa ketika dollar AS melemah dibandingkan ke negara Barat”.
Unit usaha wisata agak
terpengaruh depresiasi rupiah karena harga kebutuhan sehari-hari makin mahal
sehingga cadangan rekreasi berkurang. Akibatnya, beberapa program yang sudah terencana
menjadi tertunda. Kebanyakan (klien) memilih memakai uang mereka untuk keperluan
sehari-hari dulu dan menunda perjalanan rekreasi mereka, ujar Budi
Kusumaningsih (50), Pelaku Usaha Wisata, Yogyakarta. (Yoga)
Nilai Tukar Rupiah Kembali Tertekan
Depresiasi Rupiah Gerus Kapasitas Penyaluran Kredit Perbankan
Depresiasi rupiah menekan industri perbankan karena berpotensi menggerus kemampuan penyaluran kredit dan meningkatkan risiko kredit. Penguatan dollar AS akan terus terjadi seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global. Mengacu pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah terpantau sedikit menguat. Pada penutupan pasar, Selasa (24/10) nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.869 per dollar AS, menguat 0,46 % dibandingkan penutupan hari sebelumnya, yakni Rp 15.943 per dollar AS. Secara kalender berjalan, rupiah sempat menyentuh level terkuatnya di level Rp 14.632 per dollar AS pada 4 Mei 2023. Sementara itu, nilai tukar rupiah paling lemah pada 23 Oktober. Saat itu nilainya Rp 15.943 per dollar AS atau terdepresiasi 2,2 % dibandingkan penutupan pada 2022.
Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah berdampak terhadap jumlah penyaluran kredit (exposure) perbankan dalam bentuk dollar AS. Hal ini karena adanya selisih akibat depresiasi nilai tukar rupiah. “Bagi perbankan, secara rasional, exposure dalam dollar AS akan otomatis naik dalam ekuivalen rupiah sehingga akan juga menaikkan ATMR (aset tertimbang menurut risiko). Namun, tentu saja tergantung dari porsi exposure tersebut,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (24/10). ATMR merupakan jumlah aset bank dengan pertimbangan risiko, seperti kredit, pasar, dan operasional. Kenaikan ATMR tersebut, salah satunya, akan menurunkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang berarti kemampuan penyaluran kredit bank menjadi terbatas. (Yoga)
Pengembang Siasati Kenaikan Biaya Produksi
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD yang berlanjut diprediksi berimbas pada kenaikan biaya produksi yang dapat mendorong peningkatan harga properti. Meski demikian, pengembang akan menyiasati kenaikan biaya produksi guna menekan kenaikan harga rumah. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI) Joko Suranto mengemukakan, fluktuasi nilai tukar rupiah merupakan hal biasa terjadi,tetapi depresiasi nilai tukar rupiah kali ini dinilai tinggi sehingga dapat berdampak pada kenaikan biaya produksi di sektor properti. Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai tak akan berdampak signifikan pada rumah segmen menengah bawah karena 80 % komponen biaya produksi tidak menggunakan bahan impor.
Meski demikian, dampaknya akan terasa jika terjadi kenaikan harga bahan bakar yang memengaruhi biaya logistik dan bahan bangunan. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap kenaikan harga bahan bakar. Joko menambahkan, pengembang properti berupaya melakukan efisiensi biaya guna mengantisipasi kenaikan biaya produksi. Hal itu guna menjaga pasar properti tetap tumbuh di tengah tekanan daya beli. ”Pengembang akan berupaya efisienkan biaya sebisa mungkin agar biaya produksi tidak naik. Kami ingin tumbuhkan animo dan kepercayaan masyarakat bahwa ini saat terbaik membeli properti,” ujarnya, saat dihubungi di Jakarta, Senin (23/10). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









