Nilai Tukar
( 175 )Rupiah Menguat Walau Terlambat
Tahun baru, level nilai tukar baru. Mengawali tahun 2021 ini, mata uang garuda mengepak kuat. Kemarin (4/1), kurs spot rupiah menguat 1,12% menjadi Rp 13.895 per dollar Amerika Serikat (AS). Ini level terkuat rupiah sejak 10 juni 2020.
Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan, salah satu penyebab penguatan rupiah adalah tren bearish dollar AS. The greenback tertekan optimisme pelaku pasar terhadap pemulihan ekonomi global setelah berbagai negara mulai melakukan program vaksinasi Covid-19.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksikan dollar AS akan terus melemah. Kemarin, indeks dollar AS berada di level 89,95. Ini level terendah sejak April 2018.
Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai penguatan rupiah kali ini karena overshoot dana asing yang masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia dengan nilai cukup besar. "Yang terpenting rupiah harus stabil dan punya daya saing dibanding mata uang emerging lain, " jelas dia.
BI Diyakini Mampu Menjaga Volatilitas Rupiah
Upaya
Bank Indonesia (BI) dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
nampaknya cukup berhasil. Volatilitas nilai tukar rupiah terjaga dengan baik
jika dibanding negara lain meski dipengaruhi sentimen pandemi Covid-19. Berdasarkan data Bloomberg, indeks
volatilitas rupiah memang meningkat pada periode 20 Maret-17 April 2020. Meski cenderung
lebih rendah dibandingkan mata uang lira Turki, real Brasil, dan rand Afrika
Selatan, namun dinilai lebih tinggi dari baht Thailand, peso Filipina, rupe
India, dan ringgit Malaysia. Di sisi lain, ada beberapa negara mengalami
pelemahan nilai tukar terbesar dengan volatilitas tertinggi di sepanjang paruh
kedua tahun lalu, yaitu Turki, Brasil, dan Afrika Selatan dan di atas rerata
volatilitas negara-negara berkembang. rand Afrika Selatan mencatat indeks
volatilitas 18,1%, disusul real Brazil 17%, dan lira Turki 16%.
Ekonom Senior Institut Kajian Strategis (IKS)
Universitas Kebangsaan Eric Sugandi melihat, intervensi BI cukup bisa menjaga
volatilitas rupiah sampai akhir semester I-2020 karena cadangan devisa
Indonesia masih cukup besar. Di samping itu faktor kejutan dari pandemi
Covid-19 juga sudah jauh berkurang dibandingkan pada bulan Februari, Maret,
hingga awal April lalu. Para pelaku pasar juga mulai tidak bereaksi
berlebihan.
Pertamina-PLN Terbebani Utang Valas
Beban utang valas dua perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), berpotensi membuat kantong perusahaan jebol dikarenakan anjloknya nilai tukar rupiah atas dolar AS. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, saat ini penjualan BBM Pertamina turun sangat dalam hingga 34,6 persen secara nasional dan merupakan penurunan penjualan paling rendah dalam sejarah Pertamina. Nicke menjelaskan, ada dua skenario yang dibuat perusahaan sesuai arahan pemerintah. Pertama, skenario berat dengan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) 38 dolar AS per barel dan yang kedua, skenario sangat berat ICP diasumsikan turun ke 31 dolar AS per barel.
Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengakui, mayoritas utang yang dimiliki oleh PLN saat ini berbentuk valas. Zulkifli menjelaskan, adanya kebutuhan dana untuk investasi yang tidak sedikit sementara ruang pinjaman yang di sediakan oleh perbankan nasional hanya maksimal Rp 140 triliun, membuat PLN harus meminjam dari bank di luar domestik. Zulkifli menyebutkan, setiap pelemahan senilai Rp 1.000 per dolar AS, biaya yang ditanggung PLN bisa meningkat Rp 9 triliun.
Emiten Tekstil Ditopang Hedging Alami
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melandai dalam sebulan terakhir, dari Rp14.113 per dolar AS pada 4 Maret 2020 menjadi Rp16.430 akhir pekan lalu. Secara year to date, rupiah melemah 18,49%. Meski demikian, pendapatan ekspor menjadi natural hedge atau lindung nilai alami bagi sejumlah emiten tekstil Tanah Air dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah.
Hal ini sebagaimana dikonfirmasi Direktur Utama PT Trisula International Tbk. (TRIS) Kris S Widjojo, Corporate Communication PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) Joy Citradewi serta Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk. (PBRX) Anne Patricia Sutanto di tempat terpisah. Ketiganya menyampaikan pendapat senada bahwa penurunan nilai tukar rupiah ini tidak akan berdampak signifikan meski senantiasa mewaspadai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap berbagai mata uang lainnya.
Sekitar 70% penjualan TRIS ke pihak adalah penjualan ekspor dengan mengantongi penjualan bersih Rp687 miliar berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2019, kontribusi paling besar adalah nilai ekspor kepada pihak ketiga senilai Rp423,80 miliar. Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2019, SRIL melaporkan penjualan US$1,18 miliar, tumbuh 14,30% dari US$1,03 miliar periode 2018. Kontribusi penjualan terbesar berasal dari ekspor US$704,88 juta pada 2019. Joy mengatakan perseroan sejauh ini masih menjadi net exporter.
Begitu juga dengan PBRX yang sebagian besar pendapatannya dalam denominasi dolar AS. Di lain sisi, PBRX memiliki rencana untuk melakukan pembiayaan kembali (Refinancing) fasilitas modal kerja senilai US$138 juta yang akan jatuh tempo 2021 menjadi lebih panjang sampai dengan 2023, fasilitas ini diperkirakan akan berasal dari enam perbankan.
Moody's Investors Service baru-baru ini menurunkan outlook PBRX dari stabil menjadi negatif dikarenakan rencana Refinancing di tengah kondisi yang menantang dan meningkatnya gejolak global serta regional. Saldo kas PBRX senilai US$64 juta per kuartal III/2019 dinilai akan cukup menutupi kebutuhan kas operasional, pengeluaran modal yang direncanakan, dan pembayaran utang jangka pendek serta dividen yang diproyeksikan selama 12 bulan-18 bulan ke depan. Namun di perkirakan tidak cukup untuk menutupi fasilitas kredit bergulir senilai US$138 juta yang jatuh tempo Februari 2021. Meski demikian, Anne menyebut penjelasan Moody's hanya dipakai sebagai persyaratan karena saat ini perseroan tidak memiliki isu permasalahan arus kas.
Bank Sentral Perkuat Intervensi demi Menopang Rupiah
Bank Indonesia berupaya menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah di tengah gempuran ketidakpastian pasar keuangan global akibat meluasnya penyebaran wabah corona. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan aliran modal asing yang keluar dari Indonesia kembali kenegara maju memicu tekanan terhada kurs rupiah sejak pertengahan Februari lalu.
Hingga 18 Maret lau, rupiah secara merata melemah sebesar 5,72 persen dan depresiasinya mencapai 8,77 persen dibanding level rupiah pada akhir 2019. Kemarin, rupiah ditutup di level 15.712 per dolar Amerika Serikat, berdasarkan kurs referensi JISDOR. BI berkomitmen meningkatakan intesitas stabilisasi di pasar domestic non-deliverable forward (DNDF), pasar spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Likuiditas tambahan itu diantaranya, berasal dari repo dengan agunan SBN sebesar Rp 53 triliun, penurunan Giro Wajib Minimum rupiah Rp 51 triliun, dan akan kembali ditambah Rp 23 triliun per 1 April 2020. Kapasitas intervensi bank sentral ditopang oleh ketersediaaan cadangan devisa pada akhir Februari lalu sebesar US$ 130,4 miliar. Bank sentra kemarin juga mengeluarkan tujuh langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas keuangan dan pertumbuhan ekonomi.
Fluktuasi Rupiah Diperkirakan Berlangsung Lama
Direktur Riset Center of Reform on Economics, Piter Abdullah,
memprediksi fluktuasi nilai tukar bakal terjadi untuk beberapa waktu ke depan.
Penurunan nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga hampir di
seluruh negara mengalami hal yang sama.
Dia mengatakan dampak penyebaran virus corona (Covid-19) yang mengglobal berdampak pada kegiatan
perekonomian dunia. Intervensi Bank Indonesia perlu kapasitas besar untuk
menjaga nilai tukar rupiah agar tidak turun lebih dalam. Melansir data Jakarta
Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah dalam perdagangan
kemarin ditutup melemah menjadi 14.818 dari 14.815 pada akhir pekan lalu. Jika
dirunut dari puncak wabah corona yang
terjadi di dunia sejak Februari lalu, nilai tukar rupiah yang semula berada di
level 13.726 per dolar Amerika Serikat melemah lebih dari 1.100 poin. Nilai
tukar rupiah terakhir kali jeblok pada level 15.235 pada 2018. Direktur PT TRFX
Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pasar khawatir pandemi virus corona berlanjur. Meski ada rapor bagus
terhadap neraca perdagangan selama Februari yang surplus US$ 2,34 miliar,
pelemahan rupiah tak bisa dibendung. Selain itu, kata Ibrahim, masih banyak
sentimen negatif bagi dalam negeri, seperti penurunan kembali suku bunga acuan
Amerika Serikat selama dua pekan beruntun menjadi 0-0,25 persen.
Nilai Tukar Rupiah Menguat
Neraca Mulai Membaik
Nilai Tukar, Pelaku Usaha Diharapkan Tukar Dolar AS
Gerakan Tukar Rupiah Berlanjut
Pilihan Editor
-
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022 -
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022






