Nilai Tukar
( 175 )Bunga Acuan dan Stabilisasi Rupiah
BI menaikkan bunga acuan 25 basis poin ke 6 % dalam upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. BI menyebut, kenaikan BI-7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) ini sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi inflasi barang impor, agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2-4 % pada 2023 dan 1,5-2,5 % pada 2024 (Kompas, 20/10). Ketidakpastian global yang disebut BI adalah perkiraan melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 % (2023) menjadi 2,8 % (2024), dan eskalasi tensi ketegangan geopolitik yang menyebabkan harga pangan dan energy bergejolak dan inflasi global tetap bertahan tinggi. Ini kenaikan pertama bunga acuan BI dalam 10 bulan terakhir. BI terakhir menaikkan bunga acuan pada Januari 2023, juga sebesar 25 basis poin (bps). Sebelumnya, selama kurun Agustus 2022-Januari 2023, BI enam kali menaikkan bunga acuan dengan total kenaikan 225 bps.
Opsi kenaikan bunga acuan harus dilakukan, kendati BI pernah menyatakan tak akan menempuh langkah menaikkan bunga untuk stabilisasi rupiah dan lebih memilih intervensi karena pelemahan rupiah sudah sangat mencemaskan. Rupiah sudah terdepresiasi 3,7 % tahun ini dan 2,05 % selama Oktober 2023, menembus level Rp 15.800/dollar AS. Kenaikan bunga acuan BI ini terutama untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, The Fed, 2 November mendatang. Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) ini hampir pasti terjadi, terutama dengan inflasi AS yang masih jauh dari target 2 %, yakni 3,7 % pada September 2023 (yoy). Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September lalu, The Fed sudah mengisyaratkan kemungkinan menaikkan FFR 0,5 bps lagi hingga akhir tahun. (Yoga)
Rupiah Tidaklah Pasrah
Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp 15.700 per dollar AS. Ini menjadi level terlemah tahun ini. Padahal, fundamental ekonomi cukup baik; pertumbuhan ekonomi cukup tinggi (5,17 %) neraca berjalan surplus (0,5 % terhadap PDB, dan inflasi juga rendah (2,28 %). Tingginya suku bunga di AS membuat mata uang lain melemah. Dollar kembali ke AS dengan imbal hasil lebih tinggi dan dianggap bertuah. Bank sentral sebisanya intervensi untuk menjaga stabilitas, tidak hanya pasrah. Nilai mata uang lebih ditentukan oleh aliran dana masuk dan keluar daripada fundamental ekonomi yang kokoh. Mata uang berperan sebagai alat tukar dan penyimpan nilai yang seakan bertuah. Dollar AS menjadi acuan karena ekonomi AS terbesar, sistem hukum yang andal, sosial politik stabil, dan kredibilitas yang kokoh. Banyak usaha untuk menggantikan dollar AS, tapi sayangnya kurang berkah.
Suku bunga di AS saat ini sudah tinggi dan kemungkinan akan dinaikkan lagi. Akibatnya, arus dollar kembali ke AS akan semakin deras. Intervensi BI ke pasar spot dan forward dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah. Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dan penjualan sertifikat rupiah BI juga dilakukan dengan terarah. Keharusan eksportir memasukkan sebagian hasil ekspor ke dalam negeri membuat cadangan devisa bertambah. Bahkan kerja sama antarnegara untuk alternatif mempergunakan mata uang selain dollar dilakukan, tetapi masih kurang ampuh. Pelemahan rupiah sebenarnya tidak berpengaruh terhadap fundamental ekonomi dalam negeri, oleh karena itu, menjaga stabilitas, dengan intervensi, fasilitasi, dan memperbaiki iklim investasi, membuat BI tidak boleh lengah dalam menjaga rupiah. (Yoga)
Depresiasi Rupiah Senggol Manufaktur
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD mengakibatkan
sejumlah sektor industri manufaktur, seperti industri makanan-minuman serta
industri tekstil dan produksi tekstil dalam negeri, terdampak. Pelemahan kurs juga
berpotensi memangkas daya beli dan permintaan masyarakat. Nilai tukar rupiah
saat ini tengah melemah atau terdepresiasi akibat ketidakpastian pasar keuangan
global. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Selasa (17/10)
malam, kurs rupiah berada di level Rp 15.718 atau melemah 1,49 % dibandingkan akhir
September 2023. Secara kalender berjalan, nilai tukar rupiah juga tercatat
melemah 0,80 % dibandingkan akhir Desember 2022.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh
Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman di Jakarta, Selasa (17/10) mengatakan, dampak
depresiasi rupiah dirasakan oleh para pelaku industri makanan-minuman di Tanah
Air. Sebab, sebagian besar kebutuhan produksi industri makanan-minuman, seperti
bahan baku dan barang modal, masih impor. ”Di samping bahan baku dan barang
modal, ada juga biaya lain, seperti logistik dan kapal. Semua itu, kan, dalam
bentuk USD sehingga menyebabkan terjadinya kenaikan, baik di sisi produksi, harga
pokok produksi, maupun dalam biaya logistik dan distribusinya,” kata Adhi. (Yoga)
GELISAH DEPRESIASI RUPIAH
Kinerja Emiten Tertekan Otot Dolar
Nilai tukar rupiah masih dalam tren melemah. Sampai perdagangan akhir pekan, Jum'at (6/10) harga spot JISDOR telah menyentuh Rp 15.628 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini bisa membawa dampak beragam bagi emiten yang sensitif terhadap fluktuasi kurs. Salah satunya yang mempunyai utang valuta asing, terutama dolar AS. "Jika porsi utang dolar AS lebih dari 60% dari total utang keseluruhan, akan mempengaruhi cost untuk membayar beban bunga utang," terang Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro ke KONTAN, Minggu (8/10). Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy sependapat kinerja sejumlah emiten yang punya utang dolar AS akan terdampak negatif akibat pelemahan rupiah. Terlebih ada sejumlah emiten besar yang mempunyai utang valas lumayan besar di semester I-2023. Di sektor telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) juga punya utang dolar AS yang nilainya setara Rp 2,16 triliun per 30 Juni 2023, naik dari periode serupa 2022 yang tercatat Rp 1,64 triliun. Di bidang energi, utang usaha PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) tercatat US$ 365,8 juta di periode yang sama. Adapun total liabilitas ADRO tembus US$ 2,71 miliar per 30 Juni 2023. Di sektor properti ada LPKR memiliki utang obligasi per 30 Juni 2023 senilai Rp 6,4 triliun. ASRI memiliki utang obligasi dalam dolar AS yang jika dirupiahkan Rp 3,68 triliun. PWON memiliki utang usaha dalam dolar AS setara Rp1,3 triliun per 30 Juni 2023. Emiten manufaktur, seperti PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) juga punya utang usaha dalam dolar AS setara Rp 669,23 miliar dan utang obligasi Rp 2,55 triliun.
Setengah Hati Tinggalkan Dolar
JAKARTA — Aktivitas perdagangan dan transaksi internasional masih sangat bergantung pada dolar Amerika Serikat. Bukan hal mudah menurunkan penggunaan dolar AS atau "dedolarisasi" di tengah posisinya sebagai mata uang utama dunia saat ini. Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengatakan, saat ini mayoritas pelaku usaha sudah kelewat nyaman dengan dolar AS, meski upaya menerapkan kebijakan penggunaan mata uang lokal atau local currency transaction sudah dimulai. Indonesia saat ini memang telah mengimplementasikan kerja sama LCT dengan Malaysia dan Thailand yang dimulai sejak 2018, lalu dengan Jepang pada 2020, dan dengan Cina pada 2021. Adapun eksposur penggunaan LCT paling banyak dilakukan dengan baht Thailand dan yuan Cina. “Tapi memang belum banyak karena bagaimanapun dolar masih jadi mata uang dunia," kata Toto, kemarin, 6 September 2023. Sering kali para pengusaha menerima pembayaran dalam mata uang lokal. Namun mereka harus kembali menggunakan dolar saat harus membeli bahan baku dari negara lain. Kurangnya sinkronisasi kebutuhan penggunaan mata uang lokal dengan dolar AS menjadi salah satu tantangan utama penerapan kebijakan LCT. Hal ini pada akhirnya justru berpotensi kian membebani pelaku usaha. “Supplier kami misalnya ada juga yang belum berkenan dengan mata uang lokal, mintanya dolar. Ya ini membebani kami karena ujungnya harus bayar selisih kurs dobel,” kata Toto. Menurut dia, penerapan kebijakan ini harus dilengkapi dengan implementasi kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha. "Misalnya dalam melakukan transaksi di bank devisa, kami bisa mendapatkan kurs tengah yang lebih kompetitif. (Yetede)
Tarik Dollar AS, BI Terbitkan Instrumen Baru
BI menerbitkan instrumen moneter baru bernama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Instrumen moneter ini diharapkan bisa mendorong pendalaman pasar uang dan menarik modal asing sehingga stabilitas nilai tukar rupiah terjaga. ”Situasi global diliputi ketidakpastian. Kami berpikir bagaimana agar ada instrumen operasi moneter yang bisa mendukung pendalaman pasar uang. Harapannya, bisa mendorong arus modal asing masuk sehingga nilai tukar rupiah bisa terjaga,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Edi Susianto, Senin (28/8) di Jakarta.
Peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global menyebabkan nilai tukar rupiah sampai 23 Agustus 2023 melemah 1,41 % dibandingkan akhir Juli 2023. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin (28/8) berada di level Rp 15.294 per dollar AS. Tren menguatnya mata uang dollar AS belakangan ini mencuat karena adanya kemungkinan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada September 2023. Hal inilah yang memicu arus modal keluar dari Indonesia sehingga mengurangi pasokan dollar AS pada sistem keuangan dalam negeri, yang akhirnya menggerus nilai tukar rupiah.
Menurut Edi, SRBI adalah surat berharga dalam mata uang rupiah sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dengan menggunakan underlying asset berupa surat berharga negara (SBN) yang dipegang BI. Karakteristik SRBI diterbitkan tanpa warkat, diterbitkan dan diperdagangkan dengan sistem diskonto. Selain itu, dapat dipindah tangankan dan dapat dimiliki oleh penduduk atau bukan penduduk (nonresident/asing) di pasar sekunder. SRBI akan diimplementasikan mulai 15 September 2023. (Yoga)
Stabilitas Rupiah Terjaga
Kebijakan pengetatan moneter yang berlanjut di sejumlah negara maju sejauh ini dinilai tidak berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah. Rupiah diyakini bakal konsisten menguat ditopang oleh kinerja pasar surat utang negara yang stabil dan kewajiban parkir devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) yang mulai diterapkan bulan ini. Sampai 28 Juli 2023, nilai tukar rupiah tercatat menguat 3,13 % secara tahun kalender (year to date) atau sejak akhir Desember 2022. Penguatan nilai tukar rupiah itu terjadi ditengah ketidakpastian pasar keuangan global dan berlanjutnya kebijakan pengetatan moneter di sejumlah negara maju. Pekan lalu, bank sentral AS, The FederalReserve (TheFed), baru saja menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) sebanyak 25 basis poin hingga mencapai 5,25-5,5 %, tertinggi dalam dua dekade.
The Fed diperkirakan masih akan menaikkan lagi suku bunga acuannya sebanyak satu kali pada September 2023 hingga menyentuh level 5,75 %, seiring tekanan inflasi di negara maju yang masih relative tinggi. Proyeksi inflasi global masih diliputi ketidakpastian seiring adanya potensi kenaikan inflasi pangan dunia. Menkeu Sri Mulyani meyakini, meski di tengah tekanan inflasi global, nilai tukar rupiah akan konsisten menguat dengan ditopang oleh indikator fundamental ekonomi yang kuat, imbal hasil surat berharga negara (SBN) yang menarik, serta kebijakan wajib parkir DHE SDA yang berlaku mulai bulan ini. ”Nilai tukar rupiah akan tetap terkendali untuk mendukung stabilitas perekonomian,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) triwulan II tahun 2023 di Gedung BI, Jakarta, Selasa (1/8). (Yoga)
Di Balik Harga Minyak yang Tertukar
Melesetnya realisasi dengan asumsi harga minyak mentah dalam APBN 2022 memaksa pemerintah merogoh kocek lebih dalam untuk pembiayaan energi. Pada tahun ini, setidaknya hingga semester I, situasinya terbalik. Harga asumsi justru lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi. Pada triwulan I-2022, di tengah tren peningkatan harga-harga komoditas seiring pulihnya pandemi Covid-19, konflik bersenjata Rusia-Ukraina meletus. Harga energi, termasuk minyak mentah, pun kian bergejolak. Pada kurun Maret-Juli 2022, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP) yang ditetapkan Kementerian ESDM selalu di atas 100 USD per barel. Puncaknya terjadi pada Juni 2022, yakni 117,62 USD per barel. Bandingkan dengan asumsi ICP pada APBN 2022 yang hanya 63 USD per barel. Di tengah harga minyak mentah yang membubung tinggi kala itu, pemerintah coba menahan harga jual eceran solar (disubsidi) dan pertalite (dikompensasi) demi menjaga daya beli masyarakat.
Pada 26 Agustus 2022, dengan kurs Rp 14.700 per USD, Kemenkeu mencatat, harga jual solar Rp 5.150 per liter atau hanya 37 % dari harga keekonomian. Sementara harga pertalite Rp 7.650 per liter atau 53 % dari harga keekonomian. Artinya, selisihnya ditanggung kas negara. Karena keterbatasan anggaran dan kenaikan konsumsi BBM, pemerintah akhirnya menaikkan harga kedua jenis BBM itu pada 3 September 2022. Harga pertalite dinaikkan menjadi Rp 10.000 per liter, sementara harga solar jadi Rp 6.800 per liter. Setelah itu, di tengah harga dan situasi yang belum pasti harga ICP justru cenderung turun. Pada April 2023, misalnya, ICP tercatat 79,12 USD per barel, lalu turun menjadi 70,12 USD per barel pada Mei 2023 dan 69,36 USD per barel pada Juni 2023. Harga ICP pada Juni 2023 tercatat sebagai yang terendah sejak Mei 2021 (65,49 USD per barel). Kendati berada di level yang lebih rendah, Menteri ESDM Arifin Tasrif, pekan lalu, mengisyaratkan bahwa pemerintah belum akan menurunkan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat. Selain karena kurs rupiah yang masih sekitar Rp 15.000 per USD, konflik Rusia-Ukraina juga belum jelas kapan mereda. (Yoga)
Kepercayaan dan Nilai Tukar
Kebijakan dan proyeksi positif perekonomian Indonesia menjadi modal meraih kepercayaan investor. Hal itu terlihat dalam nilai tukar rupiah. Pertengahan 2022, nilai tukar rupiah menyentuh Rp 15.000-an per dollar AS.Per 24 Januari 2023, nilai tukar rupiah menguat perlahan, dibawah Rp 15.000 per dollar AS. Menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar pada Jumat (3/2) Rp 14.898 per dollar AS. Jisdor, menurut laman BI, adalah harga spot dollar AS terhadap rupiah yang disusun berdasarkan transaksi antarbank di pasar valuta asing Indonesia. Dengan demikian, Jisdor menjadi referensi harga pasar untuk transaksi dollar AS-rupiah. Di bank, kemarin, masyarakat yang memerlukan dollar AS mesti menyiapkan rupiah yang bervariasi, bergantung pada nilai tukar di bank itu. Ada bank yang menetapkan Rp 14.903 per dollarAS, ada yang Rp 14.899 per dollarAS, dan ada juga Rp 14.999 per dollar AS.
Biasanya, masyarakat yang memerlukan dollar AS secara rutin sudah menyiapkan dananya jauh-jauh hari atau menggunakan lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi nilai tukar yang bergejolak. Kebutuhan masyarakat terhadap dollar AS bervariasi. Ada yang memerlukannya untuk membayar bahan baku dan barang modal impor dalam proses produksi, ada yang untuk membiayai keperluan bisnis dan sekolah di luar negeri. Ada yang menukarkan rupiah ke dollar AS untuk melancong ke mancanegara. Ada pula yang memerlukan dollar AS untuk membayar utang. Berbagai persoalan dalam perekonomian domestik dan global bisa berkelindan dan memengaruhi nilai tukar. Kepercayaan dan ekspektasi investor serta pemilik dana menghadapi kebijakan domestik dan global membuat nilai tukar cenderung stabil. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









