Depresiasi Rupiah Senggol Manufaktur
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD mengakibatkan
sejumlah sektor industri manufaktur, seperti industri makanan-minuman serta
industri tekstil dan produksi tekstil dalam negeri, terdampak. Pelemahan kurs juga
berpotensi memangkas daya beli dan permintaan masyarakat. Nilai tukar rupiah
saat ini tengah melemah atau terdepresiasi akibat ketidakpastian pasar keuangan
global. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Selasa (17/10)
malam, kurs rupiah berada di level Rp 15.718 atau melemah 1,49 % dibandingkan akhir
September 2023. Secara kalender berjalan, nilai tukar rupiah juga tercatat
melemah 0,80 % dibandingkan akhir Desember 2022.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh
Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman di Jakarta, Selasa (17/10) mengatakan, dampak
depresiasi rupiah dirasakan oleh para pelaku industri makanan-minuman di Tanah
Air. Sebab, sebagian besar kebutuhan produksi industri makanan-minuman, seperti
bahan baku dan barang modal, masih impor. ”Di samping bahan baku dan barang
modal, ada juga biaya lain, seperti logistik dan kapal. Semua itu, kan, dalam
bentuk USD sehingga menyebabkan terjadinya kenaikan, baik di sisi produksi, harga
pokok produksi, maupun dalam biaya logistik dan distribusinya,” kata Adhi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023