Nasional
( 434 )Jokowi: Putusan MK Buktikan Pemerintah Tidak Bersalah
Proyek Ibu Kota Negara Perlu Suntikan APBN Lagi
Mega proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara membutuhkan suntikan dana segar lagi untuk mengejar target penyelesaian proyek tahap pertama pada akhir tahun ini. Oleh karena itu, Otorita IKN mengusulkan tambahan dana baru senilai Rp 3,5 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2024. Kepala Otorita IKN, Bambang Susantono mengatakan, usulan tambahan anggaran ini akan digunakan untuk menampung dan mengelola fasilitas infrastruktur kementerian/lembaga yang nantinya diserahkan kepada Otorita IKN. "Paling besar nanti akan digunakan untuk pengelolaan di bidang sarana dan prasarana," ungkap dia dalam Rapat Kerja Bersama Komisi II DPR RI, Senin (18/3). Secara rinci, anggaran tersebut akan digunakan untuk beberapa bidang yang meliputi sarana dan prasarana mencapai Rp 2,1 triliun, lingkungan hidup dan sumber daya alam sebesar Rp 457,2 miliar, sosial budaya dan pemberdayaan Rp 57,4 miliar. Kemudian bidang transformasi hijau dan digital Rp 864,3 miliar, serta bidang perencanaan dan pertanahan Rp 15,03 miliar. Tahun ini Otorita IKN mendapatkan pagu anggaran sebesar Rp 434 miliar dari APBN.
Namun sebesar 5% atau Rp 21,7 miliar dari alokasi anggaran tersebut terkena pemblokiran. Alhasil, pagu efektif Otorita IKN saat ini mencapai Rp 412 miliar. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memblokir anggaran Kementerian/Lembaga (KL) hingga Rp 50,14 triliun di tahun 2024 melalui kebijakan automatic adjustment. Kebijakan ini juga pernah dilakukan pada 2023. Di sisi lain, Otorita IKN melaporkan progres pembangunan di IKN. OIKN memastikan kesiapan IKN untuk upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2024. Bambang Susantono memaparkan, progres pembangunan di IKN tahap satu yang ditargetkan rampung pada akhir tahun ini. Saat ini, progres pembangunan Istana Presiden dan lapangan upacara kemerdekaan sudah 58,5%, progres gedung Kantor Presiden mencapai 78,6%, dan progres gedung Sekretariat Presiden mencapai 65,1%. "Insya Allah dalam hitungan bulan, dan pada Agustus tahun ini sudah mendekati penyelesaian," sebut dia. Selain itu, ada empat Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) yang sedang dikebut penyelesaianya. Progres pembangunan Gedung Kemenko I telah mencapai 50,7%, Kemenko II mencapai 23%, Kemenko III mencapai 54,8% dan Kemenko IV 56,4%.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita memberikan catatan kritis terkait proyek IKN. Untuk membangun sebuah ibu kota baru, mau tak mau akan memakan banyak anggaran. Tak mungkin swasta berinvestasi dari nol, karena tidak rasional secara bisnis dan investasi. Jadi hampir bisa dipastikan anggaran mayoritas akan menyedot APBN secara perlahan, sampai tahap tertentu pembangunan IKN. "Sebut saja misalnya sampai tahap muncul kepastian bahwa IKN akan benar-benar terwujud," ungkap dia kepada KONTAN, kemarin. Menurut Ronny, dalam konteks pengelolaan APBN, semestinya IKN tidak menjadi prioritas, karena belanja IKN dihitung sebagai belanja atau anggaran pembangunan, tapi imbasnya secara ekonomi sangat lokal, jauh dari spirit pemerataan dan tidak menjadi stimulan untuk medorong pertumbuhan berkelanjutan. Karena sekali belanja IKN berhenti, efeknnya berhenti. Sekali inputnya dihentikan, outputnya terhadap pertumbuhan juga terhenti, karena sangat tidak berkelanjutan, apalagi efeknya sangat lokal.
Lonjakan Nilai Impor Gerus Surplus Dagang
Tak Mudah Bayar Utang Rafaksi Pakai Potong Pajak
RI, Tujuan Investasi Terbesar China
Pasokan Seret, Harga Daging Sapi Melesat
Semua Beban Hidup Bakal Menumpuk Mulai Maret
Selepas pemilihan umum, masyarakat kembali dihadapkan pada realita. Bulan depan, harga sejumlah barang dan tarif jasa bakal naik mengikuti lonjakan harga beras. Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi hingga tarif di 13 ruas jalan tol, berpeluang naik secara bertahap mulai Maret 2024.
Ihwal kenaikan harga BBM seri Pertamax, misalnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif sudah memberi sinyal tersebut. Kenaikan harga BBM non-subsidi, kata Arifin, sebagai imbas dari tren kenaikan harga minyak dunia, yang merupakan salah satu komponen pembentuk harga BBM. Sebulan terakhir harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent naik masing-masing 2% menjadi US$ 76 dan US$ 82 per barel. "Itu pasti mempengaruhi biaya produksi, kalau BBM subsidi kita tahan, sementara BBM nonsubsidi tergantung daya tahan pada badan usaha," kata Arifin, pekan lalu.
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menyatakan, saat ini pihaknya masih mempertimbangkan faktor Mean of Plats Singapore (MOPS) beserta fluktuasi harga minyak mentah dan kurs. "Masih kami review," ujar Irto kepada KONTAN, Minggu (25/2), saat ditanya rencana menaikkan harga BBM nonsubsidi.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, jika harga energi, pangan dan transportasi naik bersamaan, daya beli masyarakat kelas bawah dan hampir miskin bakal tergerus. "Yang sulit dikendalikan adalah inflasi jika beberapa kebutuhan itu naik bersamaan," kata dia, kemarin.
Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, apabila kenaikan harga tersebut dilakukan pada waktu bersamaan, maka kenaikan laju inflasi diprediksi lebih besar dibandingkan bulan atau tahun sebelumnya. Hal ini tecermin dari kuartal IV-2022 ketika pemerintah menaikkan harga BBM imbas dari kenaikan harga minyak dunia. Kala itu, inflasi naik hingga 5,95% secara tahunan (yoy).
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi dan tarif jalan tol kemungkinan besar akan menahan konsumsi rumah tangga kelas menengah.
Jokowi Ikut Cawe-Cawe Penyusunan Kabinet Baru
Harga Beras Melambung, Bulog Terus Guyur Pasar
Pengusaha Anggap Peran Oposisi Penting
Merujuk hasil hitung cepat atawa quick count sejumlah lembaga survei, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berada di tempat teratas dengan perolehan 19% suara, mengungguli 17 partai politik kontestan Pemilu 2024 lainnya. Dari 92% data yang masuk hingga Jumat (16/2) malam, Partai Golkar membayang-bayangi PDIP dengan 17% suara, disusul Partai Gerindra 15%, PKB 12%, dan Partai Nasdem 11%. Hanya parpol yang berada di ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) minimal 4% suara yang bisa melenggang ke Senayan, tempat anggota DPR berkantor. Sementara PPP yang baru mengumpulkan 3,6% suara masih berpeluang lolos karena perolehan suara berada di rentang margin of error. Ada 24 parpol peserta Pemilu 2024, yakni 18 partai nasional dan enam partai lokal. Sebanyak 10 parpol terancam tidak lolos ke parlemen mengacu hitung cepat. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan, PDIP siap berjuang sebagai oposisi di luar pemerintahan dan parlemen untuk menjalankan tugas check and balance. Berbeda dengan PDIP, Partai Nasdem yang mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden menyatakan, tidak ingin terburu-buru menentukan sikap usai gelaran Pilpres dan Pemilu 2024. Bendahara Umum Partai NasDem Ahmad Sahroni mengungkapkan, hingga saat ini, belum ada arahan sikap dari Ketua Umum Surya Paloh.
Sekadar informasi, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar mendapat dukungan dari Nasdem dengan jumlah 59 kursi di DPR, PKB 58 kursi, PKS 50 kursi. Sehingga, total 167 kursi di parlemen berdasarkan hasil Pemilu 2019. Sementara Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menguasai kursi parlemen saat ini, dengan jumlah mencapai 261 kursi di Senayan hasil Pemilu 2019. Perinciannya: Gerindra 78 kursi, Golkar 85 kursi, PAN 44 kursi, dan Demokrat 54 kursi. Lalu, Ganjar Pranowo-Mahfud MD mendapat dukungan PDIP dengan 128 kursi dan PPP 19 kursi, sehingga total jumlah kursi koalisi pasangan ini sebanyak 147 kursi. Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Kadin Sarman Simanjorang menilai, peran oposisi tidak kalah penting. "Mereka hadir sebagai check and balance dari pemerintahan," katanya kepada KONTAN. Hanya, Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus mengatakan, gambaran parlemen 2024-2029 sejauh ini masih samar sampai KPU selesai melakukan proses perhitungan dan penentuan kursi-kursi anggota DPR nanti. Merujuk hasil quick count, potensi jumlah parpol yang mengisi kursi parlemen, kemungkinan besar delapan. Itu artinya, dibanding periode sekarang, minus satu parpol. Menariknya, dari delapan parpol potensial itu, komposisi antara koalisi dan oposisi adalah empat versus empat.
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









