UMKM
( 688 )Berkah Digitalisasi bagi Pelaku UMKM
Digitalisasi membawa berkah melimpah bagi para pelaku UMKM. Lewat ranah digital, pemasaran produk mereka semakin luas. Tidak lagi dibatasi jarak dan wilayah. Ketekunan mencari celah dalam ruang maya mengantarkan UMKM menuju kesuksesan di tengah segala keterbatasannya. Sunarni (53) pemilik usaha batik bernama Batik Nurul Hidayah di Desa Pilang, Kabupaten Sragen, Jateng, Rabu (13/7), memilah kain batik tulis dan batik cetak atau printing yang dikumpulkan sesuai menurut jenisnya di ruang tamunya, yang lalu dikirim berdasarkan pesanan.
Sebelumnya, Nani bekerja pada juragan batik di kampungnya. Pada 2014, barulah Nani memulai bisnis batiknya. Pelanggan awal diperolehnya dengan mengikuti pameran UMKM yang diadakan Pemkab Sragen, Jateng. Kerap kali pameran diadakan di luar kota. ”Orang yang beli tidak saya lepas begitu saja. Kalau ada produk baru selalu saya kirim WA (Whatsapp), kebetulan banyak yang cocok dan berlangganan sampai sekarang,” kata Nani. Nani sadar betul. Kemudahan teknologi mesti dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, pemasaran daring digencarkannya. Lebih-lebih setelah ada fitur Story pada aplikasi Whatsapp. Banyak transaksi yang dihasilkan lewat metode itu.
Mustofa (44), warga Kota Surakarta, dulunya juga pekerja perusahaan batik besar di kotanya. Sejak 2010, ia iseng-menjual kemeja batik lewat media sosial Facebook dan Blackberry Messenger. Ternyata, keisengan itu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pada 2014, ia keluar dari pekerjaannya untuk fokus mengurus bisnis daringnya yang bernama Batik Kalimataya. produk yang dijualnya berupa bermacam pakaian bermotif batik. Mulai kemeja, blus, hingga gaun. Kemeja menjadi produk yang paling laris dibeli di lapaknya. Jenis batiknya, terentang dari batik cap sampai batik cetak.
Saat ini, ungkap Mustofa, media sosial yang dioptimalkan untuk memasarkan produknya ialah Instagram. Akunnya adalah @batikkalimataya. Ia juga berjualan lewat aplikasi lokapasar seperti Tokopedia, Lazada, dan Shopee. Ketekunannya menggeluti bisnis daring berbuah manis. Kini, omzet kotornya mencapai Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per bulan. Pelanggannya banyak yang berasal dari luar kota, yaitu Bandung, Jakarta, hingga Palembang. Bahkan, sempat ada pelanggan dari Malaysia. (Yoga)
20 Produk UMKM Jadi ”Merchandise” G20
Kementerian Koperasi dan UKM menetapkan 20 produk UMKM sebagai official merchandise G20 Indonesia. Dua puluh produk pilihan tersebut terdiri atas lima kategori, yakni kategori fashion dan aksesori, tas dan alat perkantoran, kosmetik, herbal dan wellness, kerajinan, serta custom packing. Dirut Smesco Indonesia Leonard Theosabrata dalam konferensi pers di Gedung Smesco Jakarta, Selasa (26/7) mengatakan, ada ratusan kegiatan terkait G20. Tentunya, ini menjadi kesempatan mempromosikan produk-produk UMKM Indonesia. (Yoga)
Branding Produk UMKM
Transformasi Mal Sarinah yang menjadi etalase produk UMKM dengan kualitas bagus dan harga mahal menjadi peluang UMKM untuk naik kelas. Namun hal yang tidak kalah penting adalah branding. Branding tidak hanya menjadi kewajiban pemilik usaha, tetapi juga perlu peran negara sebagai pemangku kepentingan. (Yoga)
UMKM Dipacu Jadi Sumber Pertumbuhan
Perang Rusia-Ukraina mengakibatkan gejolak ekonomi global. Kondisi itu membuat pemerintah mencari sumber pertumbuhan baru, salah satunya UMKM. Pengembangan sektor ini terus dilakukan, antara lain dengan mendorong digitalisasi. Kadis Koperasi, UKM Provinsi Kalbar Junaidi menuturkan, 13.000 UMKM di Kalbar terdaftar di pusat layanan usaha terbaru dan 15 % di antaranya sudah mendigitalisasi pemasarannya yang diupayakan bersama BI. Gubernur Kalbar Sutarmidji menuturkan, pemerintah berupaya meningkatkan akses permodalan serta peningkatan kualitas produk. Bentuk dukungan lain dari pemerintah terhadap UMKM adalah menjadikan produk-produk UMKM sebagai suvenir.
Deputi Gubernur BI Juda Agung, saat menghadiri pertemuan tim percepatan dan perluasan digitalisasi daerah di Pontianak, Kalbar, Senin (4/7) menjelaskan, setelah dua tahun diterpa pandemi Covid-19, tantangan perekonomian Tanah Air belum berakhir, inflasi global meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi melambat, situasi yang sering disebut stagflasi. Sebagai penghasil komoditas, Indonesia diuntungkan dengan kenaikan harga komoditas. Namun, tantangannya tidak ringan, terkait pengendalian harga pangan dan energi. Selain itu, pemerintah juga harus mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di dalam negeri. ”Sektor UMKM dan pariwisata merupakan sumber pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang perlu didorong di tengah situasi yang tidak mudah,” ujarnya. (Yoga)
UMKM, Menggali Peluang untuk Bangkit dan ”Naik Kelas”
Di masa transisi Pandemi Covid-19, banyak usaha rintisan (start up) mengalami kontraksi dan sulit bertahan. Namun, tak sedikit pula yang menemukan peluang baru dan bangkit di tengah kesulitan. Pendiri dagingmania.id, Adhitya Farkhaan, menyatakan, usaha penjualan daging milik kakaknya sempat merosot di awal pandemi tahun 2020. Di tengah kesulitan itu, ia dan kakaknya berupaya mencari konsep bisnis baru agar usahanya bertahan. Saat dirintis, pemasaran hanya melalui aplikasi Whatsapp. Secara bertahap, pemasaran merambah ke lokapasar seperti Tokopedia, Shopee, Traveloka, dan Gojek. Produk marinasi daging olahan kini menjadi andalan dagingmania.id dengan penjualan 50 kg per minggu. Adhitya dan kakaknya memutuskan ikut kompetisi KoinWorks Neo Inspirasi guna mengumpulkan modal untuk ekspansi bisnis dan memenangi kompetisi tersebut untuk kategori UMKM.
CEO Dhara Studio Roro Widi Astuti menemukan ide baru di tengah kesulitan bisnis studio yoga. Usaha studio yoga The Good Prana yang dia dirikan tahun 2018 itu fokus pada yoga. Namun, selama pandemi, usaha itu kesulitan karena pembatasan sosial dan perubahan perilaku masyarakat. Konsep usaha diubah dengan fokus lebih ke pelatihan kesehatan dan kebugaran perempuan yang sebelum pan demi dinilai cukup banyak peminat. Nama studio diubah dari The Good Prana jadi Dhara Studio. Beberapa layanan antara lain olahraga prenatal, pasca kelahiran, kelas edukasi kesehatan untuk keluarga, dan konsultasi psikologi bagi ibu-ibu yang mengalami depresi setelah melahirkan. Roro menjadi pemenang KoinWorks Neo Inspire Competition kategori womenpreneur.
Ajang KoinWorks Neo Inspire Competition yang diikuti hampir 9.000 peserta terdiri atas beberapa kategori lomba, antara lain UMKM, perempuan pengusaha (womenpreuner), usaha rintisan, dan creator konten. Chief Strategy Officer KoinWorks Ethan Zhang mengemukakan, KoinWorks Neo Inspirasi diyakini membantu UMKM dan sektor terkait untuk pengelolaan yang lebih baik dalam hal keuangan serta pengelolaan bisnis dengan cara yang lebih cerdas dan efisien. CEO dan Co-Founder KoinWorks Benedicto Haryono mengemukakan, tidak semua UMKM membutuhkan pendanaan untuk ekspansi bisnis. Namun, UMKM yang mendapatkan pendanaan dilatih dan dibimbing agar mampu mengelola bisnis lebih efisien. (Yoga)
Akses e-Katalog untuk UMKM Disederhanakan
Pemerintah berkomitmen menyederhanakan birokrasi yang menyulitkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengakses sistem belanja negara lewat layanan elektronik pengadaan barang dan jasa. Demikian disampaikan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Abdullah Azwar Anas saat dihubungi, Selasa (21/6), di Jakarta. (Yoga)
Mayoritas UMKM Tak Tahu Tarif PPN Naik Jadi 11%
Sungguh miris, saat pemerintah getol mengerek tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dari 10% menjadi 11% per 1 April 2022 tak semua lapisan usaha memahami beleid anyar ini.
Mayoritas pelaku usaha skala kecil belum mengetahui kebijakan perpajakan ini. Hal ini tercermin dari survei Danareksa Research Institute (DRI). Hasil survei DRI menunjukkan, mayoritas pelaku usaha terutama usaha mikro kecil menengah (UMKM) belum tahu tarif PPN sudah 11%
Digitalisasi UMKM Dorong Kemandirian
Sektor UMKM punya potensi besar untuk berkontribusi dalam perekonomian nasional. Digitalisasi ikut memperluas pasar sekaligus menjadi peluang terciptanya kemandirian ekonomi. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah, atau UMKM punya potensi besar untuk berkontribusi dalam perekonomian nasional. Lewat digitalisasi, sektor usaha tersebut akan berkembang kian optimal seiring meluasnya pasar. Kenaikan kelas sektor usaha tersebut sekaligus menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi. Hal tersebut terungkap dalam diskusi bertajuk ”Peran UMKM dalam Membangun Kemandirian Ekonomi Melalui Transformasi Digital” yang digelar harian Kompas dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dengan dukungan Bank Jateng, di Gedung Ki Hajar Dewantara UNS, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (15/6/2022). Acara tersebut juga bagian dari Festival Bulan Bung Karno. Dalam pidato kuncinya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan, kemandirian ekonomi belum benar-benar bisa dicapai bangsa ini meski sudah merdeka puluhan tahun lamanya. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, saat ini jumlah UMKM 64,2 juta. Mereka berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 61,07 persen. Tenaga kerja yang diserap mencapai 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.
Predatory Pricing Akan Dilarang, Cross Border e-Commerce Diperketat
Pemerintah tengah menyiapkan kebijakan nasional ekonomi digital untuk melindungi para pelaku usaha UMKM di dalam negeri. Dalam kebijakan ini, praktik perdagangan secara elektronik (e-commerce) yang merugikan UMKM domestik, seperti predatory pricing, akan dilarang. Sedangkan cross border e-commerce bakal diperketat. Hal ini diungkapkan Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM), Teten Masduki, dan Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Luthfi dengan diskusi dengan Forum Pemred di Jakarta, Senin (13/6). Predatory Pricing adalah strategi pelaku usaha dalam menjual produk dengan harga sangat rendah di bawah biaya produksi, dengan tujuan menyingkirkan pesaing. Adapun cross border e-commerce merupakan perdagangan berbasis elektronik dengan layanan pengiriman ke luar negeri atau sebaliknya. Dalam perdagangan cross border e-commerce, pedagang biasanya melakukan splitting atau memecah transaksi pembelian barang impor agar bebas bea masuk. Predatory pricing dan cross border e-commerce diyakini menjadi penyebab maraknya UMKM Indonesia gulung tikar karena kalah bersaing akibat kompetisi yang tidak sehat. (Yetede)
UMKM Melejit lewat Digitalisasi dan Dukungan
Daya saing dan inovasi ekonomi digital UMKM berkembang. Meski begitu, perlu dorongan banyak pihak demi peningkatan kontribusi pelaku usaha di masa pemulihan ekonomi saat ini seiring perannya yang signifikan menciptakan lapangan kerja. Berdasarkan data Kemenkop dan UKM, 19 juta UMKM terhubung ekosistem digital, tumbuh 100 % sejak sebelum pandemi Covid-19. ”Targetnya menjadi 30 juta pada 2024,” kata Menkop dan UKM Teten Masduki dalam Bincang Kompas bertema ”Inovasi UMKM dan Ekosistem Digital untuk Mendukung Pemulihan Ekonomi” di Hotel Kampi, Surabaya, Jatim, Selasa (7/6).
”Tahun ini ditargetkan 1 juta produk UMKM masuk sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik atau e-katalog. Saat ini sudah 326.990 produk. Pemerintah terus mengawal program 40 % pengadaan barang dan jasa bagi produk UMKM,” ujar Teten. Strategi lain, pemerintah pusat membangun kemitraan usaha besar dan kecil, baik bersama BUMN maupun swasta, sehingga UMKM menjadi rantai pasok industri nasional. Belajar dari Jepang, Vietnam, dan Korsel, pelaku UMKM satu paket dengan ekosistem pengembangan usaha. Teten pun mengapresiasi peran Sampoerna Entrepreneurship Training Center mendampingi ribuan UMKM di lebih dari 70 kota dengan mendirikan pusat pelatihan kewirausahaan terpadu pada 2007. (Yoga)
Pilihan Editor
-
PNBP Sektor Perikanan Tangkap
29 Aug 2021 -
Jokowi Bentuk Badan Pangan Nasional
26 Aug 2021









