UMKM
( 686 )Pelaku UMKM Papua Didorong ke Digital
Selain fokus mengembangkan komoditas unggulan, pelaku UMKM Papua didorong masuk ke ekosistem digital agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki pada peresmian Galeri UMKM Papua di Jayapura, Papua, Rabu (31/8), mengatakan, pihaknya mendorong Pusat Layanan Usaha Terpadu UMKM mendampingi pelaku UMKM agar bisa segera masuk ekosistem digital. (Yoga)
Pahlawan Digital UMKM 2022 Digelar Lagi
Ajang Pahlawan Digital UMKM digelar kembali untuk mencari para inovator digital yang berkomitmen membantu UMKM naik kelas melalui inovasi dan solusi digital. Pendaftaran Pahlawan Digital UMKM 2022 dibuka pada 29 Agustus 2022 dan akan berlangsung hingga 26 September 2022. ”Kita butuh banyak inovator digital yang kita sebut Pahlawan Digital. UMKM tak bisa naik kelas sendiri, harus diagregasi,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, Selasa (30/8). (Yoga)
BKPM Fasilitasi Perizinan Usaha Mikro dan Kecil
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terus berupaya memberikan kemudahan perizinan usaha mikro dan kecil (UMK). Menurut Deputi Bidang Kerjasama Penanaman Modal Riyatno upaya memfasilitasi UMKM ini diantaranya menjalin kerjasama dengan alumni perguruan tinggi. Salah satunya kerja sama dengan ikatan alumni Universitas Indonesia (Iluni UI). BKPM meneken Nota Kesepahaman tentang Sinergi Pengembangan Inovasi Kebijakan Investasi dan Peningkatan Skala Usaha di kalangan alumni UI.
CEO XL Axiata Kunjungi Workshop UMKM Perempuan
JAKARTA,ID-Presiden Direktur & CEO PT XL Axiata Tbk (XL Axiata), Dian Siswarini menyambangi sebuah workshop usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur. Pelaku UMKM tersebut merupakan anggota komunitas Sisternet yang juga pemenang program W20 Sispreneur. Kunjungan ini bertujuan untuk mendukung para pelaku UMKM perempuan sekaligus memperingati Hari UMKM yang jatuh pada 12 Agustus. “XL Axiata sangat menghargai upaya keras para pelaku UMKM perempuan di seluruh Indonesia, di mana eksistensi dan keberadaan mereka telah ikut menopang perekonomian nasional selama masa pandemi. Kami berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam percepatan digitalisasi wirausaha yang inovatif bagi UMKM menuju pertumbuhan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19,” kata Dian melalui siaran pers, akhir pekan lalu. Shinta Paramarti, pelaku UMKM yang merupakan salah satu pemenang ajang W20 Sispreneur, mengungkapkan, ia mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat dari para mentor Sistsrnet. (Yetede)
Kredit UMKM Perbankan Semakin Deras
Ekonomi dalam negeri yang kian membaik menyebabkan penyaluran kredit ke segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) semakin deras. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit perbankan ke segmen UMKM melesat hingga 17,6% year on year (yoy) menjadi Rp 1.217, 5 triliun per Juni 2022.
Pencapaian itu jauh di atas pertumbuhan kredit perbankan yang hanya 10,3% yoy menjadi Rp 6.156,2 triliun. Salah satu bank yang mencatat kenaikan adalah Bank Mandiri. Bank BUMN ini mencatatkan pertumbuhan kredit UMKM 12,5% yoy dari Rp 57,7 triliun menjadi Rp 64,9% triliun per Juni 2022.
KREDIT ULTRA MIKRO : Bumdes Bali Jadi Percontohan
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memilih Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Gentha Persada di Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung sebagai proyek percontohan terkait dengan penyaluran kredit ultra mikro kepada pelaku usaha mikro. Proyek percontohan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat pengembangan pelaku usaha mikro yang ada di desa wisata seperti Tibubeneng. Bumdes Tibubeneng dinilai mampu mengelola kredit secara profesional, penilaian tersebut mengacu kepada berjalannya koperasi yang dikelola oleh Bumdes. Direktur Bumdes Gentha Persada Tibubeneng I Putu Ramaditya Mardhayiska mengatakan bahwa potensi penyaluran kredit ultra mikro mencapai Rp 40 miliar, dengan sasaran kepada 2.230 pelaku UMKM.
Gandeng Jenama Besar untuk Perluas Pasar
Ekspor untuk memperluas pasar merupakan salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM serta industri kecil menengah atau IKM. Opsi jalan keluar yang bisa mereka ambil adalah berkolaborasi dengan perusahaan dengan jenama besar, seperti masuk ke rantai pasok produksi. ”Masuk ke pasar luar negeri berarti pelaku usaha harus memahami permintaan konsumen di negara lain. UMKM dan IKM, termasuk yang dikelola wirausaha perempuan, bisa memanfaatkan perusahaan besar agar mereka mendapatkan akses pasar,” ujar Chair of Business 20 (B20) Indonesia dan CEO of Sintesa Group Shinta W Kamdani dalam konferensi pers terkait inisiatif One Global Women Empowerment (OGWE), Selasa (9/8) di Jakarta.
Presdir Unilever Indonesia sekaligus Chair of B20 Women in Business Action Council Ira Noviarti menyampaikan, ”OGWE menurut rencana akan diluncurkan pada 22 Agustus 2022,” sekretariat OGWE akan ada di masing-masing negara. Sekretariat ini, menurut Head of Sustainability and Corporate Affairs Unilever Indonesia sekaligus Co-Chair of B20 Women in Business Action Council Nurdiana Darus, bertugas menjalankan berbagai layanan OGWE. ”Sejauh ini sudah ada 18 perusahaan skala besar, baik nasional maupun internasional, yang bergabung dalam OGWE, seperti P&G, Unilever, Grab, dan Tokopedia,” ujarnya. (Yoga)
UMKM, Terus Berjuang Meningkatkan Keberhasilan
UMKM punya posisi sangat vital bagi perekonomian nasional. Keberadaannya menjadi sandaran kehidupan mayoritas tenaga kerja di Indonesia dan menjadi kontributor terbesar kemajuan nasional. Perhatian pemerintah dapat membuat kinerja kelompok usaha ini makin optimal. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2019, UMKM di Indonesia mencapai 65,47 juta unit usaha, terdiri dari 64,60 juta unit usaha mikro, 798.680 unit usaha kecil, dan 65.000 unit usaha menengah.
Secara akumulasi, jumlah UMKM ini mencapai 99,99 % unit usaha yang ada di Indonesia. Hanya menyisakan 0,01 % untuk usaha besar yang jumlahnya 5.637 unit usaha. Banyaknya unit usaha serta serapan tenaga kerja pada UMKM membuat sektor usaha ini memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Pada tahun 2019, sumbangan UMKM pada PDB Indonesia Rp 9.580 triliun atau 60 % total PDB. Nominal ini satu setengah kali lipat kontribusi usaha besar yang mencapai 40 % PDB nasional atau Rp 6.251 triliun.
Dominasi UMKM itu sejatinya tidak sekokoh seperti yang tergambarkan secara makro ekonomi. Besar secara unit usaha, tetapi produk yang dihasilkan atau diperjual belikan secara umum belum sepenuhnya mampu bersaing ditataran global. Sebagian besar masih untuk memenuhi kebutuhan domestik. Produk UMKM yang mampu menembus pasar ekspor hanya 15 %. Itu pun sebagian besar berasal dari unit usaha menengah, dengan sumbangan 11,6 %. Untuk unit usaha mikro dan kecil, jumlah komoditas yang mampu diekspor hanya 1,4 % dan 2,6 %. Sementara ekspor komoditas dari usaha besar di Indonesia 84 % seluruh komoditas nasional yang dikirim ke luar negeri. (Yoga)
Berkah Digitalisasi bagi Pelaku UMKM
Digitalisasi membawa berkah melimpah bagi para pelaku UMKM. Lewat ranah digital, pemasaran produk mereka semakin luas. Tidak lagi dibatasi jarak dan wilayah. Ketekunan mencari celah dalam ruang maya mengantarkan UMKM menuju kesuksesan di tengah segala keterbatasannya. Sunarni (53) pemilik usaha batik bernama Batik Nurul Hidayah di Desa Pilang, Kabupaten Sragen, Jateng, Rabu (13/7), memilah kain batik tulis dan batik cetak atau printing yang dikumpulkan sesuai menurut jenisnya di ruang tamunya, yang lalu dikirim berdasarkan pesanan.
Sebelumnya, Nani bekerja pada juragan batik di kampungnya. Pada 2014, barulah Nani memulai bisnis batiknya. Pelanggan awal diperolehnya dengan mengikuti pameran UMKM yang diadakan Pemkab Sragen, Jateng. Kerap kali pameran diadakan di luar kota. ”Orang yang beli tidak saya lepas begitu saja. Kalau ada produk baru selalu saya kirim WA (Whatsapp), kebetulan banyak yang cocok dan berlangganan sampai sekarang,” kata Nani. Nani sadar betul. Kemudahan teknologi mesti dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, pemasaran daring digencarkannya. Lebih-lebih setelah ada fitur Story pada aplikasi Whatsapp. Banyak transaksi yang dihasilkan lewat metode itu.
Mustofa (44), warga Kota Surakarta, dulunya juga pekerja perusahaan batik besar di kotanya. Sejak 2010, ia iseng-menjual kemeja batik lewat media sosial Facebook dan Blackberry Messenger. Ternyata, keisengan itu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pada 2014, ia keluar dari pekerjaannya untuk fokus mengurus bisnis daringnya yang bernama Batik Kalimataya. produk yang dijualnya berupa bermacam pakaian bermotif batik. Mulai kemeja, blus, hingga gaun. Kemeja menjadi produk yang paling laris dibeli di lapaknya. Jenis batiknya, terentang dari batik cap sampai batik cetak.
Saat ini, ungkap Mustofa, media sosial yang dioptimalkan untuk memasarkan produknya ialah Instagram. Akunnya adalah @batikkalimataya. Ia juga berjualan lewat aplikasi lokapasar seperti Tokopedia, Lazada, dan Shopee. Ketekunannya menggeluti bisnis daring berbuah manis. Kini, omzet kotornya mencapai Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per bulan. Pelanggannya banyak yang berasal dari luar kota, yaitu Bandung, Jakarta, hingga Palembang. Bahkan, sempat ada pelanggan dari Malaysia. (Yoga)
20 Produk UMKM Jadi ”Merchandise” G20
Kementerian Koperasi dan UKM menetapkan 20 produk UMKM sebagai official merchandise G20 Indonesia. Dua puluh produk pilihan tersebut terdiri atas lima kategori, yakni kategori fashion dan aksesori, tas dan alat perkantoran, kosmetik, herbal dan wellness, kerajinan, serta custom packing. Dirut Smesco Indonesia Leonard Theosabrata dalam konferensi pers di Gedung Smesco Jakarta, Selasa (26/7) mengatakan, ada ratusan kegiatan terkait G20. Tentunya, ini menjadi kesempatan mempromosikan produk-produk UMKM Indonesia. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Kemkes-BSSN Klaim Data Pengguna eHAC Tak Bocor
03 Sep 2021 -
UU Keamanan Data Tiongkok Resmi Berlaku
02 Sep 2021 -
Kinerja Ekspor, Perikanan Jadi Energi Baru
29 Aug 2021 -
Grup Djarum Siapkan Rencana IPO Blibli
29 Aug 2021









