Kawasan ASEAN Masih Rentan Kejahatan Siber
Meski ekonomi digital terus berkembang di Asia Tenggara,
belum semua masyarakat terliterasi digital secara optimal. Tingkat keterampilan
berpikir kritis dan melindungi privasi belum merata antar negara di kawasan ASEAN.
Mereka rentan menjadi korban kejahatan siber. Dalam laporan penelitian ”One
Divide or Many Divides? Underprivileged ASEAN Communities’ Meaningful Digital Literacy
and Response to Disinformation” yang dirilis ASEAN Foundation dan didukung
Google.org, akhir pekan lalu, tingkat keterampilan berpikir kritis masih
bervariasi di seluruh kawasan ASEAN. Thailand berada di tingkat terendah (25 5)
dan Kamboja pada tingkat tertinggi (62,2 %).
Indonesia, yang porsi ekonomi digitalnya berkontribusi 42 %
terhadap kawasan Asia Tenggara, disebut dalam penelitian sebagai negara yang
menghadapi ketimpangan keterampilan berpikir kritis dan kompetensi perlindungan
privasi yang kompleks. Penyebabnya, tantangan geografis serta kesenjangan
jender, disabilitas, dan status sosial ekonomi. Salah satu temuan menarik dalam
laporan itu adalah 73,4 % responden remaja Indonesia yang diteliti merasa privasi
mereka sangat terlindungi. Sementara hanya 13,7 % kelompok lansia berpendapat
serupa. Direktur Eksekutif Siber Sehat Indonesia Ibnu Dwi Cahyo mengatakan,
ancaman kejahatan siber dan disinformasi terjadi bukan hanya di perkotaan.
Dia mengamati, kerawanan kebocoran data pribadi juga telah
sampai perdesaan. Akan tetapi, masyarakat di sana tidak mendapat edukasi
tentang keamanan siber yang optimal. ”Korban kejahatan siber dan disinformasi
telah merata di perkotaan dan perdesaan. Bagi masyarakat perdesaan, kami mengamati
masih ada kecenderungan mereka kebingungan melapor atau mengadu ketika menjadi
korban,” ucap Ibnu. Ibnu menyarankan agar pemerintah membuat satuan tugas khusus
literasi digital sampai di desa-desa. Selanjutnya pemerintah dapat melibatkan
lembaga pendidikan untuk memberikan literasi digital kepada anak-anak usia
dini. (Yoga)
Nasib Pembentukan Badan Penerimaan Negara
Presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran
Rakabuming Raka berencana membentuk Badan Penerimaan Negara (BPN) untuk memusatkan
penerimaan negara dari pajak, bea cukai, dan nonpajak lewat satu pintu. Lembaga
baru itu juga akan menyasar aktivitas ekonomi yang selama ini bergerak di
”ruang-ruang gelap”. Rencana membentuk BPN tertuang dalam dokumen visi-misi
Prabowo-Gibran di Pemilu 2024 serta termasuk dalam daftar program prioritas Prabowo-Gibran
begitu menjabat, alias Delapan Program Hasil Terbaik Cepat. Kehadiran lembaga
baru itu diyakini bisa meningkatkan rasio penerimaan negara terhadap produk
domestik bruto (PDB) nasional menjadi 23 %.
Menurut rencana, BPN akan terdiri dari Ditjen Pajak (DJP)
serta Ditjen Bea dan Cukai, yang dipisahkan dari Kemenkeu. Kemenkeu akan tetap ada,
tetapi fokus pada urusan fiskal di luar penerimaan, seperti belanja, pembiayaan,
dan hubungan keuangan pemerintah pusat-daerah. Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye
Nasional Prabowo-Gibran, Burhanuddin Abdullah, saat memaparkan arah kebijakan
ekonomi pemerintahan baru di Kompas Collaboration Forum (KCF) Afternoon Tea,
Jumat (22/3) mengatakan, saat ini, pengumpulan penerimaan negara tidak maksimal
karena masih tercerai-berai di banyak lembaga. Bukan hanya DJP serta Bea dan
Cukai, ada pula penerimaan negara yang masuk lewat Ditjen Anggaran melalui penerimaan
negara bukan pajak (PNBP), termasuk dari Kepolisian, Kementerian ESDM, serta kementerian/lembaga
lain. (Yoga)
Layanan Penukaran Uang
Sepinya Perkantoran Berpotensi Tingkatkan Risiko Kredit
Berkembangnya tren bekerja tanpa harus berkantor atau work
from anywhere semenjak pandemi Covid-19 mengakibatkan permintaan terhadap
properti perkantoran menurun. Kondisi ini ditengarai turut menyebabkan kredit
macet sektor property awal 2024 cenderung naik. Ekonom dan Associate Faculty
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto berpendapat, pandemi
Covid-19 jadi salah satu penyebab meningkatnya kredit bermasalah (non-performing
loan/NPL) sektor properti. Ini terkait dengan kemampuan debitor membayar
cicilan pinjaman. Mengutip data Statistik Sistem Keuangan Indonesia yang
dikeluarkan BI, rasio NPL sektor properti per Januari 2024 berada pada level
2,63 %. Tingkat kredit bermasalah itu meningkat, baik di-bandingkan bulan
sebelumnya maupun dibandingkan periode Januari 2023, masing-masing 2,47 % dan
2,46 %.
”Pola kerja yang kini telah berubah menjadi tidak harus di kantor
(work from anywhere) turut berpengaruh pada kualitas kredit. Ini menjadi fenomena
global juga, dialami oleh sejumlah negara, seperti AS, Kanada, dan China,”
katanya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (25/3). Tren pola kerja tersebut, lanjut
Ryan, mengakibatkan adanya ketimpangan antara penawaran (supply) dan permintaan
(demand) terhadap gedung perkantoran yang cenderung terus menurun. Fenomena ini
berdampak terhadap arus dana para pengembang yang telah telanjur membangun
gedung-gedung perkantoran. Merujuk data Survey Colliers Indonesia, luas gedung perkantoran
di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta pada tahun 2023 sekitar 7,38 juta meter
persegi. Dari jumlah itu, tingkat kekosongan sebesar 2 juta meter persegi atau
27 % dari total luas perkantoran yang meliputi wilayah Thamrin, Sudirman,
Rasuna Said, Mega Kuningan, Gatot Subroto, dan Satrio. (Yoga)
Pengabdian Komite Air Desa Randoria di Ende
Siprianus Ansel (43) melepas keran air rusak, lalu mengganti
dengan keran baru. Mulut keran dibuka, seketika air mengucur deras. Inilah
tugas Ansel sebagai anggota komite air di Desa Randoria, Kecamatan Detusoko,
Kabupaten Ende, NTT, seperti dijumpai Kamis (21/3) petang. Ia memastikan aliran
air selalu lancar memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Ansel bersama anggota
komite lain kemudian memeriksa jaringan pipa dari mata air berjarak 7 km.
Jaringan melewati beberapa bukit dan lembah hingga mencapai perkampungan mereka
yang berada di ketinggian 850 meter di atas permukaan laut. Jalur itu rawan
longsor. Mereka mengatur jadwal pelayanan agar pasokan air tetap tersedia,
terutama ketika musim kemarau panjang. Jangan sampai ada pemborosan air yang merugikan
warga. ”Setiap 6 jam sampai 12 jam kami pindah jalur layanan. Kami juga harus siaga
24 jam merespons laporan warga,” kata Ansel.
Komite air yang terdiri atas sembilan orang itu dibentuk masyarakat
atas pendampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) yang hadir di Desa Randoria sejak
2013. Komite air diisi oleh mereka yang suka-rela mau mengurusi air. Setiap bulan,
mereka mendapat insentif Rp 40.000 per orang. Kendati demikian, mereka tidak
pernah mengeluh dan tidak protes. ”Kami kerja untuk masyarakat, terutama
anak-anak kami, agar bisa menikmati air bersih. Itu jauh lebih berharga, tidak
ternilai. Kami tidak ingin kesulitan air terus berlanjut hingga anak cucu
kami,” ucap Zakarias Rowa, Ketua Komite Air Desa Randoria.
Kepala Desa Randoria Rafael Ruma mengatakan, tahun ini mereka
mendapat bantuan dari Kemensos sebesar Rp 1,03 miliar untuk pembangunan sumur
bor. Setelah warga mulai mengakses air bersih, WVI yang membantu sambungan
untuk 50 rumah itu mendorong agar pengelolaan air perlu diorganisasi melalui
pembentukan komite air. Harapannya, akan tercapai sanitasi total berbasis masyarakat
(STBM). Komite air di Randoria membuktikan pengaturan air dapat menghadirkan
akses air bersih bagi masyarakat. Pengabdian tulus dari mereka patut diapresiasi.
(Yoga)
Pusingnya Belanja Daring untuk Lebaran
Sejak pandemi, kecenderungan masyarakat untuk berbelanja
melalui platform digital semakin meningkat. Menurut laporan Hootsuite dan We Are
Social bertajuk ”Digital 2021”, lebih dari 87 % pengguna internet di Indonesia
membeli beragam produk secara daring pada beberapa bulan terakhir di pengujung tahun
2020. Ashifa Sakinah (25), warga Jakpus, bisa menghabiskan waktu berjam-jam,
bahkan berhari-hari, untuk menentukan satu baju. Saat mencari gamis untuk
Lebaran, Ashifa menghabiskan waktu hampir seminggu berselancar di sejumlah
aplikasi.
”Rasanya seperti ketagihan mencari barang yang lebih bagus.
Barang-barang yang menurut saya bagus, saya taruh di keranjang dulu, tidak langsung
checkout,” katanya, Senin (25/3). Banyaknya toko di banyak kota dengan berbagai
harga dan ulasan membuatnya menjadi seorang pemilih. Namun, terlalu memilih
demi mendapatkan barang terbaik membuat Ashifa pening. Bahkan, aktivitas
sehari-harinya juga kerap terganggu akibat kepikiran barang-barangnya di keranjang
lokapasar. Keresahan belanja daring tidak berakhir dengan pemilihan barang.
Ashifa juga masih harus menunggu berhari-hari karena sebagian
besar baju lebaran menggunakan sistem pre-order, yakni memesan dulu baru
dibuatkan bajunya. ”Hingga hari ini, saya masih menunggu baju lebaran saya tiba.
Katanya dijanjikan minggu ini dikirim. Jujur saja saya khawatir,” ucap Ashifa. Herman
Ahmad Deru (27) juga memilih belanja daring untuk kebutuhan Lebaran. Kesibukan
bekerja membuatnya kurang waktu untuk berkelana ke mal atau pasar. Dalam proses
mencari barang secara daring, Herman sering galau. Saat membeli baju lebaran
contohnya. ”Awalnya sudah yakin dengan pilihanku, tetapi tiba-tiba ada iklan.
Pas dicek, kok, lebih bagus. Jadi galau lagi. Akan begitu terus,” tuturnya. (Yoga)
Menakar Peluang Pemilihan Presiden Ulang
Legalisasi Ganja Medis, Tunggu Apa Lagi
Menjelang Akhir Restrukturisasi Kredit Covid-19
Makan Gratis
Jika pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka
dipastikan memenangi Pemilu 2024, apalagi setelah dilantik sebagai presiden dan
wakil presiden, kabinet akan sedikit lebih gemuk. Akan dibentuk kementerian
khusus yang menangani program makan siang gratis bagi anak-anak usia sekolah
dan ibu hamil. Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye
Nasional (TKN) Budiman Sudjatmiko. Gibran sendiri sudah menemui Prabowo di
Jakarta untuk membahas kementerian baru itu. Bahkan, menurut Menteri
Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, sudah ada
perusahaan Cina yang ingin membangun pabrik garpu serta sendok di sini.
Program makan siang gratis ini disambut baik di desa-desa, dengan
catatan, makanan sudah dibungkus atau di dalam kotak. makanan itu dibawa pulang
dan anak-anak bersantap di rumah saja. Alasannya, Dengan jatah harga makanan Rp
10-30 ribu, ada lauk daging dan sayur, orang tua si anak bisa kebagian. Entah
nasinya atau syukur secuil lauknya. Jatah makan siang yang gratis itu bisa
dibagi bersama orang tua atau saudara si anak yang tidak bersekolah. Makanan
seharga Rp 10 ribu, apalagi lebih, terlalu mewah untuk warga miskin perdesaan.
Saat ini makanan yang sudah memadai di desa-desa masih berharga sekitar Rp
5.000 dan di kota yang disebut “nasi jinggo” paling mahal Rp 6.000.
Bagaimana menyalurkan makanan itu sampai ke sekolah yang
terpencil? Atau makanan diproduksi di lokasi sekolah setempat? Di negeri di
mana orang masih antre membeli beras, jatah makan siang gratis itu bisa-bisa
tak utuh sampai ke anak sekolah. Jadi program maksitis alias makan siang gratis
itu masih perlu dikaji. Apalagi anggarannya sampai Rp 450 triliun. Dari mana
uangnya? Menaikkan harga Pertalite dan menghapus subsidi gas melon bisa
menimbulkan masalah baru. Mari kita realistis apakah program itu cara terbaik
untuk meningkatkan gizi anak dan mencegah stunting. (Yetede)









