Dana Asing Rp 4,75 Triliun Masuk ke Pasar Domestik
Tantangan Berat Kembali ke 7.000
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini tengah berjuang kembali ke level psikologis di 7.000. IHSG menutup bulan Mei dengan terkoreksi 0,90% ke level 6.970,73, Jumat (31/5). Sepanjang Mei, IHSG sudah melemah 3,64% atau turun 263,46 poin. Beberapa saham menjadi pemberat langkah IHSG. Yakni Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII) yang masing-masing menggerus IHSG 91,59 poin, 64,74 poin dan 38,99 poin. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mencermati penurunan BREN akan menghantui pergerakan IHSG sepanjang Juni 2023. Mengingat BREN akan masuk papan pemantauan khusus selama 30 hari kalender. Pergerakan IHSG di Juni ini akan dipengaruhi sentimen global.
Terutama rilis berbagai data inflasi Amerika Serikat (AS), data ketenagakerjaan AS dan pertemuan The Fed pada 12 Juni 2024. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mencermati, di awal Juni, sudah ada beberapa sentimen positif mulai datang. Namun Nico memprediksi, volatilitas IHSG akan tinggi dan bergantung pada rilis data ekonomi setiap minggunya. Proyeksi Pilarmas Sekuritas, IHSG bergerak di kisaran 6.960-7.050. Nafan merekomendasikan accumulative buy ADMR dengan target di Rp 1.510. Kemudian accumulative buy ADRO, BSDE dan ITMG dengan target harga masing-masing di Rp 2.800, Rp 975 dan Rp 24.875.
Bursa Saham Masih Rentan Tertekan
Juni, MPMX Akan Menebar Dividen Rp 115 Per Saham
Aksi pembagian bonus diveden masih terus berlangsung. Teranyar ada agenda pembagian dividen dari PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX). Emiten penjual otomotif ini sudah mendapat restu dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Rabu (29/5) untuk menebar dividen dari tahun buku 2023. MPMX akan membagikan dividen final tunai sebesar Rp 115 per saham. Jumlah ini setara dengan dividend yield 11% terhadap harga saham MPMX pada saat penutupan Selasa (28/5). Dalam keterbukaan Jumat (31/5), total nilai dividen yang akan dibagikan oleh MPMX sekurang-kurangnya sebesar Rp 503,03 miliar dan setinggi-tingginya sebesar Rp 513,24 miliar.
Alhasil, payout ratio dividen MPMX mencapai lebih dari 95% dari laba bersih pada tahun 2023 yang sebesar Rp 525,62 miliar. Adapun jadwal cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 6 Juni 2024. Group Chief Executive Officer MPMX, Suwito Mawarwati mengungkapkan, pencapaian laba bersih MPMX sepanjang tahun lalu mencapai 100,3% dari target. Suwito menjelaskan, pertumbuhan bisnis MPMX yang positif yang ditopang laju industri oromotif tahun lalu menunjukkan fokus serta strategi yang diimplementasikan masih sesuai tujuan. Yakni upaya menjaga kinerja operasional yang solid. Harga saham MPMX, Jumat (31/5), ditutup menguat 1,44% ke level Rp 1.060 per saham. Harga MPMX naik tipis 0,95% dari awal tahun ini.
Emiten Migas Terangkat Harga
Harga minyak yang kembali menghangat berpotensi mendongkrak kinerja emiten saham minyak dan gas bumi (migas) tahun ini. Prospek saham emiten saham migas pun ikut terangkat. Secara umum, emiten migas dapat dikategorikan ke dalam tiga segmen, yakni produsen, distributor dan jasa penunjang. Ada juga yang punya bisnis beragam seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang mendulang pendapatan dari ketenagalistrikan serta tambang mineral lewat PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Sejauh ini, kinerja para emiten saham yang berhubungan dengan bisnis migas relatif bervariasi. Misalnya, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mampu menumbuhkan laba bersih 2,51% year on year (yoy) pada tahun 2023 menjadi US$ 68,43 juta. Kendati begitu, penjualan ENRG terkoreksi 6,89% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi sebesar US$ 420,77 juta. Sementara emiten migas lainnya, seperti PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) dan PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) mencetak top line dan bottom line yang beragam.
Head of Research Mega Capital Sekuritas (Investasiku) Cheril Tanuwijaya melihat, kinerja emiten migas pada tahun lalu relatif sesuai ekspektasi. Kinerja bervariasi tergantung pada segmen bisnisnya. Apalagi beberapa di antaranya memiliki sumber pendapatan lain di luar migas. Cheril memperkirakan, rata-rata harga minyak di pasar global tahun ini bisa mencapai US$ 90 per barel. Proyeksi itu juga diamini Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani. Eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah dan kelanjutan perang Rusia-Ukraina masih menjadi faktor krusial. Di sisi lain, perpanjangan pemangkasan ekspor oleh OPEC pada kuartal II-2024 membawa sentimen yang bisa mengangkat harga minyak. Analis RHB Sekuritas Indonesia, Arrandi Pradana dan Muhammad Wafi dalam risetnya 1 April 2024, pun menyodorkan saham MEDC dengan target harga di Rp 2.100.
Mereka juga menilai kinerja AKRA di tahun 2023 sesuai ekspektasi, sedangkan performa PGAS melebihi ekspektasi. RHB Sekuritas menyematkan rekomendasi buy AKRA dan PGAS dengan target harga masing-masing di Rp 2.000 dan Rp 1.440. Secara umum, RHB Sekuritas tetap menyematkan rating overweight untuk sektor migas. Namun Arrandi dan Wafi mengingatkan ada potensi koreksi setelah pembagian dividen seperti pada PGAS dan AKRA. Dari sisi teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasika trading buy saham MEDC dan PGAS dengan target masing-masing di Rp 1.600–Rp 1650 dan Rp 1.420–Rp 1.460. Kemudian speculative buy saham AKRA dengan target Rp 1.825–Rp 1.850, serta buy on weakness ELSA target harga Rp 416–Rp 428 per saham.
Rupiah Masih Rentan Terkoreksi
Simpanan Mulai Naik, Siap-Siap Biaya Dana Naik
Laju pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan mulai kencang, walau selisihnya dari kenaikan kredit masih jauh. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), DPK per April tumbuh 8,1% secara tahunan, naik dari Maret yang tumbuh 7,4%. Jika dirinci, giro menunjukkan laju pertumbuhan paling kencang. Pertumbuhannya naik dari 8,6% pada Maret jadi 11,2% per April. Kenaikan deposito juga kian tinggi, dari hanya tumbuh 7,8% jadi 8,7%. Kenaikan tabungan menyusut dari 5,8% jadi 4,8%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pertumbuhan tersebut dipengaruhi kenaikan bunga acuan Bank Indonesia.
"Secara umum, kenaikannya dipengaruhi kenaikan bunga DPK, mengikuti perkembangan bunga acuan BI, yang transmisinya cenderung lebih cepat dibanding bunga kredit." ujarnya, Jumat (1/6). Sementara itu, Deputi Gubernur BI Juda Agung menyebut, pertumbuhan DPK paling tinggi disumbang oleh simpanan nasabah korporasi. Menurut dia, ini menandakan bahwa korporasi mencetak pertumbuhan laba dan dananya ditempatkan di bank. BI mencatat suku bunga simpanan perbankan pada April menanjak dari bulan sebelumnya.
Rata-rata bunga deposito tenor 1 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan 24 bulan tercatat sebesar 4,62%, 5,71%, 5,88% dan 4,05%. Bank Negara Indonesia (BNI) termmasuk bank yang mencatat kenaikan DPK tinggi. Per April, DPK bank ini tumbuh 11,5% secara tahunan, naik dari bulan sebelumnya yang tumbuh 6,3%. Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menyebut, pertumbuhan ini terutama didorong pertumbuhan giro yang mencapai 20%. Sedang tabungan dan deposito tumbuh masing-masing 3% dan 8,9%. "Pertumbuhan DPK utamanya dapat terjadi karena optimalisasi transaksi melalui kanal digital," ujarnya. Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat kenaikan DPK sebesar 9,41% secara tahunan per April. Pertumbuhan tersebut terutama didrong oleh dana mahal.
Deposito meningkat 13,8%, sedangkan giro hanya naik 6,58% dan tabungan tumbuh 6,9% secara tahunan. Senada dengan BNI, Wakil Direktur BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan, pihaknya akan terus mendorong kenaikan dana murah. Hingga akhir tahun, BSI menargetkan DPK akan tetap tumbuh di kisara 8,5%-10%. Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan juga mengungkapkan, pihaknya akan berupaya mendorong peningkatan CASA guna menekan kenaikan biaya dana tahun ini. Per April 2024, DPK bank ini tercatat tumbuh 9,5%.. "Dari capaian ini, untuk deposito practically tidak tumbuh," ujarnya.
PERTARUHAN TATA KELOLA TAPERA
Tabungan Perumahan Rakyat atau Tapera ramai diperbincangkan publik akhir-akhir ini. Skema tabungan dengan konsep gotong royong tersebut sejatinya hadir untuk menjawab kebutuhan hunian masyarakat. Program Tapera yang dulunya hanya menyasar pegawai negeri sipil, sejak hadirnya UU No. 4 Tahun 2016 tentang Tabungan Perumahan Rakyat diperluas kepesertaannya hingga pegawai badan usaha milik negara/daerah, pegawai swasta, hingga peserta mandiri. Besaran iuran yang ditetapkan untuk kepesertaan sebesar 2,5% untuk pekerja dan 0,5% untuk pemberi kerja dianggap membebani karena pekerja mesti membayar iuran jaminan yang lebih banyak selain BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, termasuk pajak-pajak yang dibayarkan oleh dunia usaha. Belum lagi, publik masih diselimuti kekhawatiran atas tata kelola dana publik yang disalahgunakan oleh penyelenggaraan layanan. Adanya jaminan pengelolaan Tapera yang transparan belum cukup saat hasil simpanan lewat program tersebut pada akhirnya tak optimal menjangkau harga rumah yang makin naik.
Fokus ke Sentimen Fundamental
Indeks harga saham gabungan atau IHSG terperosok dalam 3 hari berturut-turut pekan lalu. Respons negatif pelaku pasar diharapkan berlangsung sesaat sehingga pekan ini dapat berbalik arah untuk kembali di atas level 7.000. IHSG mengalami guncangan hebat terutama setelah otoritas bursa menaruh saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) ke dalam papan pemantauan khusus. Dengan begitu, saham perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu itu kini ditransaksikan dengan mekanisme full call auction selama sebulan. Dampaknya tentu signifikan karena BREN memiliki kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Sahamnya sontak melemah dalam 3 hari beruntun atau turun 30% dari valuasi tertingginya. Sampai dengan per=dagangan berakhir pada Jumat (31/5) lalu, saham BREN kini dihargai Rp8.225 per lembar dan kehilangan kapitalisasi lebih dari Rp400 triliun. Depresiasi harga saham BREN turut menyeret IHSG terdepak dari level psikologis 7.000. Indeks komposit ditutup di angka 6.970,74 atau anjlok 3,48% dalam sepekan perdagangan minggu lalu. Itu menjadi level terendah IHSG sejak akhir November 2023. Saham BREN bahkan sempat menyentuh level tertinggi di atas Rp12.000 per lembar.
Kenaikan harga saham yang tidak wajar direspons oleh otoritas dengan menghentikan perdagangan saham BREN, pertama kali dilakukan pada 3 Mei lalu. Suspensi kedua terpaksa kembali dilakukan otoritas bursa karena saham BREN terus melonjak dengan kecenderungan tidak wajar. Kali ini suspensi dilakukan dalam 2 hari pada 27—28 Mei, sehingga mendorong Bursa Efek Indonesia untuk melakukan pemantauan khusus. Pergerakan sahamnya kini dibatasi dengan kenaikan dan penurunan maksimal 10%.
Ke depan, kita berharap pelaku pasar segera move on dari turbulensi BREN dan memfokuskan perhatiannya pada sentimen yang lebih fundamental. Alasannya, pada saat yang sama, kekhawatiran juga sedang meningkat terutama terkait dengan situasi ekonomi di Amerika Serikat serta bagaimana The Fed menyikapinya.Seperti diketahui, tingkat inflasi di Amerika Serikat mengalami stagnansi selama April 2024. Situasi ini meningkatkan keyakinan bahwa bank sentral di negara itu bakal mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Risikonya bakal mendera nilai tukar rupiah yang hingga kini terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat. Potensi pelemahan rupiah semestinya dapat diantisipasi oleh pelaku pasar untuk mengalihkan portofolionya ke sektor saham yang tidak banyak terdampak.
SURVEI PUBLIK SOAL TAPERA : Wanti-Wanti Lahan Baru Korupsi
Skema Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang diatur dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 2016 tentang Tabungan Perumahan Rakyat memantik diskusi publik belakangan ini. Sejak munculnya ketentuan yang mengatur besaran iuran dan rencana perluasan kepesertaan dengan menjangkau pekerja swasta dan mandiri, masyarakat turut menyorot program tersebut dan dampaknya bagi aktivitas usaha. NoLimit, insitusi yang memantau perbicangan publik di media sosial, merekam sebanyak 183.456 pembicaraan di media sosial sepanjang 13—30 Mei 2024. Dari total pembicaraan itu, sebanyak 77% memiliki sentimen negatif dan 23% netral. CEO NoLimit Indonesia Aqsath Rasyid Naradhipa mengatakan bahwa perbincangan mengenai Tapera meningkat sejak 26 Mei 2024 dan mencapai puncaknya pada 29 Mei 2024. “Sebanyak 79% pihak yang terdampak berasal dari kalangan pegawai swasta, hal ini dikarenakan pegawai swasta beranggapan bahwa program Tapera ini memaksa pemotongan gaji dari karyawan swasta,” katanya, Sabtu (1/6). Dari pergunjingan di media sosial itu, sebanyak 47% netizenberpandangan bahwa program Tapera memberatkan masyarakat karena adanya tambahan iuran. Temuan lainnya, sebanyak 18% netizen melihat Tapera tidak efektif dalam membantu masyarakat membeli rumah, kemudian 16% meragukan efektivitas program, dan 10% belum melihat kejelasan program, serta 9% menilai Tapera sebagai ladang baru korupsi. Sementara itu, mereka yang menilai negatif, mayoritas melihat Tapera ini sebagai lahan korupsi karena besarnya jumlah dana yang dikelola.
Netizen pun memberikan solusi agar program Tapera berjalan efektif di antaranya melalui percepatan operasional Badan Penyelenggaraan Percepatan Perumahan (BP3) dengan pendapat sebanyak 48%. Sejak diatur dalam Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2021 tentang Badan Percepatan Penyelenggaraan Perumahan, keberadaan lembaga itu tak jelas rimbanya.
Jika dilihat dari pembicaraan di medsos tersebut, mayoritas netizen berkeinginan membeli rumah. Namun, hal yang menghambat pembelian rumah di antaranya harga rumah yang mahal (33%), memiliki banyak pinjaman atau utang (28%), dan penghasilan tidak mencukupi (23%), serta lainnya. Skema yang dipakai untuk membeli hunian, mayoritas menggunakan layanan kredit pemilikan rumah (KPR) melalui perbankan sebanyak 70% dan 27% lainnya mengandalkan subsidi. Dari sisi harga, rata-rata respons publik yang ditangkap dalam pembicaraan soal Tapera berada dalam kisaran harga Rp300 juta sebanyak 60%, lalu 21% menyebut harga di bawah Rp300 juta, kemudian ada 17% menjangkau harga Rp500 juta, dan 2% memilih harga sekitar Rp400 juta.









