;

Iuran Tapera Berisiko Gerus Daya Beli Masyarakat

04 Jun 2024 Kompas
Iuran Tapera Berisiko
Gerus Daya Beli Masyarakat

Program wajib iuran Tabungan Perumahan Rakyat atauTapera yang berlaku paling lambat tahun 2027 dinilai membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat bagi kondisi ekonomi. Kebijakan tersebut berpotensi menekan profit pelaku usaha, menggerus pendapatan pekerja, dan menurunkan PDB nasional sebesar Rp 1,21 triliun per tahun lantaran merosotnya daya beli dan konsumsi masyarakat. Berdasarkan hasil kajian ”Tapera untuk Siapa: Membedah Untung Rugi Program Tapera” yang dikeluarkan Celios pada Senin (3/6), kebijakan Tapera lebih banyak memberikan dampak negatif ketimbang manfaat bagi perekonomian negara.

Program itu lebih banyak menguntungkan pemerintah ketimbang kelompok pekerja dan pengusaha. Hasil simulasi mengenai dampak wajib iuran Tapera pada kondisi ekonomi menunjukkan, program tersebut bisa menyebabkan penurunan PDB nasional hingga Rp 1,21 triliun. Risiko itu muncul karena secara teori, iuran wajib Tapera membuat tingkat konsumsi masyarakat (sebagai kontributor utama PDB) menurun di tengah daya beli yang sudah melemah dan biaya hidup yang meroket akhir-akhir ini. Simulasi menunjukkan kalangan pekerja dan dunia usaha sebagai pihak yang paling terpukul Tapera.

Surplus keuntungan dunia usaha berisiko tergerus sebesar Rp 1,03 triliun, sementara pendapatan pekerja berpotensi menurun hingga Rp 200 miliar. Angka-angka itu didapat dengan perhitungan memakai model pendekatan ”Input-Output” Nasional di 185 sektor usaha serta rumusan pembentuk PDB. ”Artinya, daya beli masyarakat berkurang dan itu menurunkan permintaan di berbagai jenis sektor usaha. Di tengah pelemahan ekonomi dan daya beli, potongan iuran Tapera sangat memberatkan. Wajar jika ada penolakan dari berbagai pihak,” kata peneliti Celios, Nailul Huda, dalam keterangan pers, Senin (3/6). (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :