Daya Beli Lesu, Penjualan Mobil Sulit Bertumbuh
Penjualan mobil di pasar Indonesia stagnan di kisaran 1 juta unit dalam kurun 10 tahun terakhir. Tingginya kenaikan harga mobil yang tidak diiringi kenaikan pendapatan rumah tangga menjadi penyebabnya. Pelaku industri kendaraan bermotor berharap ada insentif fiskal tambahan untuk memicu penjualan mobil nasional. ”Sudah satu dekade terakhir, penjualan mobil hanya berkutat di one million club dan belum pernah tembus lebih besar lagi,” ujar Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara dalam diskusi ”Solusi Mengatasi Stagnasi Pasar Mobil” di kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (10/7). Dari data Gaikindo, penjualan mobil nasional pertama kali menembus 1 juta unit pada 2012, sebanyak 1,16 juta unit, meningkat dibanding 2011 di 894.000 unit.
Angkanya meningkat menjadi 1,22 juta unit pada 2013 dan sempat stabil pada 2014 dengan penjualan 1,20 juta unit. Pada periode 2015-2023, penjualan mobil tidak pernah lagi menembus 1,20 juta unit. Padahal, menurut Kukuh, potensi pasar penjualan mobil di Indonesia masih punya ruang pertumbuhan yang luas. Mengutip data lembaga riset CEIC seperti yang diolah Gaikindo, rasio kepemilikan mobil mencapai 99 unit mobil per 1.000 penduduk di Indonesia, jauh lebih rendah dibanding sesama negara AsiaTenggara. Di Malaysia di 490 unit mobil per 1.000 penduduk, Thailand 275 unit mobil per 1.000 penduduk, dan Singapura 211 unit mobil per 1.000 penduduk.
Tiga negara itu mempunyai jumlah penduduk lebih sedikit ketimbang Indonesia. Kukuh menjelaskan, penyebab stagnasi penjualan mobil disebabkan melebarnya selisih harga jual mobil dibanding kemampuan pendapatan rumah tangga. Mengutip riset Gaikindo bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat UI (LPEM UI) pada 2010 rata-rata harga mobil per unit setara rata-rata pendapatan rumah tangga per tahun, yakni Rp 148 juta. Setelah itu, rata-rata harga mobil naik lebih cepat dari kenaikan rata-rata pendapatan rumah tangga per tahun. Pada 2023 selisihnya melebar. Tahun lalu, rata-rata harga mobil per unit Rp 255 juta per unit, sedang rata-rata pendapatan rumah tangga per tahun Rp 225 juta. (Yoga)
Insentif Otomotif Bisa Tambah PDB Rp 500 T
Pemerintah Belum Satu Suara Soal Pembatasan BBM Bersubsidi
Perkuat Modal Pinjaman, IFG Usul PNM Rp 3 T
Industri Terkait Tekstil Butuh langkah Nyata, Bukan Polemik
Krisis Kejujuran Skandal Guru Besar
Utak-atik Bea Masuk Tujuh Barang Impor
Agar Investasi BPKH di Muamalat Optimal
Ketar-Ketir Importir Akibat Aturan Berubah-ubah
Kempeskan Dana Subsidi Lewat Pembatasan BBM
Bersiaplah, Anda yang kendaraannya menenggak bahan bakar bersubsidi. Pemerintah akan membatasi pembelian BBM bersubsidi mulai 17 Agustus 2024. Adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan yang membuka rencana itu, lewat IG resmi Menko Marves. Alasan pembatasan adalah untuk mendorong penyaluran BBM subsidi lebih tepat sasaran, serta menghemat anggaran. Kenaikan harga minyak mentah dan kurs rupiah yang kian menjauhi dari patokan anggaran 2024 menjadi alasan. Harga minyak dunia masih dalam tren mendaki. Saat ini harga minyak WTI di kisaran US$ 82 per barel. Kurs rupiah di posisi Rp 16.235 per dolar AS (10/7), jauh dari dari asumsi rupiah di APBN 2024 di Rp 15.000 per dollar AS.
Melihat outlook konsumsi BBM subsidi tahun ini diperkirakan 18,39 juta kilo litter (KL) terdiri dari minyak tanah 0,51 juta KL dan minyak solar 17,88 juta KL. Adapun realisasi BBM subsidi hingga Mei 2024 sebesar 7,16 juta KL. Realisasi mencakup minyak tanah sebanyak 0,21 juta KL dan minyak solar 6,95 juta KL.
Fluktuasi harga minyak mentah dan rupiah serta naiknya konsumsi diperkirakan akan membuat anggaran subsidi energi mendaki. Di tengah potensi penurunan penerimaan perpajakan tahun ini, sementara belanja negara membengkak sehingga negara berpotensi defisit Rp 609,7 triliun di 2024 ini.
Dihubungi KONTAN, Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengakui tengah menyiapkan pelaksanaan subsidi BBM tepat sasaran.
Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Saleh Abdurrahman menambahkan, sejauh ini upaya pelaksanaan subsidi tepat sasaran berjalan untuk pembelian solar subsidi yakni 60 liter, 80 liter dan 200 liter per hari.
Ekonom senior Faisal Basri menyebut bahwa Menko Marves Luhut memberikan sinyal bahwa pemerintah akan mengerek harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar.
"Ada kemungkinan besar pemerintah akan menaikkan harga BBM," ujar Faisal, (10/7). Apalagi, harga keekonomian Pertalite sudah jauh dari harga jual saat Rp 10.000 per hari.









