Instrumen Fiskal Iklim: Tantangan Pajak Karbon
Stagnasi dalam penerapan pajak karbon di Indonesia meskipun telah ada payung hukum sejak tiga tahun lalu melalui UU No. 7/2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Pajak karbon yang seharusnya diberlakukan sejak 1 April 2022 hingga saat ini belum terealisasi karena belum adanya regulasi turunan yang mendukung implementasinya. Pajak ini dirancang untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara yang menghasilkan emisi melebihi batas yang ditetapkan dengan skema cap and tax, yaitu penerapan tarif pajak sebesar Rp30 per kilogram CO2e pada emisi yang melebihi batas tersebut.
Beberapa pejabat, seperti Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mengakui bahwa belum adanya regulasi turunan menjadi kendala utama dalam penerapan pajak karbon. Pemerintah juga berkomitmen untuk mengedepankan mekanisme perdagangan karbon, meskipun pajak karbon tetap diperlukan untuk memperkuat kebijakan ini. Giordano Rizky Indra Kusuma, Wakil Sekretaris Jenderal ACEXI, menekankan bahwa pajak karbon dan perdagangan karbon saling melengkapi. Dia juga menyarankan agar tarif pajak karbon yang rendah ditingkatkan secara bertahap untuk memberikan efek signifikan dalam pengurangan emisi.
Menurut Fajry Akbar, Kepala Riset Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), penerimaan dari pajak karbon diperkirakan minimal, hanya sekitar Rp37,62 triliun berdasarkan data emisi gas rumah kaca (GRK) pada 2022. Ia juga menambahkan bahwa kecil kemungkinan pajak karbon akan diterapkan pada tahun 2025 karena belum masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN).
Smelter Tembaga PTFI: Status Hulu-Hilir Tambang
PT Freeport Indonesia (PTFI) yang meneguhkan posisinya sebagai perusahaan pertambangan terintegrasi dari hulu ke hilir, dengan rencana peresmian produksi perdana smelter tembaga baru di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur. Menurut Katri Krisnati, VP Corporate Communications PTFI, smelter ini akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada pekan depan. Smelter tersebut mulai beroperasi sejak akhir Juni 2024, dengan kapasitas input 1,7 juta ton konsentrat tembaga dan output katoda tembaga 600.000-700.000 ton per tahun.
Katri juga menambahkan bahwa peresmian smelter ini merupakan bukti komitmen Freeport terhadap izin usaha pertambangan khusus (IUPK) 2018 dan dukungan terhadap program hilirisasi pemerintah. Proyek yang menelan investasi US$3,7 miliar atau Rp58 triliun ini berada di lahan 100 hektare di kawasan ekonomi khusus JIIPE.
Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa peresmian tiga smelter, termasuk milik PT Amman Mineral Internasional Tbk di NTB dan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, akan mendorong hilirisasi tembaga dan bauksit di Indonesia.
Gedong Gincu Sumedang Bidik Pasar Korea Selatan
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang kini tengah menargetkan Korea Selatan sebagai pasar ekspor mangga gedong gincu, setelah sukses memasuki pasar Jepang. Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang, Tuti Ruswati, mengungkapkan bahwa Wali Kota Distrik Eunpyeong-gu, Seoul, Kim Me-Kyung, bersama rombongan pengusaha Korea Selatan akan mengunjungi Sumedang pada 25-26 September 2024 untuk menjajaki peluang investasi. Kunjungan ini merupakan balasan dari kunjungan Pemkab Sumedang sebelumnya ke Korea Selatan, dengan harapan membuka kerja sama di berbagai bidang, termasuk perdagangan dan pariwisata. Rombongan akan mengunjungi kebun mangga gedong gincu di Tomo dan Jatigede, serta destinasi wisata lainnya di Sumedang.
Sandiwara Penyanderaan Pilot: Bebaskan Philip Tanpa Tebusan
Satgas Cartenz berhasil membebaskan Philip Mark Mehrtens, pilot Susi Air, yang disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya selama 1 tahun 7 bulan. Pembebasan ini dilakukan tanpa imbalan melalui negosiasi yang alot menggunakan pendekatan persuasif. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Hadi Tjahjanto, menegaskan bahwa pendekatan soft approach ini melibatkan tokoh agama, adat, gereja, serta keluarga Egianus. Setelah dibebaskan, Philip diserahkan kepada Duta Besar Selandia Baru, dengan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit ikut terlibat dalam proses tersebut.
Mengukur Kekuatan Bursa Saham di Akhir Tahun
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak bak roller coaster. IHSG sempat menggapai level tertinggi baru sepanjang masa yakni 7.905,30, Kamis (19/9). Tapi level ini tak bertahan lama. Keesokan harinya, IHSG tersungkur 2,05% dan terpental dari area 7.900 ke area 7.700 kembali, atau tepatnya di level 7.743, Jumat (20/9). Tekanan utama pada IHSG berasal dari keputusan FTSE Russel yang mengeluarkan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dari indeks FTSE. Gara-gara keputusan kontroversial tersebut, harga saham emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar itu turun hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), Jumat (20/9), dan merembet ke emiten lainnya. Secara umum, Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menyatakan, penguatan IHSG beberapa waktu terakhir ini hingga mendekati level 8.000 didorong oleh beberapa emiten saja, terutama saham emiten Grup Prajogo Pangestu dan saham perbankan. "Sementara saham berfundamental bagus dan kuat lainnya masih lagging," jelasnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, akhir-akhir ini mulai terlihat adanya rotasi sektor ke saham-saham lapis kedua. "Mulai dari sektor properti hingga farmasi," kata Nico.
Senior Maket Chartist
Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, koreksi IHSG juga disebabkan aksi ambil untung alias
profit taking
oleh investor dan sepinya perdagangan saham pada akhir pekan. "Penurunan suku bunga oleh The Fed secara agresif juga menjadi sentimen pemicu adanya aksi jual di pasar saham," katanya.
Namun demikian, masih ada sejumlah sentimen positif yang bisa memoles prospek IHSG hingga akhir tahun ini. Menurut Nafan, IHSG bisa merangkak naik lagi ke 7.915. Penguatan IHSG di akhir tahun itu akan ditopang oleh potensi
window dressing.
Pengamat Pasar Modal dan
Founder
WH Project, William Hartanto memproyeksikan, pada skenario terburuk, IHSG hanya akan bergerak ke level 7.800 pada akhir tahun ini. Sementara pada skenario
bullish, IHSG dapat melesat ke level 8.000.
Nico juga masih optimistis IHSG bisa kembali ke level 7.900 di akhir 2024. Dia memproyeksikan, dengan probabilitas 55%, IHSG berpotensi menyentuh 7.9208.080. Pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada Oktober mendatang dapat memoles prospek IHSG.
Tantangan Indonesia Mencapai Pertumbuhan Ekonomi 8%
Ambisi pemerintah yang membidik pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% per tahun dinilai mustahil. Pasalnya, saat ini biaya investasi di Indonesia, yang tecermin dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR), masih mahal. Alhasil, Indonesia butuh investasi besar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut. ICOR merupakan salah satu parameter yang dapat menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin kecil angka ICOR, maka biaya investasi yang harus dikeluarkan semakin efisien untuk menghasilkan output tertentu. Demikian pula sebaliknya, apabila angka ICOR besar, maka biaya investasi yang harus dikeluarkan di sebuah negara cukup besar. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mencatat, ICOR Indonesia pada 2023 sebesar 6,5. Level ini terbilang masih tinggi, mengingat ICOR negara tetangga seperti Malaysia hanya 4,4 dan Filipina hanya 3,7 pada periode 2021-2022. Investasi itu bisa bersumber dari investasi pemerintah, swasta dalam negeri, juga investasi luar negeri atau foreign direct investment (FDI). Namun, menurut Wijayanto, angka investasi ini juga akan sulit dicapai. "Agak sulit mengharapkan FDI berkualitas mengalir dalam waktu dekat dalam jumlah besar.
Kalaupun mengucur, pasti di sektor yang kurang berkualitas, seperti sumber daya alam (SDA) yang tidak memberikan
multiplier effect
besar," tutur Wijayanto kepada KONTAN, kemarin.
Hitungan Wijayanto, dengan ICOR di level 6,5, pertumbuhan ekonomi yang realistis dicapai Indonesia hanya di kisaran 5% hingga 5,2%. Menurut dia, pemerintah tidak perlu memaksakan ambisi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan fokus saja pada pertumbuhan yang berkualitas.
Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto menilai, dengan ICOR yang masih tinggi, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan akseleratif. "Kemungkinan pertumbuhan ekonomi hanya bisa di level 5%," tutur Eko, kemarin.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani sebelumnya mengatakan bahwa ICOR Indonesia tak kompetitif dengan negara di kawasan ASEAN yang berada di kisaran 4% hingga 5%. ICOR Indonesia yang masih tinggi akan menghambat investasi yang masuk dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sumber Pendapatan Baru yang Perkuat Kantong Negara
Sederet emiten berupaya mendongkrak kinerja dengan menjaring sumber pendapatan baru. Sebagian masih dalam tahap persiapan, namun ada juga yang telah terbukukan pada laporan keuangan. Terbaru, ada PT Green Power Group Tbk (LABA). Emiten ini akan memasuki tahap produksi baterai pack melalui anak usahanya, PT Green Power Battery (GPB). Direktur Utama Green Power Group William Ong mengatakan, GPB telah memperoleh kualifikasi pertama untuk memproduksi baterai pack kendaraan bermotor listrik. "Ditargetkan selesai pada Oktober 2024," ungkap William, Jumat (20/9). PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK) tak mau ketinggalan mendulang sumber pendapatan baru. PKPK melalui anak usahanya, PT Tri Oetama Persada (Triop) telah melakukan pengapalan perdana batubara pada 8 September 2024. Batubara tersebut akan diekspor ke China Resources Group sebagai pembeli, dengan total kargo 48.000 ton.
Atas pengapalan ini, Triop akan mendapatkan pendapatan dari penjualan batubara sebesar US$ 2,4 juta atau setara Rp 37,4 miliar. Potensi pendapatan dari penjualan tersebut bisa mencapai US$ 28,6 juta tahun ini dan US$ 156 juta di tahun depan.
Founder
Stocknow.id Hendra Wardana menilai, emiten yang berupaya mendongkrak kinerja melalui sumber pendapatan baru punya prospek yang cukup menjanjikan. Terutama bagi emiten yang melakukan diversifikasi ke sektor bisnis yang masih prospektif maupun sedang berkembang.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyoroti diversifikasi yang berpotensi mendongkrak pendapatan, seperti pada LABA dan SINI. Apalagi performa keuangan keduanya masih lesu. "Pasar sangat minat pada saham yang kinerjanya berpeluang tumbuh, terutama bisa mengubah dari rugi menjadi laba," katanya.
Head of Equities
Investment Berdikari Manajemen Investasi Agung Ramadoni menambahkan, investor perlu jeli mencermati bagaimana proses eksekusi emiten terhadap bisnis barunya.Termasuk sejauh mana bisnis baru itu berdampak pada laporan keuangan emiten.
Menunggu Performa Saham Blue Chip di Kuartal Akhir
Bagi investor yang memiliki target investasi jangka panjang, saham keping biru atau blue chip kerap menjadi pilihan untuk mengincar pertumbuhan imbal hasil yang konsisten. Namun, beberapa saham yang kerap digadang sebagai saham blue chip, ternyata punya performa buruk dalam lima tahun terakhir. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra International Tbk (ASII) misalnya, dalam lima tahun terakhir, imbal hasil negatif. Sejak awal tahun ini, ketiganya masih laggard atau tertinggal jauh dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejak awal tahun ini, harga ASII belum bisa kembali ke atas Rp 6.000. Apalagi, UNVR yang kini tersungkur di kisaran Rp 2.000-an. Tergerus 75% dalam lima tahun terakhir. Nasib lebih buruk dialami PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Saham GGRM yang pernah bertengger di Rp 90.000 per saham pada 2019 silam, kini berkubang di kisaran Rp 15.000-an. GGRM hilang pamor, terlebih beberapa kali puasa membagi dividen. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menilai, penurunan harga saham ini tak lepas dari kinerja emiten yang cenderung stagnan ataupun turun. Misalnya, UNVR mencatatkan compound annual growth rate (CAGR) untuk earnings per share (EPS) dalam 3 tahun terakhir -12,5%, lalu GGRM -11,4% dan HMSP -1,92%.
Bukan cuma itu. Penyebab
blue chip
konvensional ini mulai tertinggal adalah bobot yang semakin tipis di IHSG.
Head of Investment
Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe menilai, berbagai saham baru yang memiliki
market cap
besar mulai menggeser bobot
blue chip
lawas. Hal ini membuat penyesuaian portofolio manajer investasi. "HMSP, GGRM dan UNVR sulit naik lagi, bobot terhadap IHSG mengecil," tuturnya.
Kendati begitu,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus optimistis beberapa
blue chip
ini masih bisa tumbuh positif. Misalnya, ASII dan TLKM terus berupaya diversifikasi bisnis. Target harga Nico untuk ASII di akhir tahun Rp 5.600 dan TLKM Rp 3.900.
Strategi Emiten Telekomunikasi dalam Perebutan Pasar
Pertumbuhan konsumen yang diperkirakan mendatar pada semester II-2024 menjadi tantangan bagi emiten telekomunikasi. Kendati demikian perusahaan telekomunikasi diyakini masih memiliki daya ungkit, dengan menyesuaikan taktik pertumbuhan mereka dalam jangka pendek. Analis BRI Danareksa, Niko Margaronis mengatakan di tengah ketatnya persaingan, masing-masing emiten telekomunikasi punya cara tersendiri menjaga pertumbuhan dan stabilitas pendapatan. Telkomsel milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) misalnya telah mengurangi penawaran Tsel Lite sejak Juli 2024. Ke depan Telkomsel mungkin akan menahan diri dari ekspansi agresif yang menyasar pengguna kelas bawah itu. Dengan pendekatan ini, Telkomsel diperkirakan akan mengalami penurunan pendapatan sekitar 0,5% hingga 1,0% pada kuartal ketiga 2024. Tetapi dapat tumbuh antara 1,5% hingga 2,0% pada kuartal keempat 2024. Sementara itu, Indosat milik PT Indosat Tbk (ISAT) menunjukkan potensi ARPU yang signifikan. Ini karena pelanggan yang melakukan pembelian melalui aplikasi menghasilkan ARPU sekitar Rp 55.000. ISAT juga aktif mempromosikan paket eSIM dan menawarkan berbagai promosi. Adapun PT XL Axiata Tbk (EXCL) telah mengonfirmasi kenaikan harga rata-rata nasional sekitar 5% untuk setiap paket. XL mendapatkan sekitar 900.000 pelanggan baru pada kuartal kedua 2024. Namun penambahan tersebut masih memerlukan waktu untuk mencapai monetisasi yang optimal.
Sementara Analis CGS Sekuritas, Bob Setiadi mengatakan, ISAT dan EXCL telah mengerogoti pangsa pasar Telkomsel dengan memasuki pasar luar Jawa. Ini membuat ISAT dan EXCL berhasil mendulang pertumbuhan pelanggan. Apalagi mereka masuk dengan harga awal yang lebih rendah dari Telkomsel.
Dalam risetnya, Bob menghitung pendapatan seluler ISAT memiliki korelasi sekitar 90% terhadap total BTS, dibandingkan TSEL sebesar 70% dan EXCL sebesar 76%.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai di tengah sentimen perlambatan konsumen, emiten telekomunikasi perlu mengubah strategi bisnisnya. Ini dilakukan dalam menghadapi persaingan dan menjaga profitabilitas.
Untuk TLKM dan EXCL bisa meningkatkan efisiensi dan memaksimalkan layanan dan kecepatan internet. Nafan merekomendasikan
buy
TLKM dengan target harga Rp 3.700 per saham. Bob merekomendasikan
hold
ISAT dengan target harga Rp 11.900 dan EXCL
hold
dengan target harga 2.350 per saham.
Dilema Perbankan Menghadapi Penurunan Suku Bunga
Suku bunga acuan akhirnya turun. Lazimnya, perbankan akan merespons penurunan tersebut dengan menurunkan suku bunga simpanan, demi mengurangi biaya dana. Namun, saat ini perbankan masih berhadapan dengan likuiditas yang ketat. Oleh karena itu, perbankan akan hati-hati memutuskan penurunan bunga simpanan. Data BI mencatat, Dana Pihak Ketiga (DPK) per Agustus hanya tumbuh 7,1% secara tahunan atau year on year (YoY), turun dari bulan sebelumnya yng tumbuhnya 7,5%. Sementara kredit tumbuh 11,4%, walau melambat dari Juni yang tumbuhnya 12,4%. Bank bermodal besar lebih siap memangkas bunga. Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Tbk, mengatakan, pihaknya akan fokus menurunkan biaya dana pasca penurunan BI rate. "Kami lihat perkembangan. Namun, kami berharap bank secara nasional bunga DPK turun, agar biaya dana berangsur turun, sehingga bisa diikuti penurunan bunga kredit," kata Lani, Rabu (8/9).
Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan, penurunan bunga simpanan di Bank Mandiri tetap akan memperhatikan kondisi likuiditas dan juga bunga instrumen investasi non bank. Ia bilang, bank akan susah menurunkan biaya dana jika likuiditas masih ketat.
Sementara itu, meski kredit Bank Mandiri tumbuh kencang hingga 20,5% per Juni 2024, DPK bank pelat merah ini juga masih tampil apik, dengan pertumbuhan sebesar 15% secara tahunan. Corporate Secretary
Bank Mandiri Teuku Ali Usman mengatakan, penurunan bunga acuan bisa berdampak pada pengurangan biaya dana di perbankan. "Pada akhirnya akan memberikan dampak positif bagi efisiensi operasional," ujar Ali.
Sementara bank dengan modal lebih kecil lebih hati-hati menurunkan bunga. Direktur Bisnis Bank JTrust Widjaja Hendra menyebut penurunan bunga deposito akan memperhatikan kondisi pasar.
Untuk mengendalikan kenaikan biaya dana, bank milik investor Jepang ini akan berupaya memacu pertumbuhan dana murah. Salah satunya strateginya adalah dengan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjaring nasabah.









