LPS Mencatat Simpanan Perbankan Terjun Bebas
Alokasi Belanja Naik, Beban Pemerintahan Baru
Gelontorkan Dana Jumbo, Barito Renewabless Ekspansi Besar-besaran
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus tancap gas untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan energi panas bumi (geothermal) terkemuka di dunia. Lewat anak usahanya, Star Energy Geothermal, emiten konglomerat Prajogo Pangestu ini bakal meningkatkan kapasitas terpasang sebanyak 102,6 megawatt (MW), dengan total investasi mencapai US$ 346 juta atau satara Rp 5,29 triliun. CEO Barito Renewables Hendra Tan mengungkapkan, ekspansi kapasitas akan dilakukan lewat penambahan pembangkit baru sebanyak 70 MW dan peningkatan kapasitas unit yang ada (retrofit) sebesar 32,6 MW.
"Dengan melakukan retrofit dan menambah kapasitas pembangkit yang ada, kami memastikan masa depan yang berkelanjutan dan efisiensi untuk energi bersih di negara ini," ujar dia. Hendra memaparkan, perseroan akan melakukan penambahan pembangkit baru di Salak Unit 7 sebanyak 40 MW dan Wayang Windu Unit 3 sebesar 30 MW. Untuk ekspansi di Salak Unit 7, Start Energy akan melakukan joint operation dengan PT Timas Suplindo dan PT Rekayasa Industri (Yetede)
Jokowi Berharap Kemudahan Mengurus Izin Pembangunan PLTP
Tolak Proyek Geotermal, Dari Berbagai Penjuru
Trilema Energi Sudah Tersedia
PERGANTIAN pemerintahan pada Oktober 2024 berlangsung di tengah situasi pembangunan yang genting, terutama di sektor energi. Pemerintahan Prabowo akan menghadapi tantangan untuk memecahkan tiga dilema (trilema) energi yang kita hadapi: ketahanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan. Tantangan ini, mau tak mau, harus dihadapi pemerintahan berikutnya sembari menjalankan berbagai agenda ambisius yang memerlukan sumber daya fiskal dalam jumlah signifikan, seperti program makan bergizi gratis. Dalam konteks ini, berbagai solusi untuk menjawab trilema energi itu sangat dinantikan.
Ide untuk memecahkan trilema energi sebenarnya sudah tersedia. Salah satunya lewat potensi penghematan energi yang paling menjanjikan, yakni mengurangi pemakaian bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik. Saat ini, ketergantungan terhadap bahan bakar diesel untuk pembangkit listrik menimbulkan beban signifikan terhadap anggaran negara. Pada 2020 saja, setidaknya duit senilai Rp 16 triliun dibelanjakan untuk 2,7 juta kiloliter bahan bakar guna menghidupkan pembangkit listrik di wilayah terpencil (Antara, Maret 2022). Pengeluaran tersebut, meskipun dimaksudkan untuk mendukung akses energi, justru mengalihkan sumber daya berharga dari prioritas pembangunan mendesak lainnya. (Yetede)
Pasar Saham Bergairah di Tengah Optimisme Investor
Pasar modal Indonesia diprediksi semakin bergairah setelah The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, diikuti oleh penurunan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6%. Penurunan suku bunga ini menarik minat investor asing dan diperkirakan akan mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level yang lebih tinggi, sebagaimana diungkapkan oleh Erwan Teguh, SEVP Retail BNI Sekuritas. Erwan menilai bahwa kondisi ini akan membuat pasar modal Indonesia semakin menarik bagi investasi asing karena penurunan discount rate dan peningkatan outlook laba perusahaan.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menambahkan bahwa pemangkasan suku bunga memberikan sentimen positif untuk sektor-sektor seperti finansial, properti, konsumer, dan otomotif, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Selain itu, faktor-faktor lain seperti Pilkada dan pemilihan kabinet baru pada Oktober 2024 juga akan memengaruhi pasar modal.
Oktavianus Audi, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, mencatat bahwa pemangkasan suku bunga The Fed yang agresif menjadi angin segar bagi IHSG, meskipun ada potensi aksi profit taking di sektor perbankan. Harun Hajadi, Direktur PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), dan Tira Ardianti, Head of Investor Relations PT Astra International Tbk. (ASII), menyambut baik penurunan suku bunga dan berharap kondisi ini mendorong pertumbuhan sektor properti dan otomotif. Direktur Perdagangan BEI, Irvan Susandy, menyatakan bahwa penurunan suku bunga diharapkan bisa mendorong IHSG, namun BEI masih memiliki tantangan untuk meningkatkan rata-rata nilai transaksi harian.
Indeks Komposit Terus Melaju dalam Tren Positif
Penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) sebesar 50 basis poin menjadi katalis utama penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (19/9). IHSG naik 0,97% ke level 7.905,39, didukung oleh sembilan sektor emiten yang mengalami kenaikan, terutama properti dan real estat yang naik 2,23%. Katalis positif ini sejalan dengan tren penguatan di bursa Asia, setelah The Fed menurunkan suku bunga dari 5,25%-5,5% menjadi 4,75%-5%.
Langkah The Fed juga memengaruhi Bank Indonesia, yang menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6%, yang membuat pasar modal Indonesia semakin menarik bagi investor asing. Erwan Teguh, SEVP Retail BNI Sekuritas, memandang potensi imbal hasil tinggi akan mendorong aliran modal asing ke Indonesia, meningkatkan daya tarik aset berisiko.
Para analis optimistis, termasuk dari Bank Indonesia, yang memprediksi The Fed masih akan melakukan penurunan suku bunga lagi di tahun ini. Bahkan, ada harapan bahwa suku bunga The Fed bisa dipangkas hingga empat kali sampai tahun depan, yang semakin memperkuat ekspektasi IHSG dapat menyentuh level psikologis 8.000 sebelum akhir tahun.
Dalam era suku bunga rendah ini, sektor-sektor seperti perbankan, properti, consumer goods, transportasi, dan logistik diprediksi akan sangat diuntungkan, terutama yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Antrasit: Solusi Utama dalam Peralihan ke Energi Ramah Lingkungan
Peran penting batu bara, terutama antrasit, dalam industri baja dan transisi energi rendah karbon. Batu bara sering dikritik karena dampaknya terhadap lingkungan, tetapi antrasit, sebagai jenis batu bara peringkat tertinggi, memiliki emisi karbon lebih rendah dibandingkan jenis lainnya seperti bituminus. Antrasit, yang hanya mencakup sekitar 1% dari cadangan batu bara dunia, sangat penting dalam proses produksi baja rendah karbon, khususnya melalui teknologi Electric Arc Furnace (EAF).
Menurut kajian Schobert dan Schobert (2015), antrasit lebih efisien dan menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan bituminus, menjadikannya pilihan utama dalam industri peleburan baja, terutama di Eropa, Amerika Utara, dan Timur Tengah yang diprediksi akan meningkatkan kapasitas produksi baja dengan teknologi EAF. Salah satu langkah besar dalam sektor ini adalah akuisisi Atlantic Carbon Group, Inc. oleh PT Delta Dunia Makmur Tbk. melalui anak perusahaannya PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA). ACG merupakan produsen antrasit UHG terbesar kedua di Amerika Serikat, yang akan memperkuat peran antrasit dalam industri baja global, khususnya untuk kebutuhan baja rendah karbon.
Bioavtur: Bahan Bakar Masa Depan untuk Jet di Pasar Global
Upaya serius Indonesia dalam mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF) sebagai bagian dari komitmen global untuk mengurangi emisi karbon di industri penerbangan. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa Indonesia telah menyusun peta jalan pemanfaatan bioavtur, sejalan dengan inisiatif 148 negara lainnya yang berkomitmen mengurangi emisi karbon di sektor aviasi.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menambahkan bahwa mulai 2027, Indonesia akan mewajibkan penggunaan bioavtur dengan campuran 1% bahan bakar nabati (BBN) yang akan meningkat secara bertahap sesuai dengan peta jalan yang disusun. Sumber bioavtur ini berasal dari minyak sawit dan kelapa, yang diharapkan dapat mengurangi impor bahan bakar avtur.
Selain itu, Pertamina, melalui Direktur Strategi dan Portofolio Salyadi Saputra, menyatakan kesiapan untuk mengembangkan SAF di dalam negeri dengan upgrading kilang agar menjadi green refinery. Pertamina bahkan telah memasok 160 kiloliter SAF ke pesawat Boeing 737 milik Virgin Australia Airlines. Pertamina juga bekerja sama dengan Airbus untuk memetakan bahan baku SAF dari dalam negeri.
Dengan potensi sumber daya bahan baku yang melimpah dan pertumbuhan penumpang penerbangan sebesar 7,4% per tahun, lebih tinggi dari rata-rata global, Indonesia berpotensi menjadi pusat produksi SAF yang signifikan di Asia Pasifik. SAF memungkinkan pengurangan emisi karbon hingga 80% dibandingkan bahan bakar fosil, sehingga menjadikannya komponen penting dalam upaya dekarbonisasi industri penerbangan.









