;

Mengandalkan Kelas Atas untuk Stabilitas Ekonomi

Hairul Rizal 01 Oct 2024 Kontan

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) diproyeksi masih bisa mencetak pertumbuhan kinerja di semester II-2024. Proyeksi ini muncul di tengah sentimen boikot sejumlah produk food & beverages (F&B) MAPI yang masih berlanjut. Daya beli yang tangguh dari kelas menengah atas hingga meningkatnya gaya hidup yang aktif menjadi pendorong. Sejauh ini pendapatan di semester I-2024 naik 15% secara tahunan atau year on year (yoy). Adapun laba bersih terkontraksi sebesar 14,4% YoY. Margin laba kotor dan EBIT MAPI juga menunjukkan tren penurunan di semester I-2024. Margin laba kotor di semester I-2024 turun menjadi 43,3% dari 45,4% pada semester I 2023. Demikian pula, marjin EBIT turun menjadi 9% dari 11,1%. Dari sisi operasional, Natalia Sutanto, Analis PT BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan, dengan total 228 toko baru yang dibuka pada semester I-2024, pendapatan MAPI didorong kinerja segmen active yang tumbuh 32% yoy dan fashion 15% yoy. Meski begitu, penundaan pembukaan toko di Vietnam menyebabkan penumpukan persediaan. Penguatan rupiah dan koleksi baru untuk musim gugur serta musim dingin akan jadi sentimen positif bagi MAPI. 

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menimpali, kinerja MAPI mampu bertumbuh, baik pendapatan maupun laba bersih. Sementara Analis OCBC Sekuritas William Siregar menilai makin banyak masyarakat Indonesia yang mengadopsi gaya hidup aktif mendorong kinerja MAPI. Gaya hidup aktif seperti olahraga lari yang popularitasnya melonjak meningkatkan penjualan produk-produk penunjang. Selain itu konflik berkepanjangan di Timur Tengah menimbulkan risiko yang semakin besar bagi MAPI, terutama karena meningkatnya gerakan boikot yang dapat merusak citra perusahaan, terutama di segmen F&B. MAPI berkonsentrasi pada lokasi-lokasi utama seperti Sogo (Plaza Senayan Mall Jakarta, Lippo Mall Puri Jakarta), Seibu (Grand Indonesia Mall Jakarta), dan Galeries Lafayette (Pacific Place Mall Jakarta).

Era Prabowo: Potensi Pertumbuhan Kredit

Hairul Rizal 01 Oct 2024 Kontan

Prospek bisnis perbankan di era pemerintahan Prabowo-Gibran berpotensi lebih cerah. Pasalnya, pemerintahan baru itu menjanjikan bisa membawa ekonomi Indonesia tumbuh 8% per tahun. Sejumlah program telah disiapkan untuk bisa merealisasikan janji tersebut. Sektor perumahan akan menjadi salah satu program prioritas pemerintahan periode 2024-2029 itu. Tak tanggung-tanggung, Prabowo-Gibran menjanjikan program pembangunan 3 juta rumah per tahun, naik tiga kali lipat dari program sejuta rumah pemerintahan Jokowi. Sebelumnya, Ketua Satgas Perumahan Presiden terpilih Prabowo Subianto, Hashim S. Djojohadikusumo, mengatakan sektor properti akan didorong bisa berkontribusi 25% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia ke depan, naik signifikan dari 3% saat ini. Tahun ini, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kredit perbankan akan tumbuh 10%-12%. Adapun realisasi per Agustus 2024 tercatat tumbuh sebesar 11,4% secara tahunan atau year on year (YoY). Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga memperkirakan kegiatan ekonomi, termasuk bisnis perbankan, akan tumbuh positif bisa transisi pemerintahan dari presiden Jokowi ke presiden Prabowo berjalan dengan baik. “Kita semua berharap transisi di pemerintahan bisa berjalan dengan mulus,” ujarnya kepala KONTAN, Senin (30/1). 

Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, optimistis kredit Bank Oke akan tumbuh positif pada 2025. Ia memprediksi pertumbuhannya bisa tumbuh lebih kencang dari tahun ini jika kebijakan pemerintahan Prabowo pro bisnis. Sementara Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, mengungkapkan penyaluran kredit BNI masih dijalur target yang sudah ditetapkan. Perseroan menargtekan kredit tumbuh 10%-12% tahun ini. Per Juni sudah tumbuh 11,7% secara tahunan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira melihat, ekspansi kredit perbankan akan meningkat ke sektor-sektor yang menjadi program prioritas pemerintahan baru. “Infrastruktur konstruksi yang berkaitan dengan irigasi, bendungan, ini menjadi salah satu poin dari kenaikan proyeksi kredit tahun 2025 ke depan,” ujarnya. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto memperkirakan pertumbuhan kredit tahun depan bisa lebih kencang. Namun, menurutnya pertumbuhan itu lebih ditopang tren penurunan suku bunga. “Laju pertumbuhan kredit bisa sedikit naik, di kisaran 13%-15%,” ujarnya.

Dapen Alihkan Dana di Tengah Penurunan Bunga

Hairul Rizal 01 Oct 2024 Kontan

Penurunan suku bunga acuan menekan prospek investasi deposito. Dengan kondisi ini, industri dana pensiun (dapen) mencari peluang investasi yang lebih baik dari instrumen investasi lain. Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno mengatakan penurunan suku bunga acuan akan diikuti oleh penurunan bunga deposito perbankan. Dus, instrumen ini jadi kurang menarik dibandingkan alternatif lain. Nah salah satu instrumen yang cocok untuk dijadikan tempat switching dari deposito adalah produk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia alias SRBI. Selain menawarkan imbal lebih tinggi, karakteristik SRBI juga serupa dengan deposito yang cocok untuk liabilitas jangka pendek. "Dapen BCA sendiri mengalihkan sebagian investasi deposito ke instrumen SRBI sekitar 30% mulai sejak April 2024," kata Budi. Saat ini porsi investasi Dapen BCA di deposito mencapai 13,4%. 

Senada, Direktur Utama Dana Pensiun Bank Mandiri Abdul Hadie bilang SRBI jadi instrumen yang menarik di tengah potensi layunya bunga deposito. Meski begitu, Hadie mengatakan penurunan suku bunga BI tidak akan mengubah strategi investasi Dana Pensiun Bank Mandiri secara signifikan. Industri Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) juga melihat potensi penurunan suku bunga bunga deposito berpotensi membuat porsi investasi di instrumen tersebut terkikis. Padahal, deposito kerap menjadi salah satu keranjang terbesar bagi DPLK saat menaruh dana investasi. Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK Syarif Yunus bilang pengelola DPLK harus menjaga pilihan investasi dari peserta untuk mendapatkan tingkat imbal hasil pengembangan yang layak dan optimal. Bila menilik data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), DPLK tercatat mengoleksi surat berharga Bank Indonesia, terutama SRBI, pada Oktober 2023 senilai Rp 28,5 miliar. Namun nilainya terus naik hingga menembus Rp 4,9 triliun pada Juni 2024.

PRDA Genjot Kinerja di Sisa Tahun

Hairul Rizal 01 Oct 2024 Kontan

Emiten laboratorium dan klinik kesehatan, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) terus menjalankan berbagai strategi yang telah disiapkan guna memacu pertumbuhan kinerja tahun ini. Direktur Utama PRDA Dewi Muliaty mengatakan, di sisa tahun 2024, beberapa startegi yang telah disiapkan adalah fokus meningkatkan pelayanan, serta fokus membidik klien korporasi. "Untuk pembukaan cabang kelihatannya juga telah selesai semua per September 2024, dan tentunya kami terus melakukan pengembangan bisnis dan kemudahannya melalui aplikasi U by Prodia. Kami berharap, dengan langkah-langkah ini dapat menambah pertumbuhan kinerja Perseroan," papar Dewi, Senin (30/9). Menurutnya, PRDA kini tengah menuntaskan sejumlah perizinan klinik di berbagai daerah. Hingga saat ini, sudah 152 perizinan klinik yang berhasil diselesaikam. Dewi menuturkan, melalui klinik ini Perusahaan akan melakukan segmentasi dan kategorisasi pasar berdasarkan kekhasan di tiap daerah. 

Dengan berbagai upaya itu, Dewi mengklaim, PRDA tetap bisa mencetak pertumbuhan kinerja hingga kuartal III-2024. Namun demikian, diakuinya, tren pertumbuhan sepanjang tahun ini tidak begitu tinggi. Melihat hal ini, Dewi mengatakan target pendapatan yang dipasang sebesar low double digit di awal tahun ini yang sebesar Rp 2 triliun, terpaksa direvisi. Perusahaan awalnya cukup optimistis dengan dinamika pertumbuhan ekonomi dan kebiasaan masyarakat. Namun, tiap kuartal memiliki tantangan tersendiri. Namun demikian, PRDA tetap berusaha memperjuangkan kinerjanya bisa tumbuh lebih tinggi. "Harapannya pertumbuhan kinerja masih tetap positif atau paling tidak ada pertumbuhan sebesar 2%. Awalnya kami berbicara target sebesar 7%, bahkan melihat perkembangan di kuartal II sempat mematok di 9%. Namun, melihat kuartal III-2024 yang pergerakannya tidak tinggi, kami pasang di 2%. Tapi, secara pertumbuhan semua masih positif," paparnya. Prodia juga mencatat adanya penurunan jumlah kunjungan sebesar 4,8% menjadi 1,2 kunjungan. Adapun volume tes yang dilakukan sebesar 8,4 juta dengan pangsa pasar berada di level 40,1%.

Memelihara Laju Pertumbuhan Sektor Asuransi

Hairul Rizal 01 Oct 2024 Bisnis Indonesia

Industri asuransi umum di Indonesia mencatat pertumbuhan premi signifikan sebesar 24,99% pada semester I/2024, mencapai Rp53,54 triliun. Data dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan bahwa sektor-sektor properti, kendaraan, dan kredit menjadi pendorong utama pertumbuhan ini. Menurut AAUI, pertumbuhan sektor properti didukung oleh perpanjangan relaksasi PPN-DTP, sementara sektor otomotif mendapat dorongan dari pameran kendaraan dan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).

Namun, tantangan seperti melemahnya daya beli masyarakat dan meningkatnya klaim asuransi kredit serta kesehatan dapat mempengaruhi stabilitas industri. Untuk mengatasi ini, perusahaan asuransi disarankan untuk mengelola risiko kredit secara lebih proaktif, mendiversifikasi produk mereka ke sektor-sektor baru seperti teknologi dan asuransi siber, serta mempercepat digitalisasi. Dengan langkah-langkah ini, industri asuransi umum diharapkan mampu menghadapi tantangan dan tetap berkembang di masa depan.

Skema Subsidi Energi Berubah, Subsidi BLT Diusulkan

Hairul Rizal 30 Sep 2024 Kontan

Pemerintahan Prabowo Subianto berencana mengubah subsidi energi menjadi bantuan langsung tunai (BLT). Kebijakan ini diklaim akan menghemat anggaran Rp 150 triliun hingga Rp 200 triliun lantaran pemberian subsidi energi selama ini dinilai tidak tepat sasaran. Wacana ini diungkapkan oleh Dewan Penasihat Presiden terpilih Prabowo Subianto, Burhanuddin Abdullah. Pada pekan lalu, dia mengungkapkan, subsidi di era Prabowo akan langsung menyasar target melalui bantuan tunai, sehingga tidak lagi berfokus pada komoditas. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target pemerintahan saat ini dan pemerintahan berikutnya tetap sama, yakni menyalurkan subsidi energi tepat sasaran. Meski demikian, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama (KLIK) Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi mengatakan belum ada pembicaraan lebih lanjut dengan tim transisi pemerintahan Prabowo terkait hal tersebut. Wakil Ketua Komisi VII DPR sekaligus Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Eddy Soeparno mengatakan, Kementerian ESDM dan Komisi VII tengah menyusun formula kebijakan subsidi energi. Hanya saja, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang menjadi acuan penerima subsidi, perlu disempurnakan. Rencananya, untuk subsidi elpiji tabung 3 kilogram (kg) akan ditransfer langsung ke rekening penerima sebesar Rp 100.000 per bulan. 

Kemudian untuk bahan bakar minyak (BBM), subsidi akan diberikan kepada pengguna yang memiliki QR Code. Vice President Corporate Communication PT Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengungkapkan, pihaknya sebagai badan usaha milik negara (BUMN) akan mengikuti kebijakan pemerintah. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai, pemberian subsidi secara langsung akan lebih tepat. "Subsidi energi langsung supaya lebih clear dalam mekanisme APBN-nya," kata dia, kemarin. Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky menilai, rencana perubahan mekanisme penyaluran subsidi energi belum tentu tepat sasaran. Pasalnya, selama ini penyaluran BLT masih ada salah sasaran yang signifikan. Dengan persoalan data yang belum akurat, ditambah fenomena penurunan jumlah kelas menengah, dia khawatir rencana kebijkan ini justru semakin memukul daya beli kelas menengah. Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira juga mengingatkan pemerintah agar perubahan mekanisme penyaluran subsidi ke BLT perlu menyasar masyarakat rentan miskin serta aspiring middle class..

La Nina Berpotensi Menekan Margin Emiten Poultry

Hairul Rizal 30 Sep 2024 Kontan

Fenomena La Nina tampaknya bakal menjadi sentimen negatif bagi emiten poultry atau unggas. Sebab, fenomena ini menyebabkan kenaikan harga bahan baku pakan ternak seperti jagung. Dus, dapat meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan sektor ini. Harga jagung domestik pada September 2024 tercatat naik 2,3% secara bulanan, terutama disebabkan oleh curah hujan sedang di luar Jawa, yang dapat memengaruhi hasil panen. Sementara itu, harga bungkil kedelai juga naik meningkat 4,4% secara bulanan. "Ke depan, kami mengantisipasi kenaikan harga bahan baku lebih lanjut didorong oleh musim hujan dan potensi efek La Nina," tulis tim riset Samuel Sekuritas, dalam riset 25 September 2024. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai, dalam jangka pendek hingga menengah, tekanan terhadap margin keuntungan emiten poultry akan meningkat imbas La Nina. Emiten yang tidak memiliki strategi hedging atau diversifikasi bahan baku yang baik akan lebih merasakan dampak dari fenomena ini. Hendra menilai, emiten seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dianggap lebih tangguh dalam menghadapi fenomena ini. 

JPFA memiliki skala ekonomi yang besar serta akses pasar yang luas, sedangkan CPIN dikenal dengan efisiensi operasional yang tinggi. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengamini, fenomena La Nina berpotensi meningkatkan harga bahan baku untuk pakan ternak dan akhirnya menekan margin keuntungan dari emiten unggas. Sementara, Tim Riset Samuel Sekuritas menilai, di antara emiten sektor unggas JPFA dan MAIN memiliki valuasi harga paling menarik. Kedua emiten ini juga mendapat dorongan dari program pemusnahan sukarela ( culling ), termasuk adanya sentimen positif dari kebijakan pemerintah soal makan bergizi gratis. Berdasarkan konsensus, Samuel Sekuritas melihat saham CPIN dan JPFA masih mendapatkan peringkat beli dengan target harga masing-masing Rp 5.900 dan Rp 1.910. Sedangkan rekomendasi

ORI026 Tetap Menarik bagi Investor

Hairul Rizal 30 Sep 2024 Kontan

Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI026 sudah bisa dipesan mulai hari ini (30/9) hingga 24 Oktober 2024. Di tengah suku bunga Bank Indonesia (BI) yang terpangkas dari 6,25% menjadi 6%, ORI026 menetapkan bunga lebih tinggi dengan sistem fixed rate. Bunga  seri ORI026T3 atau tenor tiga tahun sebesar 6,3%, dan tenor enam tahun atau ORI026T6 menawarkan bunga 6,4%. Ini akan menjadi penerbitan ORI terakhir di tahun ini. Sebelum  tahun 2024 ditutup dengan penerbitan ST013 pada November mendatang. Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin menilai, potensi penawaran dana untuk ORI ini akan besar, walaupun sedang ada tren penurunan suku bunga. Selama yield yang ditawarkan obligasi ritel lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga deposito, maka investor masih akan tetap tertarik membeli obligasi ritel. 

Selain itu, ORI026 merupakan kesempatan bagi investor untuk berburu kupon tinggi sebelum semakin langka seiring dengan pemangkasan suku bunga yang diperkirakan masih akan dilakukan oleh bank sentral ke depan. Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto memperkirakan penyerapan ORI026 akan mencapai Rp 15 triliun hingga Rp 20 triliun. Ditambah  pemotongan pajak obligasi ritel ini akan lebih rendah yakni 10% dibanding deposito yang sebesar 20% "Jadi instrumen ini tetap menarik bagi masyarakat yang mempunyai kelebihan likuiditas untuk berinvestasi di pasar modal," kata, Jumat (27/9). Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi optimistis, penjualan ORI026 tetap menarik.  Meskipun pemerintah belum mengumumkan target penjualan ORI026. Reza meyakini penjualannya akan tetap tinggi mengingat minat yang konsisten dari investor ritel terhadap instrumen ini.

Penurunan Beban Dana Jadi Angin Segar bagi Bank

Hairul Rizal 30 Sep 2024 Kontan

Era suku bunga tinggi resmi berakhir dengan pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI). Hal itu diperkirakan dapat mendongkrak kinerja emiten, khususnya sektor perbankan. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji mengatakan, untuk jangka pendek saham sektor perbankan masih akan bergerak fluktuatif. Sebab terdapat sentimen yang mempengaruhi gerak pasar. Pertama, pasar menantikan pelantikan Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih. Kedua, rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal III 2024 yang diperkirakan tidak setinggi pada kuartal II. Sementara untuk jangka panjang, pemangkasan suku bunga ini menjadi angin segar bagi sektor perbankan. Sebab berpotensi meningkatkan kinerja kredit perbankan. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano sepakat, efek pemangkasan suku bunga tidak akan berlangsung instan. Ia memperkirakan perbaikan likuiditas yang akan mengurangi tekanan biaya dana perbankan baru akan terjadi paling cepat di kuartal I 2025. Dari sejumlah emiten bank dalam cakupannya, Victor menilai, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan mendapatkan keuntungan yang paling besar seiring dengan pemangkasan suku bunga. 

Sebab BBNI paling terdampak saat kenaikan suku bunga. Tercermin dengan penurunan net interest margin (NIM) sebesar 80 basis poin (bps) secara tahunan atay year on year (yoy) pada Juli 2024. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan menjadi yang paling sedikit diuntungkan karena NIM yang tahan banting. Berdasarkan analisis Victor, semua bank kecuali BBCA mengalami transmisi kenaikan suku bunga lebih tinggi di biaya dana mereka pada kenaikan suku bunga sebelumnya dibandingkan rata-rata historis. Secara keseluruhan, Victor mempertahankan peringat overweight untuk sektor perbankan. Adapun BBCA menjadi pilihan utamanya dan menyematkan rating buy dengan target harga yang ditingkatkan menjadi Rp 12.400 dari sebelumnya Rp 11.300. Sementara itu, analis JP Morgan, Harsh Wardhan Modi mempertahankan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai pilihan utamanya. Ini menyusul momentum laba per saham (EPS) yang positif. "Kami memperkirakan pertumbuhan EPS sekitar 17% pada 2025 dan 2026 setelah EPS yang datar tahun ini," sebut Harsh.

Penurunan Beban Provisi Dorong Laba Perbankan

Hairul Rizal 30 Sep 2024 Kontan

Tantangan perbankan untuk mencetak pertumbuhan laba bersih tahun ini memang berat. Tingginya biaya dana membuat pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) tak bisa melaju kencang. Untungnya, biaya kredit mulai turun dan beban provisi mulai menyusut. Penyusutan ini membantu menahan tekanan laba dari tigginya biaya dana. Menilik laporan bulanan Agustus, sejumlah bank mampu membukukan pertumbuhan laba bersih meski pendapatan bunga bersih turun. Pertumbuhan ini didongkrak penurunan biaya provisi. Bank yang mencetak kenaikan NII dan penurunan beban provisi sekaligus mencetak pertumbuhan laba lebih apik. Ambil contoh, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Di delapan bulan pertama 2024, bank ini mencetak laba bersih secara bank only Rp 14,22 triliun, naik 4,25% secara tahunan. Padahal, pendapatan bunga bersih BNI terkoreksi 6,82% jadi Rp 25,56 triliun.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar bilang, biaya pencadangan dibentuk sesuai kebutuhan berdasarkan proyeksi kualitas aset ke depan. Saat ini, manajemen BNI yakin kualitas aset akan terus membaik. Royke melihat penurunan suku bunga acuan akan berdampak positif pada pendapatan bunga yang diraih bank berlogo 46 ini. Terlebih, NIM di Agustus 2024 berjalan mencapai 4.4%. ”NIM kita sudah jauh di atas rata-rata bulanan semester satu yang hanya 4.0%,” tambah Royke. Bank Central Asia (BCA) mencatat beban kerugian penurunan nilai aset keuangan atau beban provisi turun 25% jadi Rp 1,29 triliun. Sedang pendapatan bunga bersih tumbuh 8,78% jadi Rp 50,55 triliun. Alhasil, laba tumbuh 13,5% jadi Rp 35,99 triliun. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, pihaknya selalu menerapkan prinsip kehati-hatian di setiap aspek operasional, agar sejalan dengan profil risiko yang telah ditetapkan manajemen. "Dengan begitu, kualitas aset tetap terjaga, dengan cadangan aset memadai,” ujarnya.

Pilihan Editor