Saham Kembali Menjadi Primadona
Perekonomian Diharapkan Terdongkrak oleh Industri Halal
”Kami berharap bahwa kegiatan ini akan berdampak besar bagi pertumbuhan industri di Indonesia, khususnya industri halal, dan juga meningkatkan kesadaran dari masyarakat terhadap aspek-aspek produk halal industri,” kata Eko. Dari sisi domestik, sektor unggulan rantai nilai halal (halal value chain) pada triwulan I-2024 tumbuh 1,94 persen secara tahunan. Capaian tersebut ditopang oleh sektor makanan dan minuman halal serta mode yang mencatatkan pertumbuhan masing-masing 5,87 persen secara tahunan dan 3,81 persen secara tahunan. Eko menyebut, terdapat aneka produk halal buatan industri lokal yang telah mengantongi sertifikasi halal. Namun, produk-produk tersebut belum dikenal masyarakat luas sehingga perlu ada upaya untuk memperkenalkannya, salah satunya melalui pameran. (Yoga)
Penjualan Tiket Masih Mahal
Pelonggaran Kebijakan Moneter Yang Berimbas Pada Menguatnya Rupiah
Pelonggaran kebijakan moneter yang berimbas pada menguatnya rupiah bisa menjadi ”angin segar” yang mengerek kinerja manufaktur setelah terkontraksi dua bulan berturut-turut. Namun, itu saja tidak cukup. Industri pengolahan tetap membutuhkan kebijakan suportif yang bisa melindungi pasar domestik dari serbuan impor Era suku bunga tinggi (higher for longer) yang terjadi selama dua tahun terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda melandai. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), pada 18 September 2024 menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari 5,25-5,5 persen menjadi 4,75-5,25 bps. Sebelum keputusan The Fed itu, Bank Indonesia (BI) juga telah terlebih dulu memangkas suku bunga acuannya 25 bps menjadi 6 persen. Keputusan itu diambil BI setelah mencermati adanya kejelasan tentang arah penurunan suku bunga acuan The Fed.
Sesuai ekspektasi, pelonggaran kebijakan moneter tersebut pun berimbas pada menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pada Rabu (25/9/2024), rupiah bahkan menyentuhRp 15.090per dollar AS alias posisi terkuat sejak 31 Juli 2023. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini, kondisi penurunan suku bunga dan penguatan rupiah itu bisa mengerek kinerja industri manufaktur yang belakangan ini melemah. Berdasarkan data S&P Global, Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia terkontraksi selama dua bulan berturut-turut, yakni Juli 2024 di level 49,3 dan Agustus 2024 di level 48,9. Airlangga menilai, tekanan eksternal secara moneter itulah yang menyebabkan persepsi kinerja industri manufaktur melemah hingga terkontraksi selama dua bulan terakhir. Kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah terhadap dollar AS membuat biaya produksi yang ditanggung industri membengkak akibat mahalnya harga bahan baku impor dan tingginya beban bunga pinjaman. (Yoga)
Kawasan Rebana destinasi investasi Jawa Barat.
Kehadiran Tol Laut Efektif Mengurangi Kesenjangan Pembangunan
Implementasi Program Anggaran Quick Win Prabowo Ditambah Rp 8 Triliun
Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti 4 di luar PT Bank Mandiri
Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 di luar PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencetak laba bersih sebesar Rp86,42 triliun per Agustus 2024. Perolehan ini tumbuh 7,79% dibandingkan Agustus 2023 sebesar Rp80,17 triliun. Adapun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mengantongi laba bersih bank only Rp36,12 triliun, tumbh 3,96% secara tahunan (year on year/yoy). Didukung dengan pendapatan bunga bersih (net interest incoming/NII) sebesar Rp73,63, naik 2,89% (yoy).
Kemudian, posisi kedua ada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan pertumbuhan laba bersih bank only tertinggi 13,5% (yoy) menjadi Rp35,99 triliun, angka ini tidak jauh berbeda dari BRI. Pertumbuhan laba BCA ditopang dari NII yang meningkat 8,78% (yoy) menjadi Rp50,55. Karena Bank Mandiri belum merilis laporan keuangan Agustus, peringkat selanjutnya adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dengan laba bersih Rp14,22 triliun, tumbuh 4,33% (yoy), didukung NII sebesar Rp25,56 triliun, terkontraksi 6,82% (yoy). (Yetede)
PT Green Power Group Tbk Langsung Tancap Gas Menggarap Bisnis Baterai Kendaraan Listrik
PT Green Power Group Tbk (LABA) langsung tancap gas dalam menggarap bisnis baterai kendaraan listrik (elektric vehicle/EV) setelah berganti pemegang saham pengendali pada akhir Juni 2024. Emiten yang sebelumnyu bernama PT Ladang Baja Murni Tbk dan bergerak di bidang produksi baja tersebut, memutus untuk mengganti care business dari produksi baja ke bisnis baterai EV setelah diakuisisi PT Nev Stored dan bergerak di bidang kepemilikan saham sebanyak 50,75%.
Langkah itu tampaknya mendapat responn positif dari pasar, yang terlihat dari lonjakan sahamnya sehingga 1.000% ke level Rp550. Manajemen Green Power menegaskan bisnis perseroan ke depannya akan mengacu pada produksi baterai lithium, penyewaan baterai, pembangunan jaringan stasiun penukaran baterai, serta investasi dan pengoperasian stasiun tenaga surya. Terbaru, perseroan membentuk tiga perusahaan dengan mitra strategis untuk pengembangan ekosistem baterai EV. (Yetede)









