Stimulus Konkret Diperlukan untuk Menggerakkan Ekonomi
Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky menilai, pemerintah perlu mengambil langkah jangka pendek untuk mengatasi pelemahan daya beli. Misal, perpanjangan insentif pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (PPN DTP) perumahan, penundaan penerapan tarif PPN 12%, dan penundaan jenis-jenis pajak baru. "Perlu juga ditambah penggelontoran bantuan sosial dan anggaran perlindungan sosial," ungkap dia.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, untuk mengerek daya beli, pemerintah bisa mempertimbangkan: Pertama, akselerasi belanja produktif seperti program peningkatan lapangan kerja, proyek infrastruktur dan peningkatan manufaktur.
Kedua, subsidi harga barang kebutuhan pokok atau insentif pajak untuk usaha kecil dan menengah (UKM). Ketiga, perluasan cakupan bantuan sosial kepada kelompok rentan, terutama untuk menjaga konsumsi rumah tangga. "Kebijakan moneter akomodatif seperti penurunan suku bunga atau kebijakan likuiditas lain juga bisa memberikan stimulus bagi perekonomian," ucap dia.
Chandra Wahjudi, Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Indonesia menilai, pemerintah bisa menyesuaikan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) yang saat ini Rp 54 juta per tahun. "Jika PTKP disesuaikan tiap tahun mengikuti laju inflasi akan membantu daya beli," kata dia.
Potensi Ruang Fiskal dari Kebijakan PPh Badan
Tren Penurunan Bisnis Batu Bara di Tengah Perubahan Pasar
Skema MIP Tingkatkan Kinerja PTBA
Nasabah Ritel Menghadapi Kesulitan Melunasi Utang
Likuiditas Leasing Masih Terbatas
TPIA Fokus pada Inovasi dan Ekspansi Bisnis
Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tumbuh Cepat
Menaklukkan Dunia dengan Sambal
Ketiga jenama sambal itu lahir dari kegigihan, keuletan, kepahlawanan, dan jiwa bondo nekat (bonek) khas suroboyoan dalam diri Ie Lanny (71) dengan sambal Bu Rudy, Susilaningsih (69) dengan sambal DD1 Dede Satoe, dan Mujiati (55) dengan sambal CUK! Lanny, Susi, dan Mujiati kini menuai serta memanen jerih payah dan ikhtiar mengembangkan usaha sambal. Setelah puluhan tahun usaha yang diwarnai jatuh bangun, mereka mendekati ”puncak kemenangan”. Pedas sambal mereka membawa kenikmatan duniawi yang membuat lidah bergoyang, tubuh bercucuran keringat, dan sumpah serapah karena kelezatan yang menyempurnakan santapan.
Sebelum sukses sebagai pemilik Pusat Oleh-oleh Bu Rudy dengan tujuh outlet dan beromzet harian miliaran rupiah, Lanny merantau dari Madiun ke Surabaya menjadi pelayan toko, buruh pabrik sandal, lalu pedagang alas kaki. ”Situasi sosial, politik, ekonomi di Madiun tidak menentu. Saya lahir 1953, sekolah hanya bisa sampai kelas 3 SD. Tahun 1970 saya pergi ke Surabaya dengan bekal satu setel baju di kantong keresek,” kata pemilik jenama Bu Rudy ini saat ditemui di Depot Dharmahusada (Pusat Oleh-oleh Bu Rudy), Kamis (26/9/2024). Lanny menceritakan, usah kuliner dimulai pada Juli 1995 saat berjualan nasi campur dan nasi pecel ala Madiun de- ngan mobil. (Yoga)









