Industri Asuransi Diminta Melakukan Efisiensi
OJK mencatatkan premi asuransi kesehatan per Agustus 2024
tumbuh tinggi. Pertumbuhan premi yang tinggi juga diiringi dengan klaim yang
juga meningkat, sehingga industri asuransi diminta melakukan efisiensi. Kepala
Pengawas Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, Dana Pensiun Ogi Prastomiyono menjelaskan, sampai akhir
Agustus 2024, premi asuransi kesehatan dari sektor asuransi jiwa mencapai
Rp19,36 triliun, tumbuh 38,35% secara yoy. Sementara sektor asuransi umum juga
mencatatkan pertumbuhan premi asuransi kesehatan yang mencapai Rp6,61 triliun,
tumbuh 27% (yoy). “Walaupun pertumbuhan premi
dapat terbilang cukup baik, klaim di kedua sector ini masih terbilang
cukup baik, klaim di kedua sektor ini masih terbilang tinggi, dan menjadi
concern utama untuk melakukan efisiensi di berbagai lini. Mulai dari
operasional sampai kepada pemberian layanan medis di rekanan klinik dan rumah
sakit,” jelas Ogi. (Yetede)
Lini Masa Groundbreaking IKN Masuk Tahap ke-8
Pemerintahan Prabowo Menjadi Sektor Yang Krusial
Deflasi Akan Membahayakan Perekonomian Kita
Bagaimana Pembangunan IKN Setelah Pelantikan Prabowo
Penghasilan Wakil Rakyat Makin Seksi
Penyakit Jantung Membebani Ekonomi Rp 67,34 Triliun
Data BPJS Kesehatan, hingga Mei 2024 jumlah pasien penyakit jantung 1,89 juta orang Kompas memproyeksikan, angka ini dapat mencapai 4,5 juta orang pada akhir tahun. Dengan ekstrapolasi berdasarkan biaya per pasien rujukan pada 2023, total klaim pada akhir 2024 mencapai Rp 38,96 triliun. Produktivitas yang hilang akibat penyakit jantung dihitung dengan cara mengalikan jumlah penderita jantung usia produktif dengan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita, yang telah dibagi jumlah hari kerja aktif dalam setahun. Hasilnya lalu dikalikan dengan 21,8 hari, yakni rata-rata jumlah hari kerja yang hilang per penderita penyakit jantung. Olahan data tadi menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023 oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Strategi Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Korsel
Harta Milyaran Anggota DPR Muda
Belum genap sepekena dilantik, anggota Dewa Perwakilan Rakyat periode 2024-2029 sudah menjadi sorotan publik. Bukan soal kinerja, melainkan harta kekayaan anggota DPR berusia di bawah 30 tahun yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah. Terlebih, sebagian dari anggota DPR itu baru pertama kali lolos sebagai anggota parlemen. Sutradara, penulis, sekaligus produser film, Fajar Nugros, termasuk salah satu yang ikut mengungkapkan kegelisahan terhadap situasi tersebut. Ia mempertanyakan harta kekayaan anggota DPR yang berusia di bawah 30 tahun. Sutradara film Srimulat itu juga mempertanyakan kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
”Anggota DPR di bawah 30 tahun hartanya miliaran rupiah semua. Ini KPK ngapain? Gratifikasi, atau dagang pengaruh orangtua? Atau gimana?” tulis Fajar di akun X @fajar-nugros, Sabtu (5/10/2024). Sorotan publik kepada anggota DPR berusia di bawah 30 tahun yang memiliki harta miliaran rupiah tak lepas dari situasi keuangan anak muda yang belakangan menurun. Jangankan untuk memiliki harta miliaran rupiah, sebagian masih kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Kaum muda bahkan terpaksa menjadi generasi ”mantab” atau makan tabungan lantaran penghasilannya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) mencatat ada 18 anggota DPR periode 2024-2029 yang berusia di bawah 30 tahun.
Sebanyak 14 orang di antaranya merupakan pendatang baru, sedangkan empat orang lainnya petahana. Sebagian anggota DPR itu bahkan terafiliasi dengan politik dinasti karena merupakan anak dari kepala daerah ataupun anggota DPR. Ketika ditelusuri di laman https://elhkpn.kpk.go.id/, mayoritas anggota DPR berusia di bawah 30 tahun tersebut memang memiliki harta miliaran rupiah. Rinciannya, sembilan orang melaporkan hartanya di atas Rp 10 miliar, tujuh orang melaporkan harta berkisar Rp 4 miliar hingga Rp 10 miliar, dan dua orang melaporkan hartanya kurang dari Rp 1 miliar. (Yoga)
INASCA ”Biro Jodoh” Bagi Pelaku Usaha Mencari Mitra
Forum Bisnis Indonesia, Asia Selatan, dan Asia Tengah atau INASCA yang pertama telah selesai diadakan di Jakarta, Senin (7/10/2024). Acara itu menjadi ”biro jodoh" bagi para pelaku usaha dari 15 negara untuk mencari mitra yang cocok. Sepanjang acara, dibahas isu kebangkitan kekuatan ekonomi Asia di berbagai bidang dengan syarat ada perubahan pemikiran yang mendasar mengenai cara menjalankan kerja sama. ”Kita tidak bisa lagi berpikir dengan cara tradisional. Pelaku usaha harus melihat berbagai permasalahan nyata di dalam peningkatan ekonomi, yaitu krisis iklim,” kata Ijaz Nisar, pendiri sekaligus Direktur CEO Club Pakistan, lembaga konsultan dan kajian untuk bisnis. Ia menjelaskan, krisis iklim merupakan akibat ulah manu-sia dan telah merugikan perekonomian global. Namun, di negara-negara selatan dunia, belum banyak pelaku usaha menyadari ataupun mengakui koneksi krisis iklim dengan persoalan ekonomi.
Sebagai contoh adalah Pakistan yang merupakan lumbung pangan kawasan Asia Selatan, tetapi setiap tahun menderita akibat banjir sehingga hasil panen rusak. ”Alam harus dihitung sebagai aset usaha sekaligus risiko kerugian. Aset jika bisa dimanfaatkan dan dilestarikan dengan baik. Risiko jika tidak ada tindakan mitigasi dan produktivitas terus terganggu akibat berbagai bencana alam ataupun kerusakan lingkungan,” tutur Nisar. Ia mengatakan, menerapkan pemikiran tersebut ke dalam produktivitas nyata perusahaan memang susah karena dari pemerintah, pelaku usaha, sampai dengan konsumen harus mengubah cara berpikir. Apalagi, keputusan untuk melakukannya kerap tidak populer di masyarakat. Menurut Nisar, perubahan pola pikir yang berbasis keberlanjutan lingkungan dan mitigasi krisis iklim ini harus diterapkan diteknologi,tata kelola usaha, kebijakan pemerintah, dan pengawasan masyarakat. Banyak pihak menganggap mengubah perilaku ini memakan tenaga, waktu, dan biaya. Ketua Dewan Usaha Sri Lanka-Indonesia Vish Govindasamy dalam pemaparannya menjelaskan, potensi bisnis besar di Asia Selatan dan Asia Tengah adalah ketahanan pangan.
Setiap tahun, dunia merugi hingga 900 miliar dollar AS akibat bahan pangan yang rusak. Selain bencana alam, kerusakan juga terjadi karena minimnya sarana penyimpanan yang layak. ”Kita membutuhkan teknologi ramah lingkungan untuk pemuliaan benih, penyimpanan hasil panen, distribusi yang cepat, dan penjualan berbasis daring yang terlacak,” ujarnya. Logistik Setelah persoalan utama, yaitu isu keberlanjutan alam, pembangunan infrastruktur logistik yang efisien menjadi benang merah kedua di dalam INASCA. Hal ini disampaikan Gulmira Rzayvea, peneliti senior di Institut Kajian Energi Oxford (OIES) yang berpengalaman menjadi staf ahli bidang energi untuk Presiden Azerbaijan hingga 2019. Kerja sama energi terbarukan memerlukan infrastruktur yang mumpuni. Memang, peralihannya tidak bisa sekejap karena berisiko menggoyang kestabilan ekonomi. Namun, peralihan bertahap ini bisa diupayakan dengan membangun sistem logistik yang komprehensif. ”Kita membutuhkan perpipaan, perkapalan, jalur darat, wadah, dan infrastruktur keterhubungan,” katanya. (Yoga)









