;

AP Integrasikan Bisnis Properti Bandara

Hairul Rizal 03 Dec 2024 Kontan
Aksi merger entitas pelat merah kembali terjadi di sektor aviasi dan pariwisata Indonesia, kali ini melibatkan entitas usaha Angkasa Pura, yaitu PT Angkasa Pura Hotel (APH) dan PT Angkasa Pura Properti (APP), yang akan bergabung menjadi PT InJourney Aviation Service Properties (IASP). Langkah ini bertujuan untuk mengoptimalkan portofolio bisnis dan mengurangi tumpang tindih yang ada antara berbagai lini usaha dalam Grup Angkasa Pura.

Herry Gunawan, pengamat BUMN dari Datanesia Institute, menilai bahwa merger ini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan dan mengurangi risiko tumpang tindih kegiatan usaha. Ia juga menyebutkan bahwa ini adalah bagian dari agenda konsolidasi yang lebih besar di tubuh Angkasa Pura untuk menciptakan efisiensi dalam menjalankan bisnis, yang mungkin akan diikuti dengan merger entitas lainnya dalam grup tersebut.

Menyelesaikan Masalah Danantara

Hairul Rizal 02 Dec 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pemerintah Indonesia telah membentuk Danantara, sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengelola investasi strategis negara. Kehadiran Danantara diharapkan menjadi alternatif sumber pembiayaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mendorong perekonomian. Lembaga ini akan mengumpulkan modal untuk pengembangan investasi strategis nasional serta mengelola aset dan portofolio investasi BUMN. Banyak kalangan mengapresiasi inisiatif ini, karena dinilai dapat memacu pertumbuhan ekonomi baru dan mengurangi beban fiskal negara yang selama ini menjadi tumpuan utama akselerasi Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, meskipun potensi positifnya besar, penting bagi pemerintah untuk mengawal dengan ketat proses pembentukan dan implementasi Danantara. Pemerintah perlu memastikan adanya pijakan hukum yang jelas dan memastikan lembaga ini dijalankan oleh figur-figur yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya agar tujuan tersebut dapat tercapai secara maksimal.



Penguatan Modal untuk Fintech P2P Lending

Hairul Rizal 02 Dec 2024 Bisnis Indonesia

Industri fintech peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia telah menghadapi berbagai tantangan dalam 8 tahun perkembangannya, termasuk masalah permodalan, manajemen risiko, dan isu terkait sistem IT dan keamanan. Meskipun jumlah penyelenggara P2P lending menurun dari 164 entitas pada 2019 menjadi 97 entitas pada 2023, nilai outstanding penyaluran P2P lending terus mengalami peningkatan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan jumlah penyelenggara, industri ini tetap menunjukkan prospek yang positif.

Salah satu langkah yang diambil untuk memperkuat industri ini adalah melalui penguatan aspek permodalan, termasuk penetapan batas minimum ekuitas bagi penyelenggara P2P lending, yang diatur dalam POJK Nomor 10/POJK.05/2022. Batas minimum ekuitas ini dilakukan secara bertahap hingga mencapai Rp12,5 miliar pada 2025. Untuk mencapai tujuan ini, penyelenggara P2P lending dapat mengadopsi beberapa strategi, seperti memperhatikan kinerja perusahaan, melakukan efisiensi biaya operasional, menjajaki peluang merger, dan memperluas jaringan relasi untuk menarik investor potensial.

Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem P2P lending yang lebih kuat dan stabil, yang akan mendukung pertumbuhan industri fintech di Indonesia secara lebih progresif dan berkelanjutan.


Ketidakjelasan Legalitas yang Menghambat

Hairul Rizal 02 Dec 2024 Bisnis Indonesia

Pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang bertujuan untuk mengumpulkan modal guna pengembangan investasi strategis nasional dan mengelola aset serta portofolio investasi BUMN. Dalam tahap awal, konsolidasi dilakukan terhadap tujuh BUMN besar, seperti PT Bank Mandiri, PT PLN, dan PT Pertamina, dengan proyeksi pengelolaan dana mencapai US$600 miliar dan meningkat menjadi US$982 miliar dalam beberapa tahun. Jika berhasil, posisi Danantara sebagai pengelola aset terbesar dapat meningkat dari peringkat 8 menjadi peringkat 5 global.

Namun, terdapat tantangan terkait ambiguitas regulasi pendirian Danantara, yang menurut beberapa pakar hukum dapat menyebabkan kerancuan, terutama terkait dengan status hukum BUMN dan Indonesia Investment Authority (INA) yang memiliki dasar hukum berbeda. Kepala BPI Danantara, Muliaman Darmansyah Hadad, menjelaskan bahwa proses regulasi masih dalam tahap persiapan dan akan dilakukan dengan pendekatan komprehensif dan hati-hati. Hal ini juga didukung oleh Presiden Prabowo Subianto yang menekankan perlunya kajian mendalam sebelum pelaksanaan Danantara sebagai superholding.

Para pemimpin BUMN yang terlibat, seperti Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dan VP Corporate Communication Telkom Andri Herawan Sasoko, menyatakan dukungan mereka terhadap inisiatif ini, meskipun mereka masih menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah. Menteri BUMN, Erick Thohir, juga mendukung langkah konsolidasi ini seiring dengan upaya restrukturisasi BUMN yang telah dilakukan selama lima tahun terakhir.

Secara keseluruhan, meskipun Danantara memiliki potensi besar untuk menjadi mesin ekonomi baru bagi Indonesia, kelancaran pelaksanaannya sangat bergantung pada penyelesaian masalah regulasi yang ada.



Istana Tegaskan Harga Rp10.000 Cukup Memadai

Hairul Rizal 02 Dec 2024 Bisnis Indonesia

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto dengan anggaran Rp10.000 per porsi dinilai dapat dilaksanakan dengan efektif. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, mengungkapkan bahwa uji coba program ini telah dilakukan selama hampir setahun di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. Dalam uji coba tersebut, program MBG mampu menyediakan makanan bergizi dengan 600 hingga 700 kalori per porsi dengan anggaran maksimal Rp10.000.

Hasan juga menegaskan bahwa untuk tahun depan, anggaran APBN yang dialokasikan untuk program MBG tetap akan sebesar Rp71 triliun. Meskipun sebelumnya Presiden Prabowo sempat mempertimbangkan harga seporsi MBG sebesar Rp15.000, keputusan akhirnya menetapkan harga Rp10.000 per porsi demi menyesuaikan dengan keterbatasan anggaran negara. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat terus berjalan dengan efektif dan tetap mencakup kebutuhan gizi bagi masyarakat, terutama anak-anak.


Peluang Window Dressing Kian Memudar

Hairul Rizal 02 Dec 2024 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia mengalami penurunan signifikan pada bulan November 2024, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 6,7%, mencatatkan kinerja terburuk dalam 20 tahun terakhir. Namun, ada harapan untuk kenaikan IHSG pada bulan Desember, terutama karena potensi window dressing oleh manajer investasi besar. Secara historis, IHSG sering mengalami koreksi pada November, tetapi cenderung menguat pada Desember, dengan probabilitas tinggi untuk kenaikan di bulan tersebut.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, memperkirakan IHSG akan berada di kisaran 7.150-7.300 pada akhir Desember, dengan kemungkinan kenaikan sekitar 2,61%. Meski ada potensi kenaikan, Nico mengingatkan bahwa pergerakan IHSG cenderung terbatas karena faktor makro ekonomi dan ketidakpastian yang muncul setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, yang dapat memengaruhi kebijakan moneter global.

Hans Kwee, pengamat pasar modal, juga mencatat sentimen negatif akibat kebijakan tarif Trump yang berpotensi mendorong inflasi dan membatasi pemotongan suku bunga oleh The Fed. Ia memprediksi IHSG akan mengalami konsolidasi dengan support di 7.100 - 7.000 dan resistance di 7.250 hingga 7.340.

Di sisi lain, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, lebih optimistis, menganggap IHSG memiliki peluang untuk menguat akibat window dressing dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan menguat pada kuartal IV-2024. Ia memproyeksikan IHSG akan menguji level resistance di 7.300, dan jika berhasil menembus level tersebut, IHSG bisa naik lebih jauh ke 7.600.

Inflasi Naik, Konsumsi Masih Tertekan

Hairul Rizal 02 Dec 2024 Kontan
Inflasi di Indonesia diperkirakan akan meningkat pada bulan November 2024, terutama didorong oleh kenaikan harga bahan pangan menjelang akhir tahun. Para ekonom memproyeksikan inflasi bulanan November berkisar antara 0,22% hingga 0,36% month-to-month (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Oktober yang hanya 0,08% mtm. Secara tahunan, inflasi diperkirakan berada pada angka 1,46% hingga 1,77% year-on-year (yoy).

David Sumual, Kepala Ekonom BCA, menyatakan bahwa kenaikan inflasi disebabkan oleh harga bahan pokok yang naik, seperti bawang merah, meskipun beberapa komoditas lain mengalami stagnasi. Ia memperkirakan inflasi November akan mencapai 0,22% mtm, sementara inflasi tahunan diperkirakan 1,46% yoy.

Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, mengidentifikasi tiga faktor yang menyebabkan inflasi lebih tinggi: kenaikan harga bawang merah, harga bahan bakar minyak yang meningkat, dan kenaikan inflasi inti akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Ia memproyeksikan inflasi tahunan akan moderat menjadi 1,48% yoy, dengan inflasi bulanan naik 0,24% mtm.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, memprediksi inflasi harga bergejolak akan naik signifikan, sementara inflasi inti diperkirakan stabil pada 0,20% mtm. Ia juga memperkirakan inflasi tahun 2024 akan berada dalam target Bank Indonesia, yakni antara 1,7% hingga 2%.

Namun, meskipun ada kenaikan inflasi, Banjaran Surya Indrastomo dari BSI dan Hosianna Evalita Situmorang dari Bank Danamon berpendapat bahwa inflasi inti tetap rendah dan konsumsi masyarakat cenderung tertahan karena ketidakpastian ekonomi.

Akhir Tahun Jadi Momentum Emas Emiten Konsumer

Hairul Rizal 02 Dec 2024 Kontan
Momentum akhir tahun, terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, diprediksi akan memberikan dampak positif bagi emiten konsumer di Indonesia, dengan peningkatan konsumsi masyarakat, terutama di kalangan umat Kristiani yang memanfaatkan momen tersebut untuk berbelanja. Abdul Azis Setyo Wibowo, analis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, dan Patricia Gabriela, Senior Research Analyst dari BNI Sekuritas, sepakat bahwa konsumsi akan melonjak, memberi keuntungan bagi emiten di sektor ini.

Raden Bagus Bima, praktisi pasar modal, juga menilai bahwa sektor konsumer akan tetap prospektif hingga akhir tahun, didorong oleh tradisi peningkatan konsumsi menjelang libur akhir tahun, serta stimulus ekonomi yang meningkatkan daya beli masyarakat. Beberapa emiten, seperti INDF dan ICBP, sudah menunjukkan pertumbuhan laba yang positif.

Namun, Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, memperingatkan bahwa dampak dari momentum ini mungkin terbatas. Daya beli masyarakat yang masih lemah dan perubahan perilaku konsumen pasca-pandemi, di mana prioritas beralih ke kebutuhan dasar, bisa mengurangi dampak positif tersebut. Meskipun begitu, untuk jangka pendek, beberapa saham seperti ACES, ERAA, dan MYOR tetap direkomendasikan untuk dibeli.

Lesunya Proyek, Kredit Sindikasi Ikut Merosot

Hairul Rizal 02 Dec 2024 Kontan
Kredit perbankan mengalami pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan kredit korporasi, namun hal ini tidak diikuti oleh penurunan signifikan dalam kredit sindikasi. Pada tahun 2024, kesepakatan kredit sindikasi mengalami penurunan yang tajam, tercatat turun 34,9% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total kesepakatan hanya mencapai US$ 19,74 miliar hingga akhir November. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya proyek-proyek infrastruktur besar, yang biasanya menjadi sumber utama kredit sindikasi.

Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, menyatakan bahwa penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya proyek infrastruktur, seperti jalan tol dan pelabuhan, yang sebelumnya menjadi fokus utama dalam kredit sindikasi. Ia juga tidak dapat memprediksi apakah tren penurunan ini akan berlanjut di tahun depan, karena bergantung pada kondisi ekonomi dan proyek-proyek yang ada.

Di sisi lain, Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menjelaskan bahwa meskipun BNI berhasil mencatatkan posisi tertinggi dalam hal kredit sindikasi, pihaknya tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit korporasi, mengingat kualitas kredit di beberapa sektor, seperti UMKM, yang tengah memburuk. Oleh karena itu, BNI memilih untuk menggunakan skema kredit sindikasi guna membagi risiko.

Meskipun kredit korporasi menunjukkan pertumbuhan, penurunan dalam kredit sindikasi mencerminkan tantangan sektor infrastruktur yang mempengaruhi penyediaan kredit dengan nilai besar.

Daya Beli Kian Terpuruk akibat banyaknya pungutan

Yoga 02 Dec 2024 Kompas (H)

Kenaikan tarif PPN bukan satu-satunya faktor yang akan menggerus isi dompet masyarakat pada tahun 2025. Setidaknya, ada enam rencana pungutan dan iuran lain yang akan diterapkan pemerintah mulai tahun depan dan bakal semakin melemahkan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah. Enam rencana pungutan dan iuran lain itu adalah program asuransi wajib kendaraan bermotor, iuran wajib Tapera, kenaikan iuran BPJS Kesehatan, program dana pensiun wajib, cukai minuman berpemanis dalam kemasan, serta normalisasi PPh final UMKM. Jika sejumlah kebijakan itu diterapkan pada 2025, akumulasi dampaknya bisa menjadi bumerang yang mengorbankan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah lesunya kondisi daya beli masyarakat dan dunia usaha.

Efek implementasi kebijakan itu terhadap kantong masyarakat berbeda. Ada yang berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa serta mendorong inflasi. Sebut saja, kenaikan tarif PPN dari 11 % menjadi 12 % pada 1 Januari 2025, yang akan menaikkan harga sejumlah barang dan jasa di pasaran. Simulasi yang dibuat oleh Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menunjukkan, dampak kenaikan tarif PPN dan pembatasan subsidi BBM bisa membuat inflasi tahun depan meningkat signifikan. Jika pemerintah tidak menaikkan tarif PPN dan membatasi BBM subsidi, proyeksi inflasi 2025 berada di kisaran 1,3-1,7 %. Namun, jika pemerintah memutuskan tetap memberlakukan dua kebijakan itu, proyeksi inflasi bisa naik menjadi 2,0-2,6 %.

”Banyak rencana kebijakan yang lebih berpotensi menekan ketimbang mendorong pertumbuhan kelas menengah. Padahal, kelompok ini berkontribusi paling besar terhadap transaksi barang dan jasa di Indonesia. Jika tak ada perubahan signifikan, ekonomi tidak akan lebih baik dari sekarang,” kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, Minggu (1/12). Direktur Kebijakan Publik Center of Economics and Law Studies (Celios) Media Wahyudi Askar mengatakan, dibanding kelompok miskin dan rentan, masyarakat kelas menengah akan mengalami tambahan pengeluaran terbesar, yakni Rp 354.293 per bulan atau Rp 4,2 juta per tahun. Untuk buruh bergaji Rp 5 juta, pengeluaran bulanan meningkat hingga Rp 357.000. ”Tanpa memasukkan indikator pungutan dan iuran lain saja, pengeluaran masyarakat sudah akan meningkat signifikan. Apalagi dengan tambahan pungutan iuran lain tahun depan,” kata Media. (Yoga)


Pilihan Editor