Bahaya Penyakit Mulut dan Kuku pada Sapi Impor dari Brasil yang Harus Diwaspadai Pemerintah
Sri Mulyani Prioritaskan Sektor Pertanian
Fahri Hamzah Ungkap Tantangan Jalankan Program 3 Juta Rumah: Banyak Industri Properti jadi Spekulan Tanah
Peringatan Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan Menyisakan Catatan Tersendiri
Menjawab Tantangan Ekonomi 2025
Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan serangkaian langkah untuk mengatasi tantangan global dan mencapai target pertumbuhan ekonomi tinggi hingga 8%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa ketidakpastian global, seperti konflik geopolitik, perubahan kepemimpinan politik, suku bunga tinggi, dan potensi perang dagang, menjadi tantangan utama yang harus dihadapi. Namun, Airlangga tetap optimistis dengan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat.
Beberapa langkah penting yang disiapkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% meliputi:
- Mendorong konsumsi masyarakat dan sektor pariwisata dengan pembukaan kembali rute penerbangan dan mempermudah izin event.
- Penghiliran sumber daya alam untuk melindungi komoditas dari fluktuasi harga, serta peningkatan kapasitas energi terbarukan.
- Meningkatkan produktivitas investasi dengan menurunkan rasio incremental capital output ratio (ICOR) dan fokus pada pembangunan infrastruktur yang terkoneksi dengan daerah produksi.
- Strategi investasi berkelanjutan yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, dengan fokus pada sektor energi baru terbarukan (EBT), ekonomi digital, dan manufaktur berbasis ekspor.
Di sisi lain, Kementerian Investasi dan Hilirisasi memprioritaskan penghiliran komoditas strategis seperti nikel, tembaga, dan kelapa sawit, dengan potensi investasi mencapai US$618 miliar. Sektor energi terbarukan dan manufaktur juga memiliki potensi investasi yang besar, diharapkan dapat mendongkrak target investasi pemerintah.
Dari perspektif ekonomi, Aviliani, ekonom Indef, mengingatkan agar penghiliran fokus pada sektor-sektor dengan daya saing tinggi dan memperhatikan sisi permintaan. Bank Mandiri juga mendukung dengan roadmap untuk mendorong sektor-sektor utama seperti tambang, energi, manufaktur, perdagangan, kesehatan, pertanian, dan pariwisata, yang diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja dan mendorong konsumsi masyarakat.
Secara keseluruhan, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%, pemerintah akan mengandalkan investasi yang mencapai Rp7.500 triliun dan mendorong penciptaan lapangan kerja agar konsumsi masyarakat tetap tinggi.
Hambatan Pelaksanaan Program Perumahan Rakyat
Program Pembangunan 3 Juta Rumah per tahun yang digulirkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merupakan langkah besar dalam mengatasi backlog perumahan di Indonesia, yang saat ini mencapai 9,9 juta unit pada 2023. Program ini patut diapresiasi karena tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Program Sejuta Rumah (PRS) pada era pemerintahan Jokowi.
Namun, untuk mencapai keberhasilan program ini, beberapa faktor kunci perlu dipenuhi, antara lain:
- Pendanaan: Program ini tidak bisa hanya mengandalkan anggaran APBN. Oleh karena itu, diperlukan terobosan seperti penyediaan tanah murah, pengurangan biaya perpajakan dan perizinan, serta efisiensi biaya material melalui sistem belanja terpusat.
- Koordinasi antar Kementerian: Terobosan-terobosan tersebut memerlukan koordinasi yang baik antara kementerian terkait, seperti Kementerian Keuangan, ATR, dan Kemendagri, melalui MoU untuk menciptakan sinergi dalam pembangunan rumah.
- Legalitas dan Keamanan Lahan: Untuk rumah yang dibangun di atas tanah sitaan negara, legalitas dan jaminan kepemilikan harus dijaga agar pemilik rumah tidak digusur di kemudian hari.
- Kualitas Pembangunan: Meskipun rumah yang dibangun sederhana, kualitas material dan standar bangunan harus tetap diperhatikan.
- Sumber Pendanaan Alternatif: Selain perbankan, pemerintah harus mempertimbangkan sumber pendanaan lain untuk menghindari konsentrasi risiko di sektor perumahan.
- Kelancaran Rantai Pasokan: Kelancaran pasokan bahan bangunan juga penting untuk memenuhi target pembangunan rumah yang tinggi setiap bulannya.
- Dampak Ekonomi: Pembangunan rumah dapat menggerakkan banyak subsektor ekonomi dan membantu mengurangi tingkat pengangguran terbuka.
- Pemanfaatan Rumah Susun: Belajar dari China, Indonesia bisa mengembangkan rumah susun sebagai solusi keterbatasan lahan.
- Pengelolaan BP Tapera: BP Tapera, yang mengelola program rumah subsidi, perlu diperkuat untuk melindungi kepentingan masyarakat dan mendukung kelancaran pembiayaan perumahan.
Rintangan dalam Mengembangkan Energi Bersih
Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal distribusi dan infrastruktur. Suroso Isnandar, Direktur Manajemen Risiko PT PLN, menjelaskan bahwa banyak pusat EBT di Indonesia terletak jauh dari pusat permintaan listrik, seperti PLTA Kayan di Kalimantan Utara, yang membuat penyerapannya tidak optimal. Untuk mengatasi masalah ini, PLN berencana membangun "green enabling super-grid" sebagai saluran penghubung antara sumber energi terbarukan dengan pusat permintaan listrik.
Selain itu, pembangunan infrastruktur EBT memerlukan investasi besar, diperkirakan sekitar US$235 miliar hingga 2040. Hal ini mencakup proyek pembangkit EBT dan transmisi listrik, termasuk smart grid, untuk meningkatkan kapasitas EBT yang ada. Tantangan lainnya adalah pemanfaatan gas sebagai sumber energi alternatif, di mana PLN menghadapi potensi kekurangan kargo LNG pada tahun depan karena alokasi yang terbatas. Pemerintah juga berupaya meningkatkan produksi dan distribusi gas domestik melalui pembangunan jaringan gas.
Secara keseluruhan, meskipun Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat besar, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah dan PLN dalam mengatasi masalah infrastruktur, perizinan, dan investasi untuk mempercepat transisi energi menuju net-zero emission pada 2060.
Usulan Pemerintah: Penyidik Tunggal untuk Efisiensi
Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan wacana untuk menunjuk penyidik tunggal dalam pengusutan kasus tindak pidana korupsi, yang akan ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Saat ini, terdapat tiga lembaga penegak hukum yang memiliki kewenangan dalam mengusut kasus korupsi, yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Kejaksaan Agung (Kejagung), dan KPK. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menjelaskan bahwa kajian terkait penyidik tunggal masih dalam tahap diskusi dan memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai kesimpulan.
Yusril yang juga merupakan mantan Menteri Kehakiman, mengungkapkan bahwa KPK memiliki kewenangan luar biasa karena hukum acara yang diterapkan berbeda dengan KUHAP. Meskipun sudah lebih dari 20 tahun KPK beroperasi, Yusril mengakui bahwa saat ini ada pemikiran untuk menetapkan penyidik tunggal dalam pengusutan kasus korupsi, mengingat ada tiga lembaga penegak hukum yang memiliki kewenangan yang sama dalam hal ini.









