Program 3 Juta Rumah menggunakan Lahan Sawah di Jawa
Pemerintah berencana membuat kebijakan tentang sawah atau lahan pertanian pangan di Jawa bisa dialihkan untuk pembangunan 3 juta rumah dan hilirisasi. Rencana itu dinilai berlawanan dengan program swasembada pangan dan berpotensi menambah jumlah petani gurem. Rencana kebijakan menyangkut kawasan pertanian pangan berkelanjutan (KP2B) itu akan dimasukkan dalam Rancangan PP tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RPP RTRW) Nasional 2025-2045. RPP RTRW tengah disusun Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. KP2B akan mengakomodasi, alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan di Pulau Jawa untuk program 3 juta rumah per tahun serta program hilirisasi. Pengembang yang memanfaatkan sawah di suatu daerah di Jawa tidak diwajibkan mencetak sawah pengganti di daerah itu, tetapi di luar Jawa.
Menteri ATR dan Kepala BPN, Nusron Wahid menyebutkan, RPP RTRW itu ditargetkan tuntas pada triwulan I-2025. Kebijakan itu merupakan solusi untuk mengakomodasi kepentingan pangan, papan, dan hilirisasi. Lahan di Jawa yang sudah padat penduduk digunakan untuk perumahan dan hilirisasi, sedangkan lahan di luar Jawa yang masih luas untuk ketahanan pangan (Kompas, 12/12/2024). Kepala Departemen Kampanye dan Manajemen Pengetahuan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Benny Wijaya, Jumat (13/12) berpendapat, rencana itu bertolak belakang dengan program swasembada pangan yang tengah digulirkan Presiden Prabowo dan berpotensi menambah jumlah petani gurem atau yang memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar. ”Justru seharusnya pemerintah memproteksi sawah-sawah yang masih tersisa, khususnya di Jawa. Jika perlu, penguasaan tanah petani gurem perlu ditambah melalui program redistribusi tanah,” ujar Benny. (Yoga)
Program 3 Juta Rumah
Siniar Jela$in Dong Tempo Raih Anugerah Jurnalistik CISDI
Permudah Perdagangan Karbon untuk Dana Besar
Jepang Membutuhkan Jutaan tenaga Kerja Asing
Pemerintah Harus Tegas Berantas Rokok Ilegal
Pasar Saham Mulai Mendapat Tertekan Berat
Pemerintah Telah Menarik Utang Sebesar Rp 438,6 Triliun
Bank dan Fintech Berkolaborasi untuk Mendukung Perekonomain Global
Dilema Pemerintah atas Emisi Obligasi
Penerbitan surat utang oleh Pemerintah Indonesia pada tahun depan akan menghadapi situasi yang dilematis. Di satu sisi, ada peluang untuk penurunan yield seiring dengan turunnya inflasi global dan kemungkinan pelonggaran moneter. Namun, tantangan utama adalah likuiditas yang terbatas dan risiko over-supply surat utang. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan yield SUN tenor 10 tahun pada 2025 berada di kisaran 6,31%-6,69%, lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi tahun 2024. Namun, pemerintah menargetkan yield di level 7%, yang mencerminkan tantangan besar terkait tingginya pasokan surat utang dan terbatasnya daya serap domestik.
Pemerintah menghadapi beban jatuh tempo yang signifikan pada 2025, dengan defisit anggaran yang diperkirakan meningkat. Selain itu, proyeksi penerbitan obligasi korporasi juga menambah tekanan kelebihan pasokan di pasar obligasi. Tantangan lainnya termasuk keterbatasan likuiditas yang disebabkan oleh lesunya pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan, serta persaingan dengan instrumen investasi lain seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Risiko eksternal, seperti pelemahan rupiah akibat kebijakan Donald Trump dan stimulus ekonomi China, juga dapat memengaruhi daya tarik SUN Indonesia di pasar global. Meskipun demikian, beberapa riset optimis bahwa pasar modal akan tetap melampaui kinerjanya pada 2024 dengan adanya ruang penurunan suku bunga. Pemerintah berusaha menjaga stabilitas dan kondusivitas pasar melalui kebijakan ekonomi makro yang stabil dan diversifikasi instrumen serta basis investor.









