Napas Tambahan Usaha Kecil
Keputusan pemerintah membolehkan mudik selama libur Idul Fitri 1443 Hijriah ditopang makin terkendalinya penularan Covid-19 membantu pulihnya pendapatan pelaku UMKM, serta masyarakat pengelola desa wisata di sejumlah daerah. Beberapa pihak menyebut kondisi sudah makin mirip seperti sebelum wabah. Betapa gembiranya para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang menangguk untung selama musim mudik Lebaran. Mereka mengatakan jumlah tamu meningkat dan juga penjualan melonjak. Sukacita dan senyum tampak di wajah mereka. 85 juta orang melakukan mudik tahun ini. Mereka dipastikan membawa uang dalam jumlah yang tidak kecil. Mereka membelanjakan uang itu untuk berbagai keperluan, seperti untuk transportasi, penginapan, kuliner, berwisata, dan membeli suvenir. Suasana seperti ini boleh dibilang mirip sebelum pandemi. Oleh karena itu, libur Lebaran kali ini memberi napas tambahan bagi berbagai jenis UKM. Ekonomi di daerah yang sudah lama lesu secara perlahan mulai bergairah dan bergerak.
UKM sudah lama menjadi andalan selama krisis. Mereka juga telah berperan menjadi bantalan ekonomi di sejumlah daerah sepanjang masa pandemi ini. Mereka masih bergerak di tengah kondisi yang tidak menguntungkan. Mereka juga masih diharapkan menjadi penopang bagi pergerakan ekonomi di tingkat mikro di tengah berbagai ketidakpastian. Oleh karena itu, pemerintah perlu berterima kasih kepada mereka. Pemerintah masih perlu memberikan bantuan kepada mereka agar mereka bisa terus bertahan. Keleluasaan dalam urusan finansial, kemudahan dalam perizinan, penanganan kelompok preman, dan lain-lain merupakan bentuk bantuan pemerintah yang ditunggu para pelaku UKM. (Yoga)
Bulog Siap Tampung dan Distribusikan
Perum Bulog yang mendapat penugasan untuk mendistribusikan minyak goreng curah bersubsidi ke daerah-daerah telah menyiapkan 504 kompleks gudang di seluruh Indonesia. Namun, pengadaan dan distribusi hingga kini belum dilakukan karena masih menunggu rapat koordinasi terbatas Kemenko Bidang Perekonomian. Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Bulog Mokhamad Suyamto (6/5) mengatakan, pihaknya memang akan mendapat penugasan penyaluran minyak goreng curah bersubsidi. Akan tetapi, mekanisme pelaksanaannya baru akan ditentukan dalam rakortas di Kemenko Bidang Perekonomian. Apabila sudah ada penugasan, produsen akan mengirim barang ke gudang-gudang Bulog. ”Dari gudang provinsi akan kami gerakkan ke gudang-gudang kami di kabupaten/kota. Itu untuk mempercepat distribusi (minyak goreng curah) sampai ke masyarakat,” ujar Suyamto.
Sebelumnya, pemerintah melarang sementara ekspor CPO dan sejumlah produk turunannya refined, bleached, deodorized (RBD) palm oil, RBD palm olein, dan minyak jelantah mulai Kamis (28/4). Ketentuan itu termaktub dalam Permendag No 22 Tahun 2022. Pemerintah menyebut kebijakan tersebut guna memastikan pasokan minyak goreng curah bersubsidi merata di seluruh Indonesia, dengan harga Rp 14.000 per liter atau sesuai HET. Bulog pun ditugaskan untuk mendistribusikan minyak goreng curah dari produsen yang biasa mengekspor dan tak memiliki jaringan distribusi. Sementara itu, ID Food atau induk BUMN Pangan, yang sejak beberapa bulan lalu mendistribusikan minyak goreng curah ke berbagai wilayah, siap untuk terus bersinergi memastikan ketersediaan pangan masyarakat, termasuk saat diberlakukan pelarangan sementara ekspor CPO dan produk turunannya. ”Kami berkoordinasi aktif dengan regulator ataupun kementerian terkait dan produsen minyak goreng. ID Food akan tetap berkomitmen menjaga ketersediaan pasokan pangan dengan membantu pemerintah dalam pendistribusian minyak goreng ke masyarakat. (Juga) Bersinergi dengan para produsen minyak goreng,” tutur Dirut Holding Pangan ID Food Frans Marganda Tambunan. (Yoga)
Investor Lebih Selektif Pilih Saham Teknologi
Kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed, berpotensi mendorong investor menggeser perburuan investasi ke saham defensif. Namun, bukan berarti saham teknologi tidak lagi diminati. Investor diperkirakan lebih selektif memburu saham perusahaan teknologi dengan fundamental kinerja kuat dan harganya tidak terlalu mahal. ”Siklus di pasar saham sedang berpindah. Pasar (investor) cenderung akan lebih memburu saham defensif atau saham yang tidak terpengaruh oleh kinerja atau kondisi ekonomi, termasuk saham komoditas. Harga saham sejumlah perusahaan teknologi yang semula tinggi karena ekspektasi berlebihan kini terpukul,” ujar Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David E Sumual (6/5). David berpendapat, investor melakukan seleksi. Mereka diperkirakan semakin ketat memperhatikan kinerja perusahaan teknologi sebelum memutuskan berinvestasi. ”Misalnya, di sektor perdagangan secara elektronik (e-dagang). Perusahaan teknologi yang berkecimpung di sektor itu tidak mungkin hanya satu. Dengan kondisi sekarang, investor akan menekankan yang punya fundamental kinerja bagus,” ujar David.
Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira berpendapat, investor akan merespons kenaikan suku bunga acuanThe Fed dan sinyal naiknya suku bunga BI, ada kecenderungan perburuan di saham teknologi tetap terjadi. Tetapi, investor akan selektif. Jika harga saham perusahaan teknologi terlalu mahal, investor belum tentu akan merespons. Selain itu, perburuan saham teknologi di tengah kenaikan suku bunga acuan The Fed tergantung dari lokasi pasar di mana perusahaan teknologi mencatatkan saham. Permasalahannya, saham perusahaan teknologi di Indonesia masuk kategori lokasi pasar berkembang. Volatilitas pasarnya lebih tinggi. Sebelumnya, The Fed menaikkan tingkat suku bunga acuannya 50 basis poin, Rabu (4/5). Harga saham Grab yang melantai di Nasdaq, pada penutupan pasar, Kamis, turun 4,19 %. (Yoga)
Kemilau Mutiara Mulai Sulit Didapat
Produk mutiara laut selatan asal Indonesia berkualitas tinggi diprediksi semakin sulit didapat dalam beberapa tahun ke depan. Produksi mutiara cenderung terus turun justru ketika animo pasar dunia terhadap mutiara semakin tinggi. Mutiara hasil budidaya laut yang merupakan komoditas premium selama ini diidentikkan dengan pasar kelas atas atau kelompok usia matang. Di dunia, Indonesia tercatat sebagai penghasil terbesar mutiara laut selatan. Keunggulan jenis mutiara laut selatan (Pinctada maxima) ialah ukurannya yang lebih besar pada rentang 9-13 mm. Selain itu, warnanya lebih bervariasi, meliputi putih, perak, dan emas. Mutiara alami itu juga memiliki lapisan tebal dan kemilau yang lebih kuat dibanding jenis mutiara lain. Dari sisi kualitas, produk itu masih terbagi lagi atas beberapa tingkatan (grade), mulai dari kualitas tertinggi sampai terendah, yakni grade AAA, AA, A, B, dan C. Nilai mutiara ditentukan oleh bentuk dan kemulusannya serta ukuran dan warna. Pemasaran produk mutiara berkualitas tinggi hingga saat ini didominasi untuk pasar ekspor.
Anggota Majelis Pimpinan Perusahaan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi), Ambrosius Kengry Retanubun, mengatakan, penurunan produksi mutiara laut selatan terjadi pada seluruh grade, di hampir semua negara produsen. Sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020, produksi mutiara turun 20 %. Produksi yang menurun di Indonesia terutama dipicu penurunan kualitas lingkungan dan dampak perubahan iklim. Faktor lainnya, ongkos produksi budidaya mutiara semakin mahal, terutama setelah harga bahan bakar minyak meroket. Apalagi, budidaya mutiara umumnya dilakukan di perairan di kawasan terpencil dengan tujuan menekan risiko pencemaran. Sebagian produk mutiara laut selatan asal Australia juga dibudidayakan di Indonesia melalui skema investasi penanaman modal asing. Penurunan produksi menyebabkan harga mutiara terdongkrak, terutama mutiara kualitas tertinggi. Seorang pengusaha mutiara menuturkan, di masa lalu, harga 1 kg mutiara laut selatan grade AAA berukuran 9 mm setara harga satu mobil Avanza. Kini,harga 1 kg mutiara laut selatan itu sudah setara dengan satu mobil Alphard atau hamper Rp 2 miliar. Produksi mutiara kualitas tertinggi ditaksir 15-20 %, sedangkan mutiara dengan kualitas sedang dan rendah mendominasi, yakni sekitar 50 % total produksi mutiara laut selatan Indonesia. (Yoga)
Kembalinya Berkah dari Gaduh Pasar Beringharjo
Masa libur Lebaran membuat senyum para pedagang oleh-oleh di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, kembali tersungging. Barang dagangan yang lama tak tersentuh selama pandemi Covid-19 akhirnya diborong pelancong. Gaduh tawar-menawar barang di lorong-lorong pasar bak bunyi gemerincing rupiah. Sebagian pengunjung yang berjejal di pasar seluas 2,5 hektar di jantung kota tersebut mampir ke los penjual batik saat ada kain, kemeja, dan daster, yang dirasa menarik. Status pandemi tak terlalu dihiraukan pedagang maupun wisatawan. Mereka memanfaatkan ujung libur Lebaran yang tinggal beberapa hari untuk berburu oleh-oleh sebelum pulang ke daerah asal. Tak sungkan-sungkan, tangan para wisatawan menjelajah satu per satu baju ataupun daster batik yang tergantung di los-los pasar. Beringharjo dihuni sedikitnya 6.000 pedagang dengan 5.000 los yang menjual aneka barang. Namun, kain dan batik tetap jadi incaran pengunjung. Selain murah dan bisa ditawar, pilihannya pun beraneka ragam. Tawar-menawar berlangsung sebentar. Paling lama 10 menit. Begitu harga disepakati, dengan cekatan, si pedagang membungkus batik-batik yang dipilih ke kantong plastik loreng hitam putih.
Sri Wahyuni (64), pelancong asal Bekasi, Jabar, berjalan keluar pasar. Dua tangannya menenteng tas plastik loreng tipis yang terlihat penuh terisi sejumlah daster dan baju batik yang baru saja dibeli. Saking penuhnya tangan, si cucu menggandeng Sri dengan berpegangan pada pergelangan tangan. Dua jam lamanya, Wahyuni bersama anak dan cucunya berburu oleh-oleh di pasar tersebut. Wajahnya tampak lelah, tetapi berbunga-bunga, karena dirinya termasuk wisatawan yang sudah dua tahun ini tidak piknik ke mana-mana akibat pandemi Covid-19.
Tak dimungkiri, suasana lorong-lorong Pasar Beringharjo saat masa liburan sangat berisik dengan suara pedagang dan pembeli yang tawar-menawar. Seorang penjual bisa melayani lebih dari satu rombongan. Bahkan, ada pembeli yang harus mengantre agar terlayani. Pembeli yang enggan mengantre akan mencari los yang lebih sepi di sirip-sirip lorong utama. Riyanti (57), salah seorang pedagang batik, menyebutkan, penjualannya meningkat selama libur Lebaran ini. Peningkatan terjadi beberapa hari sebelum hari raya. Setelah hari raya, penjualannya kian melambung. Dia pun mengaku,Lebaran tahun ini sudah menyrupai periode sama pada masa-masa sebelum pandemi. Jika rata-rata barang dagangannya yang terjual seharga Rp 70.000 per potong, Riyanti bisa membawa pulang sedikitnya Rp 3,5 juta. Sebab, ia mengaku rata-rata bisa menjual 50 potong kain dan daster batik setiap hari. (Yoga)
Libur Lebaran Dongkrak Okupansi Hotel
Pada masa libur Lebaran tahun ini, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta mencatat, okupansi hotel berkisar 50-80 %. ”Angka ini lebih baik dibandingkan okupansi perhotelan 2021,” kata Ketua PHRI DKI Jakarta Sutrisno Iwantono, Jumat (6/5). Menurut Sutrisno, okupansi hotel yang cukup tinggi itu turut dipengaruhi kebijakan pelonggaran yang diambil pemerintah pada Lebaran 2022. Salah satunya masyarakat bisa melakukan mudik atau pulang kampung. Di Jakarta, tamu hotel tidak hanya dari luar daerah. Sebagian warga Jakarta yang tidak mudik memilih tinggal di hotel selama libur Lebaran. Apalagi, mereka juga ditinggal pulang kampung oleh asisten rumah tangganya. Okupansi tinggi, menurut Sutrisno, bakal terjadi setidaknya sampai akhir pekan ini. Hal itu terutama terjadi pada hotel-hotel yang memiliki resor atau tempat rekreasi, misalnya di Kepulauan Seribu. Untuk hotel-hotel yang tidak memiliki fasilitas resor tidak akan terlalu banyak tamu.
Senyra Fransiska, Assistant Marketing Communication Manager Grand Mercure Hotel Kemayoran, menyatakan, pada masa libur Lebaran 2022, hotel ini mencatatkan okupansi 76-77 %. Okupansi tinggi tercatat pada Senin (2/5). Di sejumlah hotel bintang lima di Jakarta, okupansi selama libur Lebaran juga cukup tinggi. Di Jakarta Intercontinental Hotel, okupansi mencapai 80-85 %. ”Sebagian besar tamu yang menginap dari luar Jakarta, seperti dari Jateng dan Jatim,” kata Wakil Presdir PT Metropolitan Kentjana Tbk Jeffri S Tanudjaja. Adapun tamu menginap di Hotel Mulia Jakarta pada libur Lebaran ini di kisaran lebih dari 60 %. ”Kami memang melihat ada peningkatan okupansi di atas 60 % pada libur Lebaran ini,” ucap Rully Rachman, Director of Sales and Marketing Hotel Mulia Senayan Jakarta.
Wakil Ketua Badan Pimpinan Cabang PHRI Kabupaten Bogor Boboy Ruswandi menyebutkan, wisatawan datang dari Jabodetabek dan sekitarnya. Mereka berlibur ke curug, Gunung Mas, kebun teh, dan banyak pilihan wisata di Puncak. ”Okupansi 60-80 % berarti 8.000 kamar terisi wisatawan. Itu untuk penginapan yang ada Puncak saja,” ujarnya. PHRI Banten mencatat okupansi penginapan mencapai 80 % di 40 hotel yang ada di Anyer. Rata-rata wisatawan menginap hingga Minggu (8/5) atau hari terakhir liburan. ”Sudah dua kali Lebaran pariwisata Banten terpuruk. Kali ini ramai, semoga ke depan lebih baik,” kata Ketua PHRI Banten Achmad Sari Alam. (Yoga)
Harap-Harap Cemas Hadapi Strategi Moneter AS
Bank sentral AS, Federal Reserve mengumumkan kenaikan suku bunga 0,5 % pada Rabu (4/5). Kenaikan ini dirasa cukup tajam dan menjadi yang terbesar setidaknya selama lebih dari dua dekade terakhir. Di satu sisi, strategi memompa suku bunga ini merupakan reaksi yang logis dari tren inflasi yang terus meroket selama setahun terakhir. Pada Januari 2021, inflasi y-o-y di AS berada di kisaran 1,4 %. Angka tersebut terus naik hingga ke titik 5 % hanya dalam waktu empat bulan saja. Pada puncaknya, inflasi menyentuh angka 8,5 % pada Maret 2022. Angka ini jauh dari yang ditargetkan oleh The Fed tahun ini, yakni inflasi di kisaran 2 %. Akibat terganggunya rantai pasok minyak dunia akibat perang Rusia-Ukraina, sektor energi paling terpukul. Dalam periode waktu tersebut, energi di AS mengalami inflasi y-o-y 32 %. Bahan makanan juga menjadi sektor yang mengalami inflasi cukup tinggi. Pada Maret lalu, inflasi produk kategori ini nyaris menyentuh 9 %. Tren serupa terasa pada berbagai kebutuhan pokok lain seperti sandang (6,8 %) dan papan (5 %). Berdasarkan catatan dari The New York Times, kenaikan harga ini merupakan yang terburuk setidaknya empat dekade terakhir.
Langkah The Fed menaikkan suku bunga dapat dilihat sebagai upaya AS memitigasi perburukan inflasi dalam waktu dekat. Kenaikan tajam dari suku bunga umumnya akan melemahkan permintaan di pasar, memancing orang untuk menyimpan uang di bank atau instrumen keuangan lain. Hal ini diharapkan akan ”mendinginkan” mesin perekonomian sehingga inflasi dapat ditekan. Namun, apabila tidak hati-hati, kebijakan ini bisa menjadi bumerang. Mesin ekonomi yang terlampau dingin bisa saja gagal untuk kembali mendapatkan momentum. Maka, langkah menaikkan suku bunga justru dapat menyebabkan resesi. Risiko ini kian mengkhawatirkan di tengah tekanan yang tengah dihadapi perekonomian AS. Di satu sisi, inflasi diakibatkan tekanan krisis Rusia–Ukraina. Sehari berselang, kebijakan The Fed belum mendapat reaksi keras dari Wall Street. Setelah pengumuman dari bank sentral, pasar justru merespons positif. Hal tersebut terlihat dari penutupan Wall Street pada Rabu (4/5) dengan tren positif di beberapa indeks. seperti Dow Jones yang naik 2,81 %, S&P 500 terdongkrak 2,99 %, dan NASDAQ yang turut naik 3,19 %. Hal ini menandakan pasar finansial global relative ”merestui” langkah The Fed. Meskipun begitu, bukan berarti dampak global dari kebijakan tersebut tidak akan dirasakan, dalam jangka yang lebih panjang, dampak yang lebih serius dapat terasa apabila langkah The Fed terbukti memperlambat laju perekonomian AS secara signifikan. (Yoga)
Merekayasa Arus Balik
Penanganan arus balik Lebaran yang puncaknya diperkirakan terjadi pada hari ini, Sabtu, (7/5) dan Minggu, (8/5), bakal lebih menantang. Akan tetapi, respons kebijakan yang cepat dan dinamis di lapangan diyakini efektif menekan kemacetan.Berbeda dengan arus mudik sebelumnya yang tercatat sebanyak 14 juta orang meninggalkan Jakarta, jumlah arus balik menuju ke Ibu Kota diprediksi jauh lebih tinggi. Sejumlah kebijakan diambil pemerintah untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan mulai dari imbauan Presiden Joko Widodo agar pemudik dapat kembali ke Jakarta lebih awal, memperpanjang hari libur anak sekolah hingga 12 Mei, hingga kemudahan bagi Aparatur Sipil Negara untuk bekerja dari rumah. Kebijakan baru ini diharapkan dapat mengendalikan volume pemudik menuju Jakarta. Kebijakan baru ini menyempurnakan aturan sebelumnya seperti rekayasa ganjil genap, opsi satu arah atau one way untuk mengurai kemacetan.
Sementara itu, Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Irjen Pol. Firman Shantyabudi menyatakan, pihaknya merekayasa penerapan waktu sistem one way berdasarkan kondisi di lapangan
Kebijakan Pelarangan Ekspor CPO
Pemerintah memutuskan melarang ekspor bahan baku minyak goreng. Aturan ini lebih lanjut dijabarkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 22/2022 tentang Larangan Sementara Ekspor Crude Palm Oil (CPO), Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil(RBDPO), Refined, Bleached and Deodorized Palm Olein (RBD Palm Olein) dan Used Cooking Oil (UCO).Presiden Joko Widodo memandang kebutuhan minyak goreng dalam negeri merupakan prioritas. Beliau mengakui kebijakan larangan ekspor bahan baku minyak goreng tersebut dapat berdampak negatif, di antaranya pengurangan produksi dan hasil panen sawit petani yang tidak terserap. Artikel XI Perjanjian GATT 1994, misalnya, melarang opsi restriksi ekspor selain yang dilakukan melalui instrumen tarif, pajak atau pungutan lain. Namun pada bagian lain, WTO mengizinkan anggotanya menerapkan restriksi yang bersifat sementara guna mencegah atau mengatasi kondisi kritis/kelangkaan bahan pangan/barang esensial lain di negara anggota.
Langkah kebijakan pelarangan ekspor bahan baku minyak goreng, dengan demikian, dapat dijustifikasi oleh ketentuan perdagangan internasional karena beleid tersebut bersifat sementara. Selama ini produk jadi turunan sawit seperti minyak goreng, produk oleochemical atau biodiesel yang menggunakan bahan baku CPO menjadi produk andalan ekspor Indonesia yang diekspor secara bebas ke manca negara.
Libur Lebaran Pulihkan Usaha Kecil dan Desa Wisata
Keputusan pemerintah mengizinkan mudik selama libur Idul Fitri 1443 Hijriah, berkat terkendalinya penularan Covid-19, membantu pemulihan pendapatan pelaku UMKM serta masyarakat pengelola desa wisata di daerah-daerah. Beberapa di antara mereka menyebut kondisi makin mirip seperti sebelum wabah Covid-19. Endar (44), pemilik warung makan Ikan Bakar Laut Eretan di Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, Jabar, menuturkan, saat arus mudik Lebaran, kebanyakan pengunjung ialah pemudik bersepeda motor. Mereka mampir untuk beristirahat di tengah perjalanan. Kenaikan jumlah konsumen khususnya terjadi pada hari kedua Lebaran, Selasa (3/5). Banyak pengunjung sampai mengantre. Adapun tempat makan berkapasitas 100 pembeli. Karena pengunjung membeludak, Endar kehabisan stok ikan. Padahal, biasanya, ia selalu memiliki stok ikan seperti kakap, kerapu, etong, dan bawal dengan total bobot 4 kuintal. Untungnya, pasokan ikan segera datang. Ia juga menambah jumlah pekerja di warung sampai 15 orang dari biasanya hanya tiga orang. Pada hari biasa di masa pandemi, pendapatan warung makannya tak lebih dari Rp 5 juta per hari, termasuk di akhir pekan. Kini, pada masa libur Lebaran, Rp 20 juta bisa diraup dalam sehari.
Di Cirebon, Jabar, pemilik Batik Nefa di Pasar Batik Trusmi, Gunisa, mengatakan, pada Lebaran ini penjualan batik naik. Saat arus mudik, kebanyakan pembeli adalah warga setempat, sedangkan saat arus balik, kebanyakan pembeli dari luar kota. ”Jadi, pengunjung menikmati makanan di pusat kuliner yang ada di sentra batik, kemudian mereka melihat batik,” ujar Gunisa. Pada Lebaran tahun ini, penjualan batik meningkat 50 % dibandingkan hari biasa selama pandemi. Di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tingkat kunjungan tiga hari terakhir di Gubuk Kopi di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, sudah sama seperti sebelum pandemi, dengan rata-rata jumlah tamu lebih dari 1.000 orang per hari, ujar Agus Prayitno, pemilik Gubuk Kopi. Tamu biasanya datang ke GubukKopi untuk menikmati kopi atau teh tawar sembari mengunyah gula kelapa buatan petani setempat. Ada pula tawaran wisata edukasi tentang pembuatan gula kelapa disertai cerita kehidupan masyarakat Desa Karangrejo, yang pada masa lalu terbiasa memetik kelapa dan membuat gula merah sendiri. Aliran tamu itu membuat omzet penjualan gula merah di Gubuk Kopi mencapai Rp 5 juta-Rp 6 juta per hari.
Kebangkitan dirasakan pula oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Salah satu obyek rekreasinya ialah Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Ketua Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran, Mursidi,menjelaskan, peningkatan kunjungan wisatawan terjadi sejak sebelum Lebaran. Dari semula sekitar 50 orang per hari, jumlah pengunjung naik menjadi 150 orang per hari. Jumlah wisatawan melonjak lagi saat libur Lebaran. Pengunjung berjumlah lebih dari 500 orang pada H-2 Idul Fitri atau Selasa (3/5). Jumlah meningkat lagi menjadi lebih dari 1.000 orang pada Rabu (4/5). Geliat juga terlihat di Desa Wisata Pujon Kidul, Malang, Jatim. Salah satu atraksinya ialah Cafe Sawah, tempat kuliner di tengah sawah berlatar pemandangan pegunungan. Kepala Desa Pujon Kidul Udi Hartoko menyebut, pengunjung Cafe Sawah pada Senin (2/5) berjumlah 1.000-an orang, pada Selasa (3/5) 2.500-an orang, dan hari Rabu 3.700-an orang. Selama pandemi tahun lalu, jumlah tamu terbanyak dalam sehari sekitar 2.000 orang. (Yoga)









