Pekerja Masih Menanti Bantuan Subsidi Upah Cair
Program bantuan subsidi upah yang awalnya dijanjikan cair bulan April untuk menjaga daya beli pekerja di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok tak kunjung disalurkan. Pemerintah diharapkan segera mengeksekusi program tersebut untuk menjaga laju konsumsi masyarakat selepas momen hari raya. Menurut rencana awal, bantuan subsidi upah (BSU) akan ditujukan bagi 8,8 juta pekerja dengan gaji di bawah Rp 3,5 juta. Besaran yang diterima Rp 500.000 per orang per bulan, yang akan diberikan sekaligus untuk dua bulan. Pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp 8,8 triliun untuk menjalankan program tersebut. Namun, hingga sekarang, bantuan tak kunjung turun.
Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia Mirah Sumirat mengatakan, untuk memastikan geliat roda perekonomian tetap berjalan, konsumsi masyarakat seharusnya dijaga. Salah satunya, melalui instrument BSU bagi pekerja. Namun, bantuan itu belum juga cair meskipun awalnya pemerintah menjanjikan akan cair pada April 2022 bertepatan dengan momen Lebaran. Mirah pun meragukan kesiapan dana pemerintah untuk menjalankan program tersebut.
Komisioner Ombudsman RI, Robert Endy Jaweng, pun meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka kepada publik yang masih menanti turunnya BSU mengenai alasan di balik keterlambatan pencairan dana itu. Selain faktor regulasi yang belum selesai disusun, ia juga menduga ada masalah keterbatasan anggaran untuk membiayai program tersebut. Menurut dia, dana BSU yang terlambat cair dapat mengganggu daya beli pekerja di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Ia berharap, pemerintah dapat segera mengeksekusi program BSU untuk menjaga konsumsi masyarakat pasca-Lebaran. (Yoga)
Deindustrialisasi Dini Masih Mengancam
Realisasi investasi di sektor manufaktur pada triwulan I tahun 2022 meningkat cukup signifikan seiring upaya hilirisasi industri dan membaiknya kondisi penanganan pandemi Covid-19. Namun, kekhawatiran akan ancaman deindustrialisasi dini masih membayangi struktur perekonomian nasional. Terlebih, jika investasi yang masuk tidak diarahkan dengan tepat. Sepanjang Januari-Maret 2022, realisasi investasi sektor industri pengolahan mencapai Rp 103,5 triliun. Ini berkontribusi 36,7 % total nilai investasi sepanjang triwulan I-2022 sebesar Rp 282,4 triliun. Secara tahunan, investasi sektor manufaktur meningkat 17 %. Industri pengolahan mengalami pertumbuhan sejak dua tahun lalu meski di tengah pandemi. Berdasarkan data Kementerian Investasi, realisasi PMDN di industri manufaktur senilai Rp 25,6 triliun, berkontribusi 18,9 % total capaian PMDN yang menembus Rp 135,2 triliun.
Investasi terbesar pada industri makanan dan minuman senilai Rp 9,7 triliun melalui 2.181 proyek. Sementara realisasi PMA di sektor manufaktur senilai 5,4 miliar USD atau Rp 78,2 juta triliun (kurs Rp 14.498 per USD). Investasi itu menyumbang 52,9 % total capaian PMA pada triwulan I-2022 yang nilainya 10,3 miliar USD atau Rp 149,3 triliun. Penyumbang terbesar adalah investasi di industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar 2,5 miliar USD atau Rp 36,2 triliun dengan total 443 proyek. Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance Andry Satrio Nugroho menilai, kenaikan investasi di sektor manufaktur itu tidak serta-merta menunjukkan Indonesia sudah lepas dari bayang-bayang ancaman deindustrialisasi dini. Pasalnya, penurunan kontribusi industry manufaktur terhadap PDB masih terjadi. Pada 2021, industri pengolahan berkontribusi 19,25 % PDB, dengan kontribusi industri pengolahan nonmigas sebanyak 17,3 % PDB. Hal itu tetap menurun jika dibandingkan capaian tahun 2011, ketika kontribusi industri pengolahan terhadap PDB sebesar 21,76 % dan kontribusi industri pengolahan nonmigas 18,3 % ”Artinya, deindustrialisasi dini di Indonesia sebenarnya sudah terjadi. Kita belum mencapai peak atau puncak dari kinerja industri manufaktur, tetapi kontribusinya terus menurun,” kata Andry, Sabtu (7/5). (Yoga)
Dampak Kenaikan Suku Bunga Acuan The Fed Minim
Kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed sebesar 50 basis poin pada Rabu (4/5) diyakini tidak memengaruhi kinerja industri properti di Tanah Air. Jika BI merespon langkah The Fed itu dengan menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate, penyesuaian kredit kepemilikan rumah oleh bank juga tidak akan langsung diterapkan. ”BI mungkin akan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate, tetapi akan penuh kehati-hatian. Jika itu jadi dilakukan pun, pemerintah akan berhati-hati ambil kebijakan selanjutnya. Sebab, kondisi Indonesia, termasuk industri properti, sedang menuju pemulihan,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida (8/5). Menurut dia, 65 % pangsa pasar properti rumah adalah warga kelompok generasi milenial. Sebanyak 91 % pembelian rumah tapak memakai KPR. Harga rumah tapak yang mereka minati biasanya berkisar antara Rp 500 juta dan Rp 1 miliar. Pembayaran cicilan KPR ini biasanya mengandalkan sepertiga gaji mereka. Apabila suku bunga acuan BI naik, lalu bunga KPR ikut mengalami penyesuaian, hal itu akan memengaruhi nasabah
Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI Gede Widiade menambahkan, pemulihan bisnis dari dampak pandemi Covid-19 belum sepenuhnya terjadi. Di sisi lain, harga produksi properti sudah naik. Ini membuat harga jual ke masyarakatikut meningkat. Sementara kemampuan daya beli masyarakattak sama. Apalagi kemampuan pulih dari efek pandemi pun beragam. Rumah tapak yang paling laku berkisarRp 400juta hing- ga Rp 1 miliar. Tipe rumahnya biasanya memiliki luas bangunan mulai dari 36 meter persegi dan luas tanah mulai 60 meter persegi. Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira mengatakan, pihaknya memprediksi The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan tiga hingga empat kali lagi sampai akhir tahun karena melihat tren inflasi yang persisten. April lalu BI masih mempertahankan suku bunga acuanBI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,50 %. Tingkat suku bunga ini bertahan sejak Februari 2021. (Yoga)
Ekonomi Triwulan I-2022 Bisa Tumbuh 4,95 Persen
Meski terjadi ketegangan geopolitik yang dipicu konflik Rusia dan Ukraina, ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2022 bakal berada di kisaran 4,75-4,95 % secara tahunan. Walau perang itu memicu krisis ekonomi global dan disrupsi rantai pasok global, Indonesia mendapatkan kompensasi berupa kenaikan kinerja ekspor seiring lonjakan harga komoditas. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky (8/5) mengatakan, di tengah tantangan domestik dan global, perekonomian Indonesia pada triwulan pertama tahun ini diperkirakan masih bisa tumbuh 4,75-4,95 % dari periode yang sama tahun lalu. Ia menjelaskan, dari dalam negeri, konsumsi rumah tangga makin membaik setelah merosot karena tekanan ekonomi yang dipicu pandemi. Meningkatnya permintaan dan daya beli masyarakat telah mendorong aktivitas produksi dan mobilitas. Pada triwulan pertama tahun ini, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan 9,3 miliar USD, meningkat 20 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kombinasi surplus perdagangan dan arus modal asing membuat nilai tukar rupiah relative stabil. Sepanjang triwulan I-2022, nilai tukar rupiah terjaga di kisaran Rp 14.200-Rp 14.400 per USD.
Hal senada dikemukakan Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro. Peningkatan harga CPO, batubara, dan nikel akan meningkatkan transaksi belanja dan berujung pada perbaikan ekonomi di daerah. Selain itu, menurut Asmoro, pengendalian jumlah kasus Covid-19 telah menggairahkan lagi aktivitas ekonomi sehingga mengeskalasi pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan asumsi itu, tim ekonomi Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi di triwulan pertama tahun ini mencapai 4,95 % secara tahunan. (Yoga)
Risiko Global dan Local Ancam Pemulihan Ekonomi
Pasca libur Lebaran menjadi pertaruhan bagi Ekonomi Indonesia yang mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Jika kasus Covid-19 terkendal, tak meruyak, ekonomi bisa melaju. Pasalnya, indikator pemulihan ekonomi mulai tampak jelas. Pertama, proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022 mendekati level sebelum pandemi Covid-19. Kedua, penerimaan pajak juga lebih bergigi ketimbang sebelum pandemi. Indikator ketiga, emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kenaikan laba terus meningkat.
Mudik Lebaran Terbukti Memicu Lonjakan Belanja
Pelonggaran mobilitas masyarakat selama perayaan Ramadan 2022 mulai mengungkit belanja masyarakat. Hasil survei Bank Mandiri menunjukkan, tingkat belanja masyarakat menjelang Idul Fitri tahun 2022 lebih tinggi bila dibandingkan dengan 2021. Berdarkan laporan Mandiri Spending Index (MsI) yang diterima Kontan, Indeks Frekuensi Belanja pada periode puncak Ramadan 2022 tercatat 156,4, atau meningkat ketimbang 137,5 di puncak Ramadan 2021.
April, Inflasi Tertinggi Tiga Tahun Terakhir
Inflasi pada bulan April 2022 diprediksi lebih tinggi dibandingkan dengan bulan - bulan sebelumnya. Jika inflasi Maret sebesar 0,66% secara bulanan, inflasi April diprediksi sekitar 0,80% - 1,08%. Adapun inflasi tahunan berkisar 3,34% - 3,77%.
Rima Prama Artha, kepala ekonom Danareksa Research Institute (DRI) menyebut, pemicu inflasi April 2022 karena ada faktor musiman, Puasa dan Lebaran. Melihat proyeksi tersebut, ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyebut, ini merupakan pertama kalinya inflasi tahun ke tahun di atas 3% sejak September 2019. Bahkan, ia memperkirakan inflasi pada April 2022 ini menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Duit Menganggur Pemda di Perbankan Membengkak
Anggaran belanja pemerintah daerah (pemda) yang masih menganggur dan hanya ngendon di rekening perbankan makin tambun. Kementerian Keuangan mencatat, per Maret 2022 dana menganggur milik pemerintah daerah yang tersimpan di bank dan belum dibelanjakan sudah tembus angka Rp 202,35 triliun. Dana menganggur pemda ini naik 11% dibandingkan dengan periode Maret 2021 yang tercatat Rp 182,33 trilun. Bahkan jika dibandingkan dengan periode yang sama 2020 yang sebesar Rp 177,52 triliun malah lebih gede 14%. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Astera Primanto Bhakti mengatakan untuk mengurangi dana pemda yang menumpuk di bank, salah satu upaya pemerintah adalah mempercepat belanja modal minimal 40% dari pagu untuk menyerap produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Pembagian Dividen Jadi Pemanis Bursa
Musim pembagian dividen masih berlanjut. Setidaknya, ada 10 emiten berencana membagi dividen usai libur lebaran. Empat di antaranya menetapkan cum date dividen pada hari ini, Senin (9/5). Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengatakan, pembagian dividen akan memberi sentimen positif bagi saham tersebut dalam jangka pendek. Investor bisa memburu saham pembagi dividen, tapi cermati kecenderungan koreksi harga paska periode cum date atau saat ex date.
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menambahkan, di musim dividen Mei ini, kemungkinan investor tetap memburu emiten yang membagikan dividen secara rutin. "Jika emiten tersebut dalam lima tahun terakhir, termasuk di masa pandemi, mencatatkan kinerja stabil, maka akan cukup menarik bagi investor, karena ada ekspektasi dividen yang konsisten ke depannya," jelas Ivan.
Pemanis bursa
Tapi Daniel mengingatkan, keputusan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve menaikkan bunga 50 basis poin akan menjadi perhatian pasar. Dampak kenaikan suku bunga The Fed akan terasa dalam jangka menengah panjang.
OLIV Mematok Harga Saham Perdana Rp 100 per Saham
PT Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tbk telah menetapkan harga inital public offering (IPO) di Rp 100 per saham. Harga IPO ini merupakan batas bawah dari harga penawaran IPO calon emiten bersandi OLIV ini di kisaran Rp 100 hingga Rp 125 per saham. OLIV berencana menjual 400 juta uni saham ke publik.









