;

Kompetisi Cari Kerja di Ibu Kota Dimulai

Kompetisi Cari Kerja di Ibu Kota Dimulai

Sambil celingak-celinguk, Adarian (17) menghubungi kenalan yang akan mengantarnya ke daerah Citra 7 di Kalideres. Menurut rencana, pemuda asal Kecamatan Cibaliung, Pandeglang, Banten, ini bekerja menjaga empang dengan upah Rp 1,1 juta per bulan. Petualangan pertamanya ke Jakarta tahun 2021 sebagai pekerja konfeksi, dua bulan. Ia merasakan ”capek bukan main” lantaran sering begadang lembur tanpa kenaikan upah. Di tempat lain di sudut Terminal Kalideres, Khairul Anwar (32) tengah menyeruput kopi. Lelaki asal Lampung Timur ini meninggalkan istri dan dua anak 1 tahun dan 3 tahun untuk bekerja sebagai kuli bangunan di Pluit, Jakut. Khairul putus sekolah ketika kelas II SMP. Dia tergiur uang Rp 50.000-Rp 70.000 sebagai sopir tembak. Setelah itu ia melanglang ke Makassar dan Toraja di Sulawesi, Bali, Padang, Palembang, Lebak, dan Jakarta, bekerja sebagai buruh bangunan hingga buruh tani. Keputusan merantau ke kota metropolitan turut ditempuh Randi Septian (26), yang keluar dari pekerjaan sebagai karyawan hotel di Palembang, SumsSel, setahun lalu. Ia belum dapat pekerjaan meski melamar di hotel dan perusahaan lain.

Disdukcapil DKI Jakarta memprediksi jumlah pendatang baru masuk ke Ibu Kota seusai Lebaran 2022 berkisar 20.000-50.000 orang. ”Kami melihat tahun 2022 jumlah pemudik semakin banyak dan fenomenanya sama dengan tahun 2019,” kata Kadis Dukcapil DKI Jakarta Budi Awaludin. Menurut Budi, di Jakarta hingga akhir 2022 diperkirakan terdapat 200.000 warga pendatang baru atau cenderung sama sebelum pandemi. Mental dan kemampuan dibutuhkan untuk berkompetisi dan hidup layak di JakartaBPS DKI Jakarta mencatat tren penurunan angka pengangguran terbuka di Jakarta. Periode Agustus 2020-Agustus 2021, lapangan kerja mengurangi 42.000 penganggur dan menyerap 36.000 tenaga kerja. ”Pendatang jelas menambah pertumbuhan ekonomi,” kata Deputi Kepala Perwakilan BI DKI Endang Kurnia Saputra. Jakarta jadi pilihan karena kota termaju di Indonesia dengan lapangan kerja luas. Rakhmat Hidayat, sosiolog dari UNJ, menyebut, daya tarik sosial dan ekonomi Jakarta sudah jadi rutinitas setelah Lebaran. Menurut dia, perantau ini patut ditunjang intervensi pemerintah lewat pelatihan kapasitas dan kemampuan kerja serta ruang mengembangkan ekonomi. Selain sinergi pelaku industri dan usaha terkait lowongan kerja, kerja sama antardaerah di Jabodetabek harus ditingkatkan agar mereka terdistribusi ke sektor industry dan usaha, ekonomi kreatif, hingga informal. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :