;

Andaliman hingga Kelor Menembus Ekspor

Ekonomi Yoga 11 May 2022 Kompas
Andaliman hingga Kelor Menembus Ekspor

BPS mencatat, transaksi ekspor pertanian pada 2021 mencapai 4,24 miliar USD, meningkat 2,86 % dari tahun sebelumnya, yakni 4,12 miliar USD. Kenaikan didukung meningkatnya ekspor tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah. Dengan penanganan yang baik, produk tanaman lokal bisa menembus pasar ekspor dan menyejahterakan warga. Berikut beberapa di antaranya.

Andaliman, Rempah dari dataran tinggi Danau Toba, Sumut, andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) kini tak hanya digunakan untuk masakan tradisional Batak. Butir-butirannya juga dipakai di restoran restoran top di Eropa untuk bumbu makanan premium, kata Kiki Andrea (40), eksportir andaliman dari Kabupaten Samosir. Tahun 2021, Kiki mengekspor 1,2 ton andaliman kering ke Jerman. Pembeli itu lantas memasarkan andaliman ke hampir semua negara di Eropa. Sebagai bumbu masak. Andaliman kering dengan kualitas terbaik dihargai 49 euro (sekitar Rp 753.000) per kg. Andaliman kini juga dijadikan teh. Intan Damanik, pengembang andaliman di Sumut, bahkan tahun ini mulai mengekspor teh andaliman untuk diuji coba di sejumlah negara, seperti Timor Leste, Jepang, dan Belanda. Teh andaliman ukuran 24 gr (12 sajian) dijual Rp 28.000. Harga bubuk the andaliman itu jauh lebih tinggi dari harga andaliman mentah yang dihargai Rp 30.000 sampai Rp 60.000 per kg.

Daun gelinggang (Cassia alata), disebut juga ketepeng atau daun senna, sejak 2013 rutin diekspor dari Kalimantan Selatan ke Jepang. Volumenya berkisar 16-26 ton per bulan. Dinas Perdagangan Kalsel mencatat, pada Maret 2022 ekspor gelinggang mencapai 26 ton senilai 130.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,9 miliar. Ekspor ditangani PT Sarikaya Sega Utama di Banjarbaru. Kadis Perdagangan Kalsel Birhasani mengatakan, di Jepang, daun gelinggang dimanfaatkan untuk beberapa macam produk herbal, misalnya teh herbal dan obat herbal. Adapun di Tanah Air daun gelinggang belum banyak dimanfaatkan selain sebagai obat tradisional untuk gatal-gatal.

Kreativitas warga membuat daun kelor (Moringa oleifera) menjadi aneka teh yang diperdagangkan ke 30 negara. Beberapa di antaranya, Singapura, Malaysia, Hong Kong, China, Australia, AS, Perancis, Jerman, Spanyol, Inggris, serta sejumlah negara di Timur Tengah. ”Di luar negeri, kelor sangat diminati. Selain dianggap pohon ajaib, juga merupakan superfood untuk meningkatkan imunitas, detoks, serta kandungan vitamin dan mineralnya yang bagus bagi tubuh,” kata Nasrin H Mukhtar, eksportir kelor di Mataram, NTB. Skala ekspornya memang belum besar atau dalam ukuran kontainer. Sebagian masih pada level pengiriman sampel hingga beberapa telah mengulangi pemesanan dengan kapasitas rata-rata sekali pengiriman di bawah 100 kg. ”Target, pada 2022 ini, harus bisa pecah telur atau realisasi mengirim satu kontainer berkapasitas 20-25 ton ke Jepang,” kata Nasrin. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :