;

Efek Merger, Laba Bersih ISAT Turun 36,4%

Hairul Rizal 29 Oct 2022 Kontan

Emiten telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) alias Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mencetak kinerja negatif pada kuartal III-2022.Laba bersih ISAT hanya sebesar Rp 3,69 triliun, turun 36,4% secara tahunan dari Rp 5,8 triliun di kuartal III-2021. Penurunan laba bersih dipicu membengkaknya beban operasional, beban depresiasi dan amortisasi. Selain itu, biaya finansial juga melonjak, sebagai dampak dari merger ISAT dan PT Hutchison 3 Indonesia. Meski laba bersih terpapar efek merger ISAT dan Hutchison 3, aksi korporasi ini berhasil mendorong pertumbuhan jumlah pelanggan ISAT sebesar 58,3% menjadi 98,6 juta di kuartal III-2022.

Bank Digital Mulai Mencetak Kinerja Positif

Hairul Rizal 29 Oct 2022 Kontan

BANK digital mulai menunjukkan kinerja positif mereka. Salah satunya PT Allo Bank Indonesia Tbk. Bank itu mengumumkan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 209 miliar per September 2022. Sementara pendapatan operasional sebesar Rp 530 miliar. Setelah menggelar serangkaian rights issue dalam tahun 2021 dan 2022, posisi ekuitas tumbuh menjadi Rp 6,32 triliun per akhir September 2022. Hasil itu menjadikan Allo Bank sebagai satu bank digital dengan permodalan paling baik di Indonesia. "Presiden Direktur Allo Bank, Indra Utoyo mengatakan, pencapaian ini merupakan buah dari strategi mengoptimalkan ekosistem bisnis di CT Corp yang merupakan pemegang saham strategis Allo bank. CT Corp memiliki bisnis ritel yang besar di Indonesia," katanya dari rilis yang diterima KONTAN, Kamis (27/10).

MENJAGA NAPAS LIKUIDITAS

Hairul Rizal 29 Oct 2022 Bisnis Indonesia (H)

Tak butuh waktu lama bagi perbankan untuk merespons kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia pada periode Agustus hingga Oktober 2022. Mulai bulan depan, suku bunga simpanan bank diperkirakan kompak naik. Naiknya suku bunga simpanan itu sebagai cara bank agar likuiditas tetap aman. Kendati dana simpanan dinilai masih melimpah, terutama di bank-bank besar, penyesuaian bunga simpanan dilakukan untuk memastikan ketersediaan uang guna mendorong penyaluran kredit. Kenaikan bunga untuk jenis simpanan deposito 1 bulan mulai terasa sejak Juli 2022. Dalam laporan asesmen transmisi suku bunga kebijakan oleh Bank Indonesia pada Oktober 2022, terlihat rerata bunga deposito 1 bulan pada Agustus 2022 berada di level 2,89%, atau lebih tinggi dari posisi Juli 2022 di level 2,81%. Jumlah simpanan deposito 1 bulan di perbankan secara nilai hampir 40% dari total simpanan berjangka di bank yang pada Juli mencapai Rp2.859,97 triliun. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan hingga 125 basis poin dalam 3 bulan terakhir, cukup menjadi perhatian pelaku bank untuk menyiapkan strategi baru melakukan penyesuaian bunga simpanan agar likuiditasnya tetap terjaga. Sementara itu, Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sigit Prastowo menyatakan masih terus memantau kondisi likuiditas di pasar. Dari sisi likuiditas, katanya, ada potensi kenaikan LDR bank pada tahun depan dibandingkan dengan posisi 2022. “Kami akan jaga di bawah 90% pada 2023 dan seterusnya,” kata Sigit. Kenaikan suku bunga kredit ke depan berpotensi dapat mengganggu permintaan kredit dari kalangan pelaku usaha sektor riil.

PENJUALAN GAS KE SINGAPURA : Kontrak Ekspor Diperpanjang

Hairul Rizal 29 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk memperpanjang kontrak penjualan gas ke Singapura. Rencananya, kontrak penjualan gas itu akan diperpanjang hingga 2028 atau 5 tahun setelah kontrak awal berakhir tahun depan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, keputusan itu diambil setelah adanya permintaan gas yang tinggi dari Singapura. Di sisi lain, neraca gas domestik tahun ini dipastikan mengalami surplus hingga jangka waktu yang relatif lama seiring dengan beroperasinya sejumlah lapangan gas besar di dalam negeri.

Pasar Terus Menurun, Bisnis Apartemen Limbung

Hairul Rizal 28 Oct 2022 Kontan (H)

Bisnis apartemen terus merunduk, terus menunjukkan kelesuan. Bahkan, hingga saat ini, belum ada faktor yang mampu menjulangkan penjualan hunian jangkung itu. Benar, Bank Indonesia (BI) berencana kembali memperpanjang kebijakan uang muka 0% untuk properti, termasuk apartemen. Namun, kebijakan ini diyakini belum mampu mendorong bisnis apartemen. Ancaman resesi global, suku bunga tinggi menjadi sebab. Catatan konsultan properti, yakni Colliers Indonesia dan Jones Lang Lasalle (JLL) Indonesia, laju penjualan apartemen dan kondominium melambat tahun ini. Bahkan, data Colliers menyebut, permintaan apartemen terus menyusut selama delapan tahun terakhir. Hingga kuartal ketiga tahun ini, permintaannya cuma 782 unit. Tahun lalu, permintaan apartemen masih berkisar 1.800 unit. Colliers juga mengamati langkah pengembang menahan harga jual apartemen di pasar primer untuk wilayah Jakarta. "Secara year-on-year, bisa dikatakan harga rata-rata apartemen di Jakarta tak bergerak, naik pun kurang dari 1%. Kebanyakan pengembang menahan diri menaikkan harga agar menarik bagi calon pembeli, ujar Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto kepada KONTAN, kemarin.

Lesunya bisnis hunian jangkung ini juga berkorelasi dengan kredit bermasalah atau non performing loan di sektor konstruksi, yang di dalamnya termasuk proyek apartemen. Salah satunya nampak di NPL PT Bank Tabungan Negara Tbk. Kredit bermasalah konstruksi hingga kuartal III-2022 mencapai 24,32%, lebih tinggi dari NPL. Senior Director, Research and Consultancy Savills Indonesia, Tommy Bastamy menyebut, harga apartemen di pasar sekunder terkoreksi 20%-40% dibanding harga sekunder saat kondisi pasar normal. Hal ini didorong. Pertama, tingkat pendapatan sewa yang turun sejalan melemahnya permintaan selama pandemi. Kedua, beban biaya pemeliharaan yang tetap harus dibayar meski apartemen tak dihuni. Ketiga, kebutuhan kas pemilik yang sebagian besar membeli unit apartemen dengan tujuan investasi. Keempat, pemilik dan investor telah menikmati return dari sewa unit apartemen.

Siap-Siap, Tarif Cukai Bisa Naik di Tahun Depan

Hairul Rizal 28 Oct 2022 Kontan

Tak hanya pajak, pemerintah juga memasang target lebih tinggi untuk penerimaan cukai pada tahun depan. Untuk mencapai target, pemerintah telah menyiapkan program intensifikasi dan ekstensifikasi cukai tahun depan. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023, pemerintah menargetkan penerimaan cukai sebesar Rp 245,45 triliun, tumbuh 9,5% dari outlook penerimaan cukai tahun ini yang sebesar Rp 224,2 triliun. Dari Rp 245,45 triliun, target cukai hasil tembakau (CHT) alias cukai rokok sebesar Rp 232,6 triliun, atau naik 10,8% dari 2022 yang sebesar Rp 209,9 triliun. "Target penerimaan cukai Rp 245,45 triliun tahun depan diharapkan tercapai karena sudah dicadangkan untuk membiayai APBN," kata Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemkeu), Nirwala Dwi Heryanto, Kamis (27/10). Adapun instrumen fiskal meliputi kebijakan pengendalian lewat tarif cukai dan menurunkan affordability rokok. Sementara yang dimaksud instrumen non-fiskal meliputi edukasi bagi pelajar, advokasi serta menghilangkan motif perokok.

Ekonomi AS Naik, Rupiah Sulit Naik

Hairul Rizal 28 Oct 2022 Kontan

Nilai tukar rupiah diperkirakan tidak akan banyak bergerak di akhir pekan ini. Maklum, pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan. Kemarin, rupiah juga tidak banyak bergerak. Kurs spot rupiah turun tipis 0,03% ke level Rp 15.567 per dollar Amerika Serikat (AS). Kurs referensi JISDOR naik 0,15% menjadi Rp 15.573 per dollar AS. Meski pergerakan rupiah terbatas, mata uang Garuda ini masih belum lepas dari tekanan. "Rupiah masih tertekan baik oleh sentimen internal maupun eksternal," tutur Lukman Leong, Analis DC Futures, kemarin. Realisasi ini lebih baik ketimbang konsensus proyeksi pengamat yang memprediksi ekonomi AS cuma tumbuh 2,3% secara kuartalan. Buat perbandingan, di kuartal dua lalu ekonomi AS turun 0,6% secara kuartalan.

RUANG SEMPIT MODAL VENTURA

Hairul Rizal 28 Oct 2022 Bisnis Indonesia (H)

Ruang gerak modal ventura sedang tak leluasa. Urusan memilih perusahaan rintisan alias startup yang bakal didanai kini semakin menantang lantaran bayang-bayang ketidakpastian ekonomi dunia. Startup baru di sektor mainstream seperti teknologi finansial atau wealth management misalnya, diprediksi sulit untuk mendapat tempat di hati investor. Selain karena persaingan yang kian ketat, keuangan masyarakat juga berisiko tertekan gejolak ekonomi. Tak ayal, pelaku industri modal ventura pun kini perlu lebih cermat memilih perusahaan rintisan, salah satunya dengan memburu startup di layanan teknologi yang inovatif. Co-founder & Managing Partner Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani meyakini perusahaan rintisan di layanan bahan pangan, agrikultur, akuakultur, dan ekonomi hijau, berpeluang bersinar. Selain itu, katanya terdapat peluang bagi pelaku startup yang masuk ke solusi terkait dengan high-tech manufacturing dan renewable energy. Senada, Chief Investment Officer merangkap Plt. CEO Mandiri Capital Dennis Pratistha mengatakan strategi baru dibutuhkan untuk menghadapi gejolak ekonomi yang secara umum membuat valuasi startup tertekan. Jika diamati, sejatinya risiko gejolak ekonomi global yang terjadi tak serta merta membuat pelaku industri modal ventura di Indonesia mati kutu. Buktinya, penyaluran pembiayaan terus tumbuh.

Memangkas Kesenjangan Digital

Hairul Rizal 28 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Dalam percaturan global, posisi Indonesia sudah mendapatkan tempat terhormat. Salah satu buktinya adalah masuknya Indonesia dalam G20 yang merupakan gabungan negara maju dan berkembang dengan kelas pendapatan menengah hingga tinggi. Posisi Indonesia makin kuat tatkala diberikan kehormatan memegang Presidensi G20 pada 2022. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi problem layaknya “dunia ketiga” dalam hal kesenjangan digital. International Telecommunication Union (ITU) menempatkan Indonesia di posisi negara yang mengalami kesenjangan akses jaringan internet. Pada 2020, ITU mencatat 53,7% dari total 272 juta penduduk menggunakan internet dan 18,8% memiliki akses laptop. Sebalikya, Malaysia lebih baik dengan 89,6% dari 33,3 juta penduduknya menggunakan internet dan 77,6% punya komputer. Menteri Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Johnny G. Plate mengatakan bahwa kesenjangan digital di Indonesia salah satunya dipicu pandemi Covid-19. Selain itu, perang Ukraina-Rusia juga menambah berat upaya membangun infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Menurutnya, kedua kondisi itu mempengaruhi jalannya persiapan dari penggelaran infrastruktur TIK di Indonesia. Padahal, infrastruktur TIK baik hulu maupun hilir membutuhkan pendekatan yang lebih baik.

Menkominfo mencatat area blankspot di Indonesia menyebar di 12.548 desa dan kelurahan. “Itu bukan seluruhnya ada di wilayah 3T . Ada juga di wilayah komersial atau non-3T yang jadi wilayah operasi operator seluler,” tutur Johnny. Menkominfo juga punya harapan lain yaitu perusahaan operator seluler di Indonesia berani mengalokasikan belanja modal untuk membiayai pembangunan infrastuktur TIK. Johnny sadar langkah itu bukan hal mudah bagi operator TIK. Dalam acara yang sama, Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kemenkominfo Anang Latif berjanji mempercepat penghilangan kesenjangan digital melalui proyek internet terestrial. Rencananya, Bakti akan membangun 2.600 unit base transceiver station (BTS) 4G terestrial. Sebelumnya, Bakti sudah membangun 7.295 unit BTS 4G di seluruh wilayah Indonesia. “4.300-nya sudah on air, sisanya 2.600 ini kita kejar selesai di tahun ini hingga di tahun depan,” katanya.

Paket Bali di KTT G20

Hairul Rizal 28 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Pada November 2022 mendatang, Bali akan menjadi lokasi KTT G20 pertama yang diselenggarakan oleh Indonesia, sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara (Asean) di forum G20 yang menjadi salah satu forum terbesar ekonomi di dunia. Di tengah pandemi Covid-19, inflasi global, perubahan iklim, krisis energi dan pangan, serta tentunya konflik perang antara Rusia dan Ukrai­na, kita patut bersyukur di mana Indonesia masih men­ja­di negara G20 dengan pro­yek­si ekonomi oleh OECD yang tumbuh di atas 4% di ta­hun 2022 dan 2023 bersama Chi­na, Arab Saudi, dan India. Terakhir kalinya Bali menja­di saksi konferensi besar Or­ganisasi Perdagangan Du­nia (WTO) ke-9 pada 3—7 De­sem­ber 2013. Dalam konfe­ren­si tersebut lahirlah Paket Ba­li (Bali Package) yang bertu­juan melonggarkan batasan per­dagangan global, sekali­­gus unik, karena menjadi ke­se­pa­katan pertama yang di­se­tujui oleh semua anggota WTO yang notabene adalah or­ga­nis­­asi dengan tingkat kompleksitas negosiasi yang tinggi. Beberapa pokok kunci yang perlu dibawa oleh Indonesia sebagai tuan rumah dan dalam merumuskan Paket Bali Jilid II adalah sesuai daftar inventarisasi masalah mendesak yang luar biasa besar di seluruh dunia baik sektor sosial, ekonomi, ekologi dan keamanan.  Pertama adalah Rusia. Invasinya ke Ukraina telah meningkatkan masalah energi global yang berimbas ke banyak hingga fiskal dan moneter. ‘Kegagalan’ PBB sebagai garda terdepan resolusi perdamaian harus diambil alih oleh G20. Kedua, konsentrasi dan totalitas pada masalah perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. In­do­nesia seharusnya menjadi pionir dan sekaligus momentum untuk pembenahan internal baik dari manajemen sumber daya alam dan lingkungan seperti hutan, gambut, mangrove, energi, pertambangan, hingga masalah hidrometeorologi. 

Ketiga, kehatian-hatian makro (makroprudensial). Pertumbuhan ekonomi, yang makin tidak merata, dengan tingkat yang berbeda di berbagai negara, tergantung pada tingkat vaksinasi, kemampuan untuk pulih, dan kesinambungan dukungan fiskal dan moneter. Stimulus fiskal dan moneter, sambil mengurangi defisit fiskal pemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya, utang publik dan swasta, neraca bank sentral utama, dan inflasi, yang lebih kuat lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Demikian juga dengan perlunya penghapusan utang untuk negara-negara miskin dan rentan. Yang terakhir adalah perlunya G20 menyusun peta jalan (road map) pembangunan global dengan analisa adapatasi dan mitigasi yang praktikal terhadap potensi ancaman, bahaya, tantangan, dan bencana ke depan yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia. Aksi ini dapat didukung oleh mitra G20 seperti dari wadah pemikir atau think-tank (T20), pemuda (Y20) dan organisasi kemasyarakatan (C20).

Pilihan Editor