Bersama Menjaga Perayaan Natal
Berbagai organisasi kemasyarakatan dilibatkan menjaga
keamanan perayaan Natal. Kolaborasi diperkuat untuk kenyamanan dan perayaan
Natal 2023. Di Gereja Katedral, persiapan perayaan Natal mendekati final, Sabtu
(23/12). Ruang utama gereja telah disterilkan. Pengunjung atau turis tidak
diizinkan masuk gereja. Aparat gabungan dari Mabes Polri, Polres Metro Jakpus,
dan Polsek Sawah Besar mulai berjaga. Dua anjing pelacak dikerahkan menyisir kompleks
Gereja Katedral dan sekitarnya. Posko pengamanan Natal dibangun tepat di depan gerbang
utama Masjid Istiqlal. Titik terluar pengamanan berada di jalan-jalan utama sekitar
Gereja Katedral. Aparat kepolisian bersiaga bersama TNI dibantu petugas Satpol
PP DKI Jakarta. Pengamanan Gereja Katedral juga melibatkan pengurus Masjid
Istiqlal. Kepala Bidang Ri’ayah Masjid Istiqlal Ismail Cawidu menuturkan, lahan
parkir Masjid Istiqlal juga bakal disiapkan untuk menampung kendaraan jemaat gereja.
Selanjutnya, jemaat akan dibantu oleh petugas keamanan gabungan untuk
menyeberang jalan. Setidaknya 700 mobil bisa ditampung.
Tidak hanya pengurus masjid, Banser Nahdlatul Ulama (NU)
hingga pemuda karang taruna pun ikut menjaga. Kepala Satuan Koordinasi Nasional
Banser NU Hasan Basri Sagala mengatakan, Banser menyiapkan 10.000 personel
untuk mengamankan tempat-tempat ibadah. Ia yakin jumlah itu bakal bertambah. mengamati
potensi gangguan sekaligus berkoordinasi dengan polisi, TNI, dan organisasi kemasyarakatan
(ormas) lain. ”Kalau terdapat kemungkinan pertikaian atau kerusuhan, tentu jadi
pertimbanganuntuk menurunkan personel,” kata Hasan. Menurut Ketua Umum Karang
Taruna Nasional Didik Mukrianto, para personel karang taruna di Indonesia dilibatkan
dalam pengamanan perayaan Natal di semua daerah di Indonesia. Dengan kesadarannya,
lanjut Didik, karang taruna selalu hadir dan berpartisipasi untuk menjaga
kelancaran ibadah.
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
Pendeta Gomar Gultom mengungkapkan, gambaran toleransi dalam mengamankan Natal
merupakan keindahan yang berlanjut. Hal itu sesuai dengan tema Natal 2023,
yakni ”Kemuliaan bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi”. Menurut Gomar,
partisipasi sejumlah ormas dalam perayaan Natal merupakan wujud toleransi yang
nyata. ”Peristiwa Natal sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk menjalin dan merekatkan
hubungan dengan orang lain, termasuk juga dengan umat beragama lain,” ucap Gomar.
Di Gereja Katedral, perayaan misa malam Natal 2023 akan diselenggarakan pada
Minggu (24/12) dan digelar tiga sesi, yaitu pukul 16.30, 19.00, dan 21.30. Jemaat
bisa mengikuti misa di Gereja Katedral dalam dua bagian, yaitu mengikuti misa di
dalam gedung utama gereja serta di luar gedung. Umat pun harus registrasi
secara daring untuk duduk di dalam gedung gereja. (Yoga)
Ketika Pringgasela Selatan Bangkit dari Tidur
Setelah puluhan tahun tertidur, Desa Pringgasela Selatan
bangkit. Lewat tangan-tangan anak mudanya, berbagai kekayaan yang dulu pernah
terkubur dibangunkan lagi untuk kembali ke identitas sejati warga sebagai
penjaga budaya. Pringgasela Selatan berada di kaki Gunung Rinjani yang subur.
Masyarakatnya mayoritas petani dengan hasil panen tiga kali setahun. Kekayaan
yang melimpah cukup bagi warga untuk hidup sejahtera. Kenyataannya, desa yang
berada di Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, NTB, ini lebih kaya dari itu.
Desa yang dihuni tiga trah besar, yakni Tanaq Gadang, Sumbawa atau Rempung, dan
Masbage, ini memiliki sejarah dan tradisi kuat. Nizar Azhari (39), pemuda asli
Pringgasela Selatan yang mengenyam pendidikan di Yogyakarta, menemukan kisah
ini saat menggali kembali kekayaan lokal desanya. Nizar adalah daya desa atau
pendamping kebudayaan desa. Ia dan kawan-kawannya dari daya warga dengan
dukungan Kemendikbudristek mencoba menggali kisah lalu Pringgasela Selatan.
Pringga berarti prajurit, Sela berarti batu atau bisa berasal dari kata
Selaparang, nama kerajaan di Lombok.
Leluhur desa ini, lanjut Nizar, dikenal sebagai penjaga,
tetapi bukan penjaga kerajaan, melainkan tanah tempat hidup mereka. Mereka
melawan berbagai invasi, termasuk penjajah yang hendak menguasai wilayah itu.
Kisah heroik mereka diabadikan di sebuah tugu penanda jalan desa. Kuda-kuda
pacu jadi warisan yang pernah ada di desa-desa tersebut. ”Dulu ada banyak kuda
di sini. Setelah kami pelajari sejarah desa, kuda-kuda itu ternyata bagian dari
pasukan kavaleri desa,” kata Nizar. Sayangnya, keberadaan kuda-kuda kavaleri
itu sudah hilang tergeser alat transportasi lain. Pringgasela Selatan juga memiliki
tradisi blanjakan atau bertarung di tengah sawah berlumpur seusai panen padi. Blanjakan
mengandalkan ketangkasan adu kaki, mirip olahraga muay thai. Dari
kepingan-kepingan sejarah itu, para pemuda desa mencoba untuk merekonstruksi
kekayaan lampau mereka. Mereka menemukan musik sejenis gamelan yang dikenal dengan
nama klenang nunggal.
Amak Maisur, sesepuh Pancur Kopong yang ahli bermusik dan sesepuh
lain merangkai melodi menjadi alunan gending dari 23 klenang yang berhasil ditemukan.
Tenun Pringgasela tetap terawetkan hingga kini. Masih ada 600-700 penenun di
Desa Pringgasela Selatan. Temuan-temuan lama dan berbagai kekayaan budaya itu
diangkat dalam Festival Dongdala atau pelangi yang digelar 19-21 Desember.
Festival ini membangkitkan kebanggaan warga Pringgasela Selatan akan kekayaan
budaya mereka. Puncak festival yang berupa pawai Nyiru Jaja Bejangkongan, Rabu
(20/12) mergambarkan semanga warga berpartisipasi dalam mengangkat kekayaan
budayanya. Ribuan orang tanpa diminta turut datang mengikuti pawai memakai baju
terbaiknya untuk tampil. Nizar dan rekan-rekannya masih punya banyak pekerjaan rumah.
Hingga kini, proses temu dan kenali kebudayaan Pringgasela Selatan masih
berjalan, begitu pula pengembangan dan pemanfaatannya. Mereka tak hanya
menggali, tetapi juga menjaga budaya desanya. Jika berhasil, Pringgasela Selatan
bisa menjadi desa yang mandiri dan berdaya. (Yoga)
Menunggu Suara Peluit di Pasar Barter Wulandoni
Suatu pagi pertengahan Agustus 2023 di Lamalera. Matahari
mulai naik saat perjalanan sejauh 7 km melewati jalan rusak menyisir jalan di
pinggir pantai menuju Pasar Barter Wulandoni, Kabupaten Lembata, NTT. Puluhan
pedagang dari pegunungan mempersiapkan dagangan berupa hasil bumi, seperti
pisang, singkong, umbi-umbian hutan, kacang-kacangan, dan jagung. Sementara
istri-istri nelayan mempersiapkan ikan segar di ember plastik. Sebagian
menggelar ikan belelang, ikan kering yang berbentuk seperti gelang yang terbuat
dari paus, lumba-lumba, ataupun pari manta. Lapak beton yang melingkar mulai
penuh terisi dagangan. Kosmas Dua (64) ditemani seorang petugas linmas mulai
memungut retribusi berupa sedikit hasil bumi dan ikan asin. Retribusi yang
dimasukkan ke karung tersebut akan dilelang setelah penutupan pasar untuk kas
desa. Kosmas mengitari pasar, memastikan semua pedagang sudah siap. Tepat pukul
10.00, peluit ditiup.. pritttt, prittttt.
Suara peluit dijadikan penanda kegiatan pasar barter bisa
dilakukan. Istri nelayan menyerbu lapak, menukar ikan dengan hasil bumi.
Tawar-menawar hanya menunjukkan barang. Kalau kesepakatan pertukaran disetujui
bersama, maka barang akan segera berganti pemilik. Pasar Wulandoni hanya buka
sepekan sekali setiap hari Sabtu. Pasar barter terbesar di Pulau Lembata yang
sudah ada sejak tahun 1830-an ini mempertemukan orang-orang pesisir dan
pegunungan yang saling membutuhkan. Semua hasil barter untuk kebutuhan hidup
sehari-hari, bukan untuk dijual kembali. Pasar barter tak hanya ajang menukar
barang. Selain memangkas rantai pasok, pasar juga mempertemukan dan
mengakrabkan orang-orang pesisir yang sebagian besar Muslim dan orang-orang
gunung yang mayoritas Kristen. Pasar Barter Wulandoni melibatkan warga dari
puluhan kampung yang tersebar dan lebih dari 100 orang dalam transaksi barter
tiap hari Sabtu. (Yoga)
NATAL BERSAMA KELUARGA, SEDERHANA DAN BERMAKNA
Pilihan aktivitas masyarakat untuk merayakan libur Natal dan
Tahun Baru terekam dalam hasil jajak pendapat Kompas 7-9 Desember. Hasilnya,
berkumpul bersama keluarga menjadi kegiatan favorit pengisi libur akhir tahun.
Pengumpulan pendapat dilakukan melalui telepon. Sebanyak 514 responden dari 34
provinsi berhasil diwawancara. Tim Litbang memilih responden secara acak sesuai
proporsi jumlah penduduk di tiap provinsi. Menggunakan metode ini, pada tingkat
kepercayaan 95 %, margin of error penelitian ± 4,35 % dalam kondisi penarikan
sampel acak sederhana. Sebagian besar responden (34,1 %) berencana menjalani
momen Natal ber sama keluarga. Salah satu agenda yang disiapkan ialah menonton
acara hiburan khusus.
Sebanyak 5,1 % responden berencana berlibur ke luar kota
atau ke tempat wisata di sekitar tempat tinggal mereka. Pilihan untuk merayakan
libur Natal dengan sederhana ini terjadi merata di masyarakat, baik yang
tinggal di perkotaan maupun di perdesaan. Kesederhanaan dalam merayakan Natal
juga tercermin dari biaya yang disiapkan oleh masyarakat. Sekitar 22 % responden
menyiapkan dana di bawah Rp 1 juta untuk merayakan Natal. Namun 12 % responden
menyiapkan biaya cukup besar hingga di atas Rp 3 juta. Pilihan publik merayakan
Natal dan akhir tahun bersama keluarga dalam momen kesederhanaan tidak lepas
dari tekanan situasi ekonomi. Kenaikan harga barang-barang, terutama bahan
kebutuhan pokok, membuat publik menghitung ulang dampak daya belinya. (Yoga)
MUDIK GRATIS, LEBIH HEMAT DAN AMAN
Di tengah tingginya harga sejumlah moda transportasi, mudik
gratis menggunakan bus menjadi solusi bagi warga saat libur Natal dan Tahun
Baru. Selain lebih hemat, juga lebih aman. Penumpang pun bisa pulang dengan
tenang. Lebih dari seribu warga memadati Terminal Kampung Rambutan, Jaktim,
Sabtu (23/12). Ada yang mengangkut barang hingga menggendong bayi. Hari yang terik
tidak jadi masalah. Mereka tetap bahagia karena mudik tanpa biaya. Salah satu
penumpang yang senang dengan program Kemenhub ini adalah Novi Herawati (42). Ia
akhirnya bisa berlibur sekaligus mudik bersama kedua anaknya ke Surakarta, Jateng;
dan Yogyakarta. Karyawan swasta di Jakarta ini nyaris tidak jadi pulang kampong
karena kehabisan tiket kereta api. Pesawat tidak jadi opsi lantaran harganya
terlalu tinggi, bisa Rp 1 juta per orang. Dengan kedua anaknya, setidaknya ia
harus menyiapkan Rp 3 juta. Ia mencoba mendaftar program mudik gratis dengan mengakses
aplikasi Mitra Darat dari Kemenhub. ”Saya coba pantengin (ikuti) dari Jumat
(15/12) sambil berharap ada kuota tersisa meskipun tulisannya habis. Akhirnya
dapat Senin (18/12) malam. Anak-anak langsung bilang, ’yeay, kita jadi pergi’,”
cerita Novi.
Program itu turut meringankan biaya Sohibah (48), peserta mudik
gratis lainnya. Penjual ayam krispi di Depok, Jabar, ini akhirnya bisa pulang ke
Wates, Kabupaten Kulon Progo, Jateng Ia bersama suaminya, Subarna (49), dan dua
putranya. Menurut rencana, ia naik bus ke Yogyakarta lalu menggunakan kendaraan
lainnya ke Wa-tes. ”Kami hendak menengok orangtua saat libur Natal dan Tahun
Baru ini. Kalau tidak ada mudik gratis, mungkin kami tidak akan pulang.
Apalagi, rombongan kami banyak,” katanya. Jika memakai bus berbayar, biayanya
bisa lebih dari Rp 800.000 untuk empat orang, belum termasuk belanja selama perjalanan
12 jam. Menurut dia, persyaratan ikut mudik gratis relative mudah. Ketentuannya
adalah mengisi biodata, KTP, tujuan, dan terminal keberangkatan, serta
melakukan validasi sebelum berangkat. Sohibah, dan Novi adalah sebagian dari
1.024 penumpang yang berangkat memakai 27 bus gratis di Terminal Kampung
Rambutan. Sebanyak 2.473 penumpang juga mengikuti mudik gratis dengan 63 bus
dari Terminal Terpadu Pulo Gebang ke sejumlah daerah di Jawa. Kemenhub juga memberangkatkan
dua truk untuk mengangkut 90 sepeda motor pemudik, Jumat (22/12), dari Terminal
Pondok Cabe, Tangsel, ke Solo dan Yogyakarta. Pemudik dapat mengambil sepeda
motornya di kantor dinas perhubungan setempat. ”Kegiatan dengan tema ’Transportasi
Aman Liburan Nyaman’ ini bertujuan untuk mengurangi potensi kecelakaan lalu
lintas, khususnya bagi sepeda motor dan mengurangi kepadatan lalu lintas di
jalan,” ujar Inspektur 1 Irjen Kemenhub Amin Hudaya. (Yoga)
”Pesta Rasa” di Ujung Lidah Bersama RujakNatsepa dan Ikan Asar Pantai Maluku
Pantai Natsepa berada di kawasan Suli, Kabupaten Maluku
Tengah, terkenal sebagai tujuan wisata. Sepanjang jalan dekat pantai ini,
berdiri puluhan kios, menawarkan buah dan kudapan rujak Natsepa yang jadi
kudapan wajib dinikmati di pinggir pantai. Rujak natsepa berisi potongan nanas,
mangga, jambu diguyur saus kacang yang dicampur gula aren, tapi ada yang beda
dengan rujak ini. Pada Rabu (20/12) Ellen Sitanala (42), salah satu penjual,
mengatakan, pembeda utama rujak asal Maluku ini adalah buah tomi-tomi (Flacourtia
inermis) atau lobi-lobi. Rasa kecut dari tomi-tomi menambah kekayaaan rasa
rujak natsepa. Rasa manis mangga ditambah rasa asam tomi-tomi bikin mata ”merem
melek”. Rujak Natsepa juga menggunakan pala dan cengkeh di dalam sambal. Ivona
Tanlain (26), pengunjung Pantai Natsepa asal Langgur, Maluku Tenggara,
menjelaskan, rujak natsepa menjadi salah satu kesukaanya karena berbeda dengan
rujak lain yang hanya mengandalkan manis dan pedas saja. Harganya terjangkau di
kisaran Rp 20.000-Rp 30.000 per porsi. Ke Pantai Natsepa, pelancong bisa
menggunakan transportasi umum atau daring, dari Bandara Internasional Pattimura
dapat ditempuh dalam 20-30 menit.
Selain mencicipi kudapan, Ikan asar jadi favorit di Ambon.
Makanan berbahan dasar ikan cakalang atau tuna ini merupakan ikan yang diasap hingga
kering di atas kayu bakar selama 2-3 jam. Lamanya proses pengasapan untuk
menurunkan kadar air sehingga tekstur ikan menjadi kering tetapi tetap empuk di
bagian dalam. Penjual ikan asar, Stela Sopacua (45), menyebut, kadar air yang
hilang dari ikan membuat makanan ini bisa bertahan 3-4 hari atau bisa lebih
lama apabila disimpan di lemari pendingin. Makanan ini lezat disantap langsung.
Pengunjung juga bisa hanya membeli sambal atau bumbu lainnya. ”Dimakan langsung
sudah enak, tanpa bahan pengawet,” ucap Stela yang berjualan di kawasan Pusat
Oleh-oleh Galala, Ambon, Maluku. Harga ikan asar bervariasi sesuai ukuran dan harga
beli ikan di pasar. Jika ikan sedang murah, satu ikan Asar dijual mulai Rp 90.000
hingga Rp 100.000 per porsi, atau Rp 30.000 per potong. Wisatawan bisa membeli ikan
asar di Pusat Oleh-oleh Galala, Ambon, ataupun di kawasan Batu Meja, Ambon.
Jarak tempuh dari tengah Kota Ambon ke dua lokasi ini hanya 5-10 menit. Ikan
ini jadi oleh-oleh karena bisa bertahan beberapa hari. (Yoga)
Cawapres Minim Terobosan Naikkan Penerimaan Negara
Ketiga cawapres beradu gagasan dan memaparkan janji-janji program
pembangunan dalam debat presidensial kedua yang digelar Jumat (22/12) malam.
Akan tetapi, belum ada yang mampu menawarkan terobosan strategifiskal untuk meningkatkan
penerimaan negara guna mendanai dan merealisasikan berbagai kebijakan itu. Secara
umum, debat presidensial kedua yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC),
Senayan, Jakarta, itu mengangkat delapan tema, yaitu ekonomi kerakyatan,
ekonomi digital, keuangan, investasi dan pajak, perdagangan, pengelolaan
APBN/APBD, infrastruktur, dan perkotaan. Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UI Teguh Dartanto, Jumat, dari berbagai isu yang mengemuka, belum ada
cawapres yang mampu menjabarkan strategi detail dan terobosan untuk membiayai janji-janji
program dan kebijakan yang mereka tawarkan. Taktik mengerek penerimaan negara
muncul beberapa kali dalam debat, tetapi tidak dielaborasi secara lebih rinci.
”Belum ada kandidat yang bisa menjelaskan secara clear dan
strategis cara membiayai program dan kebijakan mereka. Padahal, semua program
dan kebijakan pembangunan yang mereka janjikan itu perlu didukung dengan
pendanaan yang memadai,” kataTeguh. Jika diperhatikan,hampir semua pertanyaan
yang dirumuskan oleh tim panelis sebenarnya mengungkit tentang strategi fiskal
yang bakal ditempuh kandidat untuk mengatasi bermacam-macam masalah yang ada di
masyarakat. Misalnya, pada sesi kedua dan ketiga mengenai strategi pembiayaan
untuk pembangunan infrastruktur fisik, sosial, dan pengembangan SDM. Ada pula
pertanyaan tentang strategi fiskal untuk mengatasi problem kompleks di kawasan
perkotaan, seperti isu kawasan kumuh, sampah, dan transportasi publik. Cawapres
nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka, menjawab dirinya dan Prabowo Subianto
juga menargetkan kenaikan rasio pajak (tax ratio) demi mengerek penerimaan negara.
Namun, Gibran tidak menjelaskan secara detail bagaimana cara menaikkan rasio pajak
tersebut.
Di sisi lain, cawapres nomor urut 1, Muhaimin Iskandar, juga
tidak mengelaborasi strategi fiskal untuk mengatasi masalah kompleks di
perkotaan. Ia hanya menyebutkan bahwa dalam mengelola fiskal, pemerintah perlu
pintar-pintar menerapkan skala prioritas. ”Kita juga perlu melibatkan investor swasta
dan memberikan mereka kepercayaan,” ujar Muhaimin. Jawaban-jawaban ”populis”
untuk menaikkan penerimaan negara juga terlontar. Misalnya, ketika Muhaimin
menyatakan ingin menaikkan tarif pajak orang kaya dan menurunkan tariff pajak
kelas menengah, tanpa mengelaborasinya lebih lanjut. Adapun cawapres nomor urut
3, Mahfud MD, nyaris tidak menjelaskan strateginya untuk mengerek penerimaan
negara. Ia lebih banyak bertanya tentang isu tersebut ke lawan debatnya serta lebih
banyak fokus pada isu korupsi yang menghambat pengelolaan keuangan negara dan
menghalangi masuknya investasi ke Indonesia. (Yoga)
Masyarakat Gandrungi Obligasi Negara pada 2023
Masyarakat pada 2023 semakin berminat berinvestasi di
obligasi pemerintah. Peminat obligasi ini mengalami kenaikan paling tinggi
dibandingkan investasi aset keuangan lainnya. Kebanyakan investor adalah
kelompok tabungan menengah. Pertumbuhan dana simpanan nasabah bank yang terbaca
dalam data dana pihak ketiga (DPK) dalam dua bulan terakhir terus menurun. BI
mencatat, total dana masyarakat di bank hanya naik 3,04 % secara tahunan pada
November, turun dari 3,9 % pada Oktober 2023. Pertumbuhan itu hampir hanya sepertiga
dibandingkan dengan 8,08 % pada November 2022 dan 9,01 % pada Desember 2022. Ketua
Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, pada acara Outlook Perekonomian
Indonesia 2024 oleh Kemenko Perekonomian di Jakarta, Jumat (22/12) mengatakan,
lonjakan kenaikan DPK pada tahun lalu adalah anomali karena kebangkitan ekonomi
pascapandemi. Angka DPK tahun ini justru disebut mendekati tren sebelum pandemi.
Meski demikian, ia melihat, saat ini masyarakat cenderung lebih
berminat menyimpan uangnya di instrumen keuangan lain yang lebih bervariasi. ”Termasuk
dengan kemungkinan investasi di SBN atau juga di pasar modal, atau berkaitan dengan
deposito,” ujarnya dalam acara yang disiarkan secara daring. Gubernur BI Perry
Warjiyo pada konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis (21/12),
juga menyebut rendahnya pertumbuhan penyimpanan uang nasabah di perbankan
dipengaruhi pergeseran ke investasi berupa pembelian obligasi pemerintah.
Pergeseran initerjadi terutama pada kelompok tabungan menengah. ”Ada alternatif
investasi lain, yang dulunya DPK di tabungan perbankan, sekarang bisa beli SBN,
ritel, ataupun investasi-investasi yang lain. Jadi, komponennya di dalam neraca
bank bukan lagi DPK, melainkan ke net claim to government, itu ada perpindahan-perpindahan,”
kata Perry. (Yoga)
”Kerja Rodi” Lahan Pangan
Sektor pertanian pangan Indonesia sedang tidak baik-baik
saja. Permasalahan dan tantangan yang muncul tak hanya mencakup aktor utama, kebijakan,
dan produksi pangan. Tanah sebagai wadah hidup tanaman pangan juga terus dipaksa
”kerja rodi” demi mengejar peningkatan produksi. Sepanjang 2023, La Nina dan El
Nino menampakkan kerapuhan sektor pertanian pangan nasional, terutama pada
sumber pangan utama masyarakat, yakni beras. Berdasarkan hasil penghitungan kerangka
sampel area, BPS memperkirakan produksi beras nasional pada 2023 turun 650.000
ton, berbeda dengan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani (AB2TI) yang
memproyeksikan produksi beras anjlok 1,5 juta ton. Situasi itu memicu kenaikan harga
gabah dan beras. Panel harga Bapanas mencatat, harga rata-rata nasional beras medium
tertinggi terjadi pada Oktober 2023, yakni Rp 13.210 per kg, naik 16,24 %
secara tahunan dan 17,49 % di atas HET beras medium di tingkat konsumen di zona
I.
Untuk menstabilkan stok dan harga beras, pemerintah semula
mengalokasikan kuota impor beras sebanyak 2 juta ton, yang kemudian ditambah
1,5 juta ton menjadi 3,5 juta ton. Pada 2024, pemerintah sudah berancang-ancang
akan mengimpor lagi beras sebanyak 2 juta ton. Wajah rapuh sektor pertanian tak
berhenti di situ. Petani yang merupakan aktor utama penyedia pangan masyarakat
juga semakin menua dan mengalami guremisasi.”Hal ini perlu menjadi perhatian
bersama. Pekerja di sektor pertanian yang semakin menua membutuhkan regenerasi
petani yang berkelanjutan. Bertambahnya petani gurem juga dapat menurunkan
kesejahteraan petani,” kata PLT Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Senin
(4/12). Kini, pola tanam padi (musim tanam/MTI)-padi(MT II)-palawija (MT III)
mulai banyak ditinggalkan daerah-daerah sentra penghasil beras.
Padahal, pola tanam itu bertujuan untuk mengendalikan hama dan
penyakit serta menjaga kesuburan tanah. Kini, pola tanam itu berubah menjadi
padi-padi-padi. Bahkan, pola tanam itu didukung dengan penyediaan sumur-sUmur
bor berbasis listrik di areal persawahan, seperti di Sragen, Jateng (Kompas,
19/9). Sawah yang dipaksa ”kerja rodi” menghasilkan gabah sepanjang tahun itu
dapat menyebabkan kesuburan tanah berkurang. Apalagi jika tidak diikuti dengan
pola pemupukan yang seimbang, hal itu akan mempercepat berkurangnya ”kesehatan”
tanah. Sebagian besar sawah di Jawa bahan organiknya di bawah 1 persen. ”Lahan
dengan bahan organik di bawah 1 persen merupakan lahan sakit. Kalaupun
ditingkatkan produktivitasnya, hasilnya tetap tidak akan maksimal. Untuk itu,
upaya-upaya mengembalikan kesuburan lahan pertanian juga sangat penting
dilakukan,” katanya. (Yoga)
Racikan Kekinian demi Eksistensi Jamu
Beragam inovasi lahir dari para produsen jamu di Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lewat kreativitas, mereka membuat jamu
tradisional tetap relevan dengan zaman. Untuk mempertahankan eksistensi jamu
tradisional, para pelaku usaha jamu di Desa Bokoharjo, Sleman, menginisiasi pemasaran
secara daring dan meracik jamu kekinian yang menyasar anak muda. Inovasi antara
lain dilakukan oleh Sri Slamet (68) yang merintis usaha jamu Bu Slamet sejak
tahun 1971. Mengelola usaha jamu bersama lima anaknya, perempuan itu
memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk mengembangkan usahanya. Sejak tiga
tahun lalu, ia membuat produk baru yang disebut empon-empon anti-corona. Produk itu laku keras
karena banyak warga yang mengonsumsi minuman berbahan empon-empon untuk menjaga
kesehatan saat pandemi. Bahkan, pembelinya juga dari luar negeri.
”Kami pun terkejut ketika menerima permintaan racikan empon-empon
anti-corona dari Korea dan Malaysia,” ujar Drajat Wiranto (49), anak tertua Bu
Slamet, ditemui di sela-sela Festival Sewu Bakul Jamu di kompleks Candi Banyunibo,
Desa Bokoharjo, Selasa (19/12). Inovasi juga dilakukan dalam proses produksi
lebih dari 20 jenis jamu, salah satunya penggunaan mesin penggiling mekanis
berbahan batu sejak lima tahun silam. Mesin itu dibuat atas saran sejumlah mahasiswa
yang menjalankan KKN di desanya. Meski begitu, Bu Slamet juga masih berjualan
jamu di Pasar Prambanan. Bahkan, tidak jarang Bu Slamet diminta pembeli untuk
mencekoki jamu ke anak yang susah makan. Produsen jamu lain di Desa Bokoharjo,
Sri Sudaryanti (56), juga berinovasi dengan memproduksi jamu menggunakan mesin
penggiling untuk menggiling rempah menjadi serat halus. Namun, untuk proses
selanjutnya, masih secara tradisional, memakai wajan besar yang dipanaskan di
atas tungku kayu bakar. ”Proses memasak dilakukan manual karena ada saatnya
racikan rempah harus dimasak dengan api kecil dan adakalanya menggunakan api besar,
tidak bisa tergantikan mesin,” katanya. Sejak tahun 2002 Sri memproduksi jamu
berupa empon-empon bubuk yang siap dikonsumsi dengan diseduh air panas. Hingga
kini dia memproduksi tujuh jenis empon-empon bubuk, misalnya jahe, temulawak,
dan kunir putih. (Yoga)









