Cawapres Minim Terobosan Naikkan Penerimaan Negara
Ketiga cawapres beradu gagasan dan memaparkan janji-janji program
pembangunan dalam debat presidensial kedua yang digelar Jumat (22/12) malam.
Akan tetapi, belum ada yang mampu menawarkan terobosan strategifiskal untuk meningkatkan
penerimaan negara guna mendanai dan merealisasikan berbagai kebijakan itu. Secara
umum, debat presidensial kedua yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC),
Senayan, Jakarta, itu mengangkat delapan tema, yaitu ekonomi kerakyatan,
ekonomi digital, keuangan, investasi dan pajak, perdagangan, pengelolaan
APBN/APBD, infrastruktur, dan perkotaan. Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UI Teguh Dartanto, Jumat, dari berbagai isu yang mengemuka, belum ada
cawapres yang mampu menjabarkan strategi detail dan terobosan untuk membiayai janji-janji
program dan kebijakan yang mereka tawarkan. Taktik mengerek penerimaan negara
muncul beberapa kali dalam debat, tetapi tidak dielaborasi secara lebih rinci.
”Belum ada kandidat yang bisa menjelaskan secara clear dan
strategis cara membiayai program dan kebijakan mereka. Padahal, semua program
dan kebijakan pembangunan yang mereka janjikan itu perlu didukung dengan
pendanaan yang memadai,” kataTeguh. Jika diperhatikan,hampir semua pertanyaan
yang dirumuskan oleh tim panelis sebenarnya mengungkit tentang strategi fiskal
yang bakal ditempuh kandidat untuk mengatasi bermacam-macam masalah yang ada di
masyarakat. Misalnya, pada sesi kedua dan ketiga mengenai strategi pembiayaan
untuk pembangunan infrastruktur fisik, sosial, dan pengembangan SDM. Ada pula
pertanyaan tentang strategi fiskal untuk mengatasi problem kompleks di kawasan
perkotaan, seperti isu kawasan kumuh, sampah, dan transportasi publik. Cawapres
nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka, menjawab dirinya dan Prabowo Subianto
juga menargetkan kenaikan rasio pajak (tax ratio) demi mengerek penerimaan negara.
Namun, Gibran tidak menjelaskan secara detail bagaimana cara menaikkan rasio pajak
tersebut.
Di sisi lain, cawapres nomor urut 1, Muhaimin Iskandar, juga
tidak mengelaborasi strategi fiskal untuk mengatasi masalah kompleks di
perkotaan. Ia hanya menyebutkan bahwa dalam mengelola fiskal, pemerintah perlu
pintar-pintar menerapkan skala prioritas. ”Kita juga perlu melibatkan investor swasta
dan memberikan mereka kepercayaan,” ujar Muhaimin. Jawaban-jawaban ”populis”
untuk menaikkan penerimaan negara juga terlontar. Misalnya, ketika Muhaimin
menyatakan ingin menaikkan tarif pajak orang kaya dan menurunkan tariff pajak
kelas menengah, tanpa mengelaborasinya lebih lanjut. Adapun cawapres nomor urut
3, Mahfud MD, nyaris tidak menjelaskan strateginya untuk mengerek penerimaan
negara. Ia lebih banyak bertanya tentang isu tersebut ke lawan debatnya serta lebih
banyak fokus pada isu korupsi yang menghambat pengelolaan keuangan negara dan
menghalangi masuknya investasi ke Indonesia. (Yoga)
Masyarakat Gandrungi Obligasi Negara pada 2023
Masyarakat pada 2023 semakin berminat berinvestasi di
obligasi pemerintah. Peminat obligasi ini mengalami kenaikan paling tinggi
dibandingkan investasi aset keuangan lainnya. Kebanyakan investor adalah
kelompok tabungan menengah. Pertumbuhan dana simpanan nasabah bank yang terbaca
dalam data dana pihak ketiga (DPK) dalam dua bulan terakhir terus menurun. BI
mencatat, total dana masyarakat di bank hanya naik 3,04 % secara tahunan pada
November, turun dari 3,9 % pada Oktober 2023. Pertumbuhan itu hampir hanya sepertiga
dibandingkan dengan 8,08 % pada November 2022 dan 9,01 % pada Desember 2022. Ketua
Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, pada acara Outlook Perekonomian
Indonesia 2024 oleh Kemenko Perekonomian di Jakarta, Jumat (22/12) mengatakan,
lonjakan kenaikan DPK pada tahun lalu adalah anomali karena kebangkitan ekonomi
pascapandemi. Angka DPK tahun ini justru disebut mendekati tren sebelum pandemi.
Meski demikian, ia melihat, saat ini masyarakat cenderung lebih
berminat menyimpan uangnya di instrumen keuangan lain yang lebih bervariasi. ”Termasuk
dengan kemungkinan investasi di SBN atau juga di pasar modal, atau berkaitan dengan
deposito,” ujarnya dalam acara yang disiarkan secara daring. Gubernur BI Perry
Warjiyo pada konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis (21/12),
juga menyebut rendahnya pertumbuhan penyimpanan uang nasabah di perbankan
dipengaruhi pergeseran ke investasi berupa pembelian obligasi pemerintah.
Pergeseran initerjadi terutama pada kelompok tabungan menengah. ”Ada alternatif
investasi lain, yang dulunya DPK di tabungan perbankan, sekarang bisa beli SBN,
ritel, ataupun investasi-investasi yang lain. Jadi, komponennya di dalam neraca
bank bukan lagi DPK, melainkan ke net claim to government, itu ada perpindahan-perpindahan,”
kata Perry. (Yoga)
”Kerja Rodi” Lahan Pangan
Sektor pertanian pangan Indonesia sedang tidak baik-baik
saja. Permasalahan dan tantangan yang muncul tak hanya mencakup aktor utama, kebijakan,
dan produksi pangan. Tanah sebagai wadah hidup tanaman pangan juga terus dipaksa
”kerja rodi” demi mengejar peningkatan produksi. Sepanjang 2023, La Nina dan El
Nino menampakkan kerapuhan sektor pertanian pangan nasional, terutama pada
sumber pangan utama masyarakat, yakni beras. Berdasarkan hasil penghitungan kerangka
sampel area, BPS memperkirakan produksi beras nasional pada 2023 turun 650.000
ton, berbeda dengan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani (AB2TI) yang
memproyeksikan produksi beras anjlok 1,5 juta ton. Situasi itu memicu kenaikan harga
gabah dan beras. Panel harga Bapanas mencatat, harga rata-rata nasional beras medium
tertinggi terjadi pada Oktober 2023, yakni Rp 13.210 per kg, naik 16,24 %
secara tahunan dan 17,49 % di atas HET beras medium di tingkat konsumen di zona
I.
Untuk menstabilkan stok dan harga beras, pemerintah semula
mengalokasikan kuota impor beras sebanyak 2 juta ton, yang kemudian ditambah
1,5 juta ton menjadi 3,5 juta ton. Pada 2024, pemerintah sudah berancang-ancang
akan mengimpor lagi beras sebanyak 2 juta ton. Wajah rapuh sektor pertanian tak
berhenti di situ. Petani yang merupakan aktor utama penyedia pangan masyarakat
juga semakin menua dan mengalami guremisasi.”Hal ini perlu menjadi perhatian
bersama. Pekerja di sektor pertanian yang semakin menua membutuhkan regenerasi
petani yang berkelanjutan. Bertambahnya petani gurem juga dapat menurunkan
kesejahteraan petani,” kata PLT Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Senin
(4/12). Kini, pola tanam padi (musim tanam/MTI)-padi(MT II)-palawija (MT III)
mulai banyak ditinggalkan daerah-daerah sentra penghasil beras.
Padahal, pola tanam itu bertujuan untuk mengendalikan hama dan
penyakit serta menjaga kesuburan tanah. Kini, pola tanam itu berubah menjadi
padi-padi-padi. Bahkan, pola tanam itu didukung dengan penyediaan sumur-sUmur
bor berbasis listrik di areal persawahan, seperti di Sragen, Jateng (Kompas,
19/9). Sawah yang dipaksa ”kerja rodi” menghasilkan gabah sepanjang tahun itu
dapat menyebabkan kesuburan tanah berkurang. Apalagi jika tidak diikuti dengan
pola pemupukan yang seimbang, hal itu akan mempercepat berkurangnya ”kesehatan”
tanah. Sebagian besar sawah di Jawa bahan organiknya di bawah 1 persen. ”Lahan
dengan bahan organik di bawah 1 persen merupakan lahan sakit. Kalaupun
ditingkatkan produktivitasnya, hasilnya tetap tidak akan maksimal. Untuk itu,
upaya-upaya mengembalikan kesuburan lahan pertanian juga sangat penting
dilakukan,” katanya. (Yoga)
Racikan Kekinian demi Eksistensi Jamu
Beragam inovasi lahir dari para produsen jamu di Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lewat kreativitas, mereka membuat jamu
tradisional tetap relevan dengan zaman. Untuk mempertahankan eksistensi jamu
tradisional, para pelaku usaha jamu di Desa Bokoharjo, Sleman, menginisiasi pemasaran
secara daring dan meracik jamu kekinian yang menyasar anak muda. Inovasi antara
lain dilakukan oleh Sri Slamet (68) yang merintis usaha jamu Bu Slamet sejak
tahun 1971. Mengelola usaha jamu bersama lima anaknya, perempuan itu
memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk mengembangkan usahanya. Sejak tiga
tahun lalu, ia membuat produk baru yang disebut empon-empon anti-corona. Produk itu laku keras
karena banyak warga yang mengonsumsi minuman berbahan empon-empon untuk menjaga
kesehatan saat pandemi. Bahkan, pembelinya juga dari luar negeri.
”Kami pun terkejut ketika menerima permintaan racikan empon-empon
anti-corona dari Korea dan Malaysia,” ujar Drajat Wiranto (49), anak tertua Bu
Slamet, ditemui di sela-sela Festival Sewu Bakul Jamu di kompleks Candi Banyunibo,
Desa Bokoharjo, Selasa (19/12). Inovasi juga dilakukan dalam proses produksi
lebih dari 20 jenis jamu, salah satunya penggunaan mesin penggiling mekanis
berbahan batu sejak lima tahun silam. Mesin itu dibuat atas saran sejumlah mahasiswa
yang menjalankan KKN di desanya. Meski begitu, Bu Slamet juga masih berjualan
jamu di Pasar Prambanan. Bahkan, tidak jarang Bu Slamet diminta pembeli untuk
mencekoki jamu ke anak yang susah makan. Produsen jamu lain di Desa Bokoharjo,
Sri Sudaryanti (56), juga berinovasi dengan memproduksi jamu menggunakan mesin
penggiling untuk menggiling rempah menjadi serat halus. Namun, untuk proses
selanjutnya, masih secara tradisional, memakai wajan besar yang dipanaskan di
atas tungku kayu bakar. ”Proses memasak dilakukan manual karena ada saatnya
racikan rempah harus dimasak dengan api kecil dan adakalanya menggunakan api besar,
tidak bisa tergantikan mesin,” katanya. Sejak tahun 2002 Sri memproduksi jamu
berupa empon-empon bubuk yang siap dikonsumsi dengan diseduh air panas. Hingga
kini dia memproduksi tujuh jenis empon-empon bubuk, misalnya jahe, temulawak,
dan kunir putih. (Yoga)
Warga Kendari Sulit Mendapatkan Pertalite
Polemik di Kampung Susun Bayam
Sebagian keluarga yang digusur dari Kampung Bayam memilih
bertahan di Kampung Susun Bayam, Jakarta International Stadium (JIS), Jakut. Mereka
kukuh menghuni kampung susun sebagaimana janji ketika penggusuran. Hingga kini
belum ada titik temu antara sebagian warga dan PT Jakarta Propertindo (Perseroda)
sebagai pengelola. Situasi ini berpotensi jadi masalah hukum. Spanduk berisi
protes warga terpampang di salah satu sisi Kampung Susun Bayam, Selasa (19/12)
siang. Mereka mempertanyakan mengapa tidak kunjung menjadi penghuni kampung
susun yang sah. Mereka juga meminta intimidasi dihentikan. Siang itu, Junaidi
(48), salah satu warga, memperlihatkan kamar berukuran 8 x 7 meter yang dia
tempati di Kampung Susun Bayam, terdiri dari ruang tamu, dua kamar, dapur, dan kamar
mandi. Dia menempati kamar itu sejak 29 November 2023 kendati belum mendapat
kunci. ”Sebenarnya, kami dijanjikan untuk bisa menempati rumah susun ini pada 1
Januari 2023. Namun, sampai sekarang, kami tidak boleh menempatinya tanpa
alasan yang jelas,” kata Junaidi.
Junaidi tidak sendiri, ada 44 keluarga dengan jumlah 100
orang yang tinggal di lantai dua Kampung Susun Bayam di Tanjung Priok, Jakut.
Sebanyak 60 keluarga lain masih tinggal di hunian sementara dan 35 keluarga sudah
direlokasi ke Rusun Nagrak di Cilincing, Jakut. Keluarga yang bertahan di lantai
dua Kampung Susun Bayam itu tinggal dengan fasilitas seadanya. Tidak ada listrik
ataupun air yang memadai. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, warga menggunakan
genset, dengan solar Rp 80.000 per hari sebagai bahan bakar, dari uang
patungan. Untuk air, warga memanfaatkan keran yang masih berfungsi. Warga memanfaatkan
lahan di sekitar Kampung Susun Bayam untuk ditanami kacang, bayam, kangkung,
dan timun suri. ”Kami tanami itu untuk persiapan puasa (Ramadhan mendatang),”
kata Cecep, warga lain yang bertahan di Kampung Susun Bayam. Bertani sudah jadi
aktivitas Cecep dan warga sebelum penggusuran. Mereka menggantungkan hidup dari
sayur-mayur dan budidaya ikan dengan pendapatan Rp 3 juta-Rp 5 juta per bulan. (Yoga)
”Financial Check Up” di Akhir Tahun
Sebelum tahun 2023 berakhir, perlu dilakukan financial check
up atau pengecekan kondisi keuangan pribadi untuk melihat efektivitas strategi
pengelolaan keuangan yang telah dilakukan dan posisi aset serta utang yang
dimiliki untuk menyusun strategi perencanaan keuangan di tahun 2024, termasuk
mengubah portofolio investasi jika dibutuhkan. Beberapa hal yang perlu
perhatikan : 1. Menetapkan tujuan keuangan untuk menentukan strategi pengelolaan
keuangan yang akan digunakan, jangka waktu, dan sebagai tolok ukur efektivitas
langkah yang dilakukan.
2. Cek arus kas, pemasukan dan pengeluaran di tahun berjalan
untuk menilai kembali apakah penggunaan dana di tahun berjalan sudah sesuai tujuan
investasi atau terjadi pengeluaran yang tidak tepat sasaran. 3. Evaluasi utang,
termasuk evaluasi jenis utang, dana yang dibutuhkan, dan jangka waktu
pelunasan. Pembayaran utang, khususnya utang berbunga tinggi akan mengurangi
beban keuangan di masa mendatang. 4. Pastikan memiliki dana darurat dan
asuransi. 5. Evaluasi aset dan instrumen investasi untuk mengetahui total
kekayaan yang dimiliki. (Yoga)
MEWAKILI KASIH NATAL LEWAT ”GIFT BOX”
Di Manado, Natal tak hanya dirayakan pada 25 Desember,
tetapi juga sepanjang bulan itu. Jalanan yang semarak oleh kelap-kelip lampu
hias mendadak macet setiap hari, orang dari segala penjuru tumpah ruah untuk belanja,
dari baju, kue, hingga kado natal. Bersama ingar-bingar itu tumbuh tren memberi
semacam hamper atau kotak berisi aneka hadiah untuk saudara, teman, atau
kekasih. Peluang pasar ini segera ditangkap para pengusaha mikro yang merintis
bisnis kreatifnya dari rumah atau bahkan indekos. Ketiadaan toko fisik tak
menjadi masalah selama ada media sosial. Christy Natalia (29) salah satunya. Empat
tahun lalu, ia mulai merintis usaha cendera mata bernama Unboxingme.id. Produk
utamanya adalah plakat akrilik yang kian diminati sebagai bentuk ucapan selamat
atas ulang tahun, kelulusan, hingga kelanggengan hubungan asmara orang-orang
terkasih. Menariknya, bisnis tersebut dijalankan dari kamar kosnya di bilangan
Sario Kotabaru. Etalase Unboxingme.id sepenuhnya digital dalam bentuk akun
Instagram, Facebook, Tiktok, dan Whatsapp Business.
Siapa pun dapat melihat produknya langsung dari genggaman
tangan. ”Memang, selama ini banyak yang tanya, ’Ada tokonya enggak?’ Soalnya,
mereka mau lihat langsung. Tapi, memang enggak ada. Biasanya, saya langsung arahkan
ke Instagram karena semua (produk) ada fotonya,” kata lulusan Ilmu Manajemen Universitas
Klabat, Minahasa Utara, itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Desember ini
Christy membuka pesanan kotak hadiah (gift box) bertema Natal. Dengan harga
promosi Rp 95.000, setiap kotak umumnya berisi empat barang, misalnya boneka
beruang bertopi sinterklas, mug bertuliskan ”Merry Christmas”, serta dua
stoples kue kering. Ada pula paket yang berisi plakat akrilik bertuliskan ”Merry
Christmas” dan nama penerima, satu stoples kukis, sebuah termos, dan sekotak
alat makan. ”Tapi, bisa juga sesuai request (permintaan) customer (pelanggan).
Kalau mau tambah satu barang, harga mengikuti,” kata Christy. Dua pekan menjelang
25 Desember, pesanan datang bertubi-tubi. ”Dimasa biasa, (omzet) Rp 5 juta-Rp
10 juta per bulan. Kalau sekarang (Natal), sih, pasti lumayan, kisaran Rp 25
juta per bulan,” ujarnya. (Yoga)
PERSOALAN GURU, Capres dan Cawapres Belum Mampu Beri Solusi
Persoalan guru di Indonesia meliputi berbagai aspek, seperti
kesejahteraan guru yang sangat rendah, kompetensi guru yang masih rendah,
rekrutmen dan distribusi guru yang masih amburadul, perlindungan guru yang
minim, serta buruknya pengembangan karier guru. Sayangnya, visi dan misi para
calon presiden dan calon wakil presiden dinilai belum mampu memberi solusi
komprehensif terhadap ragam persoalan pendidikan dan guru di Tanah Air. ”Isi
visi-misi dan program para capres dan
cawapres masih bersifat populis serta belum menyentuh akar masalah
pendidikan dan guru,” kata Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru
(P2G) Satriwan Salim, Jumat (22/12) di Jakarta.
Iman Zanatul Haeri, Kepala Bidang Advokasi Guru P2G,
menyebutkan, dari kajian P2G, pasangan calon nomor urut 1, Anies Baswedan dan
Muhaimin Iskandar (Amin), ingin menuntaskan rekrutmen guru ASN, namun, solusi
yang ditawarkan pasangan ini masih mengambang. P2G ingin kepastian agar
pasangan Amin berkomitmen membuka kembali rekrutmen guru PNS, bukan PPPK
(pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) saja. Slogan ”perubahan” yang
diusung pasangan ini justru tidak menawarkan perubahan sama sekali dalam hal
rekrutmen guru, kesejahteraan, peningkatan kompetensi, ataupun rekrutmen dan
distribusi. Pasangan calon nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming
Raka, berjanji menambah tunjangan guru sebesar Rp 2 juta per bulan, yang akan
menyedot APBN Rp 79,2 triliun per tahun.
Menurut Iman, Prabowo-Gibran tidak memberi solusi secara
komprehensif terkait lima isu fundamental terkait guru. Sementara, pasangan calon
nomor urut 3, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, diapresiasi karena rencana mereka
menetapkan gaji guru Rp 20 juta per bulan. Namun, dalam kalkulasi riil P2G, wacana
ini tidak realistis karena Rp 20 juta jika dikalikan 3,3 juta guru setara Rp 66
triliun per bulan. Negara harus menyiapkan anggaran besar Rp 792 triliun (belum
ditambah gaji ke-13 dan tunjangan hari raya per tahun) khusus untuk gaji guru.
Hal ini melampaui alokasi 20 % APBN untuk fungsi pendidikan. ”P2G menilai janji
ketiga pasangan capres-cawapres masih solusi yang parsial dan bersifat populis
semata. Belum memandang dan menawarkan solusi komprehensif sebagai satu sistem pendidikan
nasional,” paparnya. (Yoga)
ADU STRATEGI BENAHI EKONOMI
Seluruh calon wakil presiden sepakat untuk membenahi dan mengakselerasi laju ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang makin menantang. Masing-masing cawapres dari nomor urut 1 Muhaimin Iskandar, cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka, dan cawapres nomor urut 3 Mahfud MD memaparkan strateginya dalam debat yang digelar di Jakarta, Jumat (22/12) malam. Sejumlah strategi a.l. pengelolaan anggaran, peningkatan investasi, peningkatan sumber daya manusia (SDM) hingga literasi keuangan dan digital menjadi perhatian para kandidat wakil presiden. Kalangan pebisnis menilai visi misi yang disampaikan para cawapres dalam debat menjadi titik tolak dalam melakukan kalkulasi bisnis. Kendati beberapa jawaban cawapres tidak sesuai dengan tema, pebisnis mengharapkan strategi yang disampaikan dapat diperdalam sehingga mengungkit kinerja sektoral yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, para pelaku usaha berharap strategi tersebut dapat diimplementasikan secara nyata.









