Ketika Pringgasela Selatan Bangkit dari Tidur
Setelah puluhan tahun tertidur, Desa Pringgasela Selatan
bangkit. Lewat tangan-tangan anak mudanya, berbagai kekayaan yang dulu pernah
terkubur dibangunkan lagi untuk kembali ke identitas sejati warga sebagai
penjaga budaya. Pringgasela Selatan berada di kaki Gunung Rinjani yang subur.
Masyarakatnya mayoritas petani dengan hasil panen tiga kali setahun. Kekayaan
yang melimpah cukup bagi warga untuk hidup sejahtera. Kenyataannya, desa yang
berada di Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, NTB, ini lebih kaya dari itu.
Desa yang dihuni tiga trah besar, yakni Tanaq Gadang, Sumbawa atau Rempung, dan
Masbage, ini memiliki sejarah dan tradisi kuat. Nizar Azhari (39), pemuda asli
Pringgasela Selatan yang mengenyam pendidikan di Yogyakarta, menemukan kisah
ini saat menggali kembali kekayaan lokal desanya. Nizar adalah daya desa atau
pendamping kebudayaan desa. Ia dan kawan-kawannya dari daya warga dengan
dukungan Kemendikbudristek mencoba menggali kisah lalu Pringgasela Selatan.
Pringga berarti prajurit, Sela berarti batu atau bisa berasal dari kata
Selaparang, nama kerajaan di Lombok.
Leluhur desa ini, lanjut Nizar, dikenal sebagai penjaga,
tetapi bukan penjaga kerajaan, melainkan tanah tempat hidup mereka. Mereka
melawan berbagai invasi, termasuk penjajah yang hendak menguasai wilayah itu.
Kisah heroik mereka diabadikan di sebuah tugu penanda jalan desa. Kuda-kuda
pacu jadi warisan yang pernah ada di desa-desa tersebut. ”Dulu ada banyak kuda
di sini. Setelah kami pelajari sejarah desa, kuda-kuda itu ternyata bagian dari
pasukan kavaleri desa,” kata Nizar. Sayangnya, keberadaan kuda-kuda kavaleri
itu sudah hilang tergeser alat transportasi lain. Pringgasela Selatan juga memiliki
tradisi blanjakan atau bertarung di tengah sawah berlumpur seusai panen padi. Blanjakan
mengandalkan ketangkasan adu kaki, mirip olahraga muay thai. Dari
kepingan-kepingan sejarah itu, para pemuda desa mencoba untuk merekonstruksi
kekayaan lampau mereka. Mereka menemukan musik sejenis gamelan yang dikenal dengan
nama klenang nunggal.
Amak Maisur, sesepuh Pancur Kopong yang ahli bermusik dan sesepuh
lain merangkai melodi menjadi alunan gending dari 23 klenang yang berhasil ditemukan.
Tenun Pringgasela tetap terawetkan hingga kini. Masih ada 600-700 penenun di
Desa Pringgasela Selatan. Temuan-temuan lama dan berbagai kekayaan budaya itu
diangkat dalam Festival Dongdala atau pelangi yang digelar 19-21 Desember.
Festival ini membangkitkan kebanggaan warga Pringgasela Selatan akan kekayaan
budaya mereka. Puncak festival yang berupa pawai Nyiru Jaja Bejangkongan, Rabu
(20/12) mergambarkan semanga warga berpartisipasi dalam mengangkat kekayaan
budayanya. Ribuan orang tanpa diminta turut datang mengikuti pawai memakai baju
terbaiknya untuk tampil. Nizar dan rekan-rekannya masih punya banyak pekerjaan rumah.
Hingga kini, proses temu dan kenali kebudayaan Pringgasela Selatan masih
berjalan, begitu pula pengembangan dan pemanfaatannya. Mereka tak hanya
menggali, tetapi juga menjaga budaya desanya. Jika berhasil, Pringgasela Selatan
bisa menjadi desa yang mandiri dan berdaya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023