;

Menunggu Suara Peluit di Pasar Barter Wulandoni

Menunggu Suara Peluit
di Pasar Barter Wulandoni

Suatu pagi pertengahan Agustus 2023 di Lamalera. Matahari mulai naik saat perjalanan sejauh 7 km melewati jalan rusak menyisir jalan di pinggir pantai menuju Pasar Barter Wulandoni, Kabupaten Lembata, NTT. Puluhan pedagang dari pegunungan mempersiapkan dagangan berupa hasil bumi, seperti pisang, singkong, umbi-umbian hutan, kacang-kacangan, dan jagung. Sementara istri-istri nelayan mempersiapkan ikan segar di ember plastik. Sebagian menggelar ikan belelang, ikan kering yang berbentuk seperti gelang yang terbuat dari paus, lumba-lumba, ataupun pari manta. Lapak beton yang melingkar mulai penuh terisi dagangan. Kosmas Dua (64) ditemani seorang petugas linmas mulai memungut retribusi berupa sedikit hasil bumi dan ikan asin. Retribusi yang dimasukkan ke karung tersebut akan dilelang setelah penutupan pasar untuk kas desa. Kosmas mengitari pasar, memastikan semua pedagang sudah siap. Tepat pukul 10.00, peluit ditiup.. pritttt, prittttt.

Suara peluit dijadikan penanda kegiatan pasar barter bisa dilakukan. Istri nelayan menyerbu lapak, menukar ikan dengan hasil bumi. Tawar-menawar hanya menunjukkan barang. Kalau kesepakatan pertukaran disetujui bersama, maka barang akan segera berganti pemilik. Pasar Wulandoni hanya buka sepekan sekali setiap hari Sabtu. Pasar barter terbesar di Pulau Lembata yang sudah ada sejak tahun 1830-an ini mempertemukan orang-orang pesisir dan pegunungan yang saling membutuhkan. Semua hasil barter untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bukan untuk dijual kembali. Pasar barter tak hanya ajang menukar barang. Selain memangkas rantai pasok, pasar juga mempertemukan dan mengakrabkan orang-orang pesisir yang sebagian besar Muslim dan orang-orang gunung yang mayoritas Kristen. Pasar Barter Wulandoni melibatkan warga dari puluhan kampung yang tersebar dan lebih dari 100 orang dalam transaksi barter tiap hari Sabtu. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :